FAZER LOGIN"Pa, suruh Mama pergi! Aku jijik... Aku nggak mau lihat Mama lagi!" racaunya parau, napasnya memburu tak beraturan di tengah tangis yang memecah dada.Viola terus memohon. Jemarinya yang bengkak dengan jarum infus tertancap di punggung tangan mencengkeram erat lengan sang dokter, mencakar batas kesadarannya sendiri."Dokter, jangan biarkan Mama masuk!”Bola mata gadis itu berputar liar, menangkap sosok Jovita yang berdiri di samping Raymong. “Jojo, tolong aku, Jo... Temani aku, jangan biarkan Mama mendekat."Di sisi ranjang, Jovita berdiri dalam dilema yang menyesakkan. Ia bergeming, tak menyangka Viola justru memanggilnya dan menolak mamanya. Perempuan yang sedang hamil kembar itu diliputi rasa tidak nyaman, bagaimana pun juga, Felisa adalah ibu kandung yang melahirkan Viola.Melihat trauma psikologis yang terpampang di depan matanya, Jovita hanya mampu mengelus kaki Viola pelan, menyalurkan kehangatan semu yang diharap mampu meredakan gemetar di tubuh gadis itu.“Tenang Vio… semua a
Jam sudah menunjuk pukul empat sore. Felisa menatapnya dengan debar jantung yang tak karuan.Sudah waktunya Felisa bersiap menggantikan shift jaga di rumah sakit. Ada ketakutan luar biasa di dalam dadanya jika nanti Viola terbangun dan menolak kehadiranna.Tapi mau mundur ada rasa sungkan. Sekalipun ia tahu Raymond tidak akan marah atau mengungkit, rasa tidak enak pada Jovita mencengkeram hatinya lebih kuat.Bagaimana bisa ia sebagai ibu kandung berleha-leha, sementara Jovita yang selama ini telah ia sakiti dengan begitu keji, justru dengan tulus meluangkan waktu merawat putrinya meski dalam kondisi hamil?***Di ruang VIP rumah sakit, suasana sore menjelang senja terasa lebih tenang. Di sisi ranjang, Raymond dan Jovita masih bercakap-cakap pelan sambil menunggu kedatangan Felisa.“Sudah jam segini Feli belum datang,” ucap Raymond yang terlihat gelisah dan berulang kali menatap pintu.Jovita melirik sinis kea rah suaminya. “Oh kangen mantan ternyata,” celetuknya sambil mengalihkan pan
Tatapan Raymond kembali jatuh pada sosok Viola yang terbaring tenang di balik selimut putih. Selama ini, ia meyakini bahwa kemiripan fisik Viola dengannya adalah bukti dari ikatan darah di antara mereka. Keyakinan Raymond memang tidak sepenuhnya salah, garis genetik itu memang ada di antara mereka, hanya saja bukan dari benihnya asal garis itu tercipta. “Aku akan menyelidiki ini sampai tuntas,” gumam Raymond dengan rahang mengeras. Jovita merapatkan posisi duduknya, menyusun logika dingin di tengah kekalutan. “Kita bisa mulai dari memetakan motif siapa yang paling kuat untuk menjebak Om Ray saat itu. Siapa yang paling diuntungkan dengan keadaan ini.” Raymond mengangguk, membenarkan logika istrinya. “Kalau itu Pak Roberto, bukankah dia punya pengalaman menyimbunyikan istri simpanan? Jadi daripada membuat orang lain bertanggung jawab, aku yakin dia akan menggunkan ca
Saat melangkah menyusuri lorong rumah sakit yang lengang, langkah Raymond mendadak terhenti. Di hadapannya, beberapa tenaga medis keluar dari ruang perawatan Viola dengan wajah yang cukup tegang. Sisa-sisa peluh tampak di dahi mereka.Dada Raymond berdebar lebih kencang, gelombang ketakutan membanjiri kala membayangkan kemungkinan terburuk dan paling gelap yang bisa menimpa putrinya.Raymond mempercepat langkahnya, memangkas jarak dengan terburu-buru hingga berdiri di ambang pintu. Di sana, ia mendapati dokter spesialis yang menangani Viola sedang berdiri di hadapan Jovita.“Pasien baru siuman, kami akan terus memantau terus memantau perkembangan Viola, syaraf motorik dan kondisi fisiknya masih sangat lemah. Jika memang terpaksa, kami akan memberikan obat penenang dosis terkontrol agar ia bisa kembali beristirahat dengan tenang,” ucap sang dokter dengan nada tenang.Mendengar penjelasan itu, tarikan napas Raymond yang tadinya memburu perlahan melandai. Ada kelegaan luar biasa yang men
Raymond meremas amplop cokelat itu hingga kertas di dalamnya berkerut hebat. Tatapannya menatap kosong pada angka Tiga belas koma lima puluh persen yang seolah mencemooh seluruh keyakinan yang ia pegang selama puluhan tahun.“Apa ini benar-benar tidak salah cetak? Tolong periksa ulang datanya,” ucap Raymond dengan suara tertahan, rahangnya mengetat keras.Petugas laboratorium itu menggeleng pelan dengan ekspresi profesional. “Semua sampel sudah melalui prosedur validasi ganda, Pak. Hasilnya valid dan sesuai dengan data yang masuk.”Napas Raymond memburu, dadanya bergemuruh hebat seolah dihantam martil tak kasat mata.“Tolong jelaskan pada saya! Apa maksud angka tiga belas koma lima puluh persen ini? Kalau secara genetik itu bukan garis keturunan ayah dan anak, lalu hubungan apa yang kalian maksud?!”Petugas itu menelan ludah, merasakan ketegangan luar biasa yang menguar dari raut wajah pria di hadapannya.“Berdasarkan standar pemetaan DNA, angka di kisaran belasan persen lazimnya mere
Roberto berbaring kaku di atas kursi periksa yang disandarkan, dengan posisi tubuh sedikit telentang.Dua jarum berukuran cukup besar menancap di lengannya, tersambung pada selang-selang bening yang mengalirkan darah merah pekat menuju mesin hemodialisis di sampingnya. Suara deru mesin yang teratur memutar darah untuk disaring memecah keheningan ruangan.Roberto memejamkan mata, tapi kesadarannya sangat penuh. Sejujurnya, motivasi hidupnya sudah lama sirna. Rasa bersalah akan keputusan di masa lalu serta kehancuran keluarganya terus menggerogoti jiwanya setiap detik.Tapi nyatanya, takdir seolah masih ingin menghukum Roberto. Di masa tuanya harus tersiksa dengan penyakit yang makin merusak tubuh serta rentetan masalah keluarga yang kian membelit.Jika sampai hari ini pemilik Chandra Group itu masih sudi menjalani cuci darah yang menyiksa ini, itu semata-mata karena ia tak sanggup menahan rasa sakit yang luar biasa akibat penyakit gagal ginjal yang menggerogoti fisiknya.‘Tuhan, aku ik
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu me
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini







