MasukWaktu menunjukkan pukul lima sore lewat sedikit ketika Jovita berlari kecil menyusuri trotoar, membelah keramaian pejalan kaki. Mata mahasiswa magang itu bergerak waspada ke sekeliling sebelum akhirnya membuka pintu dan menyelinap masuk ke dalam mobil SUV hitam milik Raymond yang terparkir aman sekitar satu blok dari gedung Vastu Chandra. Begitu pantat Jovita menyentuh jok kulit, Raymond yang sudah menunggu di balik kemudi langsung menodongnya dengan pertanyaan bernada sinis. "Lama sekali. Pakai acara say goodbye dulu ya sama Aris?" Jovita yang masih terengah-engah langsung menoleh, menyangkal dengan dahi berkerut jengkel. "Nggaklah!" Raymond mendengus pelan, melirik jam tangannya. "Lalu kenapa telat?" "Tadi saya ke toilet dulu,” jawab Jovita lirih, “Sama Aris?” Ada amarah di suara Raymond. Apalagi dia teringat penolakan Jovita di kamar mandi rumah sakit tadi pagi. “Apaan sih, Om?” Jovita cemberut wajahnya terlihat tidak nyaman. “Pakai pembalut," sambungnya polos tan
Raymond memperbaiki posisi berdirinya, lalu menatap Jovita dengan tatapan dingin yang dipaksakan.Di hadapan Jimmy yang masih menahan tawa, Raymond sengaja memasang topeng profesionalnya sebagai seorang atasan yang kaku.“Jovita,” panggil Raymond dengan nama asli dan terdengar formal. Suaranya sengaja dibuat sinis dan penuh penekanan.“Ingat, kamu berada di biro arsitek ini atas rekomendasi dan permintaan langsung dari Viola. Belajarlah dengan benar dan tunjukkan progres yang jelas. Jangan sampai performa kerjamu di sini membuat Viola kecewa.”Raymond sengaja mencatut nama anaknya, di depan para karyawan. Bukan tanpa sebab, ini adalah bagian dari muslihat taktis agar ia memiliki alasan logis untuk tetap memantau dan berada di dekat Jovita dalam lingkungan kerja tanpa memicu desas-desus.Sementara itu Jovita hanya bisa menunduk dalam-dalam sambil mengangguk samar.“Baik, Pak Raymond. Saya mengerti,” ucap gadis itu lirih.Ada rasa takut, bersalah, dan malu yang bercampur aduk di dalam d
“Besok jangan telat lagi ya, Jo,” ujar Aris, nada suaranya tegas mengingatkan.Di kubikel kerja, Aris melipat gulungan cetak biru di atas meja lalu menatap Jovita dengan raut wajah serius, terlihat professional dan mengayomi sebagai mentor.“Tidak ada gunanya kamu bela-belain lembur sampai malam kalau paginya diawali dengan tidak disiplin. Di Vastu Chandra, manajemen waktu itu nomor satu.”Jovita menunduk dalam, meremas jemarinya yang mendadak dingin.“Iya, Mas. Maaf, saya akan berusaha nggak ulangi lagi.”Dalam hati, Jovita merutuk habis-habisan. Ia menyalahkan Raymond yang telah mengurungnya di kamar hotel hingga tak bisa memanfaatkan waktu pagi ini.Tapi, saat ingatan tentang bagaimana pria matang itu menyentuhnya dan bagaimana ia meringkuk di dada bidang Raymond melintas di benaknya, Jovita tidak bisa berbohong. Sepasang pipinya seketika merona merah, memancarkan semburat hangat yang untungnya tertutup oleh helai rambutnya yang menjuntai.Aris yang tidak menyadari pergolakan batin
Sebuah pulpen montblanc melayang di udara, tepat sasaran menuju dada Jimmy sebelum akhirnya ditangkap dengan tangkas oleh pria itu sambil tertawa renyah.“Keluar dari ruanganku, Jim. Kembali kerja,” usir Raymond tajam.Kilat salah tingkah di mata Raymond tidak bisa disembunyikan dari pengamatan sang sahabat. Semburat tipis di tulang pipinya menegaskan bahwa todongan Jimmy baru saja menghantam telak egonya.Jimmy meletakkan pulpen itu kembali ke atas meja kerja Raymond dengan bunyi ketukan pelan. Seringai usil di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi serius yang melenyapkan seluruh atmosfer bercanda di antara mereka.Jimmy mendesah berat, lalu menopang kedua tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke arah Raymond.“Lalu, apa rencanamu sekarang?” tanya Jimmy, nadanya kini berubah menjadi suara seorang penasihat bisnis yang dingin dan rasional. “Kau tahu betul siapa Haryo Adhiwangsa.”Raymond tidak menyahut. Ia hanya menegakkan punggung, bersedekep dada, dan siap men
“Bagaimana bisa, Ray?” Jimmy setengah berteriak, matanya masih terpaku pada selembar surat bukti nikah siri di tangannya dengan tatapan tidak percaya. “Kamu gila? Kapan kamu melakukan semua ini?”Raymond tidak langsung menjawab. Ia hanya mengetukkan jarinya ke atas meja kerja dengan tenang, lalu memberikan perintah singkat, “Lihat tanggal yang tertera di sana.”Jimmy dengan cepat menggeser pandangannya ke baris tanggal dokumen tersebut. Mulutnya sedikit terbuka saat menyadari sebuah memori yang familiar. “Ini... hari ulang tahun Viola?” gumam Jimmy lirih.Raymond mengangguk lambat, pandangannya menerawang jauh. “Waktu itu Viola memintaku untuk mengantar Jojo pulang karena sudah kemalaman. Tapi di sana, aku justru melihat dia disiksa habis-habisan sama ayah kandungnya sendiri.”Napas Raymond memberat saat mengingat kejadian malam itu. “Pria itu terus-menerus meminta uang. Karena Jojo menolak memberikan, dia mulai kalap. Pria tua itu berteriak-teriak histeris di lingkungan sekitar,
Melewati barisan kubikel karyawan magang, langkah kaki Raymond mendadak melambat. Sepasang matanya menangkap pemandangan yang seketika menyulut api cemburu di dadanya.Di sana, Jovita sedang duduk berdekatan dengan Aris, salah satu arsitek muda berbakat di Vastu Chandra. Yang saat ini mendapat tugas untuk membimbing anak-anak magang.Keduanya tampak begitu serius mendiskusikan sebuah cetak biru di atas meja kerja, sesekali Aris tersenyum ramah yang dibalas dengan anggukan dan tawa tipis oleh Jovita.“Nah, garis potongan yang ini sudah bagus, Jo. Kamu punya insting yang kuat untuk detail fungsional,” puji Aris sambil tersenyum ramah, wajahnya berjarak cukup dekat dengan Jovita karena sama-sama memandangi kertas kalkir.“Tapi ingat, ke depannya harus lebih fokus lagi ya, biar kamu nggak sering-sering mengulang revisi dari awal. Sayang energinya.”Jovita tertawa tipis, sebuah tawa lepas yang sama sekali tidak ia tunjukkan saat menatap Raymond siang ini.“Sip, Mas. Jangan bosan-bosan ya m
Bisikan Jovita layaknya lampu hijau yang menghancurkan sisa-sisa kewarasan Raymond, hingga kehilangan kendali sepenuhnya. Tanpa sepatah kata pun, Raymond menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Jovita, mengangkat tubuh mungil gadis itu ke dalam gendongannya. Ia membawa Jovita menuju kama
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu me
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari







