Se connecterTak jauh dari posisi Jovita dan Raymond berdiri, seorang pria paruh baya melangkah keluar dari balik pilar koridor. Roberto berdiri di sana sambil menggenggam ponsel di telinganya.
“Papa ingin bicara denganmu, Ray,” ucap Roberto dingin begitu mereka terhubung.Raymond mengepal erat jemari tangannya yang bebas, merasa sang ayah menghubungi di waktu yang tidak tepat.“Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Kita sudah bahagia denganTak jauh dari posisi Jovita dan Raymond berdiri, seorang pria paruh baya melangkah keluar dari balik pilar koridor. Roberto berdiri di sana sambil menggenggam ponsel di telinganya. “Papa ingin bicara denganmu, Ray,” ucap Roberto dingin begitu mereka terhubung. Raymond mengepal erat jemari tangannya yang bebas, merasa sang ayah menghubungi di waktu yang tidak tepat. “Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Kita sudah bahagia dengan hidup kita masing-masing.” Jovita mengerutkan dahinya mendengar nada bicara sinis suaminya. Dia menduga saat ini Raymond sedang bicara dengan mantan istri yang sepertinya masih berat untuk melepaskan. “Ini penting,” potong Roberto cepat, suaranya terdengar penuh penekanan. “Ini menyangkut wanita simpananmu.” “Simpanan apa?!” bentak Raymond dengan nada suara meninggi. Rahangnya mengeras menahan amarah yang mendadak membakar dadanya.
Dokter Amira menggeleng pelan, raut ragunya perlahan berganti menjadi senyuman takjub. “Bukan masalah, Pak... Tapi saya melihat hal yang luar biasa di sini. Ada dua kantung kehamilan yang berkembang sangat baik.”Dua? Batin Jovita menjerit bingung. Ia dan Raymond saling pandang dengan kening berkerut.“Maksudnya bagaimana, Dok?” tanya Jovita. Suaranya bergetar menahan debar dada yang mendadak tak beraturan.Dokter Amira menunjuk dua titik fokus di layar monitor, lalu menoleh menatap pasangan itu. “Selamat, Mbak Jovita... Anda hamil kembar.”Kembar? Bayi kembar?Lidahnya mendadak kelu, tak sanggup mengucakapan sepatah kata pun. Dadanya bergemuruh hebat, dipenuhi rasa syukur. Semua doa dan penantiannya, bahkan bonus luar biasa berupa anak kembar, rasanya dikabulkan sekaligus tanpa tersisa.Jovita menoleh, menatap suaminya yang masih membeku. Di wajah tampan suaminya itu, terukir senyum sangat lebar bersamaan dengan lelehan air mata haru yang menetes membasahi pipinya.“Semua yang Om Ray
Di ruang tunggu poli kandungan yang relatif lengang, Jovita terus meremas jemarinya sendiri. Rasa cemas menggerogoti pikirannya. Ia menoleh ke arah Raymond yang duduk tenang di sampingnya.“Om... bagaimana kalau hasilnya nanti negatif?” tanya Jovita lirih, menyuarakan keraguan yang mengganjal di dadanya.Dengan santai tanpa beban, Raymond meliriknya lalu menjawab enteng, “Ya diulangi lagi prosesnya dari awal.”Jovita seketika merengut kesal, menepuk pelan paha suaminya. “Aku serius, Om!”Raymond yang sejak tadi tidak melepaskan genggaman tangannya di jemari Jovita kini mengelus punggung tangan istrinya itu dengan lembut. “Kalau belum ada hasilnya, anggap saja memang belum rezeki kita, Jo.”Jovita menghembuskan napas kasar, ada kekecewaan yang tersirat di matanya. “Apa karena Om sudah punya Viola... jadi keberhasilan promil ini sebenarnya nggak terlalu penting buat Om?”Mendengar tuduhan itu, raut wajah Raymond langsung berubah serius.“Mana ada seperti itu,” sahutnya cepat. Pria itu m
“Katanya Jojo nginap di sini, di mana dia?”Bi Lastri langsung menimpali dengan wajah polos tanpa beban. “Anu, Nyonya... Jojo sudah keluar tadi, pas Tuan dan Nyonya lagi berdebat di ruang tengah. Dia merasa nggak enak, jadi cuma pamit ke saya terus pergi.”Felisa melangkah maju, memangkas jarak dan menatap Bi Lastri dengan mata memicing tajam penuh desakan.“Jangan bohong kamu, Bi!”Bi Lastri berdehem pelan. Bukannya gentar, ia justru menatap balik mata Felisa tanpa ada rasa takut sedikit pun.“Nyonya, kalau yang Nyonya takutkan itu Jojo selingkuh sama Tuan... saya bisa pastikan hal itu tidak terjadi.”“Tahu apa kamu, Bi?!” bantah Felisa sinis, mengibaskan tangannya meremehkan.Dari sudut matanya, Bi Lastri melihat Viola mulai melangkah mendekat dari arah ruang tamu. Memanfaatkan momen tersebut, Bi Lastri sengaja memajukan tubuhnya dan berbisik sangat pelan tepat di samping telinga Felisa.“Saya tahu banyak hal, Nyonya... Termasuk saat Nyonya memasukkan Tuan Julian ke rumah lama,” bis
Bi Lastri mengetuk pintu kamar utama pelan lalu melangkah masuk membawa nampan sarapan.Ia menyodorkan nampan itu pada Raymond seraya berbisik setengah mengadu, “Maaf ya, Tuan... Di bawah Mak Lampir masih nangkring manis di sofa. Jadi Bibi cuma berani bawakan satu piring saja biar nggak dicurigai. Tapi ini porsinya porsi jumbo kok, Tuan! Sepiring berdua, biar romantis.”Raymond tersenyum tipis melihat kejelian asisten rumah tangganya itu. “Terima kasih banyak ya, Bi.”Saat Bi Lastri hendak berbalik, Raymond menahannya sebentar. “O iya, Bi... Nanti kalau Feli sudah pergi atau ada kesempatan buat keluar rumah tanpa dicurigai, tolong segera kabari saya ya. Saya mau bawa Jovita ke rumah sakit.”Bi Lastri mendadak menghentikan langkahnya, menoleh dengan raut khawatir. “Lho, Jojo kenapa, Tuan?”“Sepertinya meriang, Bi. Tadi pagi muntah-muntah terus, sekarang badannya lemas banget,” jawab Raymond jujur, menatap ke arah ranjang tempat Jovita terbaring meringkuk.Mendengar penjelasan itu, Bi L
Raymond mendadak panik mendengarnya. Tanpa membuang waktu, ia langsung lari ke arah kamar mandi. Di sana, ia melihat Jovita terduduk lemas di lantai tepat di depan kloset dengan wajah pucat pasi.Raymond segera berlutut menghampirinya. Dengan penuh kelembutan, tangan kokohnya mengumpulkan helai-helai rambut Jovita yang berantakan agar tidak terkena kotoran, sementara tangan satunya mengelus lembut punggung sang istri.“Kamu salah makan apa, Jo? Wajah kamu pucat banget,” tanya Raymond khawatir setengah mati. “Ayo kita ke dokter sekarang ya?”Jovita dengan sisa tenaganya meraih dan menggenggam erat lengan Raymond, menggeleng pelan menolak ajakan itu. Setelah menghela napas panjang dan merasa keadaannya sedikit lebih tenang, Jovita menengadah menatap suaminya.“Jangan sekarang, Om...” bisik Jovita lirih. Ia lalu mengedarkan pandangan ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. “Om... nanti keluarnya tunggu Vio pergi dulu atau pas dia lagi anteng di kamarnya ya. Jangan sampai dia tahu kalau
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu me
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari







