공유

Bab 6

작가: Selene21
last update 게시일: 2026-05-08 13:05:02

Ivander menyungging senyum yang sulit diartikan. Ada rasa geli yang menggelitik perutnya ketika wanita bernama Emily—yang pagi tadi membayarnya dengan segepok uang—naik ke podium.

“Menarik,” gumam Ivander sambil terus berjalan tenang. “Dia semakin cantik saat gugup,” imbuhnya.

“Wow …! Best match …!” celetuk sebuah suara dari barisan tengah.

Ivander berdiri tepat di sebelah Emily, bahu mereka nyaris bersinggungan. “Hello, Partner,” lirih Ivander membuat Emily menggeser tubuhnya.

“Harap tenang.” Wajah Hendro berbinar penuh kebahagiaan. “Saya perkenalkan dulu, dokter Ivan adalah psikiater konsultan jebolan Harvard University. Beliau mengabdi selama tiga tahun sebelum memutuskan menerima tawaran saya dan kembali ke tanah air.”

“Wow … fisik oke, otak oke. Mantap!” celetuk Arga penuh semangat.

“Betul!” sahut Hendro bersemangat. “Selanjutnya, dokter Ivan akan memimpin departemen rawat jalan dan bertanggung jawab atas kualitas pelayanan dan kesehatan mental karyawan.”

“Wuih …! Ada aja gebrakannya …!” pekik beberapa orang antusias. “Bravo …!”

Hendro mengangkat tangan kanannya tanda interupsi, seketika ruangan hening.

“Saya berterima kasih atas kinerja saudara sekalian selama satu dekade ini. Hutama Health Centre tidak akan terus ada tanpa kerja keras kalian. Untuk itu,” ucap Hendro penuh penekanan.

Pria paruh baya itu mengulurkan tangan kirinya ke arah Emily.

Mata Emily membeliak dengan bahu terangkat tanda tidak mengerti. “Apa?” Mulut Emily bergerak tanpa suara.

Hendro berkedip ke arah tangannya yang terulur, meminta Emily segera menyambutnya. Ruangan semakin hening.

Puk.

Emily menumpukan tangan kanannya dan mengikuti tarikan tangan hangat berisi itu untuk merapat. Hendro mencondongkan kepalanya ke kiri dan berbisik, “Ini bukan permintaan maaf atau terima kasih, tapi kamu layak.”

Kepala itu menjauh setelah berkata demikian dan mengangkat tangan yang saling tertaut sejajar bahu. “Hari ini, saya nyatakan bahwa dr. Emily Femeraldi, SpBU resmi menjabat sebagai Chief Operating Officer Rumah Sakit Hutama. Beri tepuk tangan yang meriah!”

“Papa,” ucap Emily lirih dan penuh haru.

Di depan seluruh karyawannya, Hendro memeluk tubuh Emily yang bergetar karena tangis dengan penuh kasih. “Tolong bantu papa menjaga mereka,” bisik Hendro bergetar.

Tepukan, teriakan dan sorak-sorai yang gemuruh memenuhi aula mulai samar terdengar di telinga Emily. Tubuhnya perlahan terkulai lemas dalam pelukan Hendro.

“Emmy … Emmy …!” pekik Hendro panik. “Ivan, tolong!” Hendro spontan mendongak ke arah Ivander yang juga terlihat kaget.

Seketika ruangan senyap. Hanya terdengar bisikan-bisikan panik dan bingung. Ivander segera merendahkan diri bersiap mengambil alih tubuh Emily dan menggendongnya. Sesaat sebelum tubuh Emily berlabuh pada lengan kokoh Ivander, Arga sudah sampai di samping Hendro dan memegang Emily lebih dulu.

“Biar saya yang bawa, Dok.”

Tanpa menunggu lama, Hendro mengangguk dan mengendurkan pelukannya. “Hati-hati. Bawa ke kamar VIP terdekat.”

Arga mengangguk dan bergerak cepat. Dalam beberapa waktu ini, ia sudah mulai terbiasa dengan berat badan Emily, setelah beberapa kali menemukan wanita itu pingsan.

“Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Em?” gumam Arga pada dirinya. Di belakang Arga, Hendro dan Ivander ikut mengawal.

Kelopak mata Emily bergerak naik perlahan ketika jarum menusuk kulitnya. “Argh …,” desahnya pelan.

“Tenang, Sayang. Ada papa di sini.” Hendro yang duduk di sisi ranjang, cekatan menenangkan tangan kanan menantunya. “Sebentar lagi selesai.”

Emily menengok lemah. “Papa, aku tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing karena lapar.” Emily mencoba bergurau, tapi tatapan tegas Hendro membuat senyum jenakanya lenyap. Ia memalingkan wajah menghindari tatapan penuh selidik ayah mertuanya.

Alih-alih mendapatkan ketenangan, matanya bersiborok dengan mata tajam lain yang lebih terang dan sepuluh kali lebih tajam. “Ivander? Mau apa dia di sini?” batin Emily waspada.

Sang pemilik mata hanya mengangkat sebelah bibirnya, melemparkan senyum sinis menyadari ketidaksukaan Emily padanya. Ivander bahkan memainkan alisnya membuat amarah Emily makin tersulut.

“Terima kasih, Sus.” Ucapan Hendro membuyarkan kontak Emily dan Ivander. “Oke, mau makan apa?” tanya Hendro tiba-tiba.

“Nanti aku order sendiri, Pa.”

Penolakan Emily membuat pria yang enam bulan ini menjadi mertua Emily itu kembali duduk di tepian ranjang.

“Tolong tinggalkan kami berdua!” ucap Hendro tegas menatap lurus Emily. “Emmy, papa tidak bisa tinggal diam saja kali ini. Papa mau dengar sebuah penjelasan.”

Tatapan mata Hendro memperingatkan Emily bahwa sekaranglah waktunya untuk memberikan penjelasan. Sebuah tarikan napas dalam, mengawali cerita Emily.

“Papa, aku minta maaf kalau nanti ada kata-kataku yang mungkin akan menyakiti dan bikin papa kecewa.”

Hendro menangkup kedua tangan Emily yang saling meremas gelisah. “Papa hanya akan mendengar ceritamu.”

“Aku juga bingung harus memulai dari mana karena aku juga tidak tahu bagaimana semua ini berawal. Papa, aku tahu betul, pernikahanku dengan mas Radit adalah bagian dari perjodohan. Tapi, selama aku kenal dan dekat dengannya, hingga aku memutuskan menerima pernikanan ini, dia adalah pria yang baik di mataku.”

Air mata Emily luruh. Buru-buru disusutnya agar tidak mengalahkan keberaniannya membuka mulut. “Aku menerima pernikahan ini bukan karena perjodohan, tapi karena aku cinta.”

Tangan hangat Hendro mengusap kepala Emily penuh kasih, membuat dua pasang mata saling memandang. “Setelah malam pernikahan, mas Radit berubah menjadi sosok yang tidak lagi aku kenal. Dia jadi kasar, pemarah dan suka main tangan.”

Napas Hendro tertahan sejenak mendengar pengakuan Emily. Dia sudah memiliki firasat tentang kondisi pernikahan anaknya, tapi tidak separah ini. Mulutnya tetap tertutup, sebagaimana sudah ia janjikan pada Emily. Mendengar.

“Enam bulan ini aku mencoba bertahan dan melakukan perbaikan. Mungkin aku yang kurang pantas, jadi aku berbenah. Sampai beberapa hari lalu.” Emily berhenti berucap. Hanya mengendikkan bahunya dan menangis.

“Papa, aku sempat mengutarakan keinginanku bercerai hanya untuk menggertaknya. Namun, justru dia menggertakku dan berkata bahwa aku tidak akan berani melakukannya karena ayah pasti akan terkejut.”

Hendro manggut-manggut mengerti.

“Aku sampaikan niatanku pada ibu dan apa yang aku dapat? Ibu menunjukkan sebuah foto mas Radit sedang memeluk dan mencium wanita lain di bandara, hanya beberapa hari setelah menikahiku.” Tangis Emily pecah. Kepalanya tumbang ke dalam dekapan Hendro.

“Anakku, maafkan papa. Maaf. Papa tidak menanyangka Raditya tega mempermalukan keluarga dengan melukaimu.” Hendro begitu malu pada Emily. Wanita muda itu sampai keluar dari rumah dan tinggal di hotel untuk menghindar dari Raditya. Rumah yang dulu ia tawarkan ternyata membuat wanita itu terluka dan pergi.

Beberapa menit lamanya mereka berpelukan. Kemudian, Emily menjauh dan mengusap wajahnya. “Papa, ada satu hal yang perlu papa tahu, tapi aku mau papa rahasiakan dari mas Radit.”

Emily menunggu Hendro mengangguk sebelum membuka mulut. Gerakan kepala yang ditunggunya muncul. Emily memejamkan mata dan menarik napas dalam sekali lagi. “Aku … sedang hamil saat ini. Dua bulan.” Emily membuka matanya setelah menyelesaikan kalimatnya.

Ketika Emily membuka mata, tampak olehnya mulut Hendro ternganga dengan mata berkaca-kaca. “Tapi aku minta papa simpan semua ini. Aku akan tetap menceraikan mas Radit dan aku tidak ingin, kehamilanku menjadi alasannya menolak perceraian ini.”

“Kenapa, Emmy? Kenapa harus disembunyikan?” Harapan baru tersirat dalam ucapan Hendro. “Anak ini akan menjadi obat dan perekat hubunganmu dengan Radit.”

Emily menggeleng tegas. “Tidak. Aku memutuskan untuk tidak menyimpannya.”

“Tidak menyimpannya? Maksudmu, menggugurkannya?!”

***

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 28

    “KAMU?!” Emily tersentak mundur. “Sedang apa kamu di sini?!”Emily tidak menduga bertemu Ivander di pantai malam ini. Kenapa harus pria ini yang dia temui ketika suasana hatinya sedang tidak baik?“Kamu yang sedang apa?! Mau mati?! Bunuh diri?!” Pria itu balik membentak dengan mata melotot tajam ke arah Emily.Emily dibuat terkejut lagi dengan reaksi pria dingin itu. Ivander yang dikenal Emily selama ini adalah sosok dingin tanpa ekspresi dan enggan ikut campur urusan orang lain. Tapi, malam ini Ivander membuktikan bahwa dirinya adalah manusia yang memiliki emosi.“Apa? Mati? Bunuh diri?” Emily bingung dengan ucapan Ivander. “Siapa?” Tanpa sadar bibirnya tersenyum menyadari dugaan pria itu.“Lucu?!” bentak Ivander lagi.Tawa Emily meledak beberapa saat. Ia terbahak hingga air matanya keluar dan jatuh ke pipi. Ivander terpesona melihatnya. Ini kali pertama sejak ia meliha

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 27

    “Apa benar, papa yang meminta Carol bergabung? Jujur, aku sedang bingung dengan sikap papa sekarang. Kenapa papa izinkan Carol hadir? Untuk menggeser posisiku sebagai istri Radit? Atau apa?!” cecar Emily dengan suara bergetar.Hendro tersentak menyadari pemikiran Emily terhadapnya.“E—Emmy. Tolong, jangan berpikir demikian.” Hendro mengusap wajahnya panik. “Papa tidak tahu tentang hal ini. Menurut Hanum, Radit yang menandatangani kontrak kerjanya. Papa juga terkejut ketika nama Carol masuk dalam daftar rekanan baru. Sungguh.”Emily buru-buru berdiri ketika Hendro mencondongkan badan dan mengulurkan tangan padanya. “Papa, maaf. Kepalaku pusing. Aku ingin istirahat.”“Tidak, dengarkan papa dulu. Sampai kapanpun, kamu satu-satunya menantu papa. Tidak akan tergantikan oleh siapapun.” Hendro menyusul bangkit dan berjalan mendekati Emily.“Emmy, papa mohon. Jangan begini.”Air mata Emily luruh. “Pa, tolong izinkan kami berpisah. Tidak perlu mempertahankan hubungan yang sudah hancur. Percum

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 26

    “Apa yang pertama kali Emily katakan ketika bangun?” tanya Ivander.Soraya menyusut hidungnya. “Maaf. Hanya kata maaf yang terus keluar dari bibir kecilnya. Selama berhari-hari.” Air mata Soraya kembali menetes. “Apa pun yang kami tanyakan atau katakan, dia hanya menjawab maaf dengan pandangan kosong.”Ivander mangut-manggut dengan bibir terlipat ke dalam.“Ivan, boleh saya minta tolong sesuatu?” tanya Soraya ragu.“Apa itu?” tanya Ivander menimpali.“Tolong bantu Emily melewati krisis ini. Dia ….” Soraya ragu melanjutkan kalimatnya. Ia khawatir terlalu ikut campur urusan putrinya, tapi hati kecilnya tidak tega melihat Emily menghadapi kondisi rumah tangganya saat ini tanpa bantuan seseorang—seperti ketika Emily kecil tumbuh tanpa kehadiran orang tua membersamainya.Ivander menunggu Soraya meneruskan kalimatnya. Keinginan pasien untuk membagi masalahnya adalah kunci utama keberhasilan konselingnya. Apabila masih ada yang ingin dia simpan untuk dirinya sendiri, maka konselor tidak berh

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 25

    Caroline keluar dari auditorium dengan langkah mantap penuh kebanggaan. Selangkah lagi, keinginannya menjadi istri pewaris rumah sakit akan segera terwujud. Saat ini, ia mungkin hanya salah satu dokter spesialis, tapi sebentar lagi, dia akan menjadi satu-satunya istri pewaris. Membayangkan hal itu, senyum Caroline merekah.Sret.Seseorang menarik lengan Caroline ke tempat yang tersembunyi. “Bahagia sekali sepertinya?” Embusan napas Raditya menyapu leher Caroline.“Radit …,” desah Caroline seraya mendorong pundak pria itu. “Kau akan membuat riasanku luntur.”Raditya menjauhkan wajahnya yang dihiasi seringai. “Aku bangga melihatmu di atas tadi.” Sebuah kecupan mendarat di dahi Caroline. “Perlahan, semua orang akan mulai mengenalmu.”Kepala Caroline mendongak, memamerkan lehernya yang polos. “Argh … sekalian kamu mengagumi istrimu di atas podium?” sinisnya.“Hahaha …! Aku semakin suka saat kamu cemburu seperti ini.” Raditya mendaratkan satu kecupan panjang sbeelum menarik tangan Caroline

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 24

    “Arga?! Jadi beberapa hari ini kamu bilang tinggal menemani ibumu, ternyata menemani pria lain?!”Emily terbeliak. Tidak menyangka Raditya bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu padanya di depan banyak orang yang saat itu ada di IGD. Pengunjung yang awalnya fokus menunggu keluarganya yang sedang mengantre untuk diperiksa, kini tertuju padanya dan Raditya.Plak!Tangan kanan Emily mendarat di pipi kiri Raditya tanpa bisa dikendalikan lagi. Sebuah tamparan yang cukup keras untuk menghapus senyumculas di wajah pria itu yang selama ini dia abaikan.“CUKUP!” bentak Emily dengan lantang. “Tutup mulutmu!”Rekan sejawat yang sedang bertugas pun tersentak melihat perubahan sikap Emily. Dokter cantik, baik dan cerdas yang mereka kenal, lenyap. Pun begitu dengan Raditya. Matanya yang terbelalak sambil meraba pipinya yang panas karena tamparan Emily, menunjukkan bahwa tamparan itu di luar dugaannya.“K

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 23

    “Halo. Aku sudah bertemu dengan istrimu, Emily.” Caroline tidak membuang waktu untuk menceritakan kejadian seru yang baru dialaminya.[Ketemu di mana?]“Di rumah sakit milikmu. Di mana lagi?” jawab Caroline sambil mencermati kuku palsunya.[Kamu ngapain ke sana?!] Terdengar kepanikan dalam suara Raditya.“Kok ngapain? Tadi kamu bilang, aku boleh kerja di sini. Kok sekarang ngapain?!” sungut Caroline. “Jangan-jangan, kamu tidak sungguh-sungguh ingin menikahiku, ya?!”[Bukan begitu, Carol. Aku akan membuatmu bekerja di sana, tapi tidak sekarang. Ayolah, jangan mempersulitku.] Raditya mulai kehilangan kesabaran.“Sekarang! Aku maunya sekarang! Kamu tinggal hubungi pegawai HRD dan bilang kalau ada dokter bedah plastik baru yang akan datang hari ini. Beres, ‘kan?!” desak Caroline. “Aku tidak ingin membuang waktu lagi untuk bisa bersamamu, Radit!”[STOP! Stop sebu

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 20

    Raditya berjalan cepat ke tempat mobilnya terparkir. Ia membuka pintu dan menutup pintu dengan kasar. Wajahnya merah dengan raut bersungut-sungut.“Kenapa? Bertengkar lagi?” Tangan pemilik suara itu mengelus dada Raditya berulang kali hingga napas pria itu kembali teratur.“Sial*n m

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 19

    Soraya mengintip ke dalam kulkas melihat persediaan bahan makanan. Ada beberapa sayur dan jenis protein, membuatnya bingung memutuskan.“Hmm … masak apa, ya?” gumamnya bimbang. “Atau tanya Emmy saja, biar dia yang putuskan makan apa malam ini.” Soraya menutup pintu kulkas dan menyusul Emily yang ta

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 18

    Emily kembali ke kamarnya, berbaring menyamping setengah meringkuk—posisi favoritnya ketika membutuhkan perlindungan. Sebuah himpitan terasa menyesakkan dadanya melihat kondisi Soraya nyaris kembali ke tahun-tahun setelah kepergian Amelia. Rumah besarnya kembali sunyi. Meja makan bund

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 17

    Soraya terus memperhatikan dan mendengarkan setiap kalimat yang diutarakan wanita muda yang menghampiri Emily dengan takut-takut. Dari yang didengarnya, Soraya tahu bahwa wanita muda itu adalah istri pedagang yang ditabraknya.“Mereka pasangan muda dengan tiga orang anak yang masih kec

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status