Share

bab 18

Penulis: Mariahlia
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-16 00:27:41
Pagi itu, udara di halaman villa terasa lebih dingin dari biasanya. Embun masih menempel di dedaunan melati, dan suara burung gereja bersahutan pelan. Namun, di tengah ketenangan itu, hati Kamila justru berdebar tak menentu.

Ia duduk di bangku kayu dekat dapur, memandangi ponsel di tangannya yang sejak semalam tak kunjung menerima kabar dari Arsen. Biasanya, meski sesibuk apapun, pria itu akan mengirim pesan atau sekadar menelepon untuk sekadar memperingatkannya untuk minum vitamin. Tapi sejak semalam… hening. Tidak ada satu pun kabar.

“Pak Arsen… kamu ke mana?” gumamnya pelan, jari-jarinya menggenggam erat ponsel itu.

“Nona Kamila?” suara lembut terdengar dari belakang.

Bibik, pembantu rumah yang sudah di kenalnya selama ia tinggal di sini, yang sudah dianggapnya seperti ibu sendiri, mendekat dengan membawa secangkir teh hangat. “Dari tadi melamun terus, Non. Ada apa?” Bibik melepaskan celemeknya, dan menghampiri Kamila.

Kamila tersentak kecil, buru-buru tersenyum—senyum ya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Istri Rahasia Sang CEO    bab 56

    Kamila menutup matanya sejenak.Kalimat Arsen itu—tentang momen masa kecil—jatuh tepat di bagian dirinya yang paling rapuh. Bukan tentang uang. Bukan tentang harga diri. Melainkan tentang waktu. Tentang hal-hal kecil yang tidak bisa diulang.Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan, seolah jika terlalu cepat, dadanya akan runtuh.“Jangan bicara seolah aku ibu yang egois,” ucapnya pelan, tanpa membuka mata.Arsen tidak menyela.“Aku bekerja bukan karena aku ingin menjauh dari Dania,” lanjut Kamila. Suaranya sedikit bergetar, tapi ia memaksakan diri untuk tetap tenang. “Aku bekerja karena aku takut. Takut suatu hari… semua ini hilang. Takut aku kembali jadi perempuan yang tidak punya apa-apa.”Ia membuka mata.Tatapannya bertemu dengan Arsen.“Aku sudah pernah jatuh sampai dasar,” katanya lirih. “Dan aku tidak ingin itu terulang.”Arsen mengangguk pelan. Tidak ada bantahan. Tidak ada pembelaan diri. Ia hanya menerima kalimat itu apa adanya.“Aku tahu,” katanya akhirny

  • Istri Rahasia Sang CEO    bab 55

    Pagi itu berjalan lebih lambat dari biasanya.Jam dinding kecil di sudut ruang tengah baru saja menunjukkan pukul setengah delapan, namun Kamila merasa waktu seolah tertahan di antara detik-detik yang menggantung. Udara masih dingin, bercampur bau sabun bayi dan sisa sayur bening dari dapur. Cahaya matahari masuk samar lewat jendela, jatuh tepat di lantai semen yang dingin.Kamila berdiri di dekat meja kecil, membungkuk sedikit, memeriksa tas kain berwarna biru muda—tas Dania.Tangannya bergerak pelan namun cekatan. Popok cadangan, tisu basah, botol susu, baju ganti, selimut tipis. Satu per satu ia periksa, seolah takut ada yang terlewat. Keningnya sedikit berkerut, bukan karena bingung, melainkan karena pikirannya bercabang ke mana-mana.Di sudut ruangan, Dania tertidur tenang di box kecilnya.Sementara itu, Arsen masih ada di sana.Belum pergi.Pria itu berdiri bersandar di dekat jendela, ponselnya masih di tangan, layar menyala menampilkan jadwal meeting yang sejak tadi ia abaikan.

  • Istri Rahasia Sang CEO    bab 54

    Pagi itu sebenarnya tidak berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya.Udara masih lembap, sisa hujan semalam meninggalkan aroma tanah basah yang samar masuk lewat jendela kecil kontrakan Kamila. Tirai tipis berwarna krem bergoyang pelan, disentuh angin yang malas. Matahari belum sepenuhnya naik, cahayanya masih pucat, seolah ragu-ragu menembus atap seng dan celah bangunan padat di sekitar kontrakan.Kamila baru saja selesai menidurkan Dania.Bayi kecil itu terlelap di dalam box kayu sederhana yang diletakkan di sudut ruang tengah—ruang yang juga berfungsi sebagai dapur, ruang makan, sekaligus ruang tamu. Napas Dania teratur, dadanya naik turun dengan ritme halus yang selalu berhasil membuat Kamila berhenti sejenak, memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.Setiap pagi, momen itu selalu sama.Kamila akan berdiri sedikit lebih lama, menatap wajah bayi itu, memperhatikan bulu mata tipisnya, hidung kecilnya, dan bibir mungil yang kadang bergerak seolah sedang bermimpi. Ia selalu bertanya-tanya,

  • Istri Rahasia Sang CEO    bab 53

    Malam semakin larut, tetapi Arsen seolah tidak mengenal waktu.Lampu kecil di sudut ruangan memancarkan cahaya kekuningan yang lembut, menyelimuti wajah Dania yang terlelap di boks bayi sederhana. Nafas bayi itu naik turun dengan ritme yang teratur, seolah dunia di sekitarnya sama sekali tidak memiliki kekacauan apa pun. Jari-jarinya yang kecil mengepal, lalu mengendur perlahan, seakan sedang bermimpi tentang sesuatu yang hangat dan aman.Arsen berdiri di sisi boks itu, menundukkan badan sedikit, menatap wajah bayi itu tanpa berkedip. Senyum di bibirnya tidak juga pudar sejak beberapa menit lalu.“Dia cantik banget,” ucapnya lagi, suaranya dibuat pelan, hampir seperti bisikan. “Cantiknya kebangetan.”Kamila yang duduk di kursi plastik dekat jendela mendengus pelan. Tangannya terlipat di dada, bahunya sedikit terangkat—tanda kesal yang sudah ia tahan sejak tadi.Ia melirik jam dinding sekali lagi.Pukul dua belas lewat dua belas menit.Matanya kembali ke arah Arsen, pria itu masih di p

  • Istri Rahasia Sang CEO    bab 52

    Dan benar saja, malam itu Arsen datang.Bukan siang, bukan sore—melainkan malam, ketika udara mulai turun suhunya dan lampu-lampu kontrakan satu per satu menyala dengan cahaya kuning yang redup. Jam dinding di ruang tamu kecil Kamila baru saja melewati pukul delapan ketika suara langkah kaki berhenti tepat di depan pintu. Tidak terburu-buru. Tidak pula ragu. Seolah pemilik langkah itu sudah sangat yakin bahwa pintu ini akan dibukakan untuknya.Kamila yang baru saja meletakkan tas kerjanya di atas kursi kayu sederhana, berhenti bergerak. Dadanya naik turun lebih cepat dari biasanya. Entah kenapa, ada perasaan aneh yang menyelinap—campuran lelah, cemas, dan sesuatu yang tak ingin ia beri nama.Ketukan itu terdengar. Satu kali. Lalu dua kali. Tidak keras, tapi cukup tegas.Kamila menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya melangkah mendekat. Saat pintu dibuka, ia langsung bertemu dengan sosok tinggi yang berdiri tegak di depan kontrakannya. Arsen.Pria itu tampak sama seperti terakhir

  • Istri Rahasia Sang CEO    bab 51

    Dania Putri Arsenio.Nama itu terucap pelan dari bibir ibunya Nares, hampir seperti doa yang tidak ingin ia ganggu dengan suara terlalu keras. Bayi mungil dalam gendongannya tampak tertidur tenang, napasnya teratur, dada kecilnya naik turun dengan ritme yang membuat siapa pun yang melihatnya merasa ingin ikut bernapas lebih pelan.Kamila berdiri di dekat meja kayu kecil di ruang tengah rumah kontrakan itu. Rumah yang sederhana, dengan cat dinding warna krem yang mulai kusam di beberapa sudut. Tirai jendela berwarna pucat tergantung setengah terbuka, membiarkan cahaya sore masuk dengan malu-malu. Udara terasa hangat, tapi tidak menyengat. Sunyi—sunyi yang anehnya tidak menakutkan.“Mi…” suara Kamila serak ketika akhirnya ia bicara. “Kenapa ada… nama dia?”Ibunya Nares tidak langsung menjawab. Wanita itu hanya tersenyum kecil, senyum yang mengandung terlalu banyak makna. Matanya masih tertuju pada wajah bayi itu, seolah di sana tersimpan jawaban yang tak perlu diucapkan keras-keras.“Bi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status