LOGIN"Makanya, kalau mau minum atau makan sesuatu tanyakan dulu, sebelumnya. Jadinya kamu sendiri yang rugi. Dan sekarang saya juga kena imbasnya, " Imbuh Alfan pelan, namun terdengar sarkas.
Karina mengerutkan dahinya dan menggigit ujung bibirnya. "Mas Alfan, aku mau tanya. Siapa yang ganti baju saya ya? " Tanyanya dengan hati-hati. Lalu seketika ia menyesal karena pertanyaannya. Alfan kembali menyesap kopinya. "Oh, tidak tahu sih mungkin ibu peri kali ya? " Jawabnya asal, membuat Karina semakin kesal akan tetapi ia mencoba sabar. "Ya kamu pikir aja, di rumah ini kan cuma ada kita Karina kalau malam. Hal seperti itu kenapa harus dipertanyakan sih. " Seloroh Alfan tidak sabar, tidak habis pikir dengan pertanyaan konyol Karina. Jawaban Alfan semakin membuat Karina kalang kabut, tanpa sadar menutup dadanya, membuat Alfan menyeringai. "Kenapa? Malu daya lihat tubuh kamu? Wajar kan? Karena saya suami kamu, " Ujar Alfan seakan tahu apa yang dipikirkan Karina. "Bukan begitu Mas Alfan, aku cuma nggak nyangka aja sih, " Jawab Karina apa adanya. "Taku saya tiduri waktu kamu mabuk? Saya tidak sebesar itu Karina, " Cibir Alfan kemudian, ia masih waras untuk tidak melakukan itu. Karina menggeleng cepat. "Bukan Mas Alfan , aku cuma penasaran aja. " Terus, aku lihat fhoto kita viral di medsos. Gimana ini Mas Alfan, kok sampai viral begitu? "Tanya Karina terlihat sedikit panik. Alfan menyugar surai lengannya seraya mendesah. " Yaudah mau bagaimana lagi? Lagipula itu kan memang kita berdua, kecuali kamu sama pria lain. Baru saya hajar mereka semua, "timpal Alfan memberi alasan. Tidak perlu diributkan, toh memang ia dan Karina sedang berciuman dan tidak ada alasan dengan berita tersebut. "Lagipula kamu hrus terbiasa dengan lingkungan saya Karina, lingkungan yang saling berhubungan dengan media. Tapi kalau kamu was-was, yaudah di rumah saja jangan ke mana-mana dulu. " Papar Alfan berubah sedikit lembut. Karina terdiam mendengar penuturan Alfan, ia juga tahu jika Alfan bukan orang sembarangan. Sebagai orang yang sering berkaitan dengan mendi massa tentunya haul uang biasa bagi Alfan. Melihat Karina yang terlihat melamun, Alfan bangun dari duduknya lalu menyentil dahi perempuan itu lembut. "Besok-besko jangan mabuk kalau tidak bersama saha, " Cetus Alfan lalu mengambil tas kerjanya dan bersiap-siap berangkat. "Ngakk bakalan Mas Alfan. Lagipula itu nggak sengaja kok, " Ujar Karina halus, sembari mengusap dahinya. Alfan menatap Karina lekat, pria itu sedikit menundukkan tubuhnya hingga wajah mereka sejajar. "Bilang saja sengaja, segitunya mau minta dicium ya, goda Alfan lalu tersenyum tipis. Karina membuang pandangannya karena malu, " Tapi kalau saya mau pergi apa nggak Masalah Mas Alfan? Lagi viral begini, pasti malu, "ungkapnya masih dilanda khawatir. "Kalau mau keluar pakai saja sarung BHS atau saya belikan kostum ninja warior buat nutupin wajah kamu. " Ledek Alfan lalu melenggang pergi meninggalkan Karina yang masih dongkol dengan ucapannya sang suami. "Sabar Karina, " Desahnya kesal, sambil mengelus dada. Namun, selanjutnya ia merasakan getaran ponsel di saku cardigannya. Karina merongohnya, lalu ia membaca pesan dari nomor yang tak di kenal. Perempuan itu menyipitkan pandangannya dan membuatnya terkejut seketika. "Salsa? Mantanya Mas Alfan Maksudny" Monolognya, lalu ia kembali menatao layar. Seakan ragu untuk menerima ajakan itu, dan akhirnya karina membalasnya. '𝘏𝘢𝘭𝘰 𝘔𝘣𝘢𝘬 𝘚𝘢𝘭𝘴𝘢. 𝘉𝘢𝘪𝘬 𝘔𝘣𝘢𝘬, 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢? ' ***** Karina akhirnya menerima ajakan Salsa, tanpa sepengetahuan Alfan. Namun, ia akan menceritakannya setelah pertemuan ini selesai. Ia penasaran sekali, kenapa tiba-tiba saja menghubungi dirinya dan dari mana perempuan itu dapat nomor handphonenya. Akhirnya Salsa mengajak ketemuan di Rumpun Cerita daerah cibubur, dengan di antar pak Yanto. Karina memasuki cafe, dan suasananya cukup tenang karena tidak terlalu ramai mengunjung di siang hari. Perempuan itu menyapu seluruh ruangan, hingga ia menemukan sosok perempuan bersurai cokelat melambaikan tangan ke arahnya. Hallo Karina, ayo duduk, " Salsa mempersilahkan langsung Karina duduk di hadapannya. "Selamatsiang Mbak Salsa," Sapa Karina sopan, terduduk dan mengamati sosok Salda yang memang sangat cantiki aslinya. Perempuan dengan rambut cokelat itu, terurai sepanjang lengan, apalagi output yang dipakai dresss hitam selutut model terbaru yang memamerkan paha putihnha, sangat glamaor dan menawan. Wajahnya yang cantik terlihat tegas dan dominan, namun terkesan elegan. Cocok sekali jika ia seorang model. 𝘚𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘤𝘰𝘤𝘰𝘬 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘔𝘢𝘴 𝘈𝘭𝘧𝘢𝘯. Batin Karina yang tiba-tiba saja merasakan sengatan di dadannya."Makanya, kalau mau minum atau makan sesuatu tanyakan dulu, sebelumnya. Jadinya kamu sendiri yang rugi. Dan sekarang saya juga kena imbasnya, " Imbuh Alfan pelan, namun terdengar sarkas. Karina mengerutkan dahinya dan menggigit ujung bibirnya. "Mas Alfan, aku mau tanya. Siapa yang ganti baju saya ya? " Tanyanya dengan hati-hati. Lalu seketika ia menyesal karena pertanyaannya. Alfan kembali menyesap kopinya. "Oh, tidak tahu sih mungkin ibu peri kali ya? " Jawabnya asal, membuat Karina semakin kesal akan tetapi ia mencoba sabar. "Ya kamu pikir aja, di rumah ini kan cuma ada kita Karina kalau malam. Hal seperti itu kenapa harus dipertanyakan sih. " Seloroh Alfan tidak sabar, tidak habis pikir dengan pertanyaan konyol Karina. Jawaban Alfan semakin membuat Karina kalang kabut, tanpa sadar menutup dadanya, membuat Alfan menyeringai. "Kenapa? Malu daya lihat tubuh kamu? Wajar kan? Karena saya suami kamu, " Ujar Alfan seakan tahu apa yang dipikirkan Karina. "Bukan begitu Mas Alfan
Rasa cenat-cenut mulai Karina rasakan di kepala, seperti ada yang menghantam kepalanya dengan batu. "Sshhh.... " Ringisnya lalu pelan ia membuka mata dan merasakan aroma yang berbeda dari ruangan kamarnya. Aroma jasmine tercampur tembakau yang seketika membuatnya rilex. Namun, detik selanjutnya ia tersadar jika ini bukan di kamarnya. Perempuan itu langsung terduduk, terkejut karena bangun fi kamar Alfan sendirian."astaga!kok aku bisa tidur fi kamar Mas Alfan?"paniknya seketika.Karina mendadak buntu seketika, karena pagi ini ia terasa kacau. Perempuan itu sejenak merenung dan mengingat apa yang terjadi tadi malam, sembari memegang kepalanya. "Habis muntah aku nggak ingat ngapain lagi? " Gumamnya pelan, mengigit jempolnya karena takut berbuat yang tidak-tidak. Karina lalu meraba tubuhnya, yang ternyata ia memakai kaus longgar milik suaminya. "Ya ampun, untung aja aku pakai dalaman celana ketat tadi malam, tapi pasti Mas Alfan lihat.. " Ucapannya langsung lalu ia buru-buru menggelengkan
"Wah, ini istrinya Pak Alfan? " Suara feminim tiba-tiba mendistraksi Karina. Perempuan dengan gaun pendek model Sabrina menampakkan belahan dadanya yang bedar.anis dan eksotik dua kata yang pas untuk menggambarkan perempuan ini. Karina mengerutkan dahi, dan baru sadar jika perempuan ini adalah sekertaris Alfan di kantor. "Salam kenal Mbak Ica, " Sapa Karina lembut. Ica bersedih menatap rendah Karina, 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘹𝘺 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. "Aku nggak tahu kalau Pak Alfan seleranya downgrade banget. Wajah kamu pasaran. " Hina Ica dingin, lalu menyeringai puas. Karina sendiri tidak tahu masalah perempuan ini, kenal saja tidak dan tiba tiba dia datang untuk menghinanya. "Astaga Mank Ica.. Saya nggak nyangka lo Mbak Ica bersikap seperti ini. Saya kira selain cantik dan berbakat dalam bekerja, Mbak ini ramah. Tapi ternyata kurang sopan, masa ke istri bos bersikap begini?, tutur Karina halus, namun mengandung unsur sarkas. Rahang Ica mrngetat mendengar kalimat Karina, b
Pagi ini Alfan disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang telah ia tunda kemarin. Seperti menangani masalah serius yang menimpa proyek nya yang ada di bali. Alfan merasa pening dengan masalah proyek ini dia akan serahkan ini kepada asistennya untuk mengontrol langsung ke Bali. Karena Alfan tidak bisa. Ia ada pertemuan kolega nanti malam. "Rafa saya mau kamu, pergi langsung ke Bali. Saya ada pertemuan kolega malam nanti. ""Ia siap pak" Jawab Rafa"Kamu kalau ada apa-apa di sana langsung kabarin saya, bagaimana pun ke adaanya. " Iya paham pak, kalau gitu saya permisi. "Ungkap Rafa. ***Sorenya, Karina berada di kamarnya untuk di buat cantik oleh dua orang yang tiba-tiba datang ke mansionnya. Dan ternyata adalah fashion stylish dan MUA yang disewa suaminya untuk acara pertemuan kolega satu jam lagi akan berangkat. "MasyaAllah, cantik dan elegan sekali bu, " Komentar MUA setelah selesai memoleskan lipstik nude di campur warna orange di bibir mungil milik Karina. Surai legam nan panja
Alfan menyusul duduk di sebelah Karina, di pakuannya ada Salma dan satu tangannya membantu bayi itu untuk memegang dit susus agar tidak jatuh ke bawah. Merasa jika posisinya sangat nyaman, Salma menyusu sembari menyandarkan tubuhnya pada Alfan, menyender langsung pada perut keras Alfan. "Salma di jemput jam berapa? " Tanya Alfan sedikit menoleh pada karina yang duduk di sebelahnya. "Tadi sih Tante Citra ngasih tau kalau Tante Citra masih lumayan sibuk di sana. Jadi aku bikang dari pada di jemputnya nanti-nanti yang malah ujung-ujungnya kemaleman, jadi aku saranin Salma nginep di sisi saja, gapapa kan Mas? " Ucap Karina. Tadi ia sudah mengirim pesan pada Citra, menanyakan jam berapa Salma akan di jemput, danCitra memberi tahu jika kesibukannya masih belum selesai, jadi Karina tawarkan saja Salma untuk menginap di sini, hitung-gitung menemaninya tidur malam ini. "Tidak papap kalau Salmanya tidak rewel, karena rumah ini kan baru Salma datangi, jadi dia masih asing dengan suasana di s
"Ambil, lempar pakannya ke ikannya. " Ucap Alfan pada Salma. Batu perempuan itu menatap Alfan ragu, takut untuk mengambil pakan ikan yang berukuran kecil-kecil itu dari telapak tangannya. Alfan menganggukkan kepalanya. "Tidak papa. Ambil saja. " Alfan bergerak sedikit maju ke arah kolam ikan dan berjongkok untuk memudahkan Salma melempar pakan ikan. Menurut, telapak tangannya Salma yang k3cil mengambil pakan ikan dengan sembarang, sehingga sebagian ada yang tumpah ke bawah mengenai rumput. Namun setelahnya, Salma dengan semangat melempar pakan ikan yang ia genggam ke arah ikan-ikan yang sudah bergerombol di tepi kolam, yang seolah sudah tau jika akan di beri makan. Dan benar saja, ikan-ikan besar yang semula ada yang terpencar menjadi mengerubung semua di tepi kolam, menimbulkan cipratan kecil yang mengenai Wajah Salma, membuat bayi perempuan itu tersentak kaget namun juga tertawa di saat yang bersamaan. Alfan mengambil paka ikan lagi, dan Salma dengan semangat yang sama mulai ber







