LOGIN“Mau lihat-lihat perlengkapan bayi dulu?” tanyanya mencoba mengalihkan perhatian Jovita sepenuhnya dari kejadian tadi.Jovita menggeleng pelan. “Jangan dulu, Om. Kita kan belum tahu jenis kelamin si kembar apa.”“Bisa cari warna dan motif yang netral dulu, kan?” sahut Raymond tak mau kalah.“Nggak dulu, Om. Tujuan kita ke sini kan mau belanja bulanan, kulkas sudah mulai kosong,” tolak Jovita halus.Raymond memiringkan kepalanya, menatap Jovita dari atas sampai bawah. “Pengin beli baju baru nggak?”“Nanti saja, baju-baju yang di lemari masih banyak yang muat.”Raymond mendadak mendekatkan wajahnya, lalu berbisik goda, “Tapi baju dinas malamnya itu-itu saja...”Jovita langsung melirik tajam ke arah suaminya sambil menepuk pelan lengan pria itu. “Ih, ingat tempat, Om! Malu kalau sampai ada yang dengar.”Raymond tersenyum lebar. Dalam hati, ia merasa lega luar biasa melihat raut wajah Jovita yang sudah tenang, tidak lagi terpengaruh oleh peristiwa tak menyenangkan bersama Karina.“Ya suda
“Kalian…?”Mata Karina memanas menyaksikan pemandangan di depannya. Keintiman dan kemesraan Jovita dan Raymond menunjukkan mereka memiliki hubungan spesial yang tidak terbantahkan.Dada Karina naik turun menahan emosi yang membakar. Dengan suara bergetar penuh penekanan, Karina menuntut, “Jelaskan, Ray!”Raymond sama sekali tidak bergeming. Tatapannya dingin dan datar. Dengan tegas, pria itu berkata, “Tidak ada yang perlu aku jelaskan.”Mendengar jawaban itu, tatap mata Karina berpindah ke Jovita. Dia menarik satu ujung bibirnya, melempar senyum sinis yang terlihat sangat merendahkan.“Yang katanya mau membantu meyakinkan Viola, ternyata kau sendiri yang merebut papanya,” sindirnya tajam, seolah menyiramkan minyak ke dalam api.Jovita makin menunduk dalam. Wajahnya memanas, meremas jarinya sendiri di bawah meja. Di tengah riuhnya tempat itu, dia sangat berharap pengunjung lain tidak memperhatikan perselisihan mereka dan menganggapnya sebagai tontonan gratis.Melihat Jovita yang makin
Dylan berdiri di balik pintu kaca, menatap Elvi yang sedang duduk melamun berjemur di taman rumah sakit. Ia lalu menoleh ke arah Damian yang berdiri di sampingnya.“Mama belum mau ngomong juga?”Damian menggelengkan dengan raut wajah gusar. “Belum... Dia masih terlalu takut. Dia cemas kalau anaknya bakal menolak dan membencinya.”“Tapi mau sampai kapan begini, Pi?” cecar Dylan, gemas sekaligus cemas. “Kondisi tertekan begini makin membahayakan kesehatan Mama dan Adik bayi. Papi harus lebih tegas ngomongnya, biar Mama mau ngaku siapa namanya dan kita bisa langsung temui dia buat jelaskan semuanya.”“Papi sudah coba bujuk pelan-pelan sampai tegas,” sahut Damian menghela napas berat. “Tapi mamamu tetap mengunci mulutnya. Dia cuma bisa menangis.”Dylan menghembuskan napas kasar. Rasa bersalah seketika bertumpuk di dadanya. “Coba kalau bukan karena aku... Mama nggak bakal meninggalkan anaknya begitu lama. Mungkin saat ini Mama lagi bahagia merayakan wisuda anaknya.”Dylan menatap papinya l
Hingga sore, Jovita masih betah berada di Maximilian Residence. Ia melangkah perlahan mengitari setiap sudut hunian tersebut, mengamati tempat yang pernah menjadi saksi bisu awal mula kehidupan barunya setelah menikah siri dengan Raymond.Bisa dikatakan, tempat ini adalah rumah yang paling layak dan nyaman yang pernah ia tinggali sejak bundanya pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu. Begitu banyak kenangan manis maupun pahit yang terukir di tiap sudut ruangan ini.“Aku memberimu tempat tinggal sebagai bentuk tanggung jawab sebagai suami, meski kita hanya nikah siri.”Jovita masih ingat kalimat dingin yang terlontar dari bibir suaminya waktu itu. Setelah itu, Raymond sempat mengabaikannya, kecuali masalah uang. Bukan nafkah murni, melainkan imbalan karena Jovita mengurus segala kebutuhan operasional di Maximilian Residence.Waktu itu Jovita harus mengerjakan laporan keuangan dan berbagai laporan lain Maximilian Residence di tengah kesibukan kuliahnya.Saat pandangan mata Jovita tert
Sambil terus melangkah menyusuri koridor menuju ruangan kerjanya, Jimmy kembali membuka suara.“Terus, Jojo sudah mulai minta yang aneh-aneh belum?”Raymond menoleh sekilas. “Ngidam maksudmu?”“Iya,” sahut Jimmy cepat. “Ingat ya, Ray... jangan pernah percaya seratus persen soal yang namanya ngidam! Itu cuma siasat perempuan buat pakai alasan 'anak' demi memanipulasi bapaknya.”Raymond menyipitkan matanya, menatap sahabatnya itu dengan pandangan tak percaya. Ia sangat tahu betul kelakuan Jimmy dulu. “Bukannya waktu Jessica hamil kamu yang sampai perjalanan keluar kota malam-malam buat cari buah yang dia pengin?”Jimmy langsung berkilah tanpa rasa dosa. “Itu beda cerita! Kalau waktu itu kan karena Jess cuma bisa makan itu. Kalau nggak dituruti dia bakal muntah terus dan lemas, jelas aku nggak mau membahayakan anak dan istriku!”Raymond menggeleng-gelengkan kepala. “Terus apa alasanmu sampai nggak percaya sama ngidam?”“Nggak logis aja,” jawab Jimmy mantap. “Makanya dari awal aku bilang
Hal pertama yang menyadarkan Raymond dari tidurnya bukanlah silau sinar matahari, melainkan sensasi geli yang merambat halus di area dadanya.Saat perlahan membuka mata, pemandangan indah langsung menyapa penglihatannya. Jovita sudah terbangun lebih dulu. Perempuan itu tengah sibuk menghujani dada bidangnya dengan ciuman-ciuman kecil nan manja.‘Oh Tuhan, ibu hamil satu ini benar-benar beringas,’ tawa geli Raymond nyaris pecah begitu saja di tenggorokan.Ingatan tentang kejadian semalam mendadak berputar ulang di kepalanya. Semalam, Jovita terus-terusan ndusel-ndusel manja, meminta 'jatah' tambahan dengan tingkah yang membuat pertahanan pria mana pun runtuh. Tapi, demi keselamatan janin kembar mereka yang masih ringkih di dalam rahim sang istri, Raymond terpaksa mengerem gairahnya yang menggebu-gebu. Ia harus menahan diri dan mengabaikan godaan itu semalaman.Melihat tingkah Jovita pagi ini, yang masih saja sibuk mengabsen dadanya dengan bibir kenyal itu, jelas sekali kalau sang istri
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu me







