ログイン"Ambil, lempar pakannya ke ikannya. " Ucap Alfan pada Salma. Batu perempuan itu menatap Alfan ragu, takut untuk mengambil pakan ikan yang berukuran kecil-kecil itu dari telapak tangannya.
Alfan menganggukkan kepalanya. "Tidak papa. Ambil saja. " Alfan bergerak sedikit maju ke arah kolam ikan dan berjongkok untuk memudahkan Salma melempar pakan ikan. Menurut, telapak tangannya Salma yang k3cil mengambil pakan ikan dengan sembarang, sehingga sebagian ada yang tumpah ke bawah mengenai rumput. Namun setelahnya, Salma dengan semangat melempar pakan ikan yang ia genggam ke arah ikan-ikan yang sudah bergerombol di tepi kolam, yang seolah sudah tau jika akan di beri makan. Dan benar saja, ikan-ikan besar yang semula ada yang terpencar menjadi mengerubung semua di tepi kolam, menimbulkan cipratan kecil yang mengenai Wajah Salma, membuat bayi perempuan itu tersentak kaget namun juga tertawa di saat yang bersamaan. Alfan mengambil paka ikan lagi, dan Salma dengan semangat yang sama mulai berani mengambil pakan yang Alfan ulurkan dan melemparkannya ke arah ikan-ikan itu sehingga membuat Salma tertawa hingga badannya bergetar. Bahkan jika tidak dengan cepat Alfan menghalangi, Salna sudah mencondongkan badannya ke arah kolam renang seolah akan ikut masuk ke dalam kolam dan bergabung dengan para ikan. "Hei, jangan begitu, Salma. Itu kolam ikan, bukan kolam renang. " Alfan memperingati. Salma hanya membalas uacapa Alfan dengan senyuman dan semakin menduselkan badannya ke dada bidang Alfan, membuat pria itu merasa gemas dan mengusap punggung Salma sembari mengecup pakan bagian atas kepala bayi itu. "Di cariin juga, malah udah ke sini duluan. " Suara dari belakang mengalihkan perhatian keduanya. Alfan dan Salma serempak menoleh ke arah Karina yang berjalan sembari membawa susu. Perempuan itu mendekat ke arah Alfan dan Salma sembari berdecak pinggang. "Harusnya tungguin aku dong. Jangan main pergi-pergi gitu aja, aku kan nyariin. " Ucap Karina ya g kini sudah berdiri di depan keduanya. "Kamu lama. " Jawab Alfan singkat. Karina memutar bola matanya malas mendengar jawaban Alfan, ia lebih memilih berbicara saja pada Salm6. "Yuk sama tante, ini susunya udah jadi. Laper kan kamu? " Karina merentangkan tangannya agar Salma berpindah padanya, namun, yang terjadi justru Salma membuang muka ke arah Alfan dan kembali menduselkan wajahnya ke dada bidang milik pria itu. "Loh?! Kok nggak mau?! " Tanya Karina. "Ini tante udah bikin susu loh, ayo sama tente. Minum susu dulu, kamu kan terakhir minum susu tadi siang, jadi yuk sama tante dulu yuk. " Karina mencoba merayu Salma. Namun respon Salma kali ini bahkan jauh lebih parah fi bandingkan yang tadi. Bayi itu bahkan tidak menoleh ke arahnya sedikit pun dan malah menunjuk-nunjuk ke arah kolam, mengisyaratkan Alfan yang sedang menggendongnya untuk melihat lagi ikan di dalam kolam sana. Karina melongo melihat itu, ia tidak menyangka jika akan di cuekin seperti ini oleh Salma. Terlebih lagi yang Salma pilih adalah Alfan, orang yang bahkan baru pertama kali bayi itu lihat, sedangkan dirinya sudah menemani Salma sejak bayi itu masih dalam kandungan, bahkan dulu saat Salma masih baru-barunya lahir, Karina sering kali mampir ke rumah Citra hanya untuk bertemu Salma. Tapi kini? Bayi itu bahkan sudah tau bagaimana cara membuang muka darinya. "Ini beneran aku di cuekin begini? " Gumam karina sembari menunjuk dirinya sendiri. ****** "Tadi nggak mau deket-deket sama Salma, terus sekarang giliran mau susu baru mau sama tente. " Cibir Karina saat Salma menangis sembari melihat ke arahnya atau yang lebih tepatnya pada botol susu yang sedang Karina pegang. Alfan mendekat ke arah Karina, siap menyerahkan bayi itu karena sudah menangis ingin meminum susu. Namun bukannya mencondongkan badannya supaya di gendong Karina, Salma justru masih menempel pada Alfan, hanya tangannya saja yang berusaha menggapai botol dot di tangan Karina. "Ini ceritanya kamu cuma mau dotnya doang?! Nggak mau tante gendong?! Licik banget sih?! Seru Karina. " Kasihan saja, Karina. Kasihan Salma sudah menangis seperti ini. Mungkin dia merasa bosan seharian dengan kamu, makannya minta di gendong saya. "Ucap Karina. Meski sempat berdecak sebal, Karina tetap memberikan dot itu pada Salma yang langsung bati itu pegang. Sedangkan Karina langsung berbalik badan dan memilih duduk di kursi taman sembari bersedekap dada menatap Alfan kesal. "Padahal kan aku yang di titipin Salma. Tapi malah Salmanya maunya di gendong Mas Alfan. Nyebelin banget. " Ucap Karina menyebikkan bibirnya ke depan."Makanya, kalau mau minum atau makan sesuatu tanyakan dulu, sebelumnya. Jadinya kamu sendiri yang rugi. Dan sekarang saya juga kena imbasnya, " Imbuh Alfan pelan, namun terdengar sarkas. Karina mengerutkan dahinya dan menggigit ujung bibirnya. "Mas Alfan, aku mau tanya. Siapa yang ganti baju saya ya? " Tanyanya dengan hati-hati. Lalu seketika ia menyesal karena pertanyaannya. Alfan kembali menyesap kopinya. "Oh, tidak tahu sih mungkin ibu peri kali ya? " Jawabnya asal, membuat Karina semakin kesal akan tetapi ia mencoba sabar. "Ya kamu pikir aja, di rumah ini kan cuma ada kita Karina kalau malam. Hal seperti itu kenapa harus dipertanyakan sih. " Seloroh Alfan tidak sabar, tidak habis pikir dengan pertanyaan konyol Karina. Jawaban Alfan semakin membuat Karina kalang kabut, tanpa sadar menutup dadanya, membuat Alfan menyeringai. "Kenapa? Malu daya lihat tubuh kamu? Wajar kan? Karena saya suami kamu, " Ujar Alfan seakan tahu apa yang dipikirkan Karina. "Bukan begitu Mas Alfan
Rasa cenat-cenut mulai Karina rasakan di kepala, seperti ada yang menghantam kepalanya dengan batu. "Sshhh.... " Ringisnya lalu pelan ia membuka mata dan merasakan aroma yang berbeda dari ruangan kamarnya. Aroma jasmine tercampur tembakau yang seketika membuatnya rilex. Namun, detik selanjutnya ia tersadar jika ini bukan di kamarnya. Perempuan itu langsung terduduk, terkejut karena bangun fi kamar Alfan sendirian."astaga!kok aku bisa tidur fi kamar Mas Alfan?"paniknya seketika.Karina mendadak buntu seketika, karena pagi ini ia terasa kacau. Perempuan itu sejenak merenung dan mengingat apa yang terjadi tadi malam, sembari memegang kepalanya. "Habis muntah aku nggak ingat ngapain lagi? " Gumamnya pelan, mengigit jempolnya karena takut berbuat yang tidak-tidak. Karina lalu meraba tubuhnya, yang ternyata ia memakai kaus longgar milik suaminya. "Ya ampun, untung aja aku pakai dalaman celana ketat tadi malam, tapi pasti Mas Alfan lihat.. " Ucapannya langsung lalu ia buru-buru menggelengkan
"Wah, ini istrinya Pak Alfan? " Suara feminim tiba-tiba mendistraksi Karina. Perempuan dengan gaun pendek model Sabrina menampakkan belahan dadanya yang bedar.anis dan eksotik dua kata yang pas untuk menggambarkan perempuan ini. Karina mengerutkan dahi, dan baru sadar jika perempuan ini adalah sekertaris Alfan di kantor. "Salam kenal Mbak Ica, " Sapa Karina lembut. Ica bersedih menatap rendah Karina, 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘹𝘺 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. "Aku nggak tahu kalau Pak Alfan seleranya downgrade banget. Wajah kamu pasaran. " Hina Ica dingin, lalu menyeringai puas. Karina sendiri tidak tahu masalah perempuan ini, kenal saja tidak dan tiba tiba dia datang untuk menghinanya. "Astaga Mank Ica.. Saya nggak nyangka lo Mbak Ica bersikap seperti ini. Saya kira selain cantik dan berbakat dalam bekerja, Mbak ini ramah. Tapi ternyata kurang sopan, masa ke istri bos bersikap begini?, tutur Karina halus, namun mengandung unsur sarkas. Rahang Ica mrngetat mendengar kalimat Karina, b
Pagi ini Alfan disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang telah ia tunda kemarin. Seperti menangani masalah serius yang menimpa proyek nya yang ada di bali. Alfan merasa pening dengan masalah proyek ini dia akan serahkan ini kepada asistennya untuk mengontrol langsung ke Bali. Karena Alfan tidak bisa. Ia ada pertemuan kolega nanti malam. "Rafa saya mau kamu, pergi langsung ke Bali. Saya ada pertemuan kolega malam nanti. ""Ia siap pak" Jawab Rafa"Kamu kalau ada apa-apa di sana langsung kabarin saya, bagaimana pun ke adaanya. " Iya paham pak, kalau gitu saya permisi. "Ungkap Rafa. ***Sorenya, Karina berada di kamarnya untuk di buat cantik oleh dua orang yang tiba-tiba datang ke mansionnya. Dan ternyata adalah fashion stylish dan MUA yang disewa suaminya untuk acara pertemuan kolega satu jam lagi akan berangkat. "MasyaAllah, cantik dan elegan sekali bu, " Komentar MUA setelah selesai memoleskan lipstik nude di campur warna orange di bibir mungil milik Karina. Surai legam nan panja
Alfan menyusul duduk di sebelah Karina, di pakuannya ada Salma dan satu tangannya membantu bayi itu untuk memegang dit susus agar tidak jatuh ke bawah. Merasa jika posisinya sangat nyaman, Salma menyusu sembari menyandarkan tubuhnya pada Alfan, menyender langsung pada perut keras Alfan. "Salma di jemput jam berapa? " Tanya Alfan sedikit menoleh pada karina yang duduk di sebelahnya. "Tadi sih Tante Citra ngasih tau kalau Tante Citra masih lumayan sibuk di sana. Jadi aku bikang dari pada di jemputnya nanti-nanti yang malah ujung-ujungnya kemaleman, jadi aku saranin Salma nginep di sisi saja, gapapa kan Mas? " Ucap Karina. Tadi ia sudah mengirim pesan pada Citra, menanyakan jam berapa Salma akan di jemput, danCitra memberi tahu jika kesibukannya masih belum selesai, jadi Karina tawarkan saja Salma untuk menginap di sini, hitung-gitung menemaninya tidur malam ini. "Tidak papap kalau Salmanya tidak rewel, karena rumah ini kan baru Salma datangi, jadi dia masih asing dengan suasana di s
"Ambil, lempar pakannya ke ikannya. " Ucap Alfan pada Salma. Batu perempuan itu menatap Alfan ragu, takut untuk mengambil pakan ikan yang berukuran kecil-kecil itu dari telapak tangannya. Alfan menganggukkan kepalanya. "Tidak papa. Ambil saja. " Alfan bergerak sedikit maju ke arah kolam ikan dan berjongkok untuk memudahkan Salma melempar pakan ikan. Menurut, telapak tangannya Salma yang k3cil mengambil pakan ikan dengan sembarang, sehingga sebagian ada yang tumpah ke bawah mengenai rumput. Namun setelahnya, Salma dengan semangat melempar pakan ikan yang ia genggam ke arah ikan-ikan yang sudah bergerombol di tepi kolam, yang seolah sudah tau jika akan di beri makan. Dan benar saja, ikan-ikan besar yang semula ada yang terpencar menjadi mengerubung semua di tepi kolam, menimbulkan cipratan kecil yang mengenai Wajah Salma, membuat bayi perempuan itu tersentak kaget namun juga tertawa di saat yang bersamaan. Alfan mengambil paka ikan lagi, dan Salma dengan semangat yang sama mulai ber







