LOGINJovita menarik napas panjang, menatap lekat-lekat hasil karyanya di atas meja kerja. Konsentrasinya penuh, memastikan setiap sudut dan detail maket tugas akhir skripsinya sudah terpasang sempurna tanpa ada cacat sedikit pun.Bunyi langkah kaki yang tegas memecah keheningan ruangan. Raymond melangkah masuk dengan kemeja kantor yang gulungan lengannya sudah terlipat rapi hingga siku dan dasi yang sedikit dilonggarkan.Di mata Jovita, penampilan suaminya yang baru pulang kantor itu selalu terlihat menawan. Namun kali ini, ketampanan Raymond harus mengalah, fokus utama Jovita tetaplah pada maket di hadapannya.Raymond mendekat, menghentikan langkah tepat di samping meja. Pria itu berdiri tegak dengan kedua tangan terbenam santai di dalam saku celananya, memperhatikan setiap jengkal maket milik istrinya dengan saksama dan teliti.“Bagus,” puji Raymond singkat namun penuh penekanan, mengutarakan rasa bangganya. Ia lalu melirik Jovita. “Video 3D-nya sudah siap juga?”Jovita mengangguk mantap
Elvi menyapu air matanya saat samar-samar mendengar suara bentakan Dylan bergema nyaring dari arah lantai satu.Dari jendela kamar lantai dua, Elvi sempat melihat mobil Damian baru saja terparkir di pelataran, yang artinya, pria yang sedang dimarahi habis-habisan oleh Dylan saat ini adalah suaminya. Sesuatu yang sangat langka dan belum pernah sekalipun Elvi dengar selama hampir sepuluh tahun tinggal di rumah ini.Elvi mengusap perutnya dengan napas terengah pelan. Ia membatin pilu, mengira bahwa pertengkaran dan suasana tegang di rumah ini, termasuk barang-barangnya yang dipindahkan adalah bentuk penolakan Dylan.‘Mungkin ini karma atas dosa-dosaku yang dulu tega meninggalkan anak pertamaku.’Di lantai bawah, Dylan justru sedang sibuk mengatur para pekerja untuk merapikan kamar almarhum maminya. Kamar luas di lantai satu itu menyatu langsung dengan taman belakang, memiliki pencahayaan matahari pagi yang melimpah sangat sempurna untuk kesehatan Elvi dan janin di kandungannya agar tidak
Jovita dan Dylan melangkah keluar dari ruang sidang skripsi dengan helaan napas lega. Bukan mereka berdua yang baru saja diuji, melainkan rekan seangkatan mereka yang kebetulan mendapat jadwal lebih awal.Memanfaatkan jeda waktu menunggu giliran, Jovita dan Dylan tak membuang kesempatan untuk mengikis rasa gugup sekaligus mencari bocoran.Di sepanjang koridor kampus, keduanya berdiskusi dan membahas jalan sidang, menjadikannya sebagai gambaran kasar untuk persiapan ujian mereka sendiri tak lama lagi.Di tengah obrolan mereka, langkah kaki tergesa mendekat. Viola muncul dengan senyum mengembang penuh semangat. “Aduh, akhirnya ketemu juga! Karena jadwal sidang hari ini sudah beres, gimana kalau kita refreshing! Jalan bareng, aku yang traktir!”Jovita tampak ragu. Kali ini ia terpaksa harus menolak ajakan sahabatnya itu. Siang ini ia sudah terikat janji untuk menghadiri kelas mengemudi mobil yang telah dijadwalkan dan dibayar oleh Raymond.Tentu saja, Jovita tidak mungkin mengungkap alas
Jovita perlahan membuka matanya, tubuhnya masih dibalut kemeja putih longgar milik Raymond yang semalam dikenakannya. Mengingat kembali setiap detail momen panas dan mesra yang mereka lewati di sofa dan dapur tadi malam, rona merah seketika menyapu bersih kedua pipinya.Saat melangkah keluar kamar, aroma harum roti panggang dan kopi menyambut indra penciumannya. Di meja makan, Raymond sudah rapi, sedang menata piring berisi sarapan sederhana dan segelas jus jeruk segar.“Selamat pagi, Nyonya Chandra. Sini, sarapannya sudah siap,” panggil Raymond seraya tersenyum manis menatap istrinya yang masih acak-acakan tapi menggemaskan.Jovita mendekat, lalu duduk di pangkuan Raymond seperti semalam. “Om rajin banget.”Raymond terkekeh, mengecup singkat pipi Jovita yang memerah. “Hitung-hitung penambah energi buat kamu. Semalam kan sudah terkuras habis...”“Om Ray!” potong Jovita cepat, menepuk dada Raymond dengan wajah tersipu malu.“Kenapa? Muka kamu yang malu-malu seperti itu bikin gemes,” go
Damian bersandar dinding rumah sakit dengan wajah pucat pasi. Tangannya bergetar hebat memegangi kepalanya saat matanya menatap pintu ruang pemeriksaan di depannya tanpa kedip.‘Tuhan, jangan lagi... jangan ambil dia juga,’ ratap Damian dalam hati, matanya tak berkedip menatap pintu ruang pemeriksaan.Trauma masa lalu menghantam tanpa ampun, bayangan kelam akan kematian istri pertamanya kembali datang menghantui. Rasa takut melumpuhkan seluruh sendinya, Damian benar-benar tidak sanggup jika harus kehilangan lagi.Dari ujung koridor, Dylan melangkah lebar-lebar dengan raut wajah panik bercampur cemas.“Mama kenapa, Pi?” tanya Dylan setengah memekik begitu sampai di hadapan ayahnya.Damian hanya menggeleng pelan, tak sanggup bersuara. Raut wajahnya dipenuhi ketakutan yang mendalam serta beban rasa bersalah yang teramat sangat.Melihat kehancuran dan ketakutan di mata ayahnya, Dylan justru mendesis lirih. Dengan nada dingin dan sinis, ia menatap Damian tajam.“Aku harap Papi nggak menyes
Jovita merona, lalu buru-buru mengalihkan pembicaraan. “Di kulkas sepertinya masih ada masakan dari Bi Siti... tinggal diangetin aja.”Jovita bergerak hendak memungut pakaian dan celananya yang berserakan di lantai. Namun belum sempat jemarinya meraih, Raymond sudah lebih dulu menyelimuti tubuh polos Jovita dengan kemeja putih miliknya yang longgar.“Pakai ini saja, biar cepat,” potong Raymond santai.Ketika Jovita berniat meraih kain segitiga kecil miliknya yang tertinggal di sudut sofa, jemari Raymond dengan sigap merebut dan menyembunyikannya di belakang punggung.“Kamu nggak butuh benda ini untuk malam ini,” bisik Raymond dengan tatapan nakal.Jovita membelalakkan mata, memprotes halus. “Om... jangan aneh-aneh ya di dapur nanti!”Bukannya mundur atau merasa bersalah, tawa renyah Raymond justru pecah. Pria itu menarik Jovita ke dalam pelukannya dari belakang, menumpukan dagunya di bahu Jovita seraya berbisik tepat di telinganya.“Kamu kan belum pernah merasakan sensasinya bermain d
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se







