Share

Mama Sofia

last update publish date: 2026-10-01 22:04:10

"Pertunjukan yang sangat menarik."

Suara berat dan dingin itu membuat jantung Nayara mencelos. Di ambang pintu kamar yang terbuka separuh, Faren berdiri bersedekap dada. Pria itu mengenakan kemeja hitam dengan jas rapi, bersiap untuk berangkat kerja.

Faren sudah berada di sana sejak awal. Mendengar setiap kalimat makian, setiap keputusasaan yang berubah menjadi amarah, dan fakta bahwa penyitaan ponselnya kemarin sama sekali tidak menghentikan Nayara untuk terhubung dengan dunia luar.

Gadis itu menutup draft desain yang belum sempat dikirim, lalu dengan cepat menguasai diri. Benda pipih yang menjadi tumpuan terakhirnya itu diletakkan di atas dada dengan posisi bersedekap waspada. Dalam hati Nayara agak khawatir kalau saja Faren akan menyita iPadnya juga.

“Apa yang membawamu ke tempat yang pengap lagi sempit ini, wahai tuan rumah yang sangat berkuasa?” sindir Nayara pelan, berusaha menyembunyikan rasa cemas yang mulai merayap.

“Ah, aku hanya sedikit mengkhawatirkanmu,” jawab Faren dengan senyum sinis melihat gelagat Nayara yang sedang tertangkap basah.

Setiap langkah Faren membuat atmosfer di ruangan sempit itu terasa makin kelam. Pria itu menatap iPad Pro di pelukan Nayara dengan kilat mata berbahaya.

"Aku tidak menyangka keluargamu ternyata menjualmu murah sekali. Dan kau... ternyata punya cara sendiri untuk menggonggong balik kepada mereka," ucap Faren dingin, merujuk pada pertengkaran Nayara dengan orang tuanya di telepon barusan.

Nayara mengepalkan tangannya kencang sembari menyandarkan tubuhnya yang kaku. "Setidaknya aku menggonggong pada orang yang tepat, Farendra. Lagipula, sebenarnya kau dan kedua orang tuaku sama saja. Sama-sama picik. Aku lah yang bernasib sial karena harus berurusan dengan manusia seperti kalian."

Kata-kata itu telak menusuk Faren di titik sensitifnya. Ujung rahang pria itu menegang dengan urat leher menonjol hebat. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga bayangan tubuhnya menutupi Nayara sepenuhnya.

"Jaga mulutmu, Nayara!" gertak Faren rendah. Tangan kekarnya terulur cepat, mencengkeram sudut iPad Pro milik Nayara dan menariknya kasar. "Kau pikir aku akan membiarkanmu memegang benda ini?"

"Jangan sentuh!" cicit Nayara panik.

Ia memeluk iPad itu sekuat tenaga, membiarkan jemarinya tergores gesekan kasar saat Faren mencoba merebutnya paksa. Rasa takut terpancar jelas di mata hazelnya yang mulai mengabur. Gadis itu sangat takut kehilangan satu-satunya alat penopang hidupnya.

"Lepaskan, Faren! Ini milikku!" bisik Nayara dengan suara bergetar menahan tangis.

Faren menyipitkan mata, menikmati riak keputusasaan di wajah gadis itu. Namun, sebelum ia menarik benda itu hingga terlepas dari pelukan Nayara, sebuah suara tegas nan elegan mendadak menggelegar dari depan pintu yang sedari tadi terbuka.

"Apa yang kau lakukan pada Nayara, Farendra?!”

Pergerakan Faren seketika berhenti karena kaget mendengar suara di belakangnya. Tanpa menoleh, pria itu sudah tahu siapa sosok yang berani meneriakinya.

Nayara mengembuskan napas panjang yang tertahan, memanfaatkan keterkejutan Faren untuk menarik kembali iPad-nya dan menyembunyikannya di bawah bantal tempatnya duduk. Dengan sigap, Nayara merapikan piyamanya yang agak kusut dan memasang senyum tipis, berjalan mendekati ambang pintu menghampiri sang mertua yang datang berkunjung.

"Selamat pagi, Mama," sapa Nayara lembut, mengatur nada suaranya agar terdengar setenang mungkin. Gadis itu cepat-cepat menghapus jejak air mata yang hampir tumpah akibat insiden barusan.

Mama Sofia mengamati kamar sempit di belakang Nayara sebelum menatap menantunya dengan raut tak percaya. "Apa yang sudah Farendra lakukan padamu, Naya?"

Sebelum Nayara sempat merangkai alasan, Faren melangkah keluar dari kamar sempit itu dengan raut wajah acuh tak acuh yang dipaksakan. Namun, matanya tak bisa menyembunyikan gestur salah tingkah saat mendapati tatapan menelisik dari wanita yang telah melahirkannya.

"Jelaskan pada Mama apa yang sudah kamu perbuat pada Nayara!” desis Mama Sofia tanpa basa-basi.

"Aku tidak melakukan apapun," potong Faren pendek.

"Farendra Sutanto!" Mama Sofia menatap Faren dengan kilat mata garang. "Mama tidak pernah mengajarimu jadi pria yang tidak punya hati seperti ini!"

"Ma, c'mon—" Faren mengusap wajahnya kasar karena frustrasi. "Mama tahu sendiri kalau aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini! Mama tahu sendiri kalau dari awal hatiku cuma untuk—"

"Cukup!" potong Mama Sofia cepat. Matanya membelalak tajam, memberi sinyal penuh peringatan agar Faren tidak menyebutkan nama 'wanita itu' di hadapan Nayara.

Menangkap peluang emas di depan mata, Nayara menurunkan sudut bibirnya dan menunduk dalam, memasang raut serba salah yang begitu meyakinkan. "Maafkan aku, Mama. Dari awal aku sudah sadar akan posisiku di rumah ini. Aku memang tidak diinginkan. Maafkan statusku yang hanya sebagai istri pengganti untuk putra Mama..."

Mama Sofia menghela napas berat, matanya berkaca-kaca dipenuhi rasa iba pada Nayara. Sementara Faren mendelik tajam ke arah istrinya. Pria itu tahu betul raut memelas itu hanyalah akting cerdik Nayara untuk mencari muka di hadapan sang ibu.

"Bi Sumi!" teriak Mama Sofia menggelegar di seluruh ruangan.

Bi Sumi yang namanya dipanggil langsung datang terbirit-birit dari arah dapur. "I-iya, Nyonya Besar?"

"Sekarang juga, ajak asisten rumah tangga yang lain pindahkan semua barang Nayara ke kamar utama! Semuanya, jangan ada satu pun yang tertinggal!" tegas Mama Sofia tanpa kompromi.

Kamar utama? Maksudnya satu kamar dengan Farendra? batin Nayara kaget. Gadis itu jelas ingin menolak, namun sepertinya akan sia-sia melihat ketegasan sang ibu mertua yang tidak bisa diganggu gugat. Akhirnya, Nayara hanya bisa meringis pelan menyadari aktingnya tidak mendapatkan hasil sesuai rencara.

"Baik, Nyonya!" Bi Sumi bergegas tunduk dan menjalankan perintah.

"Ma! Mama tidak bisa melakukan ini!" pangkas Faren kehabisan kata menghadapi otoritas sang ibu.

"Kenapa tidak?! Nayara itu istrimu yang sah!" potong Mama Sofia penuh penekanan. "Suami mana yang menaruh istrinya tidur di kamar pengap sebelah gudang selain kamu, hah?! Mama benar-benar malu punya anak seperti kamu!"

"Jangan ikut campur urusan rumah tanggaku, Ma!" geram Faren dengan rahang mengetat keras. Tidur satu kamar dengan Nayara adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan di dunia ini.

"Untuk hal tidak beradab seperti ini, Mama wajib ikut campur!" sergah Mama Sofia cepat, membuat sang anak kehabisan kata.

Wanita paruh baya itu kemudian beralih menatap Nayara dengan pandangan hangat. "Nayara sayang, mulai hari ini kamu tidur di kamar utama, ya. Kalau pria ini macam-macam atau jahat lagi padamu, langsung adukan pada Mama. Biar Mama sendiri yang akan memberi pelajaran."

"Baik, Mama. Terima kasih banyak," sahut Nayara pelan seraya menunduk santun. Dalam hati, gadis itu mengutuk nasibnya. Yang ia inginkan adalah kamar ujung lorong lantai dua yang punya pencahayaan terang, bukannya malah harus berbagi kamar dengan pria seperti Farendra. Kalau begini, artinya sama saja dengan masuk ke kandang singa, batin Nayara perih.

Faren mendesis kasar, menatap istrinya dengan tatapan benci. "Mama mau saja dibohongi oleh wajah polos perempuan munafik ini!"

"Jaga mulutmu, Farendra!" bentak Mama Sofia tidak terima. "Apa Mama pernah mengajarimu berkata kasar pada seorang wanita?!"

Faren mengepalkan tangannya kuat-kuat, menatap Nayara yang diam-diam mengukir senyum tipis di balik tundukan kepalanya.

"Terserah Mama," bisik Faren dingin dengan napas berat. "Suatu hari Mama akan tahu sendiri betapa liciknya perempuan ini."

Tanpa menunggu balasan dari sang ibu, Faren berjalan kasar dan menyambar kunci mobil di meja dekat pintu. Suara dentuman pintu utama yang ditutup kencang menjadi pertanda kalau pria itu sudah resmi melarikan diri dari situasi yang menyudutkannya.

Keheningan mendadak menyelimuti ruang tengah. Mama Sofia menatap pintu utama yang tertutup rapat dengan pandangan kosong yang sarat akan rasa iba.

"Ternyata... kehilangan memang dapat mengubah kepribadian seseorang hingga sejauh ini."

Gumaman pelan yang hampir berupa bisikan itu terlontar begitu saja dari bibir Mama Sofia. Seolah kalimat itu diucapkan untuk dirinya sendiri, tanpa ia sadar bahwa Nayara mendengarnya dengan sangat jelas.

Kata kehilangan bergema di kepala perempuan yang lebih muda, menyisakan kerutan bingung tatkala ia menyadari ada masa lalu kelam yang mendasari perlakuan Faren padanya selama ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Pengganti yang Melawan    Menolak Layu

    “Selamat pagi, Nayara Danuwira. Kuharap tidurmu nyenyak semalam.” Pagi-pagi sekali, Faren membuka pintu kamar mandi dengan wajah menyeringai remeh. Begitu melihat keadaan Nayara dengan mata sembab dan berantakan, hatinya puas setengah mati. Gadis itu melengos dan melewati tubuh besar Faren dengan tatapan dingin. Kebenciannya kian membuncah seiring dengan sikap Faren yang semakin kejam dari hari ke hari..“Bagaimana? Kau suka dengan interior kamar mandi itu?” Belum puas, Faren kembali mencoba memprovokasi Nayara.Gadis yang sedang mengumpulkan serpihan iPadnya yang hancur itu masih setia dengan keheningan. Keping demi keping ia kumpulkan dengan hati yang perih, mengingat dari iPad inilah sumber semua penghasilannya selama ini. Rasa takut dan khawatir yang selama ini menggerogoti hatinya mendadak luruh bersamaan dengan hancurnya barang kesayangan yang selama ini ia jaga setengah mati.Dengan kasar, Faren menendang bahu Nayara yang masih jongkok membelakanginya. “Kau tuli?! Apa tidur s

  • Istri Pengganti yang Melawan    Keberanian yang Mendadak Luruh

    "Mau Naya antar ke bandara, Ma?" tawar Nayara halus tatkala mendampingi sang mertua berdiri di ambang pintu utama.Mama Sofia tersenyum hangat, lalu mengelus pipi Nayara dengan penuh kasih sayang. "Tidak perlu, Sayang. Kamu diam saja di rumah dan beristirahat.""Baik, Mama. Hati-hati di jalan."Mama Sofia melambaikan tangan dari balik kaca seiring laju mobil yang perlahan meluncur pergi. Nayara terus mengumbar senyum manis sampai mobil itu benar-benar menghilang di balik gerbang. Begitu bayangan mobil tak lagi terlihat, senyum ramah di wajah Nayara menguap seketika.Gadis itu memutar tubuhnya, setengah berlari menaiki tangga menuju lantai dua."Semua barang di kamar bawah sudah saya pindahkan ke sini, Nyonya," ucap Bi Sumi yang tiba-tiba muncul dari koridor sembari membawa tas punggung Nayara yang hanya berisi sebuah buku sketsa. "Terima kasih, Bi," jawab Nayara cepat. "Oh ya, jangan panggil saya ‘Nyonya'. Panggil saja Naya.""Tapi, Nyo—""Naya, Bi," potong Nayara tegas namun

  • Istri Pengganti yang Melawan    Mama Sofia

    "Pertunjukan yang sangat menarik."Suara berat dan dingin itu membuat jantung Nayara mencelos. Di ambang pintu kamar yang terbuka separuh, Faren berdiri bersedekap dada. Pria itu mengenakan kemeja hitam dengan jas rapi, bersiap untuk berangkat kerja. Faren sudah berada di sana sejak awal. Mendengar setiap kalimat makian, setiap keputusasaan yang berubah menjadi amarah, dan fakta bahwa penyitaan ponselnya kemarin sama sekali tidak menghentikan Nayara untuk terhubung dengan dunia luar.Gadis itu menutup draft desain yang belum sempat dikirim, lalu dengan cepat menguasai diri. Benda pipih yang menjadi tumpuan terakhirnya itu diletakkan di atas dada dengan posisi bersedekap waspada. Dalam hati Nayara agak khawatir kalau saja Faren akan menyita iPadnya juga. “Apa yang membawamu ke tempat yang pengap lagi sempit ini, wahai tuan rumah yang sangat berkuasa?” sindir Nayara pelan, berusaha menyembunyikan rasa cemas yang mulai merayap.“Ah, aku hanya sedikit mengkhawatirkanmu,” jawab Fare

  • Istri Pengganti yang Melawan    Senjata Rahasia Nayara

    "Bukankah sudah kubilang jangan pernah menyentuh lantai dua?!" Suara Faren menggelegar hebat hingga memantul di langit-langit rumah. Pria itu baru saja memasuki ruang tengah sekembalinya dari gedung pusat perkantoran untuk menemui seseorang bernama Sebastian.Di ujung lorong lantai dua, Nayara tampak santai memegang sapu di ambang pintu sebuah kamar. Kamar terbesar di ujung lorong dengan pencahayaan paling terang karena berhadapan langsung dengan arah matahari terbit."Oh, kau sudah pulang?" Nayara menoleh dan tersenyum tipis. Tindakan itu seolah menegaskan bahwa teriakan Faren barusan sama sekali tidak memengaruhi mentalnya.Napas Faren menderu cepat. "Nayara Renjani Danuwira, bukankah sudah ku peringatkan kau—" "Kupikir area pribadimu hanya kamar di tengah sana," potong Nayara santai. "Lagipula, bukankah ujung lorong ini lumayan jauh dari kamar pribadimu? Aku janji tidak akan pernah mengusik ketenanganmu.”"Faren kehabisan kata-kata. Amarahnya pasca bertemu Sebastian belum b

  • Istri Pengganti yang Melawan    Hidup Baru

    Byur!!!"Ngghhh!" Nayara terperanjat hebat tatkala segelas air dingin membasahi seluruh wajah dan piyamanya yang lumayan tipis. Sensasi dingin yang menusuk tulang memaksa mata hazelnya yang sembap terbuka lebar. Di hadapannya, Faren berdiri menjulang dengan setelan jas yang sudah rapi. "Dasar kerbau! Bahkan lantai sedingin ini mampu membuatmu tidur selelap itu, ya?" Faren menatapnya remeh dari atas sembari meletakkan gelas kosong di tangannya ke atas meja rias. "Cepat bangun. Pagi ini kita harus segera berkemas dan pulang."“Pulang saja sendiri!” Nayara menjawab ketus untuk kemudian mendapat lirikan tajam dari sang pria. Gadis itu berusaha bangkit dengan tubuh kaku dan pegal. Napasnya memburu, jemarinya mengepal kuat menahan luapan emosi yang menyesakkan dadanya. "Tidak usah terlalu pintar membantah, Nayara. Aku tunggu kau di lobby dalam waktu sepuluh menit. Jangan buat aku kehilangan kesabaran,” tekan Faren dingin. Tanpa menunggu balasan, pria itu berbalik dan melangkah ke

  • Istri Pengganti yang Melawan    Beginning

    “Suka dengan semua ini, Naya?" Suara berat itu membuat Nayara muak setengah mati. Menatap mata tajam pria di sampingnya, Nayara berusaha keras menyembunyikan getar samar yang merayap di hatinya. "Enyah kau," bisik Nayara pelan penuh penekanan. Gadis itu bergerak hendak menjauh, namun dengan cepat bahunya ditarik kembali oleh suaminya, Farendra Sutanto. "We're married now, Nayara. Officially, saya ini suami kamu. Sangat tidak pantas seorang istri bersikap kasar di hari pertama pernikahan mereka." Nayara mengembuskan napas dalam. Sungguh, jika saja mereka tidak berada di depan ratusan tamu yang menghadiri pesta pernikahan ini, ia sudah pasti sudah lari sejauh mungkin.Tania sialan! umpatnya dalam hati. Andai saja Tania, kakak kandungnya yang sinting itu tidak kabur bersama pacarnya tiga hari sebelum pernikahan, Nayara tidak mungkin akan ‘ditumbalkan’ sebagai istri pengganti hari ini. "Senyum yang manis, Naya," Faren berbisik dengan wajah tenang tanpa cela. "Setidaknya berakting

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status