تسجيل الدخولAleksander duduk di kursinya dan menyalakan laptop. “Apa? Rapatku dibatalkan?” tanyanya. “Kalau iya, aku akan memarahimu. Hal seperti itu harus diberitahukan sebelumnya.”
Bayu buru-buru menggeleng. “Bukan, Boss. ini bukan soal pekerjaan.” Ia menelan ludah. “Ini tentang adik ipar Anda.”
Aleksander langsung mengernyit. &ldquo
Evalia mengatupkan bibir, berusaha menahan tawa sekaligus rasa gemas. “Laura, usia kehamilanku bahkan baru sekitar lima minggu. Belum ada perubahan berarti.”“Meskipun begitu, Bu,” jawab Laura lembut. “Lebih baik berjaga-jaga daripada menyesal nanti.”“Karena aku ibunya,” balas Evalia sabar.Rafael kembali menyilangkan tangan di depan dada. “Mami jangan bikin aku telepon Daddy. Daddy bilang, selama Daddy belum pulang, aku yang menjaga Mami.”Jono dan Laura langsung menegang.Evalia memejamkan mata sejenak. Ia sadar, tidak mungkin memenangkan perdebatan melawan tiga orang sekaligus. Akhirnya, ia menarik napas panjang, tersenyum manis, lalu mengusap pipi Rafael. &ldquo
Evalia tersenyum hangat melihat ekspresi Lestari yang begitu lucu.Belum sempat Evalia menambahkan apa pun, Lestari langsung menariknya ke dalam pelukan erat. “Ya Tuhan…” Tangisnya pecah. “Terima kasih, Tuhan… Terima kasih. Aku bahagia sekali. Aku benar-benar ikut bahagia untukmu. Gadis kesayanganku akan punya bayi lagi.”Lestari terisak sambil memeluk Evalia semakin erat. “Aku nggak percaya… aku akan menjadi Oma lagi.”Evalia hanya bisa tertawa pasrah. “Mami, sudah… jangan menangis. Nanti aku ikut menangis.”“Aku nggak bisa berhenti. Aku terlalu bahagia. Aduh… seharusnya tadi aku nggak pakai maskara.” Lestari buru-buru mengusap air matanya. “Lihat wajahku. Pasti be
Lestari mengirim pesan lagi.[Eva, aku sudah sampai.]Napas Evalia masih belum stabil. Jantungnya berdetak begitu keras hingga terasa memenuhi rongga dadanya. Ia ingin membuka surel itu. Ia ingin mengetahui siapa orang tersebut. Ia ingin mengetahui semuanya.Namun, Lestari sudah menunggu di bawah.Evalia mengenal dirinya sendiri. Jika ia membuka surel itu sekarang, pikirannya pasti akan larut sepenuhnya, dan ia tidak akan mampu mendengarkan apa pun yang hendak disampaikan Lestari.Setelah menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, Evalia menutup laptopnya. Ia memutuskan akan membacanya nanti, ketika pikirannya sudah jauh lebih te
Saat mengandung Rafael dulu, Evalia menjalani semuanya sendiri. Tak ada yang memasakkan masakan untuknya. Tak ada yang mengingatkannya agar beristirahat. Tak ada yang menopangnya ketika ia pusing, lapar, atau kelelahan.Kehamilan pertamanya adalah perjuangan sunyi yang harus Evalia lalui seorang diri, menyembunyikan semuanya dari dunia. Namun sekarang… Hidupnya terasa seperti seorang putri yang dimanjakan.Bukan hanya Aleksander, seluruh penghuni rumah memperlakukannya seolah ia terbuat dari porselen yang sangat rapuh.Laura selalu datang membawa buah potong, puding, atau camilan sehat.Jono tak pernah jauh darinya, terus memastikan ia baik-baik saja.Bahkan Rafael, putra mereka yang kini berusia empat tahun dan
Tentu saja Evalia merasa bahagia. Namun, di sisi lain, ia juga sedikit khawatir. Rasanya seperti tiba-tiba berubah menjadi pajangan kristal yang sangat rapuh, seolah bisa pecah hanya karena tersenggol sedikit saja.Laura dan Jono adalah orang yang paling berlebihan.Aleksander secara khusus meminta keduanya menjaga Evalia, dan mereka menjalankan tugas itu terlalu serius.Jono nyaris melarang Evalia melakukan apa pun yang membutuhkan tenaga. Bahkan mengambil bantal sendiri pun dianggap terlalu berat.Sementara itu, Laura terus menyodorkan makanan hampir setiap jam. Mulai dari buah-buahan, aneka kue, sup hangat, biskuit, vitamin, jamu khusus ibu hamil, hingga kembali lagi ke buah-buahan.Menjelang malam, Evalia mulai khawatir.
Evalia tak mampu menyembunyikan sneyumnya. Dadanya dipenuhi rasa antusias karena sebentar lagi mereka akan membagikan kabar bahagia kepada putra mereka.Begitu memasuki rumah bergaya modern di kawan Jakarta itu, Rafael mulai menggeliat dalam gendongan Aleksander, berusaha turun sendiri. Sayangnya, usahanya sia-sia.“Daddy, turunin dong. Rafa udah bisa jalan sendiri.” Protesnya terdengar jelas, sementara remah-remah muffin masih menempel di sudut bibirnya.Aleksander bahkan tidak berkedip. Ia tetap berjalan santai hingga mencapai ruang keluarga, seolah-olah yang digendongnya hanyalah sebuah bantal ringan, bukan bocah empat tahun yang aktif.Barulah setelah sampai di depan sofa, Aleksander menurunkan Rafael.Begitu
Hati Evalia terasa terhimpit. Ia ingin membawa anaknya ke mana pun, tapi ia tak bisa mengambil risiko. Belum saatnya dunia tahu bahwa ia adalah Evalia Wijaya, pewaris yang jatuh. Bagi dunia, ia belum sepenuhnya menjadi Nyonya Batubara.
“Papi!” seru Lestari, suaranya gemetar. “Dia anak kita! Kumohon…”“Dia sudah buat pilihannya,” ujar Waluyo dingin, napasnya berembus pelan seperti asap cerutu yang baru saja padam. “Sekarang aku yang buat pilihanku.”Aura ruangan itu menegang. Tak ada yang berani menatap matanya langsung, bahkan ud
Malam itu, makan malam keluarga terasa seperti hukuman bagi Eva.Aroma sup ayam yang hangat justru membuat perutnya mual. Lidahnya kelu. Di hadapan ayahnya, Waluyo Wijaya, Eva ingin bicara tentang bayi di rahimnya, tentang kebohongan yang membelit napasnya setiap hari, tapi suaranya terkurung di te
Masa depan cemerlang Evalia Wijaya baru saja hancur karena satu gelas wiski. Setidaknya, itulah yang ia ingat malam itu.Tak pernah sekalipun dalam hidupnya, Eva membayangkan langkah kecil menuju bar hotel akan menjadi awal kehancuran dirinya. Satu gelas. Satu tawa. Satu tatapan mata dari pria yang







