LOGINHampir seluruh divisi keuangan berdiri di sana, menatap dengan mata membesar. Sebagian pura-pura sibuk. Beberapa lainnya mengangkat ponsel, setengah bersembunyi di balik map atau gelas kopi.
Wajah Laras seketika pucat. “Kalian ngapain di sini?” bentaknya panik. “Balik kerja! Sekarang!”
Tak seorang pun bergerak.
Aleksander menoleh kepadanya. Sikap dingin yang diperlihatkannya beberapa detik lalu lenyap sepenuhnya, berganti dengan ketenangan dan kelembutan yang begitu Evalia kenal. Tatapannya kembali lembut, mantap, dan hangat. “Baiklah, istriku tersayang,” katanya. “Aku akan memberikan jawaban yang sebenarnya.”Aleksander menatap Evalia dengan sungguh-sungguh. “Aku yakin ini kesempatan terbaik untukmu, Eva. Kamu cerdas. Kamu mampu. Dan kamu mencintai bidang ini, meskipun kamu selalu berpura-pura sebaliknya. Aku nggak ingin istriku hanya tinggal di rumah tanpa melakukan sesuatu yang benar-benar memberinya kepuasan hanya karena itu terasa aman. Kamu pantas bersinar di tempat yang memang diinginkan hatimu.”Mendengar kata-kata bijak Aleksander, Evalia merasakan kehangatan perlahan memenuhi dadanya. Bukan tekanan. Bukan pula tuntutan. Ha
Evalia mendongak menatap pria di sisinya. "Alex..." Suaranya bergetar meski ia telah berusaha keras mengendalikannya. "Kenapa aku merasa... ini seperti perpisahan terakhirku dengan Opa?"Aleksander menggenggam tangannya dengan lembut. "Istriku," bisiknya, "sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa. Semoga Sang Pemilik Kehidupan memberikan yang terbaik untuk Opa..."Evalia memejamkan mata sejenak dan bersandar pada sentuhan Aleksander. Dalam hati, ia memohon kepada kekuatan apa pun yang bersedia mendengarnya agar Samuel diberi waktu sedikit lebih lama, satu hari, satu minggu, atau bahkan satu bulan lagi."Eva, tunggu..." Suara Jonathan menggema di lorong rumah sakit yang sunyi tepat ketika Evalia hendak melangkah masuk ke lift.Evalia berhenti dan perlahan menoleh.
Genggaman Aleksander membuatnya tetap berpijak pada kenyataan. Ibu jari pria itu mengusap lembut punggung jemarinya, memberikan ketenangan tanpa kata. Aleksander sedikit mendekat, kehadirannya yang hangat dan kokoh seolah menjadi jangkar yang menahan Evalia agar tidak tenggelam dalam gejolak perasaannya."Kau baik-baik saja?" bisik Aleksander."Hmm... aku hanya terkejut. Opa memberikannya kepadaku. Kenapa?"Sebelum Aleksander sempat menjawab, Samuel kembali menatap Evalia. "Eva..."Evalia menelan ludah dan memaksa dirinya membalas tatapan sang opa. "Ya, Opa?""Jangan terlihat ketakutan seperti itu," ujar Samuel disertai tawa kecil. Secercah humor sempat menerangi wajahnya yang kelelahan. "Aku nggak sedang memberimu kutukan. A
Januar mengangguk sambil terkekeh pelan. “Sejujurnya, kami bahkan baru mengetahui pernikahan mereka dari internet. Itu pun awalnya kami kira hanya gosip.”Lestari menghela napas, kemudian memberi isyarat agar keduanya mendekat, seolah hendak membocorkan informasi rahasia negara. “Dengar... Mereka punya seorang putra. Usianya empat tahun. Namanya Rafael Tanjaya Batubara.”Nora terkesiap pelan sambil menempelkan tangan ke dada. Januar mengerjapkan mata seakan baru saja mendengar sebuah keajaiban.“Empat tahun?” bisik Nora. “Dan nggak ada seorang pun yang memberi tahu kami? Kamu tahu betapa aku menyukai anak-anak?”Lestari tersenyum geli. “Percayalah, aku langsung menyadarinya begitu kamu mencengkeram tanganku tadi.&rdqu
Jovan keluar terlebih dahulu dan memberi isyarat ke arah sayap VIP. “Lewat sini,” katanya, kembali menggunakan nada yang lebih ringan. “Baiklah, kau boleh masuk bersama Aleksander. Aku nggak akan ikut ke dalam. Keluargamu pasti akan terkejut kalau melihat betapa tampannya aku...”Tawa kecil lolos dari bibir Evalia mendengar kelakar itu.Namun, ketika mereka berjalan menyusuri koridor menuju kamar Samuel Wijaya, humor tersebut perlahan menghilang. Kesedihan terasa mengiringi setiap langkah, sementara ketidakpastian semakin erat mencengkeram hatinya.Aleksander berjalan di sisinya, kehadirannya cukup kukuh untuk meredakan kegelisahan Evalia. “Kau siap?” tanyanya lembut.Evalia mengangkat wajah dan bertemu dengan tatapan Aleksander. Sesaa
Namun, tepat ketika hendak menekan tombol putar, sesuatu tiba-tiba mengusik pikirannya. Opanya sedang berjuang melawan maut di rumah sakit.Evalia membeku. Tangannya yang memegang remote perlahan turun. "Aleksander nggak akan mengizinkanku keluar rumah," gumamnya kepada diri sendiri. Tidak ada kepahitan dalam pikirannya. Itu hanya sebuah kenyataan.Meski begitu, Evalia tetap meraih ponselnya. Menelepon Aleksander tentu akan lebih mudah. Lebih cepat. Namun, ketika jarinya menggantung di atas nama Aleksander, wajah Raka Martadinata tiba-tiba terlintas dalam benaknya seperti tanda peringatan.Mengganggu pekerjaan Aleksander lagi... terutama sekarang... mungkin bukan keputusan yang bijaksana. Sebelum makan siang tadi, dia sudah menjatuhkan sebuah bom besar kepada pria itu.E
Evalia nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya."Papi…tega banget. Gimana bisa Papi mempermalukan aku kayak gini di depan media?" Genggaman tangan Evalia di ponselnya semakin kuat. Baru lima hari sejak Eva memberitahu ayahnya keputusan tentang hidupnya sendiri. Dan hari ini, ia sud
“Papi!” seru Lestari, suaranya gemetar. “Dia anak kita! Kumohon…”“Dia sudah buat pilihannya,” ujar Waluyo dingin, napasnya berembus pelan seperti asap cerutu yang baru saja padam. “Sekarang aku yang buat pilihanku.”Aura ruangan itu menegang. Tak ada yang berani menatap matanya langsung, bahkan ud
Malam itu, makan malam keluarga terasa seperti hukuman bagi Eva.Aroma sup ayam yang hangat justru membuat perutnya mual. Lidahnya kelu. Di hadapan ayahnya, Waluyo Wijaya, Eva ingin bicara tentang bayi di rahimnya, tentang kebohongan yang membelit napasnya setiap hari, tapi suaranya terkurung di te
Masa depan cemerlang Evalia Wijaya baru saja hancur karena satu gelas wiski. Setidaknya, itulah yang ia ingat malam itu.Tak pernah sekalipun dalam hidupnya, Eva membayangkan langkah kecil menuju bar hotel akan menjadi awal kehancuran dirinya. Satu gelas. Satu tawa. Satu tatapan mata dari pria yang







