ログインBenev menatap buah-buahan di dalam tong sampah dengan pandangan muak beberapa detik. Setelah itu ia kembali ke samping brankar, duduk di kursi seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa.
Estella menatapnya tajam. “Benev. Apa yang baru saja kau lakukan?” Benev menoleh, ekspresinya datar. “Membuangnya.” “Kenapa?” “Aku tidak suka kamu menerima sesuatu dari orang yang mencelakakanmu.” Estella mengerutkan kening, masih memFablo baru saja kembali ke rumah setelah mengikuti perkuliahan setengah hari. Begitu memasuki ruang tengah, ia mendapati Estella duduk di sofa, seolah sengaja menunggunya. “Kakak baru pulang?” sapa gadis itu lembut. Fablo mengangguk sambil meletakkan kunci mobil di atas meja. “Iya. Tumben ada di sini. Kamu menungguku?” Estella tersenyum kecil. “Aku tidak punya teman untuk makan malam.” Fablo terkekeh pelan. “Baiklah. Tunggu sebentar. Aku mau membersihkan diri dulu.” “Baik, Kak.” Tak lama kemudian, Fablo turun dengan pakaian yang lebih santai. Ia mendapati Estella sudah menunggunya di ruang makan. Namun, sebelum menarik kursi, pandangannya jatuh pada wajah gadis itu yang tampak lebih tenang dibandingkan beberapa hari terakhir. Ada sesuatu yang ingin ditanyakannya sejak lama. “Estella, aku mau bertanya.” Fablo duduk di hadapannya. “Tentang akta cerai y
Estella terdiam selama beberapa detik setelah mendengar pengakuan itu. Lalu, sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa getir. Gadis itu bahkan sempat menundukkan kepala, seolah-olah baru saja mendengar lelucon paling tidak masuk akal sepanjang hidupnya. “Lucu sekali.” Benev mengernyit. “Apa yang lucu?” Estella mengangkat wajah. Senyum sinis masih menghiasi bibirnya, tetapi tidak mampu menyembunyikan kepedihan yang bersemayam di balik matanya. “Rencanamu kali ini apa, Benev?” “Apa maksudmu?” “Jangan berpura-pura tidak mengerti.” Estella menyilangkan kedua tangan di depan dada. “Kau sudah mengambil alih perusahaan ayahku selama aku tidak tahu apa-apa. Sekarang, setelah aku datang untuk mengambil kembali hakku, tiba-tiba kau mengatakan bahwa kau mencintaiku.” Ia terkekeh pelan. “Apakah kau mulai tergiur dengan perusahaan ini? Atau janga
Estella mematung. Sementara pria itu meletakkan dokumen di tangannya, lalu menyandarkan punggung ke kursi dengan tatapan yang sulit diartikan. Seolah kedatangan Estella bukanlah sesuatu yang mengejutkannya, seolah ia memang sudah menunggu gadis itu sejak tadi. “Selamat pagi, Nona Cardenza.” Suara Benev terdengar tenang, begitu formal hingga terasa asing di telinga Estella. Ia melirik papan nama di pintu yang masih terlihat dari tempatnya berdiri, kemudian kembali menatap pria di hadapannya. Bibirnya terbuka, tetapi tak ada satu pun kata yang berhasil keluar. Benev justru mengulurkan tangan, menunjuk kursi di depan mejanya. “Silakan duduk.” Tatapannya tidak beranjak dari wajah Estella. “Sepertinya kita perlu membicarakan masa depan perusahaan ini.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara rendah. “Dan masa depanmu juga, Estella.” “Kenapa har
Pagi itu, Estella memutuskan untuk pergi ke perusahaan milik mendiang ayahnya. Sudah cukup lama ia ingin ke sana tapi tak memiliki kesempatan. Setelah mengenakan blus putih dan rok hitam selutut, Estella berangkat dengan mobilnya sendiri. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, sementara riasan tipis membuat wajahnya terlihat lebih segar daripada beberapa hari terakhir. Setidaknya, ia ingin terlihat pantas sebagai putri pemilik perusahaan. Hampir empat puluh menit kemudian, mobil Estella memasuki halaman gedung perkantoran dengan logo Cardenza Group yang terpasang megah di bagian depan. Ia sempat terdiam di balik kemudi. Gedung itu jauh lebih besar daripada yang dibayangkannya. Beberapa mobil mewah terparkir di depan lobi, sementara para karyawan berlalu-lalang dengan pakaian formal dan wajah serius. Estella menarik napas panjang sebelum turun. Baru beberapa langkah memasuki lobi, seorang petugas
“Aku bertanya kepadamu, Jessica!” Wanita itu masih bungkam. Benev tertawa pendek tanpa humor. Ia menatap Jessica lekat-lekat, mencoba memahami alasan di balik tindakan nekat tersebut. “Apa ini soal perasaanmu padaku?” Jessica akhirnya mengangkat wajah. Matanya berkaca-kaca, tetapi kali ini ia tidak berusaha menyangkal. “Iya!” jawabnya tegas. “Aku tidak mau kau kembali kepadanya, Benev. Aku tidak mau Estella kembali ke sini dan mengambil tempatku!” Rahang Benev mengeras. “Jadi, kau tega membuatnya menderita hanya karena kau tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku tidak mencintaimu?” Jessica terdiam, air matanya mulai mengalir. Namun, Benev sama sekali tidak melunak. “Dengarkan aku baik-baik, Jessica. Apa pun perasaanmu kepadaku, kau tidak berhak menghancurkan hidup Estella untuk memuaskan keinginanmu sendiri.” _____ Sebuah taksi berhent
Damien baru saja meninggalkan kamar hotel setelah menjelaskan hasil penyelidikannya mengenai akta perceraian palsu yang diterima Estella. Begitu pintu tertutup, Benev menghembuskan napas panjang. Ia menoleh kepada Estella yang duduk di sofa dengan wajah dingin, seolah seluruh penjelasan tadi sama sekali tidak berarti baginya. “Aku tidak akan menyalahkanmu karena kesalahpahaman ini,” ujarnya. “Aku tahu kau belum memahami proses perceraian dengan baik. Itu sebabnya kau langsung mempercayai dokumen tersebut.” Estella mengangkat wajah, menatapnya lurus sebelum menyunggingkan senyum tipis yang sama sekali tidak mengandung kehangatan. “Sandiwara yang bagus.” Kening Benev berkerut. “Sandiwara apa maksudmu?” Estella tidak menjawab. Ia bangkit, mengambil tasnya dari atas ranjang, lalu menyampirkannya ke bahu. “Kau membuang waktuku semalaman di sini hanya untuk menyaksikan kebohonganmu sen







