LOGIN"Awas Mas Alfan!! " Cegah Karina membentengi tubuh Alfan dengan punggungnya karena melihat Indara yang inigin mencelakai suaminya. Namun, sepersekian detik kemudian ia merasakan sebuah tusukan di atas pinggang kanan. Rasanya nyawa karina seakan di cabut sebentar, karena merasakan tusukan itu. Dan, ia hanya merintih menahan sakit, karena hampir semua tubuhnya mendadak mati rasa. "Shh.. " Dingin Karina seperti merasakan tubuhnya terbagi dua. "Syalan!! Sia-sia gua pura-pura pingsan tadi! " Umpat Indra mencabut pisau kecil yang ternyata mengenai Karina, yang seharusnya tusukan itu di tuju untuk Alfan. Alfan terkejut dengan teriakan istrinya. Dengan tiba-tiba, melepas pelukannya dan mendorong tubuh Alfan ke depan. Ia membeku saat melihat sang istri yang menatapnya sudah pucat dan berkeringat dingin. Kini tubuh mungil itu limbung ke arah Alfan namun, Alfan berhasil menangkap dan menyekapnya. Tangan Alfan basah, dan ternyata... "Darah... " Suarah Alfan tercekat melihat tangannya penuh dar
"FUCK!! DASAR PEREMPUAN BAJINGAN! ! Teriak pria itu merasakan pacaran kaca, Tiba-tiba saja merasakan darah segar mengalir dari hidungnya dan dahinya. Indra tertatih-tatih berdiri untuk menyusul Karina. Dengan kesempatan yang ada, Karina berlari tergesa-gesa menaiki tangga. Ia masuk ke dalam kamar dan tidak lupa menguncinya, lalu ia masuk ke wali in closet milik suaminya. Karina duduk di salah satu rak yang terbuka khusus buat baju yang menggantung milik suaminya. "Ya Ampun handphone ku ketinggalan di dapur lagi! " Lirih hampir nangis, ia menutup mulutnya. Suara gedoran pintu terdengar sampai sini, dan dilanjutkan suara dobrakan pintu. "Keluar lo perempuan sinting! Mau main kucing-kucingan sama gue nih ceritanya? " Seru Indra dari luar, membuat tubuh Karina gemetar tak karuan. Perempuan itu menutup mulutnya, berusaha untuk tidak menangis dan menimbulkan suara. Kini suara gagang pintu walk in closet berputar. Karina semakin pasrah dan panik dengan ini semua. 'Ya Tuhan jika ia mati
"Mas! Ada Apa kok tiba-tiba gemeteran gitu? Kenapa sama mbak Karina? " Aldan ikut nimbrung, menatap khawatir Alfa. Ekspresi nya Alfan pucat dengan bibir yang terlihat gemetar. "Dan!! Tolong telepon polisi, dan suruh ke rumah Mas sekarang! Urgent! " Tegas Alfan cepat lalu ia segera berlari ke parkiran, tanpa peduli teriakan Alfan yang keras. Alfan berlari kencang menuju parkiran untuk mengambil motor Rafa, tanpa memperdulikan sekitarnya yang melihat Alfan dengan tatapan tajam tidak suka. Saking cemasnya, ia sampai terjatuh di depan parkiran membuat satpam di situ melihat nya cemas. "Pak? Anda baik-bqik saja? " Tanya Pak satpam. Alfan hanya mengangkat tangan, menandakan ia Baik-baik saja. 'Tenangin diri lo Fan' Alfan berusaha bangkit dan menguatkan diri. Ia menghembuskan napas panjang, lalu mencari keberadaan motor Rafa. Ia bersumpah jika terjadi apa-apa sama Karina, maka ia di takdirkan untuk membunuh dang menghabisi pria itu tanpa sisa. *****Siang hari begini rumah sudah sepi,
Sudut bibir Alfan naik ketika membaca pesan dari Karina, membuat Rafa menyeringai jail. "Kenapa senyum-senyum bang. Ada yang yang salah tingkah? Apa sedang jatuh cinta? " Bisik Aldan lalu cekikikan melihat ekspresi Alfan yang seakan ingin memakan dirinya. "Eh tapi, jangan senyum-senyum Mas! Nanti pamor kegantengan aku turun kalau orang-orang di sini lihat kamu senyum begitu, " Tambahnya karena sebagia seoarang pria pun Abdan mengakui jika Alfan terlihat menawan ketika senyum. Memancarkan maskulinitas yang tajam. Namun, yang namanya Alfan bisa dihitung dengan jari ketika memberikan senyuman. Itupun kalau di suruh pasti di lakukan karena terpaksa. "Berisik dan! " Imel Alfan rendah, lalu pandangannya kembali ke arah balkon.bukan Aldan namanya jika tidak puas meledek Kakak sepupunya."gimana Mas Alfan kemarin?udah baikan sama Mbak istri?"goda Aldan lagi membuat Alfan melirik malas. "Nggak ada yang marahan, sok tahu kamu! " Kelakar Alfan enggan menanggapi candaan Aldan yang tidak pentin
Alfan menyeringai santai. "Lagi pula, dulu kamu ngomong begitu karena terdesak keadaan kan? " Karina hanya meringis sebagai alasan. "Sebenarnya nggak juga sih, mungkin di satu sisi karena murni naluri perempuan Mas, tapi di sisi lainnya juga karena reflek, " Jujur Karina. Alfan mendengus ringan. "Lagian kamu juga Iya-iya aja, coba suami kamu bukan kayak aku! Bentuknya bapak-bapak dengan perut buncit, setengah botas sama punya kumis tipis kayak papah aku. Masih mau? " Ledek Alfan membuat Karina cekikikan geli membayangkan. "Ngawur kamu Mas!ngomongin papah yang nggak bener! " Tegur Karina menahan tawanya. "Lho emang bener papah bentuknya begitu, " Bantah Alfan tidak mau kalah. Lalu, setelah itu mereka mendadak hening sejenak. Alfan masih menatap istrinya, ia terbatuk kecil untuk menutupi rasa gugupnya. "Jarina.. Dulu kamu pernah bilang hubungan kita bisa di mulai dari berteman. Terus misalkan sekarang naik tingkat jadi pacaran mau? " Cetus Alfan pelan-pelan, lalu ters
"Juta Sayang, dua ratus lima ribu buat makan hokben doang, " Timpal Alfan santai membuat ekspresi istrinya berubah menjadi pucat. "Ju-ta Mas? Astaga Mas! Kamu kok boros banget sih. Ini mahal banget lho, kamu itu sama aja sama orang tua aku kalau beli ala-apa itu nggak diboikirin main beli aja. " Protes Karina tergagap karena panik, ia malah stres sendiri jika memakai barang semewag dan mahal seperti ini. Cincin nikah saja ia terasa bean karena harganya ratusan juta juga, ditambah ini tambah berat. Alfan menghela nafas panjang, lalu menggengam kedua tangan Karina. "Hei, Karina.. Tenang! Aku beli ini karena memang cicik sama kamu. Apa kamu lebih suka gelang karet yang biasa di pakai bungkus nasi padang itu? " Cerutu Alfan sedikit geram melihat reaksi sang istri. "Dan yang orang tua kamu lakukan juga, itu semua buat kamu. Buat menghargai diri orang tua kamu. Mereka sayang kamu. Kalau jangan salah mengartikan sayang" Sambung Alfan. "Ya bukan gitu Mas Alfan, tapi ini barang nya mewah
Menjelang magrib, Alfan akhirnya pula g membawa buket bunga mawar putih dan saku kotak perhiasan yang tadi pagi ia custom. Semua ini inisiatif nya sendiri, karena percuma saja bertanya dengan sepupu sampai Alfan mengenai bagaimana cara berbaikan dengan perempuan yang sedang marah. Namun, semua jaw
Sesampainya Alfan di kantor, Alfan sudah di suguhkan dengan berbagai pekerjaan yang ia tunda Akibat serangan demam mendadak yang kemarin menimpanya. Barusan sampai, Raga sudah memberikan berbagai dokumen kontrak kerja dari berbagai perusahaan yang ingin kerja sama dengan perusahaan milik Alfan. "I
Pantai yang di maksud adalah pantai Parangtritis. Salah satu pantai yang terhits di kota Yogyakarta. Terutama di sore seperti ini, pemandangannya sangat cantik. Langit berwarna jingga kemerahan terlihat mendominasi, cahaya matahari memantul indah ke permukaan air laut. "Cantik banget, " Puji Karina
"Wijaya Industries sekarang sudah ada di tangan kamu Alfan. Tapi walau begitu, papah nggak akan lepas tangan dan pasrahin semuanya ke kamu. Perusahaan Wijaya Industries ini perusahaan keluarga, besar sekali tanggung jawabnya bagi orang yang sudah menduduki kursi kepemimpinan. Dan biarpun umur kamu s







