LOGINHampir seluruh divisi keuangan berdiri di sana, menatap dengan mata membesar. Sebagian pura-pura sibuk. Beberapa lainnya mengangkat ponsel, setengah bersembunyi di balik map atau gelas kopi.
Wajah Laras seketika pucat. “Kalian ngapain di sini?” bentaknya panik. “Balik kerja! Sekarang!”
Tak seorang pun bergerak.
“Eva… sahabatku…” Dion berbicara pelan.“Apa?”“Kamu jadi terlalu baik.”“Hah?”“Kita jalankan rencana pertama saja.”“Nggak!” seru Evalia keras hingga beberapa pengunjung menoleh ke arahnya. “Sama sekali nggak!”“Ayolah,” goda Dion. “Kita anggap saja itu perjalanan edukasi.”“Perjalanan edukasi apanya?” Evalia hampir mengerang frustasi. “Berhenti memengaruhiku. Aku serius. Cari bukti aja.”Dion tertawa. “Baiklah. Kamu memang warga negara teladan. Aku akan menyelidikinya dan mengumpulkan bukti secepat mungkin. Puas?”“Ya. Terima kasih.” Untuk pe
“Astaga… pantas saja dia tiba-tiba ingin Mami kembali ke rumah.”“Iya. Papi memang nggak tahu malu.”“Tapi kenapa Papi tiba-tiba berubah pikiran?”Evalia meletakkan sumpitnya. “Selama ini Papi mengira Laras mencintainya. Padahal Laras hanya memanfaatkan uangnya. Dia sebenarnya punya pria lain yang lebih muda dan itu orang yang benar-benar dia cintai.”Estella hampir tersedak oleh napasnya sendiri. “Apa? Serius?”“Serius.” Evalia menyeruput teh hijaunya dengan santai, tapi sorot matanya tajam. “Karena itulah Papi ingin kembali kepada Mami Lestari. Dia sadar Laras nggak akan pernah memilihnya. Dan tentu saja dia merasa dikhianati.”
“Hah? Kapan dia menelepon?” Evalia mengernyit sambil menatap layar seolah ponselnya baru saja mengkhianatinya. “Apa aku benar-benar sedistraksi itu?” Ia segera mengirim pesan kepada Estella bahwa dirinya sudah berada di restoran, lalu menekan nama Aleksander untuk menelepon balik.Baru dua kali dering berbunyi, Aleksander langsung mengangkat. “Eva?”Suaranya terdengar hangat, tapi ada sedikit nada khawatir yang tidak luput dari pendengaran Evalia.“Aku baru lihat panggilanmu,” kata Evalia sambil bersandar di kursi. “Maaf. Kurasa ponselku sedang bersekongkol melawanku hari ini.”“Nggak apa-apa. Kamu di mana?” tanya Aleksander.“Di Rumah Sakit Harapan
Aleksander duduk di kursinya dan menyalakan laptop. “Apa? Rapatku dibatalkan?” tanyanya. “Kalau iya, aku akan memarahimu. Hal seperti itu harus diberitahukan sebelumnya.”Bayu buru-buru menggeleng. “Bukan, Boss. ini bukan soal pekerjaan.” Ia menelan ludah. “Ini tentang adik ipar Anda.”Aleksander langsung mengernyit. “Stella? Ada apa dengannya?”Bayu maju selangkah lalu mulai menceritakan kejadian yang ia alami malam sebelumnya.Saat berjalan melewati taman kota dalam perjalanan pulang, Bayu mendengar suara seorang wanita meminta tolong. Awalnya ia mengabaikannya selama beberapa detik, mengira hanya pasangan mabuk yang sedang bertengkar.Namun kemudian Ba
Aleksander membeku.Satu nama memiliki kekuatan lebih besar daripada ancaman apa pun.Rafael.Seolah ada yang menghantam dadanya dengan palu godam. Detak jantung Aleksander berdentam keras. Napasnya berubah berat.Selama bertahun-tahun, Aleksander telah menoleransi kekacauan yang dibuat Mahendra. Memberinya kesempatan. Menutupi kesalahannya.Bahkan di sudut terdalam hatinya, Aleksander masih berharap Mahendra suatu hari nanti akan belajar dari semua itu.Namun kali ini berbeda. Mahendra telah melewati batas yang tidak boleh disentuh siapa pun.Setelah jeda panjang yang mencekam, Aleksander perlahan mengalihkan pandangan kembali kepada
Senyum dingin muncul di sudut bibir Aleksander.Begitu melihat senyum itu, harapan Mahendra hancur seketika. Tubuhnya membeku. Lalu gemetar hebat ketika kenyataan mulai menyadarkannya. “A-Abang… jangan bilang… Abang yang menculikku?”“Sepertinya kau belum kehilangan akal sehatmu,” jawab Aleksander santai.“Kenapa?” tuntut Mahendra dengan bibir bergetar. “Kenapa Abang melakukan ini? Abang tahu itu melanggar hukum, kan?”“Hukum?” ulang Aleksander. Ia mendongakkan kepala lalu tertawa. Bukan tawa ringan. Melainkan tawa rendah yang terdengar geli sekaligus mengejek. “Hukum?” katanya sekali lagi. “Sejak kapan hukum berlaku untukku?”Ma
Ucapan itu langsung membuat Evalia sadar dari lamunannya. “Nggak!” jawabnya cepat. Ia buru-buru mengambil tas, ponsel, dan sisa-sisa kewarasannya. Dengan jari gemetar, ia mengunci mobil dan mengikuti langkah Aleksander menuju lift.
Bibir Evalia terbuka, lalu menutup lagi. Ia kehilangan kata.Evalia ingin mengatakan bahwa ia tak tahu… tapi itu dusta. Ia tahu. Aleksander Batubara membangkitkan sesuatu di dalam dirinya. Rasa takut, iya…
Mata Marni menajam, memahami lebih dari yang diucapkan. Tapi bukan itu yang paling membuat Evalia gelisah, melainkan tatapan Rafael.Anak kecilnya yang baru tiga tahun itu memandangi ibunya dengan dahi berkerut, ekspres
Aleksander Batubara menatap layar laptopnya, dengan postur tegap seperti bayangan patung perunggu, jemarinya menari cepat di atas keyboard.Evalia benar-benar tak menyangka Aleksander akan bertahan selama ini.







