LOGINMobil ini akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi yang terbuka perlahan setelah sensor otomatis mengirimkan signal. Begitu melewati pintu gerbang, mataku langsung terbelalak, mulutku sedikit terbuka, takjub. Rumah? Tidak. Itu lebih mirip istana modern dengan halaman luas, lampu-lampu taman yang berjejer rapi, dan bangunan besar bergaya minimalis dengan kaca yang menjulang tinggi. Bahkan, rumah Mas Alvin sebelumnya tak semewah ini.
“Turun, dan ikuti saya. Biar dia tetap di gendonganmu,” ucapnya singkat begitu mobil berhenti tepat di depan pintu utama.
Aku mengangguk cepat, lalu membawa Kenzo turun dari mobil dengan hati-hati. Bocah itu hanya menggeliat sebentar sebelum kembali tenggelam dalam tidurnya, wajah mungilnya terlihat damai, seolah ia ada dipelukan orang terkasihnya. Langkahku bergerak mengikuti Raynard yang kini memasuki sebuah kamar yang kuyakini sebagai kamar Kenzo.
“Taruh dia di sini,” ucap Raynard singkat dengan menunjuk ranjang.
Dengan hati-hati, aku membaringkan Kenzo di atas kasur empuk itu. Bocah itu meringkuk, menarik selimut dengan tangannya sendiri, seolah sadar ia berada di tempat yang aman.
"Eungh," eluhnya mencari posisi yang nyaman.
Aku menepuk pahanya lembut, "Huust," ujarku pelan. Setelahnya, aku berdiri canggung di sisi ranjang, menatapnya sebentar sebelum tatapanku mengarah pada sebuah pigura yang tergantung di dinding, potret seorang wanita muda dengan senyum yang lembut, tatapannya teduh, berhasil membuatku tercekat… wajah itu mirip sekali denganku.
Tubuhku membeku, seakan kehilangan tenaga dalam waktu singkat. “Astaga …” bisikku lirih, jari-jariku terangkat perlahan, hendak menyentuh permukaan kaca pigura itu.
“Jangan sentuh.”
Aku terlonjak kaget dan refleks menurunkan tanganku tergesa, lalu aku menoleh dan mendapati Raynard yang masih berdiri di ambang pintu kamar.
Aku menyembunyikan tanganku terburu-buru seolah takut ketahuan, kepalaku menunduk lalu kembali mendongak menatapnya. “Dia ... siapa?” tanyaku dengan suara lirih.
“Kamu tak perlu tahu,” ujarnya berlalu meninggalkanku seorang diri.
Tetapi, suara berat Raynard seolah masih menggema di kepalaku. “Kamu tak perlu tahu.” Mataku kembali menatap wanita itu, mengamati senyumnya yang terlihat begitu tulus.
“Itu … almarhumah Nyonya.” Aku menoleh cepat, dan mendapati Suster Rini yang tengah berdiri dengan membawa perlengkapan Kenzo saat di mall tadi. “Beliau meninggal sewaktu ngelahirin si kecil Kenzo. Habis itu… Tuan Raynard mulai berubah, dia menarik diri, memilih tinggal di luar negeri dan ... ya jadi kayak Tuan yang sekrang itu.”
Aku menatapnya penuh tanda tanya, tapi bibirku tak mampu untuk mengeluarkan berbagai pertanyaan yang tertancap jelas di benakku.
Suster Rini menghela napas panjang, lalu duduk di kursi dekat ranjang Kenzo. “Kamu pasti kaget ya ngeliat fotonya,” katanya sambil menatapku penuh pengertian. "Emang mirip banget sama kamu, cuma beda di bentuk rambut dan tahi lalatnya aja," jelasnya dengan menatapku dan pigura itu bergantian.
Aku hanya bisa mengangguk, jujur masih bingung gimana harus bereaksi.
“Dulu, Tuan Raynard itu orangnya beda banget, dia sosok yang hangat, ramah, gampang ketawa,” ujarnya bercerita. “Tapi sejak istrinya meninggal … dunia beliau kayak runtuh gitu aja. Bayangin deh, perempuan yang paling dia cintai tiba-tiba pergi dari hidupnya tanpa pamit dan tanpa perpisahan, dan dia juga ninggalin bayi kecil yang butuh kehadirannya sepenuhnya.”
Aku menelan ludah dengan susah payah, rasanya dadaku ikutan sesak. Tatapanku berganti menatap Kenzo yang kini tengah tertidur pulas. Membayangkan bagaimana bocah kecil ini menjalani hidup tanpa sosok ibu di sampingnya.
“Waktu itu Tuan sempet nggak karuan, di sisi lain dia marah sama takdir, sama dirinya sendiri juga yang nggak bisa jagain Nyonya. Tapi di sisi lain anaknya butuh sosoknya yang tetap kuat buat ngelindungi dia di hari-hari pertama di dunia. Sampe akhirnya dia bawa Kenzo ke luar negeri. Katanya, biar nggak terus-terusan ngadepin bayangan masa lalunya di sini.”
Aku mengangguk paham, tapi tak ingin merespon apapun ... membiarkan Suster Rini memberikan sedikit gambaran tentang masa lalu Kenzo, terutama.
“Makanya, sekarang beliau keliatan dingin kayak gini. Tapi sebenernya … itu cuma cara dia biar bisa bertahan. Dan baru sebulan ini mereka balik ke Indonesia. Jadi jangan heran kalo bahasa Indonesianya agak kaku.”
Aku menunduk, tiba-tiba merasa bersalah sudah menilai dia macam-macam. Tapi di sisi lain, hatiku juga campur aduk—karena Kenzo malah lengket ke aku, seolah aku bayangan dari sosok yang sudah nggak ada.
"Aruna ... Nyonya Aruna, biasa kami memanggil."
Aku mengulangnya pelan, “Aruna …” Nama itu terdengar indah sekaligus getir di telingaku.
Suster Rini menghela napas panjangnya. “Beliau satu-satunya wanita yang pernah dicintai oleh Tuan Raynard seumur hidupnya. Dan sampai sekarang … bayangan beliau nggak pernah benar-benar hilang dari hati Tuan.”
Deg. Hatiku mencelos, bolehkah aku iri padanya? Aruna, kau begitu sempurna, dicintai oleh lelaki hebat dan anak yang selalu mengingatmu. sementara aku?
Malam hari berjalan dengan begitu cepat, Sus Rini sedang merapikan mainan di sudut ruangan. Aku duduk di sebelah Kenzo, mencoba fokus pada TV yang menyala, tapi jauh di dalam hati, aku masih terbayang kejadian di mall tadi siang.Notifikasi video call berbunyi di ponselku, sontak mengalihkan perhatian kami. Aku dengan cepat mengangkat ponsel dan menerima panggilan itu.“Hallo.”Kenzo langsung berdiri di sofa begitu mendengar suara dari ponselku. “Daddy! Daddy!” teriaknya girang, lalu duduk tepat di pangkuanku.Wajah Raynard muncul di layar—tengah berdiri di sebuah ruangan hotel dengan lampu kuning temaram, ia mengenakan kemeja putih dan dasi yang sudah sedikit longgar, wajahnya mengisyaratkan rasa lelah yang begitu kentara.Tapi begitu melihat Kenzo ... wajahnya kembali melunak.“Kenzo,” sapanya pelan.“Daddy!! Aku kangen! Monty juga!” ujar Kenzo sembari mengangkat bonekanya tepat ke kamera, membuat Raynard mengangkat alisnya.“Oh begitu?” jawab Raynard menatapku sekilas di layar. Tat
Sus Rini yang berjalan di sampingku tampak menatapku sekilas, lalu menunduk, mungkin menyadari ada sesuatu yang tidak beres dari raut wajahku. “Safira, kamu nggak apa-apa?” tanyanya hati-hati.Aku menggeleng pelan, memaksakan senyum. Tapi senyum itu langsung pudar ketika pandanganku tanpa sengaja bertemu pantulan kaca di etalase toko — menampilkan wajahku sendiri yang terlihat pucat dan tegang.Melihat perubahanku, berdeham. “Tadi ... mereka itu siapa?” tanyanya pelan, seolah takut salah bicara.Aku menarik napas panjang, mencoba mengatur nada suaraku agar tetap tenang. “Itu ... mantan suami,” jawabku lirih. “Dan perempuan yang bersamanya ... sepupunya.”Sus menatapku kaget tapi cepat-cepat menundukkan kepala, merasa bersaah. “Oh ... maaf, saya nggak tahu.”Aku tersenyum tipis, menganggukkan kepala sekali. “Nggak apa-apa, Sus. Saya juga nggak nyangka bisa ketemu mereka di sini,” jawabku diiringi tawa getir.“Monty kenapa?” tanya Kenzo polos, ketika menunggu antrean di depan kasir..Ak
Mereka berjalan beriringan, tangannya menggenggam lengan Alvin dengan manja, sementara pria itu hanya tersenyum tipis seperti biasa—senyum yang dulu begitu kukenal.Tubuhku terasa dingin. Aku ingin berbalik, berpura-pura tidak melihat, tapi suara mereka sudah terlalu dekat.“Oh, aku nggak salah lihat ternyata,” suara Nesya terdengar lembut tapi penuh nada sinis. “Safira?” ulangnya memastikan.Aku menatapnya perlahan, mencoba mempertahankan sisa ketenangan di wajahku. “Nesya,” sapaku singkat.Matanya menelusuri tubuhku dari atas ke bawah, dari baju sederhana dan rambut yang diikat seadanya, lalu berhenti pada tangan kecil Kenzo yang menggenggam jariku erat. Senyum miring terbit di bibirnya. “Sekarang kamu kerja jadi babysitter, ya?”Aku menelan ludah, tak tahu harus menjawab apa. Suaranya bukan sekadar bertanya—tapi penghinaan halus yang menusuk lebih dalam daripada rasa sakit yang ia berikan sebelumnya.Sementara Alvin, mantan suamiku, hanya berdiri diam di sebelahnya. Wajahnya datar,
“Jangan sampai dia merasa kehilangan sosok ayah, meskipun saya nggak ada di sini,” ucapnya singkat setelah menimbang beberapa saat.Aku menelan ludahku sendiri, mencoba menyembunyikan debaran di dadaku yang semakin keras. “Baik, Tuan. Saya akan berusaha,” janjiku, menganggukkan kepalaku sekali.Dengan satu helaan napas panjang, Raynard melangkah keluar, tannpa kata perpisahan sedikitpun untuk ... ya, Kenzo. Pintu tertutup dengan pelan, meninggalkan keheningan yang langsung memenuhi seisi ruangan. Tatapanku tertoleh pada Kenzo yang masih menatap pintu dengan wajah yang semakin sendu, membuat mobil-mobilannya terhimpit erat dalam genggamannya.Bocah kecil itu akhirnya menoleh padaku, dengan mata yang terus menahan kepedihan. “Monty ... Daddy pulang lagi kan?” tanyanya polos, suaranya yang lirih membuat hatiku seolah diremas oleh rasa sakit yang tak terhingga.Aku berjongkok, menyejajarkan badanku dengannya, menangkup pipinya dengan lembut seraya menganggukkan kepalaku pelan. “Iya, Sayan
Pagi hari kembali menyapa, menampakkan cahaya matahari yang menembus melalui tipis tirai di jendela kamar. Aku baru saja selesai merapikan tempat tidur ketika suara langkah kecil terdengar dari luar kamarku. Pintu kamar terbuka dengan perlahan membuatku menoleh, di ambang pintu, menampakan wajah Kenzo yang masih setengah mengantuk, rambutnya berantakan, dan boneka kecilnya tergenggam erat di tangan mungilnya.“Monty ...,” panggilnya pelan sambil menyeret langkahnya masuk.Aku memaksakan senyum, walaupun masih terkejut dengan kedatangannya, lalu buru-buru berjongkok dan merentangkan tangan untuk menyambutnya. “Kenzo, udah bangun? Kenapa nggak sama Sus Rini?” tanyaku mengusap rambutnya.Bocah itu menggelengkan kepala, sementara matanya kembali berkaca-kaca. “Aku nggak mau pergi kalau Monty nggak ikut ...,” ujarnya dengan lirih.Aku kembali terdiam, hatiku tercekat melihat wajah mungil itu yang selalu menunjukkan ketulusan. “Kenzo ... kan semalem kamu udah janji sama Monty kalau kamu mau
Raynard menyipitkan matanya dan menatapku dari spion kecil, lalu menggelengkakn kepala. “Kalau kau tidak pantas, saya tidak akan pernah menawari kontrak itu. Kau hanya harus belajar untuk percaya ... entah pada dirimu, atau pada saya, dan orang lain.”Deg. Ada sesuatu yang menohok tepat di dadaku, kata ‘percaya’ yang selama ini aku sematkan pada keluargaku ... namun pada kenyataannya, mereka mengkhianatiku dengan rasa sakit yang luar biasa. Aku buru-buru memalingkan wajahku, berusaha menyembunyikan perasaan yang membuncah entah apa namanya.Tak lama kemudian keadaan mobil menjadi hening sampai pada akhirnya mobil berhenti tepat di halaman rumah. Aku buru-buru meraih tas kecilku dan menyelempangkan di pundak, sementara satu tanganku meraih tangan Kenzo untuk kugenggam, aku bersiap membuka pintu, tapi belum sempat aku membkanya, pintu di sampingku sudah lebih dulu terbuka dari luar membuatku sedikit terlonjak. Raynard berdiri di sana, dengan badan yang tegap dan tatapan dingin, tapi tan







