LOGINEvalia memperhatikan setiap perubahan kecil itu. Ia sedikit mendekat, suaranya menjadi lebih pelan, tetapi semakin tegas. "Ada sesuatu yang lain."
Aleksander tidak menjawab. Keheningan di antara mereka semakin tajam, dipenuhi ketegangan yang tidak bisa lagi mereka abaikan.
Jantung Evalia mulai berdetak lebih cepat. Ia memperhatikan mata Aleksander dengan hati-hati. Lalu
Evalia memperhatikan setiap perubahan kecil itu. Ia sedikit mendekat, suaranya menjadi lebih pelan, tetapi semakin tegas. "Ada sesuatu yang lain."Aleksander tidak menjawab. Keheningan di antara mereka semakin tajam, dipenuhi ketegangan yang tidak bisa lagi mereka abaikan.Jantung Evalia mulai berdetak lebih cepat. Ia memperhatikan mata Aleksander dengan hati-hati. Lalu ia melihatnya. Sebuah perubahan kecil. Singkat. Namun jelas.Perubahan halus dalam tatapan Aleksander sudah cukup memberi tahu Evalia semua yang perlu ia ketahui.Evalia menarik napas dalam-dalam. Karena kini ia yakin. Ada kebenaran lain. Ada rahasia lain. Dan Aleksander belum memberitahunya."Eva, aku benar-benar nggak mengerti apa yang sedang kau bicarakan,"
Evalia membeku. Raut keterkejutan yang tulus langsung terlihat di wajahnya. "...Sahabat baik?" ulangnya, berusaha menyatukan kenyataan itu dengan segala hal yang selama ini ia ketahui.Aleksander mengangguk sekali. Tatapannya menerawang jauh. "Ketika mereka masih muda," jelasnya pelan. "Mereka nggak terpisahkan. Mereka saling mempercayai lebih dari siapa pun."Kebenaran itu sendiri sudah terasa sulit dipercaya. Membayangkan Waluyo Wijaya tertawa bersama Alistair dan Amanda Batubara hampir mustahil, mengingat kepahitan yang kini begitu kuat mendefinisikan hubungan kedua keluarga tersebut."Tapi kemudian," lanjut Aleksander, nada suaranya semakin gelap, "sesuatu terjadi dan menghancurkan semuanya di antara mereka."Pikiran Evalia langsung tertuju pada kemungkinan yang pali
"Oh! Jawaban yang sangat diplomatis." Amanda berhenti sejenak, menyipitkan matanya seolah berusaha membaca ekspresi Evalia. Kemudian, senyum perlahan muncul di wajahnya. "Sayangku, Eva, jangan membelanya. Kau harus membiarkanku memarahinya karena hal ini."Evalia terkekeh pelan, lalu menurunkan suaranya. "Aku serius. Dia memberiku sesuatu yang jauh lebih penting daripada saham atau benda-benda material."Amanda menatapnya beberapa saat. "Sungguh?""Iya."Senyum penuh arti perlahan melebar di wajah Amanda. "Oh, sayang. Itu kabar yang sangat baik. Sangat baik." Ia menepuk tangan Evalia dengan penuh kasih sayang. "Anakku berhasil bertahan satu hari lagi tanpa dimarahi."Evalia tertawa kecil.
Alistair menatap putranya dengan tajam. "Dasar anak nakal... kau benar-benar nggak sabaran."Amanda tertawa kecil. "Sayang, yang dikatakan Aleksander benar. Lebih baik kau cepat." Ia menepuk lengan Alistair pelan. "Jangan membuat menantu kesayanganku semakin bingung. Cepat berikan padanya."Kebingungan Evalia semakin dalam. 'Bahkan ibu mertuaku juga bertingkah aneh...'Alistair mengembuskan napas panjang. "Ya Tuhan... kalian berdua bisa berhenti menyela aku?" Meski mengeluh, tidak ada sedikit pun kemarahan dalam suaranya. Hanya rasa jengkel kecil yang bercampur pasrah.Kemudian Alistair kembali menatap Evalia. Dan sesuatu berubah. Sosok pebisnis keras yang selama ini dikenal. Kepala keluarga yang begitu disegani. Semua ekspresi dingin itu perlahan menghilang. Yang tersis
Namun, tepat ketika Aleksander mulai merasa santai, suara Eva terdengar lagi. Tenang. Lembut. Terlalu santai hingga membuatnya waspada. "Kau terlihat sangat santai, Pak Batubara..."Mata Aleksander masih tertutup. "Hm?""Masalah dengan wanita itu sudah selesai?"Mata Aleksander langsung terbuka. Seluruh rasa malas yang sebelumnya terlihat lenyap dalam sekejap. Aleksander menoleh perlahan ke arah Eva, mengamati ekspresinya dengan saksama.Eva tetap tenang. Tatapannya stabil dan tajam, tetapi tidak mengandung tuduhan. Hanya kekhawatiran. Hanya kepercayaan.Aleksander menghela napas pelan sebelum menjawab. "Kami masih menyelidikinya." Suaranya kini lebih rendah dan serius. "Mengumpulkan bukti..."
Dalam hitungan detik, Rafael menjadi pusat perhatian yang tidak terbantahkan. Amanda masih terus memeluknya.Sementara itu, Elenora dan Adrian Batubara dengan lembut menyentuh pipinya, memperhatikannya dengan tatapan penuh kebahagiaan.Di sisi lain, Aleksander dan Evalia berdiri beberapa langkah di belakang mereka, benar-benar terlupakan.Evalia tidak bisa menahan senyumnya saat melihat Aleksander yang menghela napas pasrah."Yah," gumam Aleksander pelan, "sepertinya kita sudah digantikan."Evalia tersenyum tipis. "Kurasa kita sudah kehilangan posisi penting kita."Mereka menyaksikan pemandangan itu dengan hiburan kecil, tanpa merasa tersinggung ataupun terkejut.
“Aku janji nggak akan ngomong yang aneh-aneh, Dion…” Eva menahan gemetar dalam suaranya, “Tapi demi kewarasanku, kumohon kamu tenang dan jangan mencoba cari tahu tentang dia. Serius. Lebih baik bagi semua orang kalau kamu nggak mengusik dia. Dia bukan cuma masalah besar, dia udah ada di level ‘VIP’,
Eva mengerutkan kening. “Janji apa?”“Aku pernah janji, nggak akan pernah nyari-nyari hal tentang kamu, hidupmu, keluargamu, juga temanmu. Kecuali kamu sendiri yang minta,” ujar Dion.Evalia terdiam. Dadanya terasa sesak. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan tersenyum sendu. Dalam diam, ia member
Keesokan paginya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Eva bangun dengan perasaan bebas. Tak ada alarm, tak ada panggilan dinas, tak ada Estella yang mendadak menerobos masuk kamarnya dan menyuruhnya cepat bersiap.
Sayangnya, harapan Eva itu tak akan pernah terjadi.Dari balik kaca gelap mobil itu, Eva melihat Waluyo Wijaya duduk di kursi belakang. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan tak berperasaan. Ia bahkan tak menoleh sedikit pun ke arah taksi yang baru saja keluar dari area kediamannya.Rasanya seolah E







