Se connecterIvander menyungging senyum yang sulit diartikan. Ada rasa geli yang menggelitik perutnya ketika wanita bernama Emily—yang pagi tadi membayarnya dengan segepok uang—naik ke podium.
“Menarik,” gumam Ivander sambil terus berjalan tenang. “Dia semakin cantik saat gugup,” imbuhnya.
“Wow …! Best match …!” celetuk sebuah suara dari barisan tengah.
Ivander berdiri tepat di sebelah Emily, bahu mereka nyaris bersinggungan. “Hello, Partner,” lirih Ivander membuat Emily menggeser tubuhnya.
“Harap tenang.” Wajah Hendro berbinar penuh kebahagiaan. “Saya perkenalkan dulu, dokter Ivan adalah psikiater konsultan jebolan Harvard University. Beliau mengabdi selama tiga tahun sebelum memutuskan menerima tawaran saya dan kembali ke tanah air.”
“Wow … fisik oke, otak oke. Mantap!” celetuk Arga penuh semangat.
“Betul!” sahut Hendro bersemangat. “Selanjutnya, dokter Ivan akan memimpin departemen rawat jalan dan bertanggung jawab atas kualitas pelayanan dan kesehatan mental karyawan.”
“Wuih …! Ada aja gebrakannya …!” pekik beberapa orang antusias. “Bravo …!”
Hendro mengangkat tangan kanannya tanda interupsi, seketika ruangan hening.
“Saya berterima kasih atas kinerja saudara sekalian selama satu dekade ini. Hutama Health Centre tidak akan terus ada tanpa kerja keras kalian. Untuk itu,” ucap Hendro penuh penekanan.
Pria paruh baya itu mengulurkan tangan kirinya ke arah Emily.
Mata Emily membeliak dengan bahu terangkat tanda tidak mengerti. “Apa?” Mulut Emily bergerak tanpa suara.
Hendro berkedip ke arah tangannya yang terulur, meminta Emily segera menyambutnya. Ruangan semakin hening.
Puk.
Emily menumpukan tangan kanannya dan mengikuti tarikan tangan hangat berisi itu untuk merapat. Hendro mencondongkan kepalanya ke kiri dan berbisik, “Ini bukan permintaan maaf atau terima kasih, tapi kamu layak.”
Kepala itu menjauh setelah berkata demikian dan mengangkat tangan yang saling tertaut sejajar bahu. “Hari ini, saya nyatakan bahwa dr. Emily Femeraldi, SpBU resmi menjabat sebagai Chief Operating Officer Rumah Sakit Hutama. Beri tepuk tangan yang meriah!”
“Papa,” ucap Emily lirih dan penuh haru.
Di depan seluruh karyawannya, Hendro memeluk tubuh Emily yang bergetar karena tangis dengan penuh kasih. “Tolong bantu papa menjaga mereka,” bisik Hendro bergetar.
Tepukan, teriakan dan sorak-sorai yang gemuruh memenuhi aula mulai samar terdengar di telinga Emily. Tubuhnya perlahan terkulai lemas dalam pelukan Hendro.
“Emmy … Emmy …!” pekik Hendro panik. “Ivan, tolong!” Hendro spontan mendongak ke arah Ivander yang juga terlihat kaget.
Seketika ruangan senyap. Hanya terdengar bisikan-bisikan panik dan bingung. Ivander segera merendahkan diri bersiap mengambil alih tubuh Emily dan menggendongnya. Sesaat sebelum tubuh Emily berlabuh pada lengan kokoh Ivander, Arga sudah sampai di samping Hendro dan memegang Emily lebih dulu.
“Biar saya yang bawa, Dok.”
Tanpa menunggu lama, Hendro mengangguk dan mengendurkan pelukannya. “Hati-hati. Bawa ke kamar VIP terdekat.”
Arga mengangguk dan bergerak cepat. Dalam beberapa waktu ini, ia sudah mulai terbiasa dengan berat badan Emily, setelah beberapa kali menemukan wanita itu pingsan.
“Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Em?” gumam Arga pada dirinya. Di belakang Arga, Hendro dan Ivander ikut mengawal.
Kelopak mata Emily bergerak naik perlahan ketika jarum menusuk kulitnya. “Argh …,” desahnya pelan.
“Tenang, Sayang. Ada papa di sini.” Hendro yang duduk di sisi ranjang, cekatan menenangkan tangan kanan menantunya. “Sebentar lagi selesai.”
Emily menengok lemah. “Papa, aku tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing karena lapar.” Emily mencoba bergurau, tapi tatapan tegas Hendro membuat senyum jenakanya lenyap. Ia memalingkan wajah menghindari tatapan penuh selidik ayah mertuanya.
Alih-alih mendapatkan ketenangan, matanya bersiborok dengan mata tajam lain yang lebih terang dan sepuluh kali lebih tajam. “Ivander? Mau apa dia di sini?” batin Emily waspada.
Sang pemilik mata hanya mengangkat sebelah bibirnya, melemparkan senyum sinis menyadari ketidaksukaan Emily padanya. Ivander bahkan memainkan alisnya membuat amarah Emily makin tersulut.
“Terima kasih, Sus.” Ucapan Hendro membuyarkan kontak Emily dan Ivander. “Oke, mau makan apa?” tanya Hendro tiba-tiba.
“Nanti aku order sendiri, Pa.”
Penolakan Emily membuat pria yang enam bulan ini menjadi mertua Emily itu kembali duduk di tepian ranjang.
“Tolong tinggalkan kami berdua!” ucap Hendro tegas menatap lurus Emily. “Emmy, papa tidak bisa tinggal diam saja kali ini. Papa mau dengar sebuah penjelasan.”
Tatapan mata Hendro memperingatkan Emily bahwa sekaranglah waktunya untuk memberikan penjelasan. Sebuah tarikan napas dalam, mengawali cerita Emily.
“Papa, aku minta maaf kalau nanti ada kata-kataku yang mungkin akan menyakiti dan bikin papa kecewa.”
Hendro menangkup kedua tangan Emily yang saling meremas gelisah. “Papa hanya akan mendengar ceritamu.”
“Aku juga bingung harus memulai dari mana karena aku juga tidak tahu bagaimana semua ini berawal. Papa, aku tahu betul, pernikahanku dengan mas Radit adalah bagian dari perjodohan. Tapi, selama aku kenal dan dekat dengannya, hingga aku memutuskan menerima pernikanan ini, dia adalah pria yang baik di mataku.”
Air mata Emily luruh. Buru-buru disusutnya agar tidak mengalahkan keberaniannya membuka mulut. “Aku menerima pernikahan ini bukan karena perjodohan, tapi karena aku cinta.”
Tangan hangat Hendro mengusap kepala Emily penuh kasih, membuat dua pasang mata saling memandang. “Setelah malam pernikahan, mas Radit berubah menjadi sosok yang tidak lagi aku kenal. Dia jadi kasar, pemarah dan suka main tangan.”
Napas Hendro tertahan sejenak mendengar pengakuan Emily. Dia sudah memiliki firasat tentang kondisi pernikahan anaknya, tapi tidak separah ini. Mulutnya tetap tertutup, sebagaimana sudah ia janjikan pada Emily. Mendengar.
“Enam bulan ini aku mencoba bertahan dan melakukan perbaikan. Mungkin aku yang kurang pantas, jadi aku berbenah. Sampai beberapa hari lalu.” Emily berhenti berucap. Hanya mengendikkan bahunya dan menangis.
“Papa, aku sempat mengutarakan keinginanku bercerai hanya untuk menggertaknya. Namun, justru dia menggertakku dan berkata bahwa aku tidak akan berani melakukannya karena ayah pasti akan terkejut.”
Hendro manggut-manggut mengerti.
“Aku sampaikan niatanku pada ibu dan apa yang aku dapat? Ibu menunjukkan sebuah foto mas Radit sedang memeluk dan mencium wanita lain di bandara, hanya beberapa hari setelah menikahiku.” Tangis Emily pecah. Kepalanya tumbang ke dalam dekapan Hendro.
“Anakku, maafkan papa. Maaf. Papa tidak menanyangka Raditya tega mempermalukan keluarga dengan melukaimu.” Hendro begitu malu pada Emily. Wanita muda itu sampai keluar dari rumah dan tinggal di hotel untuk menghindar dari Raditya. Rumah yang dulu ia tawarkan ternyata membuat wanita itu terluka dan pergi.
Beberapa menit lamanya mereka berpelukan. Kemudian, Emily menjauh dan mengusap wajahnya. “Papa, ada satu hal yang perlu papa tahu, tapi aku mau papa rahasiakan dari mas Radit.”
Emily menunggu Hendro mengangguk sebelum membuka mulut. Gerakan kepala yang ditunggunya muncul. Emily memejamkan mata dan menarik napas dalam sekali lagi. “Aku … sedang hamil saat ini. Dua bulan.” Emily membuka matanya setelah menyelesaikan kalimatnya.
Ketika Emily membuka mata, tampak olehnya mulut Hendro ternganga dengan mata berkaca-kaca. “Tapi aku minta papa simpan semua ini. Aku akan tetap menceraikan mas Radit dan aku tidak ingin, kehamilanku menjadi alasannya menolak perceraian ini.”
“Kenapa, Emmy? Kenapa harus disembunyikan?” Harapan baru tersirat dalam ucapan Hendro. “Anak ini akan menjadi obat dan perekat hubunganmu dengan Radit.”
Emily menggeleng tegas. “Tidak. Aku memutuskan untuk tidak menyimpannya.”
“Tidak menyimpannya? Maksudmu, menggugurkannya?!”
***
“Em, Emmy!” Hendro memegang bahu menantunya yang bergetar. “Ada apa? Kenapa menangis begini?” tanya Hendro panik.Emily tidak menjawab. Ia hanya menangis tersedu sambil menggelengkan kepalanya.“Emmy, oke. Anggap, kamu membenci Radit, tidak bisa memaafkannya dan ingin bercerai darinya. Coba, lihat papa.”Emily mengangkat wajahnya dan bertukar pandang dengan Hendro.“Kita ini dokter, Nak. Penyelamat nyawa, bukan sebaliknya. Tolong, kamu pikirkan lagi baik-baik. Terlepas dari semua masalah dan ucapan papa. Hmm?” Wajah Hendro melembut, tidak tega melihat kondisi Emily. “Jangan memutuskan apa-apa. Kamu butuh konseling yang sehat agar tidak menyesali setiap keputusan yang kamu buat.”Hendro mengguncang lembut bahu Emily sebelum berdiri dan merapikan bajunya. “Papa akan atur supaya kamu bisa ngobrol dengan Ivan. Eits, tidak ada penolakan,” imbuh Hendro cepat manakala dilihatnya Emily hendak menolak sarannya.“Papa harus selesaikan pekerjaan papa dan memastikan tidak ada kabar tidak perlu yan
“Tidak. Aku memutuskan untuk tidak menyimpannya.”“Tidak menyimpannya? Maksudmu, menggugurkannya?!” Hendro tercekat. “Sebenci itukah kamu pada Raditya, Nak?”Emily kembali menggeleng. “Anak ini bukan wujud dari cinta kasih orang tuanya, Pa. Dia hadir bersama puncak kebencian yang mas Radit lakukan.” Mata Emily yang basah menatap marah pada Hendro. “Aku diperkosa malam itu,” imbuh Emily lirih.“Hah?? Diperkosa?” Hendro semakin tidak paham.“Malam itu mas Radit pulang dalam kondisi mabuk. Dia memaksaku melayaninya ketika aku keberatan karena lelah dan mengantuk. Dia pukul aku, mendorongku ke ranjang dan mengikat kedua lengan dan kakiku. Aku benar-benar hancur malam itu.”Kepala Emily tertunduk, tak kuasa lagi menahan malu dan amarah yang lama disimpannya. Ingatannya kembali pada malam tragis itu.Sekitar dua bulan lalu, di akhir pekan. Emily menerima sekelompok pasien kecelakaan yang membutuhkan tindakan operasi. Nyaris empat belas jam, Emily dan timnya berkutat di dalam kamar operasi m
Ivander menyungging senyum yang sulit diartikan. Ada rasa geli yang menggelitik perutnya ketika wanita bernama Emily—yang pagi tadi membayarnya dengan segepok uang—naik ke podium.“Menarik,” gumam Ivander sambil terus berjalan tenang. “Dia semakin cantik saat gugup,” imbuhnya.“Wow …! Best match …!” celetuk sebuah suara dari barisan tengah.Ivander berdiri tepat di sebelah Emily, bahu mereka nyaris bersinggungan. “Hello, Partner,” lirih Ivander membuat Emily menggeser tubuhnya.“Harap tenang.” Wajah Hendro berbinar penuh kebahagiaan. “Saya perkenalkan dulu, dokter Ivan adalah psikiater konsultan jebolan Harvard University. Beliau mengabdi selama tiga tahun sebelum memutuskan menerima tawaran saya dan kembali ke tanah air.”“Wow … fisik oke, otak oke. Mantap!” celetuk Arga penuh semangat.“Betul!” sahut Hendro bersemangat. “Selanjutnya, dokter Ivan akan memimpin departemen rawat jalan dan bertanggung jawab atas kualitas pelayanan dan kesehatan mental karyawan.”“Wuih …! Ada aja gebrakan
“Aku sudah memilih pembuluh darah baru yang sehat dan cukup besar.” Ivander duduk tegak bersandar pada kursi dengan kaki saling bertumpu.“Ahh …!” Emily tersentak kaget. “Siapa kamu?!” pekik Emily beringsut cepat dan menarik tinggi selimutnya.Ivander berdiri dari kursinya dan mendekati ranjang. Tangannya terulur ke arah Emily. “Ivander Scott.”Ragu-ragu Emily menyambut tangan Ivander. “Bukankah dia pria yang semalam berdiri bersamaku di meja resepsionis?” Emily membatin dan malu sendiri mengingat keliaran akalnya semalam. Pipinya terasa panas. Buru-buru ditariknya kembali tangannya.“Aku sarankan, kamu segera makan dan memeriksakan diri ke rumah sakit.” Ivander kembali ke kursinya dan mulai memakan habis sarapannya. “Karena semua sudah terkendali, aku duluan.” Ivander mengusap mulutnya dengan tisu dan beranjak.“Tunggu,” tahan Emily sambil berguling ke kiri meraih tasnya. Ia menarik beberapa lembar uang dari dompetnya dan mengulurkannya pada pria yang semakin tampan pagi ini. “Ambil
Emily menyalakan lampu kamar tamu yang kini jadi tempat tidurnya, sejak pertengkaran terakhirnya dengan Raditya. Ia rebahkan tubuhnya perlahan di atas ranjang besar dan empuk yang sebelumnya tidak pernah dia jamah. Pikirannya kembali pada waktu seorang petugas laboratorium membawa hasil pemeriksaan darahnya.Angka-angka yang tertera sedikit mengejutkannya. Kondisi tubuhnya tidak sebagus yang terlihat. Malnutrisi dan anemia sedang menyerangnya perlahan dengan dampak yang luar biasa. Keterangan paling bawah berhasil mencekat napasnya.“Apa benar aku hamil?” gumamnya risau. Emily memejamkan matanya perlahan. “Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Bulir hangat membasahi kedua pelipis Emily, jatuh ke atas sprei putih berbahan satin.Ia mengeluarkan ponsel dari saku dress denimnya dan membuka kalender. Emily mulai mengingat dan menghitung. “Enam minggu. Siklusku terlambat enam minggu,” gumamnya was-was. “Apa yang harus aku lakukan?”Pintu kamar terbuka lebar, menampilkan sosok Raditya berdi
Entah mengapa, Emily tidak terkejut mendengar penjelasan Soraya. Adanya perempuan lain dalam kehidupan rumah tangganya dengan Raditya sempat terbersit dalam pikirannya, hanya berada diurutan terbawah.“Emmy, kalau memang kamu merasa perceraian adalah jalan terbaik buat kalian, ibu akan coba bicarakan dengan ayahmu nanti.” Soraya kembali meremas telapak tangan Emily.Kehilangan Amelia merupakan pukulan yang berat baginya, tapi keberadaan Emily—saudara kembarnya, perlahan mengobati luka Soraya. Kalau saat ini, kebahagiaan anak itu menjadi taruhannya, Soraya memilih memutuskan hubungan baiknya dengan Hendro dan menyelamatkan Emily.“Tapi, Bu. Bagaimana dengan ayah, apakah dia juga akan setuju? Bukankah ….”“Sudah.” Soraya memotong cepat keraguan putrinya. “Jangan terlalu dipikirkan. Biar ibu yang bicara nanti dengan ayahmu. Ibu yakin, ayah tidak akan mengorbankan keluarga apapun alasannya.”***Emily mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Tiga puluh menit lagi, dia terjadwal mengerjaka







