เข้าสู่ระบบ"Mesumnya sama istri sendiri Karina, tidak masalah dong, " Jawab Alfan lalu mengecup punggung tangan Karina lembut, yang semakin membuat denyut jadi Karina berpacu lebih kencang. 'Astaga! Karina lebih suka Alfan mengatakan kalimat pedasnya, dibandingkan bersikap seperti ini, membuat merinding. '
"Mas Alfan... " Cicit Karina, terlihat kikuk dengan tindakan Alfan seperti ini. "Apa hm? Saya masih kesal ya, sama kamu karena diam-diam bertemu Salsa, " Pungkas Alfan tajam, menarik prlan tubuh Karina dan memeluknya. Menghirup aroma manis dari istrinya, hingga tatapannya ter distraksi oleh sesutu Yang lucu. "Kamu terlalu gugup Karina, sampai label hargan bajunya belum kamu lepas, " Ucap Alfan menahan tawa, membuat Karina mendorong pelan tubuh besar Alfan, namun pria itu menahannya. 'Karina kamu bodoh banget siiii'. Ucap Karina dalam hati. "Astaga! Semua gara-gara Mas Alfan si, saya malu banget jadi pengen terbangvke langit ke tujuh! " Ujarnya pelan, lalu menunduk karena malu sekali. "Kamu terlalu semangat kali, makanya sampai kayak gini, " Ledek Alfan sembari menyampirkan surai panjang Karina ke depan lalu mencabut label harga itu. "Saya harus ngucapin terimakasih pada Aldan, karena udah beliin kamu gaun ini, " Lanjut Alfan, lalu tangan besarnya turun ke pinggang Karina, melepas tali kimono yang melekat pada tubuh Karina lalu menaruhnya di meja belajar Karina. Iris matanya semakin gelap menatap tibuh sang istri.Namun, Alfan tetap tenang menatap Karina, seakan menyembunyikan hasratnya kali ini. "Mas Alfan mau-" "Sutttt... Kamu sekarang jadi bicara aku-kamu, ngga kayak pertama kali bilang nya 'saya', Ucap Alfan halus, telunjuknya menutup mulut Karina. Sementara istrinya semakin terkejut dengan kalimat yang Alfan lontarkan, ini sangat berbahaya buat jantungnya. "Hehe...biar nggak kaku Mas. Nggak kaya Mas, Mas juga sekarang masih bilangnya 'saya'bukan aku. " "Eh... Iya ya, yaudah saya akan berubah kata-kata formal saya menjadi informal, okaii! " "Tapi kamu nggak akan aneh kan kalo saya bilang seperti itu? " "AKU MAS AKU, coba bilangnya gitu Mas, " Geram Karina rendah sembari menangkup wajah Alfan dengan tangan mungil nya. Sedangkan Alfan hanya tersenyum tipis, "Kita jadi berteman sekarang, kan kata kamu mau berteman sama aku untuk memulai rumah tangga ini? " Imbuh Alfan masih menatap lekat istrinya. Karina hanya mengangguk paham, meskipun sedikit canggung, namun mungkin ini langkah pertama mereka untuk membangun hubungan dekat. "sekarang,coba aku tanya sama kamu, kenapa kamu bisa percaya kalau omongan perempuan itu benar? Hmm? " Alfan kembali menanyakan topik yang membuatnya tidak puas dengan jawaban Karina. "Karina membuang pandangannya, lalu ditahan Alfan dengan menjepit dagu istrinya lembut. " Jangan menunduk Karina, lihat aku dan jawab semuanya, "desak Alfan tidak sabar, satu tangannya mencengkram pelan pinggang Karina. "Soalnya, Mas Alfan kayak benci banget sama aku, terus dengar omongan mbak Salsa begitu. Jadinya aku berpikir kalau Mas Alfan memang belum bisa lupain Mbak Salsa, " Tutur Karina lembut, suaranya nyaris berbisik, tatapannya berubah muram. Alfan menghela napas pendek, kepalang geram ia mendengar kalimat lugu dan naif dari istrinya. "Jadi kamu mau bukti kalau selama ini aku menahan diri? " Geramnya rendah, menahan gairahnya untuk tidak meledak. Tubuh Karina gemetar, di bawah tatapan intim Alfan, pria itu perlahan membawanya ke tempat tidur lalu merebahkan tubuh mungil itu. "Mas Alfan.. " Lirih karina semakin meremang dengan tatapan Alfan yang semakin kelam. Tubuh besar Alfan mengurung Karina posesif, tatapannya kini berubah tajam. "Aku kan sudah hilang sama kamu, jangan percaya omongan perempuan tolol itu Karina! "Pungkasnya dominan, lalu Alfan mengecup bibir istrinya lembut. Merasakan betapa gemetarnya tubuh sang istri di bawah kungkungannya. Alfan lalu melepas kaosnya dengan satu tangan, hingga membuatnya bertelanjang dada. " Mas Alfan... Mau ngapain? "Suara Karina tercekat melihat suaminya. "Mau kasih kamu hadiah istimewa, mau kan kamu? " Bisik Alfan lalu mengecup dahi istrinya. Mereka berdua akhirnya saling menumpahkan gelora gairah yang selama ini tersembunyi, di malam yang Mulai panas ini."Mesumnya sama istri sendiri Karina, tidak masalah dong, " Jawab Alfan lalu mengecup punggung tangan Karina lembut, yang semakin membuat denyut jadi Karina berpacu lebih kencang. 'Astaga! Karina lebih suka Alfan mengatakan kalimat pedasnya, dibandingkan bersikap seperti ini, membuat merinding. '"Mas Alfan... " Cicit Karina, terlihat kikuk dengan tindakan Alfan seperti ini. "Apa hm? Saya masih kesal ya, sama kamu karena diam-diam bertemu Salsa, " Pungkas Alfan tajam, menarik prlan tubuh Karina dan memeluknya. Menghirup aroma manis dari istrinya, hingga tatapannya ter distraksi oleh sesutu Yang lucu. "Kamu terlalu gugup Karina, sampai label hargan bajunya belum kamu lepas, " Ucap Alfan menahan tawa, membuat Karina mendorong pelan tubuh besar Alfan, namun pria itu menahannya. 'Karina kamu bodoh banget siiii'. Ucap Karina dalam hati. "Astaga! Semua gara-gara Mas Alfan si, saya malu banget jadi pengen terbangvke langit ke tujuh! " Ujarnya pelan, lalu menunduk karena malu sekali. "Kamu
Kali ini rasanya Karina ingin kabur saja kalau sudah begini, malam ini Alfan mengatakan hal yang membuat tubuhnya meremang satu badan. Karina tidak bodoh, dan justru ia tahu maksud sang suami. Terkadang ia ingin menjitak kepalanya keras-keras supaya tidak kelepasan emosi, dan tetap tenang menahan diri untuk tidak mengeluarkan kalimat yang tidak penting seperti tadi. Rupanya, mengetahui Alfan bertemu Salsa sangat membuatnya sedikit menarik emosi yang ia tahan-tahan. Namun, di satu sisi Karina menjadi lega karena Alfan juga masih ingin bertahan dengannya di dalam pernikahan ini. Dan, kini ia masih di dalam kamarnya setelah selesai mandi, dan mencoba untuk memakai gaun malam pemberian Aldan tadi, yaitu set satin warna butter yellow lembut, dengan model nighgown yang sekarang ia balut dengan Kimono. Rbut panjangnya yang lurus dan setengah basah ia gerai. Sedari tadi ia di depan kaca, malu karena ia pertama kalinya menggunakan pakaian tidur seperti ini. "Kok jadi aneh gini ya? "Gumamnya
Menjelang pukul delapan malam, Karina akhirnya kembali ke mansion setelah seharian ia diajak pergi oleh Aldan, yang tiba-tiba saja mengajaknya belanja. Aslinya ia ingin menolak, namun demi menghibur dirinya ia akhirnya menerima ajakan Aldan. Dan, ternyata pria itu membelanjakannya sebuah gaun malam, yang Karina rasa ini hanya menjadi pajangan di lemari saja. 'Ingat ya Karin, pokoknya gaun malam ini cepat dipakai supaya suamimu terkesima'ucaoan Aldan terngiang setelah ia turun dari mobil. "Apanya yang terkesima? Mas Alfan mungkin lebih terkesima sama mantannya mbak Salsa, " Omelnya pelan pada dirinya sendiri. Karina menghela napas panjang, menatap kondisi rumah yang sedikit gelap, mungkin saja suaminya belum pulang atau? Karuna lalu menggeleng cepat. Tidak mau memikirkan hal yang menyakiti hatinya. Perempuan itu lalu membuka pintu rumah, dengan menenteng satu paper bag lumayan besar belanjaan dari Aldan. "Istriku cintaku sudah pulang rupanya? " Suara rendah Alfan membuat Karina terk
Sedangkan Salsa menatapnya pucat, dengan posisi sudah memakai Bathrobe bentuk kimono, dengan wajah yang merah dan sebagian tubuhnya ada bercak kemerahan yang semakin membuat Alfan menjadi jijik. "Apa-apaan ini Salsa? " Suaranya getir, seperti menelan ribuan Duri durian. Salsa membuang tatapannya, bahkan ia tidak menangis dan lebih seperti maling yang kepergok mencuri barang berharga. "JAWAB LU BAJINGAN!!! " bentak Alfan masih berdiri seperti tadi, menatap pacarnya itu seperti binatang yang terluka. "Kamu nggak perlu tahu Mas, " Jawab Salsa menatapnya tanpa bersalah. "Ha? Apa maksudmu sialan!!! Dada Alfan semakin gemuruh. "Jauh aku sebelum kenal sama kamu, aku udah begini. Inilah aku yang sebenarnya, dan pacaran dengamu adalah kesalahan untukku. Lagipula keluarga mu juga nggak suka kan sama aku? " Balas Salsa tidak tahu malu. Alfan menatap Salsa semakin getir,ternyata selama ini rasa cinta dan upayanya untuk membuat Salsa benar-benar diterima di keluarga nya hanyalah serpihan sa
5 years agoSiang ini Alfan baru saja kembali dari kota Surakarta, karena ada pertemuan dengan klaien, dan sekaligus meninjau lokasi yang akan dipakai untuk proyeknya. Dalam perjalanan pulang dari Surakarta menuju Jakarta, ia sempatkan membeli buket bunga untuk perayaan anniversary dengan Salsa yang sudah berlangsung dia tahun. Alfan aslinya ingin membeli buket bunga mawar, tapi ia berikan pada pembeli lain karena lebih memilih buket lily. Cantik seperti pacarnya. Alfan ingin memberikan kejutan kepada Salsa dengan bunga ini, dan mengajaknya dinner. Namun, sayang sekali pacarnya itu sedang photoshoot dengan brand pakaian untuk olahraga dan jaket di kota Yogyakarta. Seharusnya sekarang pacarnya pulang, akan tetapi Salsa baru mengabari jika masih ada pemotretan lagi. Bagi Alfan tidak Masalah, karena sebagai pacar ia tidak ingin menghalangi mimpi pacarnya untuk masa depan dan tetap mendukung meski ada batasan tertentu. Sejujurnya pacaran dengan Salsa ini Alfan sempat mendapat pertentan
Alfan yang sedang merebahkan kepalanya setelah kepergian asistennya melaporkan hasil kunjungan kemarin yang tidak dapat Alfan hadiri. Alfan menghadap langit-langit atap ruangan. Seketika ia teringat wajah istrinya yang terlihat ingin mengatakan sesuatu tadii pagi. Pria itu merongoh ponselnya untuk mengentik pesan kepada Karina namun belum sempat ia mengirim, suara ketukan terdengar lagi dan kali ini Rafa muncul dengan wajah cemas. 'Kenapa Karina? "Rajasthan mengerutkan dahinya menatao Rafa. " Begini pak, ada-""Hai Mas Alfan. " Suara yang telah lama Alfan hilangkan kini terdengar kembali. Sosok perempuan masa lallu yang pernah membuat hatinya membuncah tiba-tiba saja muncul di belakang Rafa. Tersenyum cerah metapnya. "Pak Alfan saya-""Tinggalkan kami berdua Rafa, saya perlu bicara dengan perempuan bebal ini, " Sarkas Alfan dingin, membuat Rafa menundukan kepala lalu meninggalkan ruangan. "Ngapain kamu di sini? Bukannya sudah mati? " Puggkas Alfan tajam, iris pekatnya mentap Salsa







