LOGINJulian melangkah mendekat ke meja kerja ayahnya, menatap Roberto dengan kilat mata menuntut.“Aku ini anak Papa satu-satunya! Setelah Papa membuang Raymond dari keluarga ini!”Roberto bungkam. Rasa perih seketika menghantam ulu hatinya kala mendengar nama Raymond disebut. Ada rasa bersalah yang teramat dalam yang harus ia tahan setengah mati agar tidak membocorkan rencana besarnya untuk menarik putra sulungnya itu kembali.“Kalau begitu, sekarang aku kasih kamu kesempatan untuk membuktikan kemampuanmu,” ucap Roberto akhirnya, berusaha menguasai emosinya.Seketika senyum Julian mengembang lebar. “Beri aku modal, Pa.”‘Akhirnya.’ batinnya berdesir lega. Bayangan aliran dana segar dalam jumlah fantastis langsung menari-nari di benaknya. Ia berharap sang ayah akan segera mentransfer yang sangat ia butuhkan untuk menutup tumpukan utang beserta bunganya yang kian menjerat lehernya.Untuk urusan proyek? Hah, persetan dengan bisnis. Itu urusan gampang, bisa diakal-akali belakangan.Roberto ha
Jovita langsung menegakkan tubuh, mata melebar panik. Ia buru-buru menarik blusnya kembali ke posisi semula dan merapikan roknya, sementara Raymond dengan cepat mengancingkan kembali kemejanya.“Ray, kamu nggak apa-apa?” Suara Jimmy terdengar dari balik pintu.Jovita menatap suaminya dengan wajah memerah, napasnya masih belum stabil. Raymond hanya menghela napas panjang, rahangnya mengeras menahan frustrasi.“Sebentar,” jawab Raymond dengan suara yang dipaksakan tenang.Ia menatap Jovita yang masih duduk di meja, rambut sedikit berantakan dan bibirnya bengkak karena ciuman. Senyum miring muncul di wajahnya, meski matanya masih penuh nafsu yang tertahan.“Nanti malam di rumah,” bisiknya pelan, ibu jarinya mengusap bibir bawah Jovita. “Om belum selesai sama kamu.”Raymond segera menarik napas panjang, berusaha menetralkan napasnya yang masih terengah. Ia menatap Jovita yang panik di atas meja lalu berbisik pelan di depan wajah istrinya.“Kamu masuk ke toilet dulu, rapihin dandanannya,”
“Om, ini di kantor! Jangan aneh-aneh, deh.”Jovita mendelik, menatap suaminya dengan raut cemas sembari melirik ke arah pintu. Ada ketakutan jika tiba-tiba ada karyawan yang masuk untuk minta tanda tangan. Sudah pasti hal itu akan menghancurkan reputasikunya. Jantungnya berdegup makin kencang, antara panik dan rasa berdesir aneh yang mendadak menyeruak.Raymond hanya mendengkus sinis. Jemari tegasnya mengelus pinggang Jovita yang masih berdiri ragu di samping kursi kerjanya.“Tadi dekat-dekat sama Aris nggak masalah, sekarang dekat sama suami sendiri malah bingung? Panggilnya mesra banget lagi... Mas Aris,” sindir Raymond. Nadanya tenang, tapi guratan di dahinya jelas menunjukkan kekesalan yang ditahan.Jovita mendengus kecil, menghadapi suaminya yang posesif. Interaksinya dengan Aris hanya membahas laporan proyek, tapi bisa secemburu ini.Tapi, meski jengkel, ada rasa hangat yang aneh menyusup di dada Jovita. Ia memutar bola mata, melangkah mendekat dan akhirnya menurut. Dengan gerak
Di kubikelnya, Jovita bergelut dengan lembar-lembar sketsa digital di layar monitornya. Setelah mendiskusikan beberapa opsi awal, ia memanggil Aris untuk meninjau opsi terbaik yang berhasil diselesaikannya.“Mas Aris, ini draf alternatif untuk proyek Perumahan Griya Asri.” Penuh antusias Jovita memutar sedikit posisi layarnya agar Aris bisa melihat lebih jelas.“Coba aku lihat.”Aris mendekat, tapi alih-alih membungkuk rapat di samping meja Jovita seperti yang biasa ia lakukan dulu, Aris memilih berdiri menjaga jarak aman yang dan profesional setelah mengetahui status asli Jovita sebagai putri keluarga Hadiningrat sekaligus istri sang pemilik perusahaan.Jovita menunjuk salah satu bagian potongan bangunan pada gambar tekniknya.“Kalau kita pakai konsep mezzanine dengan memanfaatkan tinggi atap, rumah ini bakalan kerasa jauh lebih lega tanpa perlu bongkar struktur bawah secara masif. Biaya konstruksi renovasinya juga bisa ditekan lumayan besar karena nggak perlu nge-cor dak beton penuh
Karina mendongak, menatap Kaisar dengan penuh antusias di matanya seolah baru saja menemukan secercah harapan dan dukungan besar.“Gimana caranya, Kak?”Kaisar menatap adiknya lurus-lurus, suaranya terdengar begitu mantap. “Jangan pernah mengemis cinta lagi sama dia. Bangkit, dan tunjukkan kalau kamu bisa jauh lebih sukses dan bahagia daripada saat kamu masih bersama Raymond!”Seperti disiram air es, binar di mata Karina mendadak padam mendengar penuturan sang kakak. Ia membuang muka, mengulas senyum getir sembari menyeka sisa air mata di pipinya.“Klise...” gumamnya sinis.“Terus kamu mau gimana?!” bentak Kaisar dengan nada tinggi, kehilangan kesabaran melihat sikap keras kepala adiknya. “Mau terus-terusan meratapi nasib? Menghancurkan hidupmu sendiri dan ngerusak nama baik keluarga ini?!”Pria itu mengusap wajahnya kasar, raut jengkel menumpuk di dahinya.“Kamu tahu nggak? Video keributan di kafe waktu itu sempat menyebar di media sosial! Aku dan Papa harus mati-matian bayar orang b
Di mobil dalam perjalanan kembali ke kantor, Raymond memasang wajah masam. Jarinya mengetuk-ngetuk kemudi dengan gusar, memikirkan kembali sindiran Dylan di meja makan tadi.“Bisa-bisanya dia menyebutku om-om genit di depan Pak Damian dan Bu Elvi,” gumam Raymond dengan penuh rasa jengkel. “Genit dari mana coba? Aku tak pernah dogain perempuan mana pun, dan selalu setia dengan pasangan!”Jovita menahan tawa, mencoba memasang raut wajah sepolos mungkin untuk menenangkan hati suaminya yang mendadak sensitif.“Itu tadi kan doa Dylan buat adik-adiknya, Om. Bukan ngatain Om Ray genit. Lagian Om baper banget, deh.”Raymond mendengkus pelan, tidak terima. “Nggak tahu punya dendam apa anak itu sama aku. Dari dulu bawaannya sinis melulu, sepertinya memang nggak suka sama aku.”Jovita menopang dagunya dengan tangan, menatap Raymond dari samping sambil melontarkan tebakan acak.“Emangnya Om Ray pernah larang Dylan deket-deket sama Vio, ya? Makanya dia kesal?”Mendengar pertanyaan itu, Raymond men
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu me
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini







