LOGINElvi masih bersandar santai di atas brankar menatap putranya penuh selidik.“Dyl, kenapa sikap kamu ke Jojo tadi kelihatan agak beda? Cuek dan ketus gitu, kalian ada masalah?”Dylan yang sedang menata botol susu adiknya menghembuskan napas pendek.“Kesal aja, Ma. Kalau Jojo mau datang ke sini jenguk Mama ya datang aja, kenapa harus ajak Vio segala? Bikin suasana jadi enggak asik.”“Apa salahnya kalau Jojo ajak Vio, mereka kan keluarga.”Damian yang duduk di samping brankar menyela sembari menyipitkan mata. “Kamu benar-benar begitu sama Viola? Atau cuma pura-pura di depan Papi aja?”Dylan menatap papinya dengan tatapan sinis, lalu menghembuskan napas kasar.“Sudah deh, Papi... enggak usah bahas dia lagi. Nanti adikku malah terlalu banyak mendengar omongan buruk. Kalau bisa, nanti kalau ada acara apa-apa di keluarga kita, kasih pesan khusus sama Om Raymond, nggak usah ajak anaknya yang manja itu.”Elvi tersenyum geli melihat nada antipati Dylan yang begitu kentara terhadap Viola. “Janga
"Dedek namanya siapa, Bun? Biar nggak bingung kalau mau panggil,” tanya jovita penasaran.Elvi tersenyum manis lalu mengalihkan pandangannya ke sudut ruangan, menatap putra sambungnya."Nama adiknya siapa tadi, Dyl? Ini Jojo tanya."Dylan mendongak bangga, memperbaiki dekapan di lengannya sembari mengusap pipi gembil adiknya."Davian, diambil dari Damian, Elvita dan Dylan. Lengkap," jawab Dylan dengan nada mantap dan penuh rasa bangga. “Panggilannya Davi.”“Nama panjangnya Davian Rafael Hadiningrat,” sahut Elvita sambil mengusap punggung tangan Jovita. Sudah terlalu lama dia meninggalkan putrinya, berharap kelahiran anak keduanya tidak membuat Jovita merasa semakin terasing.Damian yang mendengar itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala seraya terkekeh masam."Coba kalian bayangkan... Sejak dia lahir tadi malam, Saya cuma sempat menggendongnya sebentar pas baru keluar dari kamar bersalin. Setelah masuk ruang perawatan... adiknya langsung dikuasai penuh sama kakaknya."Dylan tak mau
Perjalanannya tak selamanya mulus, bahkan guncangan akan tetap terasa di mobil mewah. Tiba-tiba SUV Raymond melewati lajur jalanan yang berlubang, menimbulkan getaran di dalam kabin. Secara refleks, Jovita menangkup dan mengusap pelan perutnya yang kian membuncit untuk melindungi kedua bayinya dari guncangan. Melalui pantulan kaca spion, Viola memperhatikan gerakan tangan Jovita. Bibirnya seketika mencebik sinis. Di dalam hatinya yang dipenuhi kecurigaan, Viola menganggap Jovita sedang sengaja pamer kehamilan, seolah ingin menegaskan keberhasilannya mengikat hati Raymond dan mengukuhkan posisinya sebagai istri sah. Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya tiba di area parkir rumah sakit tempat ibunda Dylan dirawat. Setelah memarkirkan mobil, Raymond turun dan melangkah membukakan pintu belakang untuk Jovita. Dengan penuh kehati-hatian dan protektif, Raymond menggenggam erat jemari Jovita sembari tangan satunya menenteng bingkisan kado yang besar. Viola yang berjalan tepat di sampin
Sepulang dari kantor, Raymond dan Jovita menyempatkan diri mampir ke sebuah toko perlengkapan bayi yang cukup mewah. Pasangam suami istri itu bermaksud membeli kado untuk kelahiran bayi Elvi.Sesuai saran dari Jessica, membeli perlengkapan bayi seperti pakaian atau peralatan perawatan jauh lebih berkesan ketimbang membawa bingkisan makanan.“Kalau makanan kan langsung habis sekali makan, Jo. Itu pun belum tentu yang habis lahiran atau babynya yang makan. Tapi kalau barang, bakal dipakai dan jadi kenang-kenangan manis yang tahan lama.” Begitu pesan Jessica yang diingat betul oleh Jovita.Di dalam toko, Jovita tampak antusias mengamati deretan stroller dan set pakaian bayi berwarna pastel yang menggemaskan. Jemarinya memegang dua buah baby jumper berbahan organik yang amat lembut.“Om, lihat deh... yang warna hijau ini lucu banget, kan?” ujar Jovita berbinar, memperlihatkan baju mungil itu pada Raymond. “Bahannya halus banget, pasti nyaman di kulit bayi baru lahir.”Raymond tersenyum men
“Kita ke rumah sakit sekarang?” tanya Raymond tiba-tiba dengan nada serius.Mendengar itu, Viola langsung menghembuskan napas kasar. Gemuruh di dadanya semakin menjadi. Baru saja dia menikmati kebersamaan dengan papanya, Jojo sudah gatal ingin mengganggu.‘Tuh kan, benar dugaanku! Pasti Jojo beralasan sakit perut atau apa, padahal mungkin bayinya cuma nendang-nendang biasa. Sengaja banget cari alasan biar Papa terpaksa pulang malam-malam begini!’ Di dalam hatinya, gadis itu merasa kesal dan semakin yakin dengan dugaannya.Viola langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, menekuk bibirnya rapat-rapat untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya yang penuh dengan kekesalan.Raymond yang menangkap perubahan raut wajah putrinya seketika paham. Tanpa membuang waktu, ia meraih tangan Viola dan menggenggamnya lembut, sementara tangan kanannya mendekatkan ponsel ke telinga.“Kata Dylan, besok saja, Om. Bunda sekarang sedang istirahat. Tadi Dylan cuma mau ngabari kalau Bunda sudah lahiran, anaknya c
Melihat tatapan intens dan gestur protektif Raymond, Aris yang kebetulan mejanya tepat di samping Jovitalangsung berinisiatif menyingkir sejenak. Bukan sekadar tahu diri karena ini menyangkut percakapan pribadi, melainkan sebagai sesama lelaki, Aris sangat paham dengan getaran perasaan dan gelagat posesif Raymond terhadap Jovita.Sebenarnya, untuk urusan semacam ini Raymond bisa saja mengirim pesan singkat atau menelepon. Tapi, ia lebih memilih mendatangi istrinya secara langsung, tentu saja bukan hanya untuk menyampaikan kabar, melainkan juga sebagai bentuk 'sidak' halus untuk memastikan tidak ada lagi mata-mata pria di kantor yang berani melirik sang istri.“Terima kasih, Ris,” ucap Raymond singkat saat Aris beranjak pergi dan merelakan kursinya agar Raymond bisa duduk dan berbicara lebih nyaman di samping Jovita.Jovita menatap suaminya lekat-lekat, lalu mengangguk samar. “Enggak apa-apa, Om. Pergilah.” Ia kemudian menunduk perlahan, mengusap perutnya sembari berujar lembut, “Yang
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka







