LOGINSeminggu kemudian, seorang mak comblang tiba di kediaman.Ketika Nyonya Tua mengumpulkan orang-orang, ia memberitahu bahwa Tuan Kedua Jiang akan secara resmi bertunangan dengan Shangguan Zhiyi.Ini sedikit mengejutkan, karena sebelumnya mereka sempat mendengar bahwa Shangguan Zhiyi ingin mengakhiri perjodohan.Tidak disangka, orang yang akan bertunangan kini tidak berkata apa-apa. Hanya bersikap seperti biasa, seolah-olah perkataan sebelumnya tidak pernah terucap darinya.Sementara orang-orang menganggukkan kepala, turut senang mendengar kabar ini, Selir Meng menundukkan wajahnya, mengangkat sapu tangan dan menutupi mulutnya. Kilatan dingin yang tak terlihat oleh orang-orang melintas di matanya.Pasangan yang begitu baik, yang coba ia usahakan untuk putrinya, pada akhirnya gagal didapatkan. Seharusnya ia memastikan rencana itu berjalan lancar hingga akhir!Sementara ia menyembunyikan ekspresinya, Nyonya Tua beralih padanya sekilas. Setelah beberapa saat, ia berkata kepada semua orang,
Shangguan Chen menggulung kembali lukisan kaligrafi di tangannya, meletakkannya ke atas meja.“Kau terlalu banyak berpikir,” ujarnya tanpa emosi.“Bukan?” Yin Anzhu penasaran. “Lantas?” Namun seperti biasa, pria itu tidak menanggapi. Ia mengabaikan Yin Anzhu, mengambil teh, dan menyeruputnya dengan sikap bersahaja.Yin Anzhu mengangguk-angguk, lalu bergumam sendiri. “Benar juga. Rasanya kau bukan orang seperti itu.”“Lalu, orang seperti apa aku?”Pria itu menurunkan cangkir, matanya menatapnya lurus.Yin Anzhu kembali menopang dagunya. Ia memikirkan pertanyaan barusan.“Hmmm… Kau pria licik yang tidak menyukai wanita…”Ia menatap Shangguan Chen dengan alis terangkat. “Aku benar?”Tidak ada jawaban. Namun, kali ini pria itu menatapnya dua detik lebih lama dari biasanya.Sementara itu, tampaknya perselisihan pasangan di depan telah mencapai puncak. Shangguan Zhiyi berseru, berkata tidak ingin melanjutkan pertunangan mereka lagi kepada Jiang Wenxiu. Setelah mengatakan itu dengan marah,
"Panggilkan Nyonya Muda kalian," perintah Shangguan Zhiyi begitu melangkah masuk melalui gerbang bulan di Halaman Bambu Hijau.Ia berdiri menunggu dengan tangan di pinggang. Sorot matanya menajam tidak senang.Rong Mama yang kebetulan sedang berjalan ke depan, berhenti dan membungkuk menyapanya, "Nona Kedua."Mendapati raut wajah Shangguan Zhiyi yang seperti akan pergi menemui seorang musuh bebuyutan, Rong Mama tidak langsung melakukan instruksi barusan. Alih-alih, ia bertanya, "Nona Kedua akan menemui Nyonya?"Kening Shangguan Zhiyi berkerut tidak sabar. Ia memandang berkeliling. Melihat Rong Mama masih berdiri di tempat, ia kembali bergerak, "Lupakan. Biar kutemui dia di kamar. Dia pasti ada di sana, kan?"Rong Mama buru-buru mencegah. "Nona Kedua, Anda tidak bisa..."Akan tetapi, gadis itu sudah berjalan cepat menyusuri jalan setapak taman menuju ke arah paviliun utama. Terbayang suasana hatinya yang tidak bersahabat, dan mengingat apa yang terjadi terakhir kali, Rong Mama takut
Di Halaman Plum, keributan kecil terjadi saat Xixi tiba.“Aku tidak akan pergi!” sahut Shangguan Zhiyi tegas.Tong’er melihat alis halus nona mudanya mengeras, ia menoleh pada Xixi, menggeleng, “Kembalilah dan katakan kepada Tuan Muda Sulung, Nona Kedua sedang tidak begitu sehat.”Xixi melirik ragu-ragu ke depan, kepada Shangguan Zhiyi yang terlihat akan mengamuk jika ia masih bersikeras memintanya datang. Ia segera menunduk patuh, berkata “Baik,” lalu beranjak dari sana.Tong’er mengambil wadah lampu minyak di atas meja. Ia melirik nona mudanya, berujar sambil lalu, “Tuan Kedua Jiang sudah lama tidak berkunjung kemari. Belakangan ini saya dengar beliau sering bertugas di luar kota.”Ia menuangkan minyak lampu ke dalam wadah poselen berhias pola sederhana. “Begitu sulit mendapatkan waktu senggang, tidakkah sayang jika Nona tidak pergi menemuinya barang sebentar?”Ia ingin menambahkan “bagaimanapun, dia adalah tunangan Anda,” namun ia memutuskan tidak mengungkitnya. Akhir-akhir ini, n
Pohon kesemek di tengah taman berdiri rimbun. Di antara sela-sela daunnya yang hijau, beberapa buah kesemek kecil bergelantungan, berwarna hijau pucat dan keras, masih jauh dari matang.Yin Anzhu berbaring di atas kursi malas, mengipasi dirinya setengah hati. Hari itu matahari tampak beberapa kali lipat lebih besar dari biasanya, membuat tenaga terkuras dengan cepat. Ia sungguh malas bergerak. Berteduh di bawah pohon cukup sejuk, jadi dia tidak beranjak sejak setengah shichen yang lalu.Taotao menempati salah satu bangku rendah. Ia menuangkan minuman segar dari teko ke dalam mangkuk kecil dan menyerahkannya kepada Yin Anzhu.Cairan berwarna putih kekuningan di dalam mangkuk membuat Yin Anzhu penasaran. Sebelum ia bertanya, Taotao sudah menjawab, "Ini adalah sari buah pir. Orang dapur sudah mendinginkannya lebih dulu sebelum dibagikan kepada para majikan."Yin Anzhu menghabiskan sari buah pir segar dalam sekali teguk. Matanya membuka lebih lebar. "Orang-orang di sini selalu punya bar
Di pagi hari, para pelayan terlihat sibuk bekerja di taman dan membersihkan di beberapa area rumah. Saat Yin Anzhu dan Taotao lewat, seorang pelayan baru saja menumpahkan ember berisi air yang dibawa dengan terburu-buru.Pelayan itu beberapa kali membungkuk meminta maaf. Yin Anzhu berkata tidak apa-apa, kemudian memutari genangan dan terus berjalan menyusuri koridor.Taotao menengok ke belakang sekali, lalu menatap nyonya mudanya di samping dengan pandangan bertanya.“Nyonya Muda, haruskah kita juga membeli tambahan kain dari luar untuk menjahit lebih banyak pakaian?” Beberapa saat lalu, mereka berpapasan dengan pelayan dari halaman Shangguan Ruoyi. Taotao melihat pakaian milik nona ketiga yang dibawa pelayan itu dan matanya langsung berbinar. Akan tetapi, melihat nyonya mudanya tampak tidak tertarik, ia bisa menebak apa yang akan dikatakan padanya.“Untuk apa? Kain dari gudang sebelumnya cukup untuk membuat tiga set model pakaian musim panas,” tolaknya seperti biasa.Taotao memperh







