ANMELDEN5 years ago
Siang ini Alfan baru saja kembali dari kota Surakarta, karena ada pertemuan dengan klaien, dan sekaligus meninjau lokasi yang akan dipakai untuk proyeknya. Dalam perjalanan pulang dari Surakarta menuju Jakarta, ia sempatkan membeli buket bunga untuk perayaan anniversary dengan Salsa yang sudah berlangsung dia tahun. Alfan aslinya ingin membeli buket bunga mawar, tapi ia berikan pada pembeli lain karena lebih memilih buket lily. Cantik seperti pacarnya. Alfan ingin memberikan kejutan kepada Salsa dengan bunga ini, dan mengajaknya dinner. Namun, sayang sekali pacarnya itu sedang photoshoot dengan brand pakaian untuk olahraga dan jaket di kota Yogyakarta. Seharusnya sekarang pacarnya pulang, akan tetapi Salsa baru mengabari jika masih ada pemotretan lagi. Bagi Alfan tidak Masalah, karena sebagai pacar ia tidak ingin menghalangi mimpi pacarnya untuk masa depan dan tetap mendukung meski ada batasan tertentu. Sejujurnya pacaran dengan Salsa ini Alfan sempat mendapat pertentangan dari orang tuanya, karena mereka bilang tidak suka dengan gaya Salsa. Dan Salsa nya juga tidak ada usaha untuk mendekati keluarga Alfan. Namun, Alfan meyakinkan kepada orang tuanya jika Salsa adalah perempuan pilihannya.Alfan dan Salsa bertemu saat ada pertemuan antara klien. Nah kliennya membawa ponakan,dan keponakannya itu adalah Salsa. Alfan tertarik dengan Salsa disanalah Alfan mulai mengenal Salsa sedikit demi sedikit. Alfan saat itu baru menginjak umur 24 tahun, lalu tanpa sengaja mendekati Salsa secara gencar hingga akhirnya mereka pacaran. Alfan duduk di kursi meja, sembari menatap buket bunga yang tadinya akan diberikan kepada Salsa. Mungkin besok saja, saat ia menjemput nya ke bandara, ia akan membawa buket ini. Tidak lama lamunnan Alfan ter distraksi oleh suara ponselnya, yang ternyata Aldan lah yang menghubunginya. "Kenapa Dan? " Jawab Alfan malas. "Halo Mas! Kamu lagi sama Salsa kah? " Suara Aldan terdengar seperti tergesa-gesa. "Enggak, kenapa emang? Dia lagi ada pemotretan. " "Lho, aku lihat dia ada di hotel harmoni wih. Sama cowok lho! " Balas Aldan terdengar geram. Seketika tubuh Alfan membeku mendengar ucapan sepupunya. "Ngga usah becanda de-" "Mas, aku memang ngga terlau suka sama pacarlo. Tapi aku nggak ada waktu untuk fitnah kalau memang nggak ada kejadiannya. Tapi ini aku beneran Mas. Kebetulan aku ada acara reuni di sini. Kamu mending ke sini sekarang juga, biar percaya. " Ungkap Aldan panjang, dengan nada yang sangat serius meskipun pelan. Alfan langsung menutup sepihak, dan tanpa berpikir panjang ia menyambar kunci mobilnya, dan bergegas pergi menyusul Aldan ke hotel itu. **** 'Mas aku nggak bisa lama-lama di Harmoni soalnya ada kerjaan mendadak nih. Urgent banget. Tadi aku sempat ikuti diam-diam cewek lo bang, dia masuk ke kamar no 212,terus aku tanya resepsonisnya dengan dalih temen Salsa. Terus dia ngasih customer atas nama Rakha. 'Alfan membaca isi pesan Alfan, Rahangnya mulai mengeras menahan amarah. Ingin membeludak rasanya sekarang juga, tidak mungkin pacarnya selingkuh kan? Alfan keluar dari mobil setelahparkir, sambil membawa buket bunga nya. Pria itu langsung menuju resepsionis. "Selamat sia-" " Atas nama Rakha, saya butuh kuncinya,"sela Alfan cepat, menatap tajam si resepsionis. "Tapi pak ini pri-" "Saya teman partynya. Cukup berikan kuncinya dan untuk kali ini tolong tutup mulut! " Get Alfan rendah, penuh ancaman. Si resepsionis bergetar di bawah tatapan galak Alfan, lalu ia menyerahkan kunci untuk Alfan. "Ini pak, " Ucapnya pelan. Dengan kasar Alfan menyambarnya, segera menuju kamar yang disebutkan, dengan buket bungan di tangannya. Keluar dari lift, perlahan ia menuju kamar 212 dan ia berdiri didepan kamar itu, meremas kuat buket bunganya. Alfan menarik napas sejenak, ia lalu menempelkan kunci kamar itu dengan gemetar. Terdengar suara tamparan dan desahan secara bersamaan. "Good Girl baby! " Dan untuk pertama kalinya Alfan melihat pemandangan yang paling mengerikan dan menjijikan dalam hidupnya, rasanya ia berjalan di atas paku yang menancap sampai tembus ke jantungnya. Melihat pacar yang sebentar lagi menjadi istrinya itu bertelanjang dengan di tunggangi satu pria di belakangny. "APA-APAAN INIIII!!! " teriak Alfan menatap murka istrinya melakukan sex dengan pria lain. Alfan lalu melempar buket bunganya ke arah lain, seakan ia membanting camera yang terpasang di depan tripod. "Mas Alfan! " Seru Salsa sangat terkejut. Tubuh Alfan bergetar, nafasnya terasa sesak. "KELUAR KALING BAJINGAN!! ATAU MAU SAYA BUNUH KALIAN!! " ancam Alfan, ekspresinya begitu kalut sehingga wajahnya memerah seakan darahnya mulai mendidih melihat pemandangan menjijikan di hadapannya ini. Kedia pria itu terlihat panik lalu menyambar pakaian mereka, "Sorry Sal, kita duluan! " Pria berambut coklat pekat dengan badan penuh dengan tato itu segera keluar, disusul pria satunya. Kini tinggal mereka berdua, dengan Alfan menatap Salsa seakan siap membunuh perempuan ini. amarah sudah bergejolak dalam dirinya.Kali ini rasanya Karina ingin kabur saja kalau sudah begini, malam ini Alfan mengatakan hal yang membuat tubuhnya meremang satu badan. Karina tidak bodoh, dan justru ia tahu maksud sang suami. Terkadang ia ingin menjitak kepalanya keras-keras supaya tidak kelepasan emosi, dan tetap tenang menahan diri untuk tidak mengeluarkan kalimat yang tidak penting seperti tadi. Rupanya, mengetahui Alfan bertemu Salsa sangat membuatnya sedikit menarik emosi yang ia tahan-tahan. Namun, di satu sisi Karina menjadi lega karena Alfan juga masih ingin bertahan dengannya di dalam pernikahan ini. Dan, kini ia masih di dalam kamarnya setelah selesai mandi, dan mencoba untuk memakai gaun malam pemberian Aldan tadi, yaitu set satin warna butter yellow lembut, dengan model nighgown yang sekarang ia balut dengan Kimono. Rbut panjangnya yang lurus dan setengah basah ia gerai. Sedari tadi ia di depan kaca, malu karena ia pertama kalinya menggunakan pakaian tidur seperti ini. "Kok jadi aneh gini ya? "Gumamnya
Menjelang pukul delapan malam, Karina akhirnya kembali ke mansion setelah seharian ia diajak pergi oleh Aldan, yang tiba-tiba saja mengajaknya belanja. Aslinya ia ingin menolak, namun demi menghibur dirinya ia akhirnya menerima ajakan Aldan. Dan, ternyata pria itu membelanjakannya sebuah gaun malam, yang Karina rasa ini hanya menjadi pajangan di lemari saja. 'Ingat ya Karin, pokoknya gaun malam ini cepat dipakai supaya suamimu terkesima'ucaoan Aldan terngiang setelah ia turun dari mobil. "Apanya yang terkesima? Mas Alfan mungkin lebih terkesima sama mantannya mbak Salsa, " Omelnya pelan pada dirinya sendiri. Karina menghela napas panjang, menatap kondisi rumah yang sedikit gelap, mungkin saja suaminya belum pulang atau? Karuna lalu menggeleng cepat. Tidak mau memikirkan hal yang menyakiti hatinya. Perempuan itu lalu membuka pintu rumah, dengan menenteng satu paper bag lumayan besar belanjaan dari Aldan. "Istriku cintaku sudah pulang rupanya? " Suara rendah Alfan membuat Karina terk
Sedangkan Salsa menatapnya pucat, dengan posisi sudah memakai Bathrobe bentuk kimono, dengan wajah yang merah dan sebagian tubuhnya ada bercak kemerahan yang semakin membuat Alfan menjadi jijik. "Apa-apaan ini Salsa? " Suaranya getir, seperti menelan ribuan Duri durian. Salsa membuang tatapannya, bahkan ia tidak menangis dan lebih seperti maling yang kepergok mencuri barang berharga. "JAWAB LU BAJINGAN!!! " bentak Alfan masih berdiri seperti tadi, menatap pacarnya itu seperti binatang yang terluka. "Kamu nggak perlu tahu Mas, " Jawab Salsa menatapnya tanpa bersalah. "Ha? Apa maksudmu sialan!!! Dada Alfan semakin gemuruh. "Jauh aku sebelum kenal sama kamu, aku udah begini. Inilah aku yang sebenarnya, dan pacaran dengamu adalah kesalahan untukku. Lagipula keluarga mu juga nggak suka kan sama aku? " Balas Salsa tidak tahu malu. Alfan menatap Salsa semakin getir,ternyata selama ini rasa cinta dan upayanya untuk membuat Salsa benar-benar diterima di keluarga nya hanyalah serpihan sa
5 years agoSiang ini Alfan baru saja kembali dari kota Surakarta, karena ada pertemuan dengan klaien, dan sekaligus meninjau lokasi yang akan dipakai untuk proyeknya. Dalam perjalanan pulang dari Surakarta menuju Jakarta, ia sempatkan membeli buket bunga untuk perayaan anniversary dengan Salsa yang sudah berlangsung dia tahun. Alfan aslinya ingin membeli buket bunga mawar, tapi ia berikan pada pembeli lain karena lebih memilih buket lily. Cantik seperti pacarnya. Alfan ingin memberikan kejutan kepada Salsa dengan bunga ini, dan mengajaknya dinner. Namun, sayang sekali pacarnya itu sedang photoshoot dengan brand pakaian untuk olahraga dan jaket di kota Yogyakarta. Seharusnya sekarang pacarnya pulang, akan tetapi Salsa baru mengabari jika masih ada pemotretan lagi. Bagi Alfan tidak Masalah, karena sebagai pacar ia tidak ingin menghalangi mimpi pacarnya untuk masa depan dan tetap mendukung meski ada batasan tertentu. Sejujurnya pacaran dengan Salsa ini Alfan sempat mendapat pertentan
Alfan yang sedang merebahkan kepalanya setelah kepergian asistennya melaporkan hasil kunjungan kemarin yang tidak dapat Alfan hadiri. Alfan menghadap langit-langit atap ruangan. Seketika ia teringat wajah istrinya yang terlihat ingin mengatakan sesuatu tadii pagi. Pria itu merongoh ponselnya untuk mengentik pesan kepada Karina namun belum sempat ia mengirim, suara ketukan terdengar lagi dan kali ini Rafa muncul dengan wajah cemas. 'Kenapa Karina? "Rajasthan mengerutkan dahinya menatao Rafa. " Begini pak, ada-""Hai Mas Alfan. " Suara yang telah lama Alfan hilangkan kini terdengar kembali. Sosok perempuan masa lallu yang pernah membuat hatinya membuncah tiba-tiba saja muncul di belakang Rafa. Tersenyum cerah metapnya. "Pak Alfan saya-""Tinggalkan kami berdua Rafa, saya perlu bicara dengan perempuan bebal ini, " Sarkas Alfan dingin, membuat Rafa menundukan kepala lalu meninggalkan ruangan. "Ngapain kamu di sini? Bukannya sudah mati? " Puggkas Alfan tajam, iris pekatnya mentap Salsa
"Kamu mau pesan apa? " Tanya Salsa ramah, tersenyum lebar. "Saya macha latte aja Mbak Salsa, " Ujarnya halus, membuat Salsa langsung mengkonfirmasi langsung kepada waiters cafe. "Maaf ya aku tiba-tiba saja ngundang kemari, " Selorohnya santai, lalu menyilangkan kaki jenjangnya yang mulus. Seakan menunjukkan siapa yang berhak bicara di sini. Karina tersenyum tipis menanggapinya. "Jujur saja saya kaget karena Mabk Salsa bisa dapet nomer saya, " Ungkap Karina lembut, ia menyatukan kedua tangannya di pangkuan, menabak-nebak apa yang ingin dibicarakan perempuan didepannya ini. "Ouh, aku dapat dari media sosial kamu Rin. Kamu kan illustrator art kan? Ada nomer kamu di bio, " Jelas Salsa menatao Karina cukup mendominasi. "Langsung saja Mbak, apa yang ingin Mabk omongin sama saya? " To the point Karina, sikapnya cukup tenang. Salsa tertawa pelan, sambil menutupi mulutnya seakan menutupi sesuatu. "Kamu ini nggak suka basa-basi ya ternyata. Tapi sebelumnya aku mau ngucapin selamat buat pe







