Compartilhar

Hidup Baru

last update Data de publicação: 2026-10-01 21:59:07

Byur!!!

"Ngghhh!" Nayara terperanjat hebat tatkala segelas air dingin membasahi seluruh wajah dan piyamanya yang lumayan tipis. Sensasi dingin yang menusuk tulang memaksa mata hazelnya yang sembap terbuka lebar.

Di hadapannya, Faren berdiri menjulang dengan setelan jas yang sudah rapi.

"Dasar kerbau! Bahkan lantai sedingin ini mampu membuatmu tidur selelap itu, ya?" Faren menatapnya remeh dari atas sembari meletakkan gelas kosong di tangannya ke atas meja rias. "Cepat bangun. Pagi ini kita harus segera berkemas dan pulang."

“Pulang saja sendiri!” Nayara menjawab ketus untuk kemudian mendapat lirikan tajam dari sang pria.

Gadis itu berusaha bangkit dengan tubuh kaku dan pegal. Napasnya memburu, jemarinya mengepal kuat menahan luapan emosi yang menyesakkan dadanya.

"Tidak usah terlalu pintar membantah, Nayara. Aku tunggu kau di lobby dalam waktu sepuluh menit. Jangan buat aku kehilangan kesabaran,” tekan Faren dingin. Tanpa menunggu balasan, pria itu berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan Nayara yang masih mengatur napasnya yang tersendat. Permulaan pagi yang begitu sempurna untuk hari pertama pernikahan mereka.

Di mobil, Nayara memilih diam memandang jalanan kota yang sudah lumayan ramai. Gadis itu tidak mengucapkan sepatah kata pun selama perjalanan. Tubuhnya masih terasa dingin, namun hatinya jauh lebih beku.

"Kau sudah tahu akan kubawa ke mana?" Suara Faren memecah keheningan yang melingkupi mereka berdua.

Nayara tidak bergeming.

"Jawab aku, Nayara!" gertak Faren rendah karena jengah dengan kebisuan gadis di sampingnya.

Nayara menoleh. "Ke mana lagi?" bisiknya dengan suara sedikit parau. "Katamu kau akan membawaku ke neraka, kan? Jadi ke mana pun mobil ini pergi... bukankah tempat itu adalah neraka untukku?"

Faren menatap nyalang, tidak menyangka akan mendapatkan sindiran macam itu sepagi ini. "Mulutmu memang harus dibungkam sekali-sekali,” ucap Faren rendah. Matanya menusuk tepat pada netra hazel yang Nayara miliki.

"Bukankah kau yang memintaku menjawab, Tuan Farendra?" sahut Nayara pelan, menyembunyikan getar ketakutannya di balik tatapan dingin.

Nayara berpaling dari pria itu dan kembali menatap jalanan yang sudah mulai memasuki area pinggiran kota. Tenggelam dalam pikirannya dan rasa asing yang menghimpit, gadis itu berusaha untuk tidak memedulikan eksistensi Faren di sampingnya.

Faren merogoh saku jasnya, lalu melirik tas punggung milik Nayara yang tergeletak di bawah kaki gadis itu. Tanpa permisi, pria itu menarik kasar tas tersebut dan mengambil sebuah ponsel serta dompet di dalamnya.

"Hei! Apa yang kau lakukan?!" Nayara tersentak lalu mencoba merebut kembali barang miliknya.

"Mulai hari ini, semua aksesmu diputus," ucap Faren dingin seraya memasukkan ponsel dan dompet Nayara ke dalam saku jasnya sendiri. "Ponsel dan kartu kreditmu aku sita. Aku tidak suka punya istri boros dan terlalu bebas berhubungan dengan dunia luar."

Nayara terpaku dengan tangan gemetar lungai di pangkuan. Akses komunikasinya diputus total, itu artinya ia benar-benar terisolasi sekarang.

Gadis dua puluh tahun itu menelan ludah yang terasa pahit. Ia mencoba tersenyum tipis, memaksakan diri agar tidak terlihat menyedihkan di depan sang pria. "Kalau begitu, silakan ambil saja. Lagi pula, tidak ada siapa-siapa lagi yang perlu ku hubungi."

Faren menyipitkan mata, sedikit tertegun melihat sorot mata Nayara yang mendadak berubah redup dan sunyi. Tidak ada kepanikan sedikit pun, yang tersisa hanya keheningan yang menyembunyikan keputusasaan.

Pepohonan di kiri kanan jalan terlihat padat dan rindang. Suasana tenang dan berkabut mulai menyelimuti jalanan yang mereka lewati. Nayara memejamkan matanya dengan hati mencelos khawatir.

Apa pun yang menantinya di depan sana, Nayara tahu kalau semuanya tidak akan pernah mudah. Hidup dengan pria macam Farendra Sutanto tidak akan pernah memberinya kemudahan apa pun, setidaknya itulah yang ada dalam pikirannya.

"Kau tidur?" tidak lama berselang, Faren kembali bersuara.

Nayara bergeming lalu mendengus samar mendengar suara pria di sebelahnya. Percakapan dengan Faren akan selalu menguras semua energinya.

Pengabaian itu menyulut rasa kesal dalam diri Faren. Dengan kasar, ia mencengkeram lengan Nayara yang terlipat di dada. "Aku bicara denganmu!"

Nayara meringis kecil, menatap Faren dengan mata menahan sakit. "Apakah memperlakukanku seperti ini membuatmu merasa lebih berkuasa, Tuan Farendra?"

Faren menarik napas dalam. "Kau—"

Kringgg!!!

Suara handphone Faren menghentikan kalimatnya. Dengan cepat pria itu menjawab setelah membaca nama sang penelepon.

"Ada apa, Callan?"

"Saya minta maaf karena mengganggu waktu istirahat Anda, Pak. Tapi ada urusan mendadak di gedung pusat perkantoran kita. Seorang pria yang mengaku bernama Sebastian memaksa bertemu Anda. Dia—"

​"Saya akan segera ke sana,” potong Faren cepat ketika mendengar satu nama itu. Di wajahnya langsung tergambar ekspresi keras yang tak terbaca. Sementara Nayara di sampingnya memasang raut tak acuh, walau dalam hati gadis itu penasaran dengan laki-laki bernama Sebastian.

Tidak lama berselang, mobil yang membawa mereka berhenti di halaman rumah Faren yang megah. Bangunan dua lantai bernuansa modern minimalis itu memberi kesan sepi dan dingin, persis seperti kepribadian pemiliknya.

Beberapa asisten rumah tangga tampak berbaris rapi di depan pintu utama dengan wajah tegang. Seorang wanita paruh baya bertubuh agak gemuk yang biasa dipanggil Bi Sumi melangkah maju dengan ragu, kemudian menundukkan kepala dalam-dalam saat pintu mobil terbuka.

"Selamat datang di kediamanku, Nayara Renjani Danuwira," bisik Faren dingin saat membukakan pintu mobil untuk Nayara. "Di sini, tidak ada satu orang pun yang bisa membelamu dari apa pun yang akan kulakukan."

Faren mendekatkan wajahnya seolah memberi ancaman terakhir. "Dan ingat, jangan pernah menginjakkan kaki ke lantai dua karena itu adalah wilayah pribadiku. Asisten rumah tangga di sini hanya menuruti perintahku, bukan perkataanmu."

Nayara turun dari mobil dengan langkah yang dipaksa tegak. Ada sedikit getar yang merayapi tubuhnya, namun sebisa mungkin ia sembunyikan dari mata kelam Faren. "Baiklah. Lagipula aku tidak berminat mencampuri urusanmu," sahut Nayara pelan.

Nayara lalu mengalihkan pandangannya pada Bi Sumi. Senyum tulus dan lembut terbit di wajahnya yang polos tanpa riasan. "Selamat pagi, Bi. Saya Nayara."

Bi Sumi melirik Faren dengan takut-takut sebelum mengangguk pelan. Nayara mendekat, menyentuh lengan Bi Sumi dengan ramah. “Tolong antarkan saya ke kamar yang tenang dan jauh dari gangguan, ya, Bi. Sebisa mungkin jangan sampai berada di area pribadi sang tuan rumah.”

Sikap lembut disertai sindiran halus yang Nayara tunjukkan membuat Faren mengepalkan tangan kuat-kuat. Namun, ia tidak punya waktu untuk melayani gadis itu saat ini. Nama 'Sebastian' terus bergema di kepalanya.

Tanpa membuang waktu, pria itu langsung menyambar kunci mobil dari tangan sang sopir, mengabaikan seruan para asisten rumah tangga yang bingung melihat tuannya kembali pergi. Faren masuk ke dalam mobil dan menancap gas dengan kecepatan tinggi menuju gedung pusat perkantorannya.

Di sepanjang jalan, kepalan tangannya mengeras hingga buku-buku jarinya memutih. Menatap bayangan rumahnya serta sosok Nayara dari kaca spion mobil yang kian menjauh, napas Faren memburu.

Nama 'Sebastian' yang diucapkan Callan tadi sukses memancing kembali ingatan kelam lima tahun lalu. Ingatan tentang Alana Maheswari, wanita yang pernah teramat sangat ia cintai, yang tewas tragis akibat tabrak lari licik yang dilakukan oleh Tania Rosalie Danuwira, kakak kandung Nayara.

Keluarga Danuwira menggunakan uang dan kekuasaan mereka untuk menutupi kasus itu. Menyogok aparat, lalu menyembunyikan Tania ke luar negeri seolah nyawa Alana tidak ada artinya.

"Tunggulah sedikit lagi, Tania," bisik Faren dingin pada hembusan angin.

"Adik kesayanganmu sudah ada dalam genggamanku. Kau boleh lari sejauh apa pun yang kau mau, tapi Nayara yang akan membayar setiap tetes darah yang telah kau tumpahkan. Sekarang, kehancuran keluargamu akan segera dimulai."

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Istri Pengganti yang Melawan    Menolak Layu

    “Selamat pagi, Nayara Danuwira. Kuharap tidurmu nyenyak semalam.” Pagi-pagi sekali, Faren membuka pintu kamar mandi dengan wajah menyeringai remeh. Begitu melihat keadaan Nayara dengan mata sembab dan berantakan, hatinya puas setengah mati. Gadis itu melengos dan melewati tubuh besar Faren dengan tatapan dingin. Kebenciannya kian membuncah seiring dengan sikap Faren yang semakin kejam dari hari ke hari..“Bagaimana? Kau suka dengan interior kamar mandi itu?” Belum puas, Faren kembali mencoba memprovokasi Nayara.Gadis yang sedang mengumpulkan serpihan iPadnya yang hancur itu masih setia dengan keheningan. Keping demi keping ia kumpulkan dengan hati yang perih, mengingat dari iPad inilah sumber semua penghasilannya selama ini. Rasa takut dan khawatir yang selama ini menggerogoti hatinya mendadak luruh bersamaan dengan hancurnya barang kesayangan yang selama ini ia jaga setengah mati.Dengan kasar, Faren menendang bahu Nayara yang masih jongkok membelakanginya. “Kau tuli?! Apa tidur s

  • Istri Pengganti yang Melawan    Keberanian yang Mendadak Luruh

    "Mau Naya antar ke bandara, Ma?" tawar Nayara halus tatkala mendampingi sang mertua berdiri di ambang pintu utama.Mama Sofia tersenyum hangat, lalu mengelus pipi Nayara dengan penuh kasih sayang. "Tidak perlu, Sayang. Kamu diam saja di rumah dan beristirahat.""Baik, Mama. Hati-hati di jalan."Mama Sofia melambaikan tangan dari balik kaca seiring laju mobil yang perlahan meluncur pergi. Nayara terus mengumbar senyum manis sampai mobil itu benar-benar menghilang di balik gerbang. Begitu bayangan mobil tak lagi terlihat, senyum ramah di wajah Nayara menguap seketika.Gadis itu memutar tubuhnya, setengah berlari menaiki tangga menuju lantai dua."Semua barang di kamar bawah sudah saya pindahkan ke sini, Nyonya," ucap Bi Sumi yang tiba-tiba muncul dari koridor sembari membawa tas punggung Nayara yang hanya berisi sebuah buku sketsa. "Terima kasih, Bi," jawab Nayara cepat. "Oh ya, jangan panggil saya ‘Nyonya'. Panggil saja Naya.""Tapi, Nyo—""Naya, Bi," potong Nayara tegas namun

  • Istri Pengganti yang Melawan    Mama Sofia

    "Pertunjukan yang sangat menarik."Suara berat dan dingin itu membuat jantung Nayara mencelos. Di ambang pintu kamar yang terbuka separuh, Faren berdiri bersedekap dada. Pria itu mengenakan kemeja hitam dengan jas rapi, bersiap untuk berangkat kerja. Faren sudah berada di sana sejak awal. Mendengar setiap kalimat makian, setiap keputusasaan yang berubah menjadi amarah, dan fakta bahwa penyitaan ponselnya kemarin sama sekali tidak menghentikan Nayara untuk terhubung dengan dunia luar.Gadis itu menutup draft desain yang belum sempat dikirim, lalu dengan cepat menguasai diri. Benda pipih yang menjadi tumpuan terakhirnya itu diletakkan di atas dada dengan posisi bersedekap waspada. Dalam hati Nayara agak khawatir kalau saja Faren akan menyita iPadnya juga. “Apa yang membawamu ke tempat yang pengap lagi sempit ini, wahai tuan rumah yang sangat berkuasa?” sindir Nayara pelan, berusaha menyembunyikan rasa cemas yang mulai merayap.“Ah, aku hanya sedikit mengkhawatirkanmu,” jawab Fare

  • Istri Pengganti yang Melawan    Senjata Rahasia Nayara

    "Bukankah sudah kubilang jangan pernah menyentuh lantai dua?!" Suara Faren menggelegar hebat hingga memantul di langit-langit rumah. Pria itu baru saja memasuki ruang tengah sekembalinya dari gedung pusat perkantoran untuk menemui seseorang bernama Sebastian.Di ujung lorong lantai dua, Nayara tampak santai memegang sapu di ambang pintu sebuah kamar. Kamar terbesar di ujung lorong dengan pencahayaan paling terang karena berhadapan langsung dengan arah matahari terbit."Oh, kau sudah pulang?" Nayara menoleh dan tersenyum tipis. Tindakan itu seolah menegaskan bahwa teriakan Faren barusan sama sekali tidak memengaruhi mentalnya.Napas Faren menderu cepat. "Nayara Renjani Danuwira, bukankah sudah ku peringatkan kau—" "Kupikir area pribadimu hanya kamar di tengah sana," potong Nayara santai. "Lagipula, bukankah ujung lorong ini lumayan jauh dari kamar pribadimu? Aku janji tidak akan pernah mengusik ketenanganmu.”"Faren kehabisan kata-kata. Amarahnya pasca bertemu Sebastian belum b

  • Istri Pengganti yang Melawan    Hidup Baru

    Byur!!!"Ngghhh!" Nayara terperanjat hebat tatkala segelas air dingin membasahi seluruh wajah dan piyamanya yang lumayan tipis. Sensasi dingin yang menusuk tulang memaksa mata hazelnya yang sembap terbuka lebar. Di hadapannya, Faren berdiri menjulang dengan setelan jas yang sudah rapi. "Dasar kerbau! Bahkan lantai sedingin ini mampu membuatmu tidur selelap itu, ya?" Faren menatapnya remeh dari atas sembari meletakkan gelas kosong di tangannya ke atas meja rias. "Cepat bangun. Pagi ini kita harus segera berkemas dan pulang."“Pulang saja sendiri!” Nayara menjawab ketus untuk kemudian mendapat lirikan tajam dari sang pria. Gadis itu berusaha bangkit dengan tubuh kaku dan pegal. Napasnya memburu, jemarinya mengepal kuat menahan luapan emosi yang menyesakkan dadanya. "Tidak usah terlalu pintar membantah, Nayara. Aku tunggu kau di lobby dalam waktu sepuluh menit. Jangan buat aku kehilangan kesabaran,” tekan Faren dingin. Tanpa menunggu balasan, pria itu berbalik dan melangkah ke

  • Istri Pengganti yang Melawan    Beginning

    “Suka dengan semua ini, Naya?" Suara berat itu membuat Nayara muak setengah mati. Menatap mata tajam pria di sampingnya, Nayara berusaha keras menyembunyikan getar samar yang merayap di hatinya. "Enyah kau," bisik Nayara pelan penuh penekanan. Gadis itu bergerak hendak menjauh, namun dengan cepat bahunya ditarik kembali oleh suaminya, Farendra Sutanto. "We're married now, Nayara. Officially, saya ini suami kamu. Sangat tidak pantas seorang istri bersikap kasar di hari pertama pernikahan mereka." Nayara mengembuskan napas dalam. Sungguh, jika saja mereka tidak berada di depan ratusan tamu yang menghadiri pesta pernikahan ini, ia sudah pasti sudah lari sejauh mungkin.Tania sialan! umpatnya dalam hati. Andai saja Tania, kakak kandungnya yang sinting itu tidak kabur bersama pacarnya tiga hari sebelum pernikahan, Nayara tidak mungkin akan ‘ditumbalkan’ sebagai istri pengganti hari ini. "Senyum yang manis, Naya," Faren berbisik dengan wajah tenang tanpa cela. "Setidaknya berakting

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status