تسجيل الدخولKeano tidak langsung melangkahkan kakinya menuju kamar utama di lantai dua.
Dia justru membelokkan arah langkahnya menuju ruang kerja pribadinya yang terletak di sudut koridor lantai satu.
Begitu pintu kayu tebal itu tertutup rapat, Keano merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel, lalu menekan satu nama di daftar kontak.
Tak butuh waktu lama, panggilan itu diangkat pada dering kedua.
"Selamat siang, Pak Keano." Suara Nanda—asisten pribadinya—terdengar sigap di seberang telepon.
“Bagaimana? Apa yang aku perintahkan sudah kamu siapkan?" Nanda bicara dengan nada tegas.
"Dokumen kesepakatan pernikahan dan perombakan hak akses yang Bapak minta sudah selesai disusun. Semua drafnya sudah siap."
Keano mendengar balasan Nanda, dia diam beberapa detik sebelum kembali bicara.
"Bagus." Keano membalas pendek sembari melangkah menuju meja kerjanya. Pria itu menyandarkan pinggulnya di tepi meja kayu yang dingin. "Kirim draft halus ke email-ku sekarang."
Keheningan sempat menyelimuti saluran telepon selama beberapa detik sebelum Nanda kembali bersuara, kali ini dengan nada ragu. "Maaf sebelumnya, Pak. Jika saya boleh bertanya. Apakah Bapak yakin dengan keputusan ini? Maksud saya, apa sampai harus menikahi Nona Freya secara mendadak?"
Keano menyipitkan matanya. Suaranya terdengar makin dingin dan datar saat membalas pertanyaan asistennya. "Cukup lakukan saja apa yang aku perintahkan, Nanda. Kamu tidak perlu mempertanyakan keputusanku."
"Baik, Pak. Maafkan saya." Suara Nanda terdengar panik dari seberang panggilan.
"Besok pagi bawa seluruh dokumen fisik yang sudah dicetak ke kantor," perintah Keano lagi, tidak memberikan ruang untuk bantahan. "Aku baru akan masuk kantor siang hari."
"Baik, Pak Keano. Semua akan siap besok pagi."
Keano langsung mengakhiri sambungan telepon tanpa mengucapkan kata penutup. Pria itu menarik napas pendek, mengantongi kembali ponselnya, lalu melangkah keluar ruang kerja menuju lantai atas.
Sementara itu di dalam kamar utama, Freya duduk membeku di tepi ranjang berukuran king size.
Suasana kamar yang terlampau luas dan mewah itu justru membuatnya merasa tertekan. Dia bahkan tidak berani menggeser posisi duduknya atau menyentuh barang-barang mahal yang tertata rapi di ruangan bernuansa hitam-abu-abu tersebut.
Mata cokelat Freya hanya bergerak liar, memandangi setiap sudut kamar milik Keano. Mulai dari lemari kaca besar yang memajang buku-buku tebal di sana, pintu ukiran yang entah akan menuju ke mana jika dibuka, hingga jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan taman belakang rumah utama Pradipta.
Sampai suara pintu yang terbuka membuat Freya tersentak. Tubuhnya refleks berdiri seketika dari sofa. Punggungnya menegak kaku, sementara jemari tangannya saling meremat satu sama lain. Matanya menatap panik ke arah pintu, pada Keano yang baru saja menutup pintu kamar ini.
Keano melangkah masuk dengan santai. Pria itu melepas kancing jas hitamnya dan melepas dari tubuhnya, lalu menggantungkannya di kapstok dekat pintu. Tatapan tajamnya lantas terarah lurus pada Freya yang berdiri mematung dengan raut wajah sangat cemas.
"Kenapa belum ganti pakaian?" tanya Keano datar sembari berjalan mendekati area lemari.
Freya meneguk ludahnya susah payah. "Sa-saya tidak punya pakaian ganti, Pak Keano. Anda ingat, baju ini saja Anda yang berikan. Barang-barang saya masih ada di rumah ...."
Keano menghentikan langkahnya, menoleh dan menatap Freya. "Akan aku minta asistenku mengurus barang-barangmu."
"Ba-baik, Pak. Terima kasih," bisik Freya pelan dengan napas berhembus tidak teratur.
Keano mendudukkan dirinya di sofa panjang di samping sofa tunggal di dekat Freya. Tatapannya menatap lurus pada Freya yang masih mematung.
"Satu hal yang harus kamu tahu, Freya. Selama tinggal di rumah ini, kamu akan tidur di kamar ini bersamaku. Dan kita harus bersikap layaknya suami istri di rumah ini."
Mata Freya membola sempurna. Rasa terkejut menyelimuti dadanya hingga napasnya tertahan di tenggorokan.
"Ti-tidur di kamar ini bersama Anda?" tanya Freya dengan suara bergetar keras. Kepanikan yang sangat nyata menjalar cepat di wajah cantiknya. "Maksud Anda ... bersikap layaknya suami istri itu seperti apa, Pak?"
Melihat reaksi panik yang diperlihatkan Freya, Keano menyipitkan kedua matanya. Pria itu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, lalu melipat kedua tangannya di depan dada dengan raut wajah yang sukar diartikan.
Satu sudut alisnya tertarik ke atas, dan senyum samar nyaris tak terlihat tersemat di ujung bibirnya.
"Memangnya apa yang sedang kamu pikirkan, Freya Winata?" tanya Keano balik.
Di dalam area mall.Keano baru saja menyelesaikan pertemuan singkat dengan salah satu tenant di lantai bawah PD Mall. Langkahnya melintasi koridor utama, sengaja memilih rute yang melewati depan toko kosmetik tempat Freya bekerja.Kebiasaan barunya ini muncul entah sejak kapan—setiap kali ada urusan di lantai bawah, dia selalu menyempatkan diri lewat sana, meski hanya sekadar memastikan.Tatapan Keano menyapu etalase toko yang tertata rapi, mencari sosok yang biasanya berdiri di balik meja kasir atau sibuk merapikan rak produk.Namun, Freya tidak ada di sana.Keano menghentikan langkahnya sejenak, matanya menelusuri setiap sudut toko yang terlihat dari luar. Hanya ada Rachel yang tampak sibuk melayani pelanggan, dan seorang karyawan lain yang tidak dia kenal namanya.Kening Keano berkerut tipis. Biasanya di jam seperti ini, Freya sudah berada di posisinya.Nanda yang berjalan di belakangnya menyadari langkah Keano yang melambat. Nanda sampai memastikan ke mana arah tatapan atasannya
Freya menatap Brian yang berdiri di ujung koridor dengan senyum ramahnya yang biasa, seolah dunia baik-baik saja. Rasa marah yang tadi tertahan di dadanya kini mendidih, siap meluap kapan saja.“Frey? Kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali,” tanya Brian, melangkah mendekat dengan raut khawatir yang terlihat begitu meyakinkan.Freya menatap Brian lekat-lekat, mencoba mencari secuil rasa bersalah di balik wajah tenang itu. Tapi yang dia temukan hanyalah ketenangan yang begitu wajar, seolah pria ini benar-benar tidak tahu apa-apa.“Aku baru saja melihat data penjualanku,” kata Freya akhirnya, suaranya datar tapi tajam. “Kenapa kode stafmu ada di transaksi-transaksi besarku, Brian?”Untuk sepersekian detik, ada kilat terkejut yang lewat di mata Brian. Tapi secepat itu pula raut wajahnya kembali normal, bahkan menampilkan ekspresi bingung yang dibuat-buat.“Maksudmu apa? Aku tidak paham,” balas Brian, mengangkat bahu seolah benar-benar tidak mengerti.“Jangan berpura-pura, Brian.” Freya melangk
Freya berangkat bersama Nanda seperti hari sebelumnya. Dia sudah tiba di mall dan langsung masuk untuk bersiap bekerja.Suasana di area belakang toko kosmetik dipenuhi bisik-bisik karyawan yang berkumpul di depan papan pengumuman. Freya berjalan mendekat bersama Rachel, ikut menyelinap di antara kerumunan untuk melihat kertas yang baru saja ditempel.Pengumuman Resmi: Manajer Toko Kosmetik Area Lantai 2 — Brian MahendraFreya membaca nama itu berulang kali, memastikan matanya tidak salah lihat.“Apa?” Rachel yang berdiri di sampingnya bersuara lebih dulu, matanya membola tak percaya. “Brian? Yang benar saja!”Bisikan di sekitar mereka semakin ramai. Beberapa karyawan saling berpandangan dengan raut heran, ada juga yang menggelengkan kepala pelan.“Bukannya penjualan Brian selalu di bawah rata-rata?” bisik salah satu karyawan dari toko sebelah.“Iya, aneh sekali. Padahal semua tahu Freya yang paling konsisten mencapai target,” timpal yang lain, suaranya cukup pelan tapi masih terdenga
Keesokan harinya.Freya baru saja selesai mengganti pakaian kerjanya di dalam kamar mandi. Dia keluar dengan blus lengan panjang berwarna krem, rambutnya masih setengah basah dan tergerai di bahu.Freya melangkah menuju cermin besar di sudut walk in closet, lalu mulai menyisir rambutnya dengan gerakan cepat karena waktu hampir siang.Sampai suara pintu walk in closet kembali terbuka, membuat Freya menoleh sekilas.Keano melangkah masuk dengan kemeja putih yang belum sepenuhnya dikancingkan dan memperlihatkan sebagian dada bidangnya. Tangannya membawa sebuah kotak kecil berwarna putih.Freya buru-buru mengalihkan pandangan, pipinya memanas tanpa alasan jelas. Dia kembali fokus menyisir rambutnya, berusaha terlihat sesibuk mungkin.“Duduk,” kata Keano begitu sampai di dekat Freya, suaranya datar seperti biasa.Freya menghentikan gerakan tangannya. Dia menoleh dengan kening berkerut. “Duduk, Pak? Untuk apa?”Keano tidak menjawab. Dia hanya menunjuk kursi kecil di dekat meja rias dengan d
Malam hari. Jam kerja telah usai. Freya berjalan keluar dari pintu khusus karyawan sambil menarik lengan baju pendeknya lebih rendah, berusaha menutupi memar yang masih membekas di kulitnya sejak insiden dengan Brian pagi tadi.Dia melangkah menuju titik jemput yang tadi pagi Nanda katakan. Namun, saat tiba di sana bukan mobil Nanda yang terparkir di sana.Freya menghentikan langkah saat melihat mobil sedan hitam Keano berhenti tepat di depannya, kaca jendela belakang turun perlahan.“Masuk.”Suara Keano yang datar itu membuat Freya tersentak kecil. Dia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada rekan kerja yang melihat, lalu bergegas masuk ke dalam mobil.“Kenapa Bapak sendiri yang jemput?” tanya Freya begitu duduk dan menutup pintu mobil dengan pelan.“Nanda ada urusan lain,” jawab Keano singkat, tatapannya tertuju ke luar jendela.Freya mengangguk pelan, tidak berani bertanya lebih jauh. Dia menyandarkan punggungnya, lalu tanpa sadar menggosok pelan lengannya yang masih teras
Freya langsung menatap ke suara yang menginterupsi. Begitu juga dengan Brian dan Melissa. Keduanya melebarkan mata mereka melihat siapa yang sedang melangkah mendekat.Seketika itu, tangan Freya akhirnya terlepas dari Brian. Dia mengusap lengannya yang sakit karena perbuatan Brian.Di hadapan mereka, kini berdiri Keano yang menatap tajam pada Brian dan Melissa, lalu sorot mata Keano melunak ketika melihat Freya menunduk dengan wajah menahan sakit.“Apa yang terjadi di sini?” Suara Keano terdengar tegas dan dalam.Brian dan Melissa langsung membungkukkan tubuh mereka ke Keano.Brian begitu panik, lalu dia mencoba menjelaskan. “Tidak ada apa-apa, Pak. Kami … kami … kami hanya sedang berdiskusi biasa.” Brian tersenyum karier ke Keano karena takut terkena masalah.Satu sudut alis Keano tertarik ke atas mendengar penjelasan Brian. Sampai dia menatap pada Freya, lalu Keano bertanya, “Apa yang dia katakan benar?”Freya tersentak mendengar pertanyaan Keano, apalagi tatapan pria ini kini tert







