Share

Bab 6

Author: Thaiteaa
last update publish date: 2026-05-06 18:04:33

"Mas Alfan bikin kaget tahu, " Ulang Karina menutupi rasa gugupnya, karena Alfan berdiri terlalu dekat sekali.

"Telinga kamu saja yang bermasalah, saya sudah bertanya tadi, kamunya nggak denger, " Sarkasnya tidak mau kalah, masih berdiri di dekat Karina dengan kedua tangannya terkubur dalam kantong celana.

"Kamu ini masak apa sih? Bikin ruangan ini baunya menyengat, " Seloroh Alfan masih menggosok hidungnya yang merah.

"Tunggu dulu Mas, saya masak capcay sama balado ayam. Duduk dulu ya Mas. Kita sarapan pagi bersama, " Ajak Karina terlihat antusias. Namun, Alfan menggeleng pelan. "Saya tidak terbiasa sarapan pagi, kamu saja. "

"Eh, jangan begitu Mas Alfan, Mas harus ingat kata aku pas kemaren. Harus di biasain karena udah punya istri. Mas nggak bisa seenaknya saya udah masak lho. Mubazir entar Mas, "Karina tidak sadar menahan lengan besar Alfan, membuat keduanya terdiam seperkian detik.

Alfan menghela nafas pendek, melepas pelan tangan mungil Karina lalu duduk di kursi makan. Melihat itu, senyum tipis muncul di bibir Karina.

" Mas Alfan bisa makan pedes kan? Eh tapi ini di jamin nggak pedes kok, kalau nanti pedes bolang saya ya. Nanti saya ambilkan air hangat, supaya lidahnya nggak semakin pedes Mas, " tutur Karina halus, penuh perhatian sembari duduk di samping Alfan. Sedangkan Alfan hanya Berdehem tanpa menatap Karina.

"Saya bisa ambil sendiri Karina, kamu makan saja dulu, " Cegah Alfan ketika istrinya ingin mengambil lauk untuknya pria itu langsung menyuapkan satu sendok, tanapa sadar mengangguk pelan karena rasa masakan istrinya tidak buruk juga.

"Mas Alfan saya mau tanya boleh? Ini sebenarnya nggak penting, tapi saya penasaran Mas Alfan, " Cerocos Karina membuat Alfan melirik bingung.

"Kamu ini kalau mau tanya, tanya aja, tidak perlu muter-muter tidak jelas begitu. " Seloroh Al5merasa pusing mendengar celotehan istrinya.

Karina mengigit jarinya, karena ragu untuk menanyakan hal ini. "Mas Alfan tadi pagi masuk kamar saya ya? Kok saya ngerasa Mas Alfan masuk kamar ya? Atau cuma mimpi? " Tanya Karina panjang lebar membuat Alfan tersedak minumannya.

"Ya ampun Mas Alfan, Hati-hati minumnya. "Panik Karina, satu tangannya mengelus punggung Alfan lembut lalu dengan sigap ia mengambil tisu.

" Mas Alfan nggak papa kah? "Karina memastikan sekali lagii, karena wajah Alfan terlihat merah.

"Kamu ini terbiasa makan sambil bicara ya Karina? Jelas sakali kamu itu bermimpi. Makanya jangan tidur pagi kayak tadi. " Sarkas Alfan menatap kesal istrinya, tangannya mengelus dada untuk meredakan rasa terkejutnya.

"Maaf Mas Alfan, saya cuma pen-"

"Permisi maaf Non, Den mengganggu waktu sarapannya, " Suara Bi Ijah menginterupsi mereka, perempuan paruh baya itu terpongoh-pongoh sambil menenteng sesuatu.

"Kenapa bu? "Suara Karina yang bertanya.

" Ini ada paket dari gojek, katanya buat Bu Karina, "Bi Ijah menyerahkankan kantong bertulisan 𝙞𝘽𝙤𝙭.

Karina mengerutkan dahinya bingung. " Hah? Saya bi? Tapi saya nggak beli apa-apa tuh bi. "Jawabnya lalu menerima paper bag tersebut.

"Katanya atas pembelian Bapak... Alfan, " Suara Bi Ijah sedikit terbata karena ekspresi majikannya terlihat dingin. "Saya permisi dulu non, " Lanjut Bi Ijah kalau kabur dari dua pasangan itu.

Karina melirik Alfan bingung. "Mas Alfan beli ini buat saya? " Tanya Karina berdebat, lalu ia terkejut melihat isi paper bag itu. 𝘔𝘢𝘤𝘣𝘰𝘰𝘬 𝘱𝘳𝘰4 𝘥𝘢𝘯 𝘪𝘱𝘢𝘥 𝘗𝘳𝘰 𝘔4 lengkap dengan Sulis pennya. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘪 𝘥𝘪𝘵𝘰𝘵𝘢𝘭 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 50 𝘫𝘶𝘵𝘢.

"Mas Alfan iini beneran buat saya? " Seru Karina hampir tidak percaya, bagaimana bisa Alfan tahu jika alat kerjanya sudah mulai tidak layak dipakai.

Pria itu melihat dadanya, menatap tajam istrinya. "Kamu tadi dengernya untuk siapa? Kenapa tanya lagi. "

"Untuk saya sih Mas Alfan. Tapi darimana Mas Alfan tahu kalau saya lagi butuh semua ini. Ini mahal sekali lho Mas Alfan, " Ungkap Karina penuh binar bahagia di iris madunya.

Alfan hampir saja tersenyum tipis, namun akhirnya hanya bisa berdehem saja. "Saya aslinyabeli buat di kantor,taou ternyata semuanya masih bagus." Kilahnya datar lalu ia berdiri dari kursi makannya, ingin kembaki ke ruangan kerjanya.

"Makasih banyak Mas Alfan! " Seru Karina bersemangat sembari memeluk Paper bag itu seperti memeluk boneka beruang.

Pria itu menatap lekat Karina, seringai tipis muncul di bibirnya. "Pakai alat itu dengan baik. Supaya gambar kamu yang kayak anak SD itu bisa jadi lebih bagus Karina, " Ujarnya santai lalu ia kembali menaiki tangga.

Karina sendiri lalau tersadar dengan ucapan Alfan barusan. "𝘒𝘰𝘬 𝘔𝘢𝘴 𝘈𝘭𝘧𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘨𝘢𝘮𝘣𝘢𝘳? " 𝘉𝘢𝘵𝘪𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘵𝘪. Masih tidak mengerti dengan sikap suaminya mirip dengan bunglon yang selalu berubah-ubah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 24

    "Makanya, kalau mau minum atau makan sesuatu tanyakan dulu, sebelumnya. Jadinya kamu sendiri yang rugi. Dan sekarang saya juga kena imbasnya, " Imbuh Alfan pelan, namun terdengar sarkas. Karina mengerutkan dahinya dan menggigit ujung bibirnya. "Mas Alfan, aku mau tanya. Siapa yang ganti baju saya ya? " Tanyanya dengan hati-hati. Lalu seketika ia menyesal karena pertanyaannya. Alfan kembali menyesap kopinya. "Oh, tidak tahu sih mungkin ibu peri kali ya? " Jawabnya asal, membuat Karina semakin kesal akan tetapi ia mencoba sabar. "Ya kamu pikir aja, di rumah ini kan cuma ada kita Karina kalau malam. Hal seperti itu kenapa harus dipertanyakan sih. " Seloroh Alfan tidak sabar, tidak habis pikir dengan pertanyaan konyol Karina. Jawaban Alfan semakin membuat Karina kalang kabut, tanpa sadar menutup dadanya, membuat Alfan menyeringai. "Kenapa? Malu daya lihat tubuh kamu? Wajar kan? Karena saya suami kamu, " Ujar Alfan seakan tahu apa yang dipikirkan Karina. "Bukan begitu Mas Alfan

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 23

    Rasa cenat-cenut mulai Karina rasakan di kepala, seperti ada yang menghantam kepalanya dengan batu. "Sshhh.... " Ringisnya lalu pelan ia membuka mata dan merasakan aroma yang berbeda dari ruangan kamarnya. Aroma jasmine tercampur tembakau yang seketika membuatnya rilex. Namun, detik selanjutnya ia tersadar jika ini bukan di kamarnya. Perempuan itu langsung terduduk, terkejut karena bangun fi kamar Alfan sendirian."astaga!kok aku bisa tidur fi kamar Mas Alfan?"paniknya seketika.Karina mendadak buntu seketika, karena pagi ini ia terasa kacau. Perempuan itu sejenak merenung dan mengingat apa yang terjadi tadi malam, sembari memegang kepalanya. "Habis muntah aku nggak ingat ngapain lagi? " Gumamnya pelan, mengigit jempolnya karena takut berbuat yang tidak-tidak. Karina lalu meraba tubuhnya, yang ternyata ia memakai kaus longgar milik suaminya. "Ya ampun, untung aja aku pakai dalaman celana ketat tadi malam, tapi pasti Mas Alfan lihat.. " Ucapannya langsung lalu ia buru-buru menggelengkan

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 22

    "Wah, ini istrinya Pak Alfan? " Suara feminim tiba-tiba mendistraksi Karina. Perempuan dengan gaun pendek model Sabrina menampakkan belahan dadanya yang bedar.anis dan eksotik dua kata yang pas untuk menggambarkan perempuan ini. Karina mengerutkan dahi, dan baru sadar jika perempuan ini adalah sekertaris Alfan di kantor. "Salam kenal Mbak Ica, " Sapa Karina lembut. Ica bersedih menatap rendah Karina, 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘹𝘺 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. "Aku nggak tahu kalau Pak Alfan seleranya downgrade banget. Wajah kamu pasaran. " Hina Ica dingin, lalu menyeringai puas. Karina sendiri tidak tahu masalah perempuan ini, kenal saja tidak dan tiba tiba dia datang untuk menghinanya. "Astaga Mank Ica.. Saya nggak nyangka lo Mbak Ica bersikap seperti ini. Saya kira selain cantik dan berbakat dalam bekerja, Mbak ini ramah. Tapi ternyata kurang sopan, masa ke istri bos bersikap begini?, tutur Karina halus, namun mengandung unsur sarkas. Rahang Ica mrngetat mendengar kalimat Karina, b

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 21

    Pagi ini Alfan disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang telah ia tunda kemarin. Seperti menangani masalah serius yang menimpa proyek nya yang ada di bali. Alfan merasa pening dengan masalah proyek ini dia akan serahkan ini kepada asistennya untuk mengontrol langsung ke Bali. Karena Alfan tidak bisa. Ia ada pertemuan kolega nanti malam. "Rafa saya mau kamu, pergi langsung ke Bali. Saya ada pertemuan kolega malam nanti. ""Ia siap pak" Jawab Rafa"Kamu kalau ada apa-apa di sana langsung kabarin saya, bagaimana pun ke adaanya. " Iya paham pak, kalau gitu saya permisi. "Ungkap Rafa. ***Sorenya, Karina berada di kamarnya untuk di buat cantik oleh dua orang yang tiba-tiba datang ke mansionnya. Dan ternyata adalah fashion stylish dan MUA yang disewa suaminya untuk acara pertemuan kolega satu jam lagi akan berangkat. "MasyaAllah, cantik dan elegan sekali bu, " Komentar MUA setelah selesai memoleskan lipstik nude di campur warna orange di bibir mungil milik Karina. Surai legam nan panja

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 20

    Alfan menyusul duduk di sebelah Karina, di pakuannya ada Salma dan satu tangannya membantu bayi itu untuk memegang dit susus agar tidak jatuh ke bawah. Merasa jika posisinya sangat nyaman, Salma menyusu sembari menyandarkan tubuhnya pada Alfan, menyender langsung pada perut keras Alfan. "Salma di jemput jam berapa? " Tanya Alfan sedikit menoleh pada karina yang duduk di sebelahnya. "Tadi sih Tante Citra ngasih tau kalau Tante Citra masih lumayan sibuk di sana. Jadi aku bikang dari pada di jemputnya nanti-nanti yang malah ujung-ujungnya kemaleman, jadi aku saranin Salma nginep di sisi saja, gapapa kan Mas? " Ucap Karina. Tadi ia sudah mengirim pesan pada Citra, menanyakan jam berapa Salma akan di jemput, danCitra memberi tahu jika kesibukannya masih belum selesai, jadi Karina tawarkan saja Salma untuk menginap di sini, hitung-gitung menemaninya tidur malam ini. "Tidak papap kalau Salmanya tidak rewel, karena rumah ini kan baru Salma datangi, jadi dia masih asing dengan suasana di s

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 19

    "Ambil, lempar pakannya ke ikannya. " Ucap Alfan pada Salma. Batu perempuan itu menatap Alfan ragu, takut untuk mengambil pakan ikan yang berukuran kecil-kecil itu dari telapak tangannya. Alfan menganggukkan kepalanya. "Tidak papa. Ambil saja. " Alfan bergerak sedikit maju ke arah kolam ikan dan berjongkok untuk memudahkan Salma melempar pakan ikan. Menurut, telapak tangannya Salma yang k3cil mengambil pakan ikan dengan sembarang, sehingga sebagian ada yang tumpah ke bawah mengenai rumput. Namun setelahnya, Salma dengan semangat melempar pakan ikan yang ia genggam ke arah ikan-ikan yang sudah bergerombol di tepi kolam, yang seolah sudah tau jika akan di beri makan. Dan benar saja, ikan-ikan besar yang semula ada yang terpencar menjadi mengerubung semua di tepi kolam, menimbulkan cipratan kecil yang mengenai Wajah Salma, membuat bayi perempuan itu tersentak kaget namun juga tertawa di saat yang bersamaan. Alfan mengambil paka ikan lagi, dan Salma dengan semangat yang sama mulai ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status