Share

Bab 20

Penulis: Thaiteaa
last update Tanggal publikasi: 2026-05-16 18:27:58

Alfan menyusul duduk di sebelah Karina, di pakuannya ada Salma dan satu tangannya membantu bayi itu untuk memegang dit susus agar tidak jatuh ke bawah. Merasa jika posisinya sangat nyaman, Salma menyusu sembari menyandarkan tubuhnya pada Alfan, menyender langsung pada perut keras Alfan.

"Salma di jemput jam berapa? " Tanya Alfan sedikit menoleh pada karina yang duduk di sebelahnya.

"Tadi sih Tante Citra ngasih tau kalau Tante Citra masih lumayan sibuk di sana. Jadi aku bikang dari pada di jemputnya nanti-nanti yang malah ujung-ujungnya kemaleman, jadi aku saranin Salma nginep di sisi saja, gapapa kan Mas? " Ucap Karina.

Tadi ia sudah mengirim pesan pada Citra, menanyakan jam berapa Salma akan di jemput, danCitra memberi tahu jika kesibukannya masih belum selesai, jadi Karina tawarkan saja Salma untuk menginap di sini, hitung-gitung menemaninya tidur malam ini.

"Tidak papap kalau Salmanya tidak rewel, karena rumah ini kan baru Salma datangi, jadi dia masih asing dengan suasana di sini, dan biasanya akan menjadi rewel kalo rasa suasananya tidak membuat betah. " Jawab Alfan.

"Nggak papa Mas. Salma nggak akan rewel, nanti akau yang jagain dia pas malem. "

***

Jika di lihat dari sudut pandang Karina, perempuan itu sebenarnya senang dan menikmati hidup menjadi istri Alfan. Karena jika di katakan tidak bahagia pun rasanya tidak benar, karena perempuan itu juga merasa jika Alfan telah memenuhi tanggung jawabnya sebagai suami. Terlepas dari pria itu yang sering kali melarang-larangnya melakukan sesuatu, namun semua hal yang Karina butuhkan selalu pria itu penuhi.

Bahkan Karina juga tidak melupakan saat-saat dirinya sakit tempo dulu dan pria itu mau menemaninya dan menuruti kemanjaannya. Jadi, Karina itu sebenarnya merasa di emong oleh Alfan. Dan jika mengingat dirinya dan Alfan sama-sama anak tunggal dan kebanyakan orang bilang jika anak tunggal sama anak tunggal menjalin hubungan maka akan selalu di penuhi pertengkaran yang selalu mengedepankan egonya, itu tidak sebetulnya benar namun juga tidak sebenarnya salah.

Memang beberapa kali Alfan sering memunculkan sifa arogannya, namun Karina tidak peduli dengan semua sifat Alfan, karena Karina sering menurunkan egonya untuk marah pada Alfan, ia tidak mau ada pertengkaran di hubungan yang belum pasti ini.

"Tidak mau tidur? "

Karina yang sedang menggendong Salma di ruang tamu menoleh pada Alfan yang turun dari tangga mendekatinya. Jam menunjukkan pukul 21.00 EIB, dan kata Citra jika sudah pukul delapan malam, sudah masuk jam tidurnya Salma si bayi mungil itu. Namun sudah hampir satu jam Karina berusaha menidurkan bayi perempuan itu hasilnya tetap gagal. Di mulai dari menemani bayi itu tiduran di kamar, membuatkan susu, menepuk pantat dan punggung, sampai memutar lagu pengantar tidur untuk anak-anak hingga akhirnya kini Karina gendong Salma di ruang tamu, semunya gagal. Bayi perempuan itu tetap tidak mau tidur dan setia membuka mata dan sesekali mengeluarkan rengekan.

Karina mengerucutkan bibirnya ke depan sembari menganggukkan kepalanya menatap Alfan. "Udah mau satu jam Salma nggak mau tidur. Padahal tadi udah aku bikinin susu. "

Alfan menatap Salma yang juga sedang menatapnya dari gendongan Karina. Kemudian, tangan oria itu terulut ke depan memberi gerakan seolah ingin menggendong, dan Salma yang melihat iti langsung menegakkan tubuhnya yang semula di gendong terbaring oleh Karina lli mencondongkan tubuhnya pada Alfan siap untuk pria itu gendong.

Berbeda dengan tadi sore yang di mana Karina kesal lantaran Salma lebih memilih Alfan ketimbang dirinya, kini Karina biarkan Salma di gendong Alfan. Karena dirinya sudah letih sekali melakukan segala sesuatu agar bayi itu tidur malah berujung gagal. Jadi ie biarkan saja Alfan yang menggendongnya, siapa tau jika di gendong oleh pria tampan itu. Bayi mungil itu jadi mau tidur.

"Kata tante Citra biasanya jam delapan Salma udah tidur, takut uni udah jam sembilan dia belum tidur-tidur. Sampai cape aku gendongnya, tadi juga udah aku puk-pukin punggung sama patatnya, tetep aja nggak tidur. " Curhat Karina yang memilih duduk di sofa.

"Salma baru ke sini dan langsung bermalam di rumah ini, jadi wajar saja kalo dia belum terbiasa sama suasana di sini. " Sahut Alfan.

Karina hanya menanggapi dengan mengangguk, setelahnya baik dirinya maupun Alfan tidak ada yang bersuara. Pria itu fokus menggendong Salma dengan baik. Tangannya tidak berhenti memberi tepukan pelan agar bayi itu cepat mengantuk.

Di tempatnya Karina mengamati pemandangan itu hingga Alfan yang merasa di perhatikan pun meneh dan bertanya, "kenapa? "

Tersadar jika sudah terpergok, Karina berucap, "ngga papa. Cuma lihat Mad aja kok bisa tau cara gendong bayi dengan benar begitu. Padahal yang udah-udah setiap kali aku habis jengukin temenku yang udah pada punya anak, pasti suaminya taku buat ngegendong.

"Kalau menggendong bayi baru lahir, saya juga masih sedikit takut. Karena bati baru lahir itu tubuhnya masih sangat ringkih, walau terlihat sudah sempurna menjadi bayi, tapi ada beberapa tubuhnya yang masih belum terbentuk sempurna. Contoh saja ubun-ubun kepala, bayi yang baru lahir, ubun-ubunnya itu masih kenyal, masih terlihat jika berdenyut, tapi kalau Salma, umur dia sudah sepuluh bulan dan tubuhnya sudah tidak seringkih saat baru pertama kali lahir, jadi saya berani untuk menggendongnya. "Ucap Alfan.

"Iya sih, tapi tetep aja, Mas itu kan brlum punya anak, tapi udah selemes itu pas gendong bayi. "

"Kamu belum punya anak juga sudah bisa merawat bayi. "

"Aku kan perempuan, apa lagi aku itu suka sama anak kecil, jadi dari dulu nggak jauh-jauh dari yang namanya anak kecil. Jadi udah terbiasa juga gendong mereka. Kalo Mas memang suka anak kecil? ".

" Tidak terlalu. Tapi saya tentu saja tau bagaimana merawat mereka.

"Loh? Mas Alfan nggak suka ank kecil? " Tanya Karina.

"Saya tidak bilang jika saya tidak menyukai anak kecil. Saya hanya berkata jika saya tidak terlalu menyukai mereka, bukan berarti sepenuhnya saya tidak menyukai mereka. Waktu saya itu saya gunakan untuk bekerja dan tidak ada waktu untuk bermain dengan anak-anak kecil, di lingkungan saya juga tidak ada yang memiliki anak kecil, jadi saya tidak bisa menyebut saya sangat atau tidak suka dengan mereka di saat saya saja jarang berinteraksi dengan mereka. "Jawab Alfan.

Karina ber-oh ria. " Kirain bener-bener nggak suka. "

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 24

    "Makanya, kalau mau minum atau makan sesuatu tanyakan dulu, sebelumnya. Jadinya kamu sendiri yang rugi. Dan sekarang saya juga kena imbasnya, " Imbuh Alfan pelan, namun terdengar sarkas. Karina mengerutkan dahinya dan menggigit ujung bibirnya. "Mas Alfan, aku mau tanya. Siapa yang ganti baju saya ya? " Tanyanya dengan hati-hati. Lalu seketika ia menyesal karena pertanyaannya. Alfan kembali menyesap kopinya. "Oh, tidak tahu sih mungkin ibu peri kali ya? " Jawabnya asal, membuat Karina semakin kesal akan tetapi ia mencoba sabar. "Ya kamu pikir aja, di rumah ini kan cuma ada kita Karina kalau malam. Hal seperti itu kenapa harus dipertanyakan sih. " Seloroh Alfan tidak sabar, tidak habis pikir dengan pertanyaan konyol Karina. Jawaban Alfan semakin membuat Karina kalang kabut, tanpa sadar menutup dadanya, membuat Alfan menyeringai. "Kenapa? Malu daya lihat tubuh kamu? Wajar kan? Karena saya suami kamu, " Ujar Alfan seakan tahu apa yang dipikirkan Karina. "Bukan begitu Mas Alfan

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 23

    Rasa cenat-cenut mulai Karina rasakan di kepala, seperti ada yang menghantam kepalanya dengan batu. "Sshhh.... " Ringisnya lalu pelan ia membuka mata dan merasakan aroma yang berbeda dari ruangan kamarnya. Aroma jasmine tercampur tembakau yang seketika membuatnya rilex. Namun, detik selanjutnya ia tersadar jika ini bukan di kamarnya. Perempuan itu langsung terduduk, terkejut karena bangun fi kamar Alfan sendirian."astaga!kok aku bisa tidur fi kamar Mas Alfan?"paniknya seketika.Karina mendadak buntu seketika, karena pagi ini ia terasa kacau. Perempuan itu sejenak merenung dan mengingat apa yang terjadi tadi malam, sembari memegang kepalanya. "Habis muntah aku nggak ingat ngapain lagi? " Gumamnya pelan, mengigit jempolnya karena takut berbuat yang tidak-tidak. Karina lalu meraba tubuhnya, yang ternyata ia memakai kaus longgar milik suaminya. "Ya ampun, untung aja aku pakai dalaman celana ketat tadi malam, tapi pasti Mas Alfan lihat.. " Ucapannya langsung lalu ia buru-buru menggelengkan

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 22

    "Wah, ini istrinya Pak Alfan? " Suara feminim tiba-tiba mendistraksi Karina. Perempuan dengan gaun pendek model Sabrina menampakkan belahan dadanya yang bedar.anis dan eksotik dua kata yang pas untuk menggambarkan perempuan ini. Karina mengerutkan dahi, dan baru sadar jika perempuan ini adalah sekertaris Alfan di kantor. "Salam kenal Mbak Ica, " Sapa Karina lembut. Ica bersedih menatap rendah Karina, 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘹𝘺 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. "Aku nggak tahu kalau Pak Alfan seleranya downgrade banget. Wajah kamu pasaran. " Hina Ica dingin, lalu menyeringai puas. Karina sendiri tidak tahu masalah perempuan ini, kenal saja tidak dan tiba tiba dia datang untuk menghinanya. "Astaga Mank Ica.. Saya nggak nyangka lo Mbak Ica bersikap seperti ini. Saya kira selain cantik dan berbakat dalam bekerja, Mbak ini ramah. Tapi ternyata kurang sopan, masa ke istri bos bersikap begini?, tutur Karina halus, namun mengandung unsur sarkas. Rahang Ica mrngetat mendengar kalimat Karina, b

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 21

    Pagi ini Alfan disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang telah ia tunda kemarin. Seperti menangani masalah serius yang menimpa proyek nya yang ada di bali. Alfan merasa pening dengan masalah proyek ini dia akan serahkan ini kepada asistennya untuk mengontrol langsung ke Bali. Karena Alfan tidak bisa. Ia ada pertemuan kolega nanti malam. "Rafa saya mau kamu, pergi langsung ke Bali. Saya ada pertemuan kolega malam nanti. ""Ia siap pak" Jawab Rafa"Kamu kalau ada apa-apa di sana langsung kabarin saya, bagaimana pun ke adaanya. " Iya paham pak, kalau gitu saya permisi. "Ungkap Rafa. ***Sorenya, Karina berada di kamarnya untuk di buat cantik oleh dua orang yang tiba-tiba datang ke mansionnya. Dan ternyata adalah fashion stylish dan MUA yang disewa suaminya untuk acara pertemuan kolega satu jam lagi akan berangkat. "MasyaAllah, cantik dan elegan sekali bu, " Komentar MUA setelah selesai memoleskan lipstik nude di campur warna orange di bibir mungil milik Karina. Surai legam nan panja

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 20

    Alfan menyusul duduk di sebelah Karina, di pakuannya ada Salma dan satu tangannya membantu bayi itu untuk memegang dit susus agar tidak jatuh ke bawah. Merasa jika posisinya sangat nyaman, Salma menyusu sembari menyandarkan tubuhnya pada Alfan, menyender langsung pada perut keras Alfan. "Salma di jemput jam berapa? " Tanya Alfan sedikit menoleh pada karina yang duduk di sebelahnya. "Tadi sih Tante Citra ngasih tau kalau Tante Citra masih lumayan sibuk di sana. Jadi aku bikang dari pada di jemputnya nanti-nanti yang malah ujung-ujungnya kemaleman, jadi aku saranin Salma nginep di sisi saja, gapapa kan Mas? " Ucap Karina. Tadi ia sudah mengirim pesan pada Citra, menanyakan jam berapa Salma akan di jemput, danCitra memberi tahu jika kesibukannya masih belum selesai, jadi Karina tawarkan saja Salma untuk menginap di sini, hitung-gitung menemaninya tidur malam ini. "Tidak papap kalau Salmanya tidak rewel, karena rumah ini kan baru Salma datangi, jadi dia masih asing dengan suasana di s

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 19

    "Ambil, lempar pakannya ke ikannya. " Ucap Alfan pada Salma. Batu perempuan itu menatap Alfan ragu, takut untuk mengambil pakan ikan yang berukuran kecil-kecil itu dari telapak tangannya. Alfan menganggukkan kepalanya. "Tidak papa. Ambil saja. " Alfan bergerak sedikit maju ke arah kolam ikan dan berjongkok untuk memudahkan Salma melempar pakan ikan. Menurut, telapak tangannya Salma yang k3cil mengambil pakan ikan dengan sembarang, sehingga sebagian ada yang tumpah ke bawah mengenai rumput. Namun setelahnya, Salma dengan semangat melempar pakan ikan yang ia genggam ke arah ikan-ikan yang sudah bergerombol di tepi kolam, yang seolah sudah tau jika akan di beri makan. Dan benar saja, ikan-ikan besar yang semula ada yang terpencar menjadi mengerubung semua di tepi kolam, menimbulkan cipratan kecil yang mengenai Wajah Salma, membuat bayi perempuan itu tersentak kaget namun juga tertawa di saat yang bersamaan. Alfan mengambil paka ikan lagi, dan Salma dengan semangat yang sama mulai ber

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status