Se connecterHampir seluruh divisi keuangan berdiri di sana, menatap dengan mata membesar. Sebagian pura-pura sibuk. Beberapa lainnya mengangkat ponsel, setengah bersembunyi di balik map atau gelas kopi.
Wajah Laras seketika pucat. “Kalian ngapain di sini?” bentaknya panik. “Balik kerja! Sekarang!”
Tak seorang pun bergerak.
“Tenang saja, Estella,” ujar Jonathan dengan suara tetap kalem. “Saya nggak akan melakukan apa pun padamu.”Itu sama sekali tidak menenangkan. Namun Estella hanya menatapnya, bingung.Jonathan kembali duduk, meletakkan laptop di atas meja, lalu mulai mengetik cepat. Suara ketikan memenuhi ruangan.Tak lama, terdengar bunyi panggilan.Video call? Estella mengernyit. Dia menelepon siapa lagi?Belum sempat Estella bertanya, suara yang sangat familiar terdengar dari speaker.“Kak Eva?” Estella langsung mencondongkan
Hampir seluruh divisi keuangan berdiri di sana, menatap dengan mata membesar. Sebagian pura-pura sibuk. Beberapa lainnya mengangkat ponsel, setengah bersembunyi di balik map atau gelas kopi.Wajah Laras seketika pucat. “Kalian ngapain di sini?” bentaknya panik. “Balik kerja! Sekarang!”Tak seorang pun bergerak.Laras kehilangan kendali. Ia hanya bisa menatap mereka, terengah, campuran marah dan panik. “Hapus semua rekaman kalian!” hardiknya. “Kalau saya lihat satu saja foto atau video beredar, kalian semua saya pecat!”Kerumunan itu berguncang gelisah.Beberapa orang ragu-ragu, pura-pura menghapus sesuatu, tapi semuanya sudah terlambat. Setengah kantor sudah lebih dulu mengungga
Gedung Wijaya Group menjulang tinggi di tengah padanya kawasan bisnis Jakarta. Pagi itu, lalu lintas di Jalan Sudirman masih riuh oleh klakson dan deru mesin, sementara di dalam gedung, suasana justru terasa dingin dan terkontrol.Stella melangkah melewati pintu kaca otomatis. Suara hak sepatunya beradu tegas dengan lantai marmer yang mengilap, menggema pelan di lobi yang luas.Hari ini bukan hari kerja biasa.Hari ini adalah hari di mana Laras akhirnya harus membayar semuanya.Senyum tipis terukir di bibir Stella. Ia sudah bisa membayangkan wajah Laras, senyum palsu itu retak sedikit demi sedikit di bawah tekanan.“Ini bakal seru,” batin Estella.Ia masuk ke dalam lif
Kenangan tadi malam kembali terlintas, membuat jantung Evalia berdegup lebih cepat. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Sudah, Evalia… bisa mati malu nanti,” bisiknya pada diri sendiri.Dengan pipi yang masih panas, Evalia membungkus tubuhnya dengan selimut, lalu berdiri perlahan.Cahaya pagi Jakarta mengalir masuk melalui jendela besar. Evalia berjalan mendekat, membiarkan hangat matahari menyentuh kulitnya.Di luar, gedung-gedung tinggi berdiri megah di kejauhan, jalanan mulai ramai oleh kendaraan, dan langit pagi berwarna pucat keemasan. Pemandangan itu terasa hidup, kontras dengan ketenangan di dalam ruangan.Evalia menyentuh kaca jendela, berbisik pelan. “Jadi ini tempatmu selama ini… pantas saja kamu menyukainya, Aleksander.&rd
“Aku belum pernah kayak gini sebelumnya,” ujar Aleksander akhirnya. “Kehilangan fokus cuma karena satu orang. Aku pingin lihat kamu, dengar suaramu… aku cuma pingin dekat kamu.”Senyum tipis muncul di wajahnya saat ibu jarinya kembali menyentuh pipi Evalia.Evalia terpaku, menatapnya lekat. Jantungnya berdegup semakin cepat. “Alex… maksudmu… kamu juga suka sama aku?”Aleksander mengernyit, tampak benar-benar bingung. “Jadi… ini yang namanya jatuh cinta?”Evalia tertawa kecil, sedikit tak percaya. “Iya… itu namanya jatuh cinta.” Sejenak, Evalia sendiri tak tahu harus tertawa atau terharu. Cara Aleksander mengatakannya, jujur, polos, membuat semuanya terasa nyata.
Ada kilatan terkejut di mata Aleksander, sebelum ia berkata, “Kalau begitu, kupastikan yang ini bakal jadi yang paling berkesan.” Nada suaranya sederhana, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat dada Evalia menghangat.Evalia tersenyum malu, lalu memalingkan wajah, pura-pura sibuk memperhatikan gemerlap lampu Jakarta di kejauhan.Angin kembali berhembus, membawa samar aroma parfum Aleksander. Evalia memejamkan mata sejenak, mengingatnya. Hangat mantel Aleksander, berat lengannya di pundak, dan suara napasnya yang stabil.Rasanya sempurna.Terlalu sempurna.Saat Evalia membuka mata lagi, ia mendapati Aleksander memiringkan kepala, masih menatapnya.“Apa? Kenapa







