LOGINRaymond mendapati Jimmy tengah duduk tertunduk lesu di bangku tunggu depan ruang operasi. Pria yang biasanya tenang dan penuh perhitungan itu kini tampak hancur, kedua tangannya meremas rambut dengan bahu yang bergetar hebat.Jessica, istri tercintanya, mendadak mengalami pendarahan hebat yang memaksa tim medis melakukan tindakan operasi caesar darurat. Sesuatu yang sangat di luar perhitungan, karena pemeriksaan-pemeriksaan sebelumnya semua baik-baik sajaRaymond langsung menghampiri, menepuk keras pundak sahabatnya. “Jim! Fokus, Jim! Jessica dan anak kalian kuat, mereka pasti bisa melewati ini!”Entah nasihat dan kata-kata motivasi itu masuk ke dalam kepala Jimmy atau tidak, pria itu sama sekali tidak bergeming. Pikirannya sudah sepenuhnya terkunci di balik pintu ruang operasi, tempat sang istri tengah berjuang hidup dan mati melahirkan buah hati mereka.Setelah menunggu dalam rentetan menit yang mencekam, pintu ruang operasi akhirnya terbuka. Dokter melangkah keluar, menghembuskan n
Di sebuah ruangan privat, Karina mendengarkan dengan raut wajah keruh saat detektif swasta kepercayaan keluarga Adhiwangsa menyampaikan laporan awalnya.“Hasil penyisiran awal untuk transaksi keuangan dan aliran dana mencurigakan atas nama Pak Raymond hampir tidak ditemukan sama sekali, Bu.” Lembaran dokumen diletakkan di atas meja. “Semua arus kas Vastu Chandra maupun rekening pribadinya sangat bersih dan berada di jalur yang wajar.”Felisa yang duduk di samping Karina memutar cangkir tehnya, lalu menyahut dengan senyum pahit.“Raymond punya Jimmy. Pria itu selalu bisa diandalkan kalau soal mengamankan aset. Cara kerjanya sangat rapi.”Ingatan Felisa terlempar pada masa-masa proses perceraiannya dulu. Seharusnya ia bisa menuntut harta gono-gini dalam jumlah yang jauh lebih fantastis. Tapi, karena kelihaian Jimmy dalam memilah dan menyembunyikan portofolio kekayaan Raymond, Felisa pada akhirnya hanya mendapatkan sebuah rumah dan mobil yang bila dihitung-hitung bahkan tidak mencapai li
“Ini portofolio arsitektur terbaik tahun ini yang sudah kita kerjakan,” ujar Damian sambil menyerahkan sebuah flashdisk kepada Dylan. “Beberapa di antaranya ada sentuhan dari Vastu Chandra.”Dylan menerima flashdisk itu, memutarnya di sela jari seraya bergumam dengan nada sinis yang tak bisa disembunyikan.“Bosnya awet muda banget ya, Pi. Jampi-jampinya kayaknya kuat banget.”“Jampi-jampi apa?” tanya Damian sambil terkekeh.Sebagai seorang ayah yang kenyang pengalaman hidup, Damian langsung menangkap getaran cemburu yang tersembunyi di balik suara putranya.Damian menyahut santai, “Memang masih muda. Waktu Papi sudah terima banyak proyek besar di mana-mana, dia baru terbang ke Australia buat kuliah.”Dylan menaikkan sebelah alisnya, tampak kebingungan dengan garis waktu yang baru saja dibeberkan papinya. Namun sebelum Dylan sempat bertanya lebih jauh, Damian menepuk bahu putranya pelan.“Sudahlah,” potong Damian cepat. “Kalau kamu mau punya keahlian desain yang setara atau bahkan mela
Di atas sofa empuk di sudut ruangan, Jovita berbaring bersandar pasrah di dada bidang Raymond. Napasnya masih tersengal tipis, tubuhnya terasa lemas dan lelah usai gejolak percintaan panas yang baru saja mereka lewatkan di tengah keheningan kantor.Raymond melingkarkan lengan kokohnya, merengkuh tubuh Jovita rapat-rapat dalam kehangatan. Jemarinya mengusap lembut pundak istrinya yang penampilannya sudah terlihat rapi kembali.“Maaf... mungkin sampai kamu benar-benar lulus kuliah nanti, aku belum bisa mengumumkan pernikahan kita di depan publik,” bisik Raymond pelan, suaranya sarat akan rasa bersalah.Jovita mendongak, menatap garis rahang suaminya. Wajah tenang dan penuh wibawa itu membuatnya sering merasa rendah diri.“Nggak apa-apa, Om. Setelah lulus nanti, aku akan berusaha keras dapat pekerjaan yang bagus... biar aku benar-benar pantas berdiri di samping Om Ray.”Raymond tersenyum tipis, matanya berbinar haru mendengar ucapan polos itu. Ia mempererat pelukannya.“Ini bukan soal ka
“Kamu benar,” ujar Raymond seraya mengetukkan jarinya di atas draf. “Area atrium ini kalau tidak diberi celah cross ventilation yang memadai, konsep green building-nya bakal gugur di pengujian efisiensi energi.”“Kalau posisi jalusi anginnya digeser lima belas derajat ke arah utara, aliran udaranya bisa maksimal tanpa perlu menambah beban daya fan eksterior.”Raymond mengambil pena, mencatat poin-poin masukan dari istrinya di lembar catatan khusus.“Masukan yang sangat jeli,” puji Raymond. “Besok pagi aku bakal mendiskusikan lagi dengan Divisi Design & Engineering.”Raymond menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menghembuskan napas lega yang panjang. Beban pekerjaan berat yang menumpuk di kepalanya seharian ini seolah terangkat seketika. Ia melirik jam tangan, lalu menatap Jovita lembut.“Kamu sudah makan malam, Jo?”Jovita menggeleng pelan dengan senyum tipis. “Belum. Katanya tadi mau makan bareng di sini...”“Mau pesan makan apa malam ini?” tanya Raymond seraya mengambil ponsel
Raut masam di wajah Viola seketika sirna saat melihat mobil mamanya perlahan memasuki pekarangan rumah. Selain karena butuh teman untuk mengusir rasa kesepian, ada hal penting dan mendesak yang harus segera ia bicarakan dengan Felisa.“Mama!” panggil Viola, menyambut kedatangan ibunya dengan pelukan hangat di ruang tamu.Felisa tersenyum penuh kasih sayang, mengelus rambut putrinya. “Kangen ya sama Mama?”Mereka berdua lalu melangkah menuju ruang tengah yang luas. Tak lama kemudian, Bi Lastri datang membawa nampan berisi dua gelas jus jeruk dingin. Setelah meletakkannya di atas meja, Bi Lastri bermaksud kembali ke dapur, namun langkahnya terhenti secara samar saat mendengar pembicaraan intens di antara ibu dan anak itu.“Ma... sepertinya Papa benar-benar punya simpanan,” bisik Viola dengan raut wajah tegang.Felisa meminum jusnya sedikit, lalu menatap Viola tajam.“Tadi Mama baru saja bertemu Karina. Papamu mengaku pada Karina kalau dia baru saja dijebak menggunakan obat perangsang sa
Pagi belum sepenuhnya pecah kala Jovita berusaha menggeser lengan kekar yang melingkari pinggangnya. Tubuhnya terasa begitu lemas dan remuk setelah semalaman penuh menjadi pelampiasan gairah liar Raymond yang tak terbendung.Begitu Jovita bergerak sedikit saja untuk turun dari ranjang, lengan tegap
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu me
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari







