Teilen

Bab 25

last update Veröffentlichungsdatum: 21.05.2026 20:24:07

"Kamu mau pesan apa? " Tanya Salsa ramah, tersenyum lebar.

"Saya macha latte aja Mbak Salsa, " Ujarnya halus, membuat Salsa langsung mengkonfirmasi langsung kepada waiters cafe.

"Maaf ya aku tiba-tiba saja ngundang kemari, " Selorohnya santai, lalu menyilangkan kaki jenjangnya yang mulus. Seakan menunjukkan siapa yang berhak bicara di sini.

Karina tersenyum tipis menanggapinya. "Jujur saja saya kaget karena Mabk Salsa bisa dapet nomer saya, " Ungkap Karina lembut, ia menyatukan kedua tangannya di pangkuan, menabak-nebak apa yang ingin dibicarakan perempuan didepannya ini.

"Ouh, aku dapat dari media sosial kamu Rin. Kamu kan illustrator art kan? Ada nomer kamu di bio, " Jelas Salsa menatao Karina cukup mendominasi.

"Langsung saja Mbak, apa yang ingin Mabk omongin sama saya? " To the point Karina, sikapnya cukup tenang.

Salsa tertawa pelan, sambil menutupi mulutnya seakan menutupi sesuatu. "Kamu ini nggak suka basa-basi ya ternyata. Tapi sebelumnya aku mau ngucapin selamat buat pernikahan kalian. Tapi aku mau tanya sama kamu, Salsa memajukan tubuhnya lalu bertopang dagu menatap Karina.

"Apa kamu yang udah nyuruh Mas Alfan blokir nomer handphone aku? Soalnya aku kirim pesan ucapan selamat ke dia, eh malah di blokir langsung. "

Kalimat Salsa membuat Karina membisu sejenak, kalau terkekeh rendah. "Kalau iya kenapa Mbak? Mbak mau marah? Hak saya dong, karena Mas Alfan sekarang sudah menjadi suami

sah saya. " Kata Karina tenang.

Salsa menggigit bibirnya dari dalam, menahan amarahnya namun ia hanya tersenyum palsu saja. "Aku cukup kasihan sama Kamu Rin. Mas Alfan pastinya belum bisa move on dari aku. Yah meski akhirnya kami Putus karena ada ketidak cocokan, " Pancing Salsa lalu mengibaskan rambutnya ke belakang dan mendongakkan dagunya angkuh.

Karina menatap dingin Salsa, lalu menyeringai. "Oh, begitu ya. Tapi kemarin saya lihat Mas Alfan membakar foto pas kalian masih bersama dulu, katanya dia lupa buat musnahin foto itu, " Tutur Karina halus, dan sukses membuat wajah Salsa merah padam.

"Saya tahu Mbak Salsa cuma mau memprovokasi saya, mengatakan jika kalian masih saling berharap supaya saya mundur gitu. Namun, kenyataannya Mas Alfan sudah menikah Mbak dari awal kan? Jadi, Maaf Mbak, saya tidak akan pernah mundur, " Lanjut Karina semakin tegang mengatakan kalimat tersebut.

Dalda mengepalkan tangannya dibawah meja, jengkel dengan perempuan di depannya ini. Tidak Terima ia tergantikan dengan perempuan seperti ini. "Aku tahu Rin. Tapi biar aku telah ya? Mas Alfan belum menyentuh kamu kan? Yah, kamu harus tahu sejak dulu memang dia nggak bisa lupain sentuhan ku, ciuman ku. " Imbuh Salsa lalu mengedipkan satu matanya seakan ialah pemenangnya.

Karina mangut-mangut dan masih mempertahankan ketenangannya. "Itu urusan intim saya dan Mas Alfan Mbak. Lagipula saya rasa Mbak perempuan yang cukup punya dedikasi tinggi. Jadinya tidaj etuk membicatakan hal seperti ini. Dan cukup Terima saja jika sayalah masa depan Mas Alfan sekarang. Jadi kita cukup hidup masing-masing tanpa mengganggu satu sama lain, " Tutur Karina lembut dan sangat bijaksana.

Salsa masih mending takkan dagunya, tatapannya berubah tajam. "Kamu itu cuma pelarian Karina! " Geramnya rendah, menahan untuk tidak menyiram Karina dengan air.

"Saya rasa obrolan basa-basi kita harus berakhir sampai sini Mbak, karena saya aja janji dengan Mas Alfan. Selamat siang, " Pamit Karina cepat, lalu ia meninggalkan Salsa yang masih menatapnya tajam sampai pintu keluar.

Sampai di luar Karina membuang napas lega, seakan ia baru saja tenggelam dalam lautan hitam. Tatapannya berubah muram, lalu ia sekilas melihat ke arah dalam lagi.

Pupil matanya melebar karena melihat sosok Salsa baru saja di cium oleh seorang pria yang kemudian duduk di hadapan perempuan itu.

"Udah tahu punya pacar, masih saja gangguin rumah tangga orang! " Cerutu Karina memicingkan pandahannya. Ia merasa sesuatu yang tak enak setelah ini, tapi mudah-mudahan hanyalah intuisi sesaat.

*****

Sudah terhitung dia hari sejak pertemuan dengan Salsa, Karina masih belum bilang pada Alfan. Bukan karena apa-paa, itu karena kesibukan masing-masing yang membuat keduanya jarang ketemu. Karina yang sibuk dengan mengajar pagi hari dan sore hati sampai malam mengerjakan commic project baru yang terbilang lumayan sulit, membutuhkan ketelitian karena ini project dari penerbitan besar. Sedangkan suaminya, sejak kemarin sering pulang malam, dan ketika Karina ingin bicara ia tidak tega karena ekspresi lelah Alfan. Bahkan sampai kelewatan makan malam, padahal Karina sudah memasak. 'Saya capek sekali Karina, jadi nggak laper. Maaf"

Takutnya ketika ia bicara tentang Salsa, yang ada malah pertengkaran.

Pagi ini Karina memantapkan diri untuk bicara dengan Alfan. Mumpung masih jam 7 pagi sembari membuat sarapan. Perempuan itu membereskan Ipad, dan memakitakn MacBooknya setelah selesai membuat commis meskipun masih 50%.

"Pagi ini buat apa ya? Bikin salad aja kali ya? Monolognya, sebelum turun ke bawah.

Sampai dapur, ia tidak melihat sosok suaminya duduk di kursi makan. Aneh sekali, karena biasanya Alfan akan duduk di situ sambil mengotak-atikkan ipad dan tidak lupa di temani secangkir kopi.

"Apa Mas Alfan belum bangun ya? " Gumam Karina melirik ke atas tangga. "Nggak mungkin dia belum bangun. Coba aku-" Suara Karina tertahan ketika melihat sosok Alfan yang terlihat terburu-buru sambil menempelkan ponsel ke telinganya. Alfan hayang melirik saja ke arah Karina.

"Tinggu saya Rafa, ini saya mau berangkat, " Ujarnya pada panggilan, dan memutuskan sepihak.

"Mas Alfan kayaknya sibuk sekali ya? " Tanya Karina pelan, was-was karena pagii ini ekspresi Alfan terlihat sangat serius sekaligus lelah.

"Kamu lihatnya saya sedang tidur gitu? " Sarkasnya seperti biasa, membuat Karina menggembungkan pipinya.

"Mas Alfan aku mau bicara sebentar bo-"

"Bisa nanti saja kan? Saya harus pergi sekarang Karina. " Sela Alfan buru-buru tanpa memberi kesempatan Karina berbicara, lalu pria itu menyambar kunci mobil meninggalkan istrinya terdiam.

"Nggak sarapa-an dulu Mas? " Suara Karina semakin pelan, iris matanya menatap punggung besar Alfan keluar dari pintu. Terdengar tebusan nafas dari Karina. Hatinya semakin resah karena ia belum mengatakan apapun tentang kejadia dia harii yang lalu.

"Apa waktu makan siang saja ya aku ke kantor Mas Alfan?,sambil bawa makanan buat makan siang juga"Karina menimbang-nimbang dengan keputusannya, karena ia tidak mau lagi menunda pembicaraan penting ini. Siang nanti ia kan Mencoba untuk kr kantor Alfan, siapa tahu saat makan siang nanti Alfan tidak terlalu sibuk.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 30

    Kali ini rasanya Karina ingin kabur saja kalau sudah begini, malam ini Alfan mengatakan hal yang membuat tubuhnya meremang satu badan. Karina tidak bodoh, dan justru ia tahu maksud sang suami. Terkadang ia ingin menjitak kepalanya keras-keras supaya tidak kelepasan emosi, dan tetap tenang menahan diri untuk tidak mengeluarkan kalimat yang tidak penting seperti tadi. Rupanya, mengetahui Alfan bertemu Salsa sangat membuatnya sedikit menarik emosi yang ia tahan-tahan. Namun, di satu sisi Karina menjadi lega karena Alfan juga masih ingin bertahan dengannya di dalam pernikahan ini. Dan, kini ia masih di dalam kamarnya setelah selesai mandi, dan mencoba untuk memakai gaun malam pemberian Aldan tadi, yaitu set satin warna butter yellow lembut, dengan model nighgown yang sekarang ia balut dengan Kimono. Rbut panjangnya yang lurus dan setengah basah ia gerai. Sedari tadi ia di depan kaca, malu karena ia pertama kalinya menggunakan pakaian tidur seperti ini. "Kok jadi aneh gini ya? "Gumamnya

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 29

    Menjelang pukul delapan malam, Karina akhirnya kembali ke mansion setelah seharian ia diajak pergi oleh Aldan, yang tiba-tiba saja mengajaknya belanja. Aslinya ia ingin menolak, namun demi menghibur dirinya ia akhirnya menerima ajakan Aldan. Dan, ternyata pria itu membelanjakannya sebuah gaun malam, yang Karina rasa ini hanya menjadi pajangan di lemari saja. 'Ingat ya Karin, pokoknya gaun malam ini cepat dipakai supaya suamimu terkesima'ucaoan Aldan terngiang setelah ia turun dari mobil. "Apanya yang terkesima? Mas Alfan mungkin lebih terkesima sama mantannya mbak Salsa, " Omelnya pelan pada dirinya sendiri. Karina menghela napas panjang, menatap kondisi rumah yang sedikit gelap, mungkin saja suaminya belum pulang atau? Karuna lalu menggeleng cepat. Tidak mau memikirkan hal yang menyakiti hatinya. Perempuan itu lalu membuka pintu rumah, dengan menenteng satu paper bag lumayan besar belanjaan dari Aldan. "Istriku cintaku sudah pulang rupanya? " Suara rendah Alfan membuat Karina terk

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 28

    Sedangkan Salsa menatapnya pucat, dengan posisi sudah memakai Bathrobe bentuk kimono, dengan wajah yang merah dan sebagian tubuhnya ada bercak kemerahan yang semakin membuat Alfan menjadi jijik. "Apa-apaan ini Salsa? " Suaranya getir, seperti menelan ribuan Duri durian. Salsa membuang tatapannya, bahkan ia tidak menangis dan lebih seperti maling yang kepergok mencuri barang berharga. "JAWAB LU BAJINGAN!!! " bentak Alfan masih berdiri seperti tadi, menatap pacarnya itu seperti binatang yang terluka. "Kamu nggak perlu tahu Mas, " Jawab Salsa menatapnya tanpa bersalah. "Ha? Apa maksudmu sialan!!! Dada Alfan semakin gemuruh. "Jauh aku sebelum kenal sama kamu, aku udah begini. Inilah aku yang sebenarnya, dan pacaran dengamu adalah kesalahan untukku. Lagipula keluarga mu juga nggak suka kan sama aku? " Balas Salsa tidak tahu malu. Alfan menatap Salsa semakin getir,ternyata selama ini rasa cinta dan upayanya untuk membuat Salsa benar-benar diterima di keluarga nya hanyalah serpihan sa

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 27

    5 years agoSiang ini Alfan baru saja kembali dari kota Surakarta, karena ada pertemuan dengan klaien, dan sekaligus meninjau lokasi yang akan dipakai untuk proyeknya. Dalam perjalanan pulang dari Surakarta menuju Jakarta, ia sempatkan membeli buket bunga untuk perayaan anniversary dengan Salsa yang sudah berlangsung dia tahun. Alfan aslinya ingin membeli buket bunga mawar, tapi ia berikan pada pembeli lain karena lebih memilih buket lily. Cantik seperti pacarnya. Alfan ingin memberikan kejutan kepada Salsa dengan bunga ini, dan mengajaknya dinner. Namun, sayang sekali pacarnya itu sedang photoshoot dengan brand pakaian untuk olahraga dan jaket di kota Yogyakarta. Seharusnya sekarang pacarnya pulang, akan tetapi Salsa baru mengabari jika masih ada pemotretan lagi. Bagi Alfan tidak Masalah, karena sebagai pacar ia tidak ingin menghalangi mimpi pacarnya untuk masa depan dan tetap mendukung meski ada batasan tertentu. Sejujurnya pacaran dengan Salsa ini Alfan sempat mendapat pertentan

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 26

    Alfan yang sedang merebahkan kepalanya setelah kepergian asistennya melaporkan hasil kunjungan kemarin yang tidak dapat Alfan hadiri. Alfan menghadap langit-langit atap ruangan. Seketika ia teringat wajah istrinya yang terlihat ingin mengatakan sesuatu tadii pagi. Pria itu merongoh ponselnya untuk mengentik pesan kepada Karina namun belum sempat ia mengirim, suara ketukan terdengar lagi dan kali ini Rafa muncul dengan wajah cemas. 'Kenapa Karina? "Rajasthan mengerutkan dahinya menatao Rafa. " Begini pak, ada-""Hai Mas Alfan. " Suara yang telah lama Alfan hilangkan kini terdengar kembali. Sosok perempuan masa lallu yang pernah membuat hatinya membuncah tiba-tiba saja muncul di belakang Rafa. Tersenyum cerah metapnya. "Pak Alfan saya-""Tinggalkan kami berdua Rafa, saya perlu bicara dengan perempuan bebal ini, " Sarkas Alfan dingin, membuat Rafa menundukan kepala lalu meninggalkan ruangan. "Ngapain kamu di sini? Bukannya sudah mati? " Puggkas Alfan tajam, iris pekatnya mentap Salsa

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 25

    "Kamu mau pesan apa? " Tanya Salsa ramah, tersenyum lebar. "Saya macha latte aja Mbak Salsa, " Ujarnya halus, membuat Salsa langsung mengkonfirmasi langsung kepada waiters cafe. "Maaf ya aku tiba-tiba saja ngundang kemari, " Selorohnya santai, lalu menyilangkan kaki jenjangnya yang mulus. Seakan menunjukkan siapa yang berhak bicara di sini. Karina tersenyum tipis menanggapinya. "Jujur saja saya kaget karena Mabk Salsa bisa dapet nomer saya, " Ungkap Karina lembut, ia menyatukan kedua tangannya di pangkuan, menabak-nebak apa yang ingin dibicarakan perempuan didepannya ini. "Ouh, aku dapat dari media sosial kamu Rin. Kamu kan illustrator art kan? Ada nomer kamu di bio, " Jelas Salsa menatao Karina cukup mendominasi. "Langsung saja Mbak, apa yang ingin Mabk omongin sama saya? " To the point Karina, sikapnya cukup tenang. Salsa tertawa pelan, sambil menutupi mulutnya seakan menutupi sesuatu. "Kamu ini nggak suka basa-basi ya ternyata. Tapi sebelumnya aku mau ngucapin selamat buat pe

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status