登入Emily terdiam, matanya menatap tangan besar Ivander yang erat menggenggam tangan, tapi tidak mencoba menariknya. Hanya merasakan kehangatan yang melingkupi tangan dan menjalar ke hatinya.
“Kenapa rasanya hangat dan tenang? Apa baru Ivadner yang menggenggam tanganku seperti ini?” batin Emily takjub dengan apa yang sedang terjadi. Ini kali pertama ada seseorang yang menggenggam tangannya seperti ini. Bahkan, Arthur—ayahnya—dan Raditya tidak pernah melakukannya.
“Kenapa?”
Tok tok tok.Pintu kamar terbuka. Jemari Ivander masih melanjutkan aktivitasnya.“HEI …!” bentak Arga menghambur masuk.Emily hendak menurunkan kemejanya, tapi tangan bebas Ivander mencegahnya. “Rahimnya keras. Cepat siapkan USG portable-mu!”“Oke.” Dengan kesal karena Ivander tidak berusaha menghentikan aktivitasnya, Arga membuka koper kecil dan mulai menyiapkan peralatannya. Makin kesal hatinya manakala melihat Emily bersemu merah karena sentuhan itu.“Minggir!” usir Arga dingin.Kalimat Arga tidak serta-merta membuat Ivander beranjak. Ia masih sempat mengambil tisu, membersihkan krim dari perut Emily dan bangkit perlahan. Matanya tidak pernah lepas dari wajah Emily dan tentu saja, semu merah itu terekam juga olehnya.“Emmy, kamu sedang mengalami kontraksi.” Arga menempelkan jemarinya lembut sebelum menuang gel dingin berwarna biru muda. “Ayo, kita cek dulu.”Layar hitam putih segera berubah begitu probe USG Arga menempel di perut Emily. Arga beberapa kali terdiam dan mengambil tang
“Pagi, Emmy!” sapa pria itu penuh semangat dan senyum cerah.“K-kamu?!” pekik Emily kaget. “Untuk apa kamu di sini?” tanyanya bingung.“Lupa? Dalam rekaman itu, ada kita, tidak hanya kamu.” Ivander menarik kursi kosong di sebelahnya dan menyilakan Emily duduk dengan gerakan dagu.“Karena semua sudah datang, mari kita mulai,” ujar Bayusena membuka pembicaraan resmi. “Hari ini kami berempat diberikan tugas dan wewenang untuk meminta penjelasan atas foto dan video terkait anda berdua. Silakan dewan direksi.”Dua jam lamanya, Emily dan Ivander menjawab berbagai pertanyaan dan menjelaskan banyak tuduhan terkait video dan foto yang beredar di kalangan intern rumah sakit. Mereka keluar dari ruangan beriringan dengan raut wajah yang berbanding terbalik. Emily dengan gurat emosinya, sedangkan Ivander dengan senyum cerianya.Begitu mereka keluar dari pintu ruangan, Hendro sudah berdiri menyambut dengan wajah tegang.“Kita perlu bicara,” ujarnya singkat tanpa ingin dibantah.“Dengan kami?” tanya
Emily terdiam, matanya menatap tangan besar Ivander yang erat menggenggam tangan, tapi tidak mencoba menariknya. Hanya merasakan kehangatan yang melingkupi tangan dan menjalar ke hatinya.“Kenapa rasanya hangat dan tenang? Apa baru Ivadner yang menggenggam tanganku seperti ini?” batin Emily takjub dengan apa yang sedang terjadi. Ini kali pertama ada seseorang yang menggenggam tangannya seperti ini. Bahkan, Arthur—ayahnya—dan Raditya tidak pernah melakukannya.“Kenapa?” tanya Ivander khawatir. “Apa yang kamu rasakan?”“Hangat,” sahut Emily spontan.“Hah?! Apa?” Ivander tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. “Kamu bilang apa?”Emily mengangkat kepalanya dan bersitatap dengan Ivander. “Hangat,” ulangnya tanpa ragu. “Ini pertama kalinya aku merasakan genggaman tangan seseorang bisa memberikan rasa hangat dan ketenangan,” imbuhnya tanpa berpikir.Ivander mencoba mencerna kalimat Emily tanpa berlebihan. “Berikan tanganmu,” pin
Raditya tersentak mendengar kalimat ancaman keluar dari bibir istrinya yang dikenalnya sebagai wanita lembut dan penurut itu. “Apa yang membuatnya menjadi begitu berani? Siapa yang merubahnya? Ivander? Arga? Atau keserakahannya?” batin Raditya dengan mata terpicing ke arah Emily.“Cih! Sudah pandai mengancam sekarang.” Raditya mengangkat kedua tangannya tanda menyerah dengan seringai tergambar di wajahnya. “Benar kata orang tua, pasanganmu bisa merubah karaktermu.” Raditya mengendikkan bahu. “Oke, kita sudahi saja untuk sementara. Jangan lupa, temui pengacara dan ubah surat kuasanya.Sebelum berbalik pergi, Raditya melemparkan tatapan sinis ke arah Ivander yang sejak tadi siaga berdiri di sisi Emily bak pengawal kelas dunia.“Urusan kita belum selesai, Van.” Raditya menunjuk Ivander lalu berbalik pergi dengan hati yang kesal.Begitu Raditya menghilang di belokan selasar, ketegangan tubuh Emily
Bug!Tubuh Emily menabrak dinding, tidak terlalu keras, tapi cukup membuat wanita itu tersentak dan melebarkan matanya.“Kenapa diam?! Mulai menyadari, bahkan Asih yang biasanya selalu memihakmu sudah berubah haluan? Iya?!”Dug!Raditya memukul dinding dengan kepalan tangannya.“Dia paham bahwa status nyonya muda keluarga Hutama sudah bukan lagi milikmu. Jadi, sebaiknya kamu menyerah saja. Jangan gunakan bayi yang kamu kandung untuk mempertahankan hak warismu!”Raditya mencermati raut Emily yang sama sekali tidak berubah sejak awal mereka bicara, hanya matanya yang sempat melebar sebentar karena kaget. Menyadari tindakannya tidak berdampak pada Emily, makin emosilah ia. “Kenapa diam?! Jawab aku!” bentaknya lagi.Emily tersenyum kecut. “Buat apa aku menjawabnya, Mas? Kamu sudah punya jawabanmu sendiri, kan? Untuk apa tanya aku?!” Emily mendorong tubuh Raditya menjauh. “Apapun yang kamu katakan, aku tidak akan menyangkalnya. Percuma.”“Hmph …!” dengus Raditya dengan tatapan merendahkan.
“Siapa yang lakukan ini?” ulang Emily menarik tubuhnya menjauh.Mata Asih terbuka, menatap lurus Emily. Ucapan wanita itu benar dan Asih tidak ingin hal yang sama menimpa Emily.“Perempuan yang tinggal dengan mas Radit, Non.”Emily terhenyak mendengar perkataan Asih. “Jadi mereka sudah tinggal bersama?” batin Emily terluka. “Perempuan? Siapa, Bik?”Asih menggelengkan kepala. “Bibi tidak ingin menjadi pemicu pertengkaran antara Non dan mas Radit,” lirih Asih sedih.“Bik Asih,” panggil Emily lembut seraya melepas sarung tangannya. Digenggamnya jemari tangan yang terluka. “Saya dan Radit tidak akan bisa bersatu kembali, Bik. Meskipun Bik Asih tutup mulut, saya akan tetap menggugat cerai Radit.”Asih terisak. “Bibi sayang Non Emily dan mas Radit,” ucap Asih.Emily tersenyum lembut. “Saya juga sayang Bik Asih, tapi itu tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kami. Jadi, siapa perempuan yang tinggal dengan Radit? Sejak kapan?”Mata sendu Asih menatap Emily dalam diam. Jemarinya membalas se
Emily kembali ke kamarnya, berbaring menyamping setengah meringkuk—posisi favoritnya ketika membutuhkan perlindungan. Sebuah himpitan terasa menyesakkan dadanya melihat kondisi Soraya nyaris kembali ke tahun-tahun setelah kepergian Amelia. Rumah besarnya kembali sunyi. Meja makan bund
Soraya terus memperhatikan dan mendengarkan setiap kalimat yang diutarakan wanita muda yang menghampiri Emily dengan takut-takut. Dari yang didengarnya, Soraya tahu bahwa wanita muda itu adalah istri pedagang yang ditabraknya.“Mereka pasangan muda dengan tiga orang anak yang masih kec
“Aku ingin mengajukan gugatan cerai.”Kalimat pertama Emily setelah mereka sampai rumah, tidak mengejutkan Arthur dan Soraya. Mereka hanya saling pandang dengan tatapan sedih.“Maaf, kalau keputusanku ini melukai kalian. Tapi, aku sudah menimbangnya masak-masak. Aku harap—.”“Kami mendukungmu,” pot
“Sudah waktunya kamu menjadwalkan sesi konselingmu, kalau itu tidak merepotkan.”Emily mendongak. “Apakah bisa sekarang?”Alih-alih menjawab, Ivander mengambil kursi dan meumbawanya ke samping ranjang Emily. “Silakan,” ujarnya yakin.&ldquo







