แชร์

06. Menikah

ผู้เขียน: HaniHadi_LTF
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-13 21:17:27

Ucapan polos itu membuat tangan Bu Ratih yang sedang menyisir rambut Linggar mendadak berhenti. Beliau perlahan mengangkat wajah. Tatapannya bertemu dengan mata Linggar yang ikut membeku.

"Linggar... "

Suara Bu Ratih menggantung bersama gerakan tangannya yang terhenti.

Linggar masih duduk menghadap cermin. Wajah yang telah tersapu riasan tipis terlihat berbeda, tetapi tatapan matanya justru semakin gugup.

"Ada apa, Bu?"

Bu Ratih tidak langsung menjawab. Tatapan perempuan tua itu turun ke wajah Linggar, lalu beralih kepada Lintang yang masih berdiri sambil memainkan ujung rambut ibunya.

Bu Ratih hendak mengatakan sesuatu. Namun sebelum satu kata pun keluar, terdengar ketukan dari luar.

Tok... tok... tok...

"Nek...." Suara Ilalang terdengar dari balik pintu.

Bu Ratih segera mengalihkan perhatian.

"Masuk saja."

Pintu terbuka.

Ilalang melangkah masuk dengan stelan jas ivory. Tubuh tegapnya terlihat semakin berwibawa.

Langkah lelaki itu mendadak terhenti. Tatapannya sempat berhenti sepersekian detik, lalu wajahnya kembali dingin.

Linggar yang sejak tadi menatap pantulan dirinya lewat cermin langsung menyadari perubahan itu. Ia tidak tahu apakah penampilannya terlihat aneh sampai tatapan Ilalang seperti itu.

Jantung Linggar terasa berhenti. Ia segera meraih hijab dan memakainya. Untuk pertama kalinya, Ilalang melihat rambutnya terurai. Selama ini Linggar selalu mengenakan kerudung sederhana setiap kali bertemu lelaki itu.

Bu Ratih dengan sengol bertanya.

"Kenapa diam? Apa kamu pikir aku akan tega membiarkan dia tanpa perias?"

Ilalang dengan suara datar berkata. "Penghulu sudah datang."

"Kalau begitu sebentar lagi kita keluar," jawab Bu Ratih masih sengol.

Perempuan tua itu kembali menghadap Linggar. Mengamati hasil riasannya, lalu tersenyum puas.

"Riasanmu sudah cukup."

Linggar merasa canggung.

"Saya tidak biasa dirias."

"Itu justru bagus."

Bu Ratih menyentuh dagunya pelan.

"Lihat bibirmu."

Linggar menatap cermin.

"Bibirnya sudah merah alami. Sedikit terbelah begitu justru membuat wajahmu terlihat manis. Ibu hanya memberi lipstik tipis."

"Sudah selesai?" Suara Ilalang membuat Bu Ratih menoleh.

"Ayo Linggar. Ada yang tidak sabar ingin segera menikah."

"Nek.... "

Linggar berdiri.

"Sebentar." Ilalang mendekat. "Ini baju siapa?"

Linggar menunduk melihat pakaiannya.

"Baju saya. Dibelikan Rangga waktu kami menikah."

Suasana kamar seketika berubah. Linggar langsung menunduk saat melihat lelaki dengan rahang keras itu giginya gemertak.

Tidak ada yang mengatakan apa-apa selama beberapa detik.

Linggar justru semakin erat meremas kain gamisnya. Ia kini tahu nama Rangga mungkin bukan sesuatu yang ingin didengar Ilalang hari ini.

"Bukankah di atas meja rias sudah aku siapkan baju?" Suara Ilalang terdengar.

Linggar terdiam menatap kotak di samping meja riasnya. Ia tidak mengira kotak itu berisi pakaian pengantin.

Ilalang melangkah mendekat.

"Ganti."

Linggar mengernyit.

"Aku tidak suka istriku memakai sesuatu yang diberikab lelaki lain saat menikah denganku."

Ruangan mendadak sunyi.

Linggar menunduk.

"Baik." Suara Linggar nyaris tak terdengar.

Bu Ratih mengusap lengannya.

"Kami keluar. Kamu bisa ganti sendiri kan?"

Linggar mengangguk.

Setelah semua orang keluar, ia membuka tutupnya perlahan. Matanya langsung membesar.

"Ini...."

Baju pengantin itu tersusun rapi dalam kotak. Linggar segera memakainya.

Rok panjang A-line warna ivory terbuat dari silk crepe. Kainnya jatuh lembut mengikuti tubuh tanpa membuat bentuknya terlihat berlebihan. Bagian pinggang diberi detail sederhana berupa pita kecil dari kain yang sama.

Atasannya berupa kebaya modern berpotongan sederhana dengan lapisan renda halus.

Tidak banyak hiasan. Ataupun payet berkilauan. Namun Linggar tahu itu pakaian mahal. Termasuk hijab adem yang ia kenakan.

Beberapa menit kemudian, pintu terbuka.

Bu Ratih yang sedang menunggu langsung tersenyum.

"Lho...."

Linggar berdiri canggung.

Rok A-line membuat tubuh mungilnya terlihat lebih jenjang. Warna ivory membuat wajahnya tampak lebih bersih.

"Kamu begitu cantik," ucap Bu Ratih mendekat.

"Saya merasa seperti orang lain."

"Karena kamu jarang melihat dirimu sendiri seperti ini."

Linggar tersenyum kecil. 

"Kalau begitu ayo ke ruang depan."

Linggar berjalan lebih dulu. Saat melewati Ilalang, lelaki itu bergeser memberi jalan.

Linggar menunduk dan terus berjalan. Namun ia baru menyadari sesuatu saat Bu Ratih bicara.

"Ternyata baju kalian sepasang ya?"

Linggar seketika itu menatap Ilalang. Hatinya berdesir kecil. Namun tatapan dingin dan suara Ilalang segera mematahkan perasaan itu.

"Jangan salah faham. Aku hanya kebetulan ditawari baju ini. Katanya ada orang yang membatalkan pesanannya."

Linggar terdiam menatap pakaian yang membalut tubuhnya.

"Kalau aku tidak membelinya, pakaian itu juga akan terbuang percuma."

"Ilalang!" Bu Ratih memegangi dadanya sambil menatap Linggar dengan sedih.

Ilalng segera berjalan mendahului lalu mengambil tempat duduknya.

Untuk sesaat, Linggar menekan rasa sakitnya saat ia dipersilahkan duduk tak jauh dari Ilalang.

Prosesi akad berlangsung sederhana. Hanya penghulu, Ilalang, Linggar, Bu Ratih, Lintang, supir pribadi, Pak Budi, dan Bi Nini.

Penghulu mulai mempersiapkan akad.

Linggar menarik napas panjang. Jari-jarinya terasa dingin.

Ketika wali hakim mengucapkan ijab, suara Ilalang terdengar tegas.

"Saya terima nikahnya Diomira Linggar binti Sanjaya dengan mas kawin tersebut, tunai."

"Sah."

Satu kata itu membuat kepala Linggar terasa ringan. Namun ia tidak mengira mas kawin yang diberikan Ilalang sebesar itu.

Ia menunduk. Tidak ada air mata ataupun senyuman. Hanya tarikan napas panjang yang perlahan ia lepaskan.

Mulai detik itu, statusnya berubah. Ia bukan lagi seorang janda yang membesarkan anak seorang diri. Kini ia adalah istri Ilalang Gumilar Aditama.

Bu Ratih mengusap sudut matanya.

Lintang justru bertepuk tangan kecil.

"Bunda sudah menikah!"

Bi Nini terkekeh.

Linggar tersenyum tipis. Ia kemudian menoleh kepada Ilalang. Mata mereka bertemu walau tatapan dingin Ilalang menghujamnya. Mereka hanya dua orang asing yang baru saja mengikat janji.

Setelah doa selesai, Bu Ratih memeluk Linggar.

"Mulai hari ini kamu bukan lagi tamu."

Linggar tersenyum.

"Terima kasih, Bu."

Lintang kemudian berlari memeluk pinggang ibunya.

"Bunda!"

Linggar membungkuk. Mencium putrinya.

"Jadi kita tinggal sama Om Lalang?"

Linggar belum sempat menjawab, Bu Ratih lebih dulu berkata,

"Iya."

Wajah Lintang langsung berbinar.

"Berarti Lintang boleh main sama Om?"

Linggar menoleh kepada Ilalang.  Dinginnya lelaki itu membuat Linggar memeluk putrinya agar tidak terlalu berharap. "Jangan mengganggu Om."

Senyum Lintang langsung meredup.

Linggar mengusap kepala putrinya. Lalu mencium keningnya. Matanya mengaca. Ia hanya berharap setelah ini Lintang akan memiliki harapan yang lebih baik.

Bu Ratih memandang cucunya.

"Lang. Ajak istrimu ke kamar."

Linggar membeku. Tangannya gemetar.

"Kamar?"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   117. Tanda lahir

    Linggar tidak menjawab.Ilalang menatapnya beberapa saat. Kemudian lelaki itu kembali mencium bibir Linggar. Kali ini lebih lama, lebih dalam.Linggar hanya memejamkan mata, merasa lelah.“Jangan membandingkan dirimu dengan siapa pun.”Linggar masih diam.“Apalagi dengan Cindy.”“Tapi Mas sendiri…”“Aku memang memiliki masa lalu dengan dia.” Ilalang menghela napas.“Tapi itu bukan berarti aku ingin kembali kepadanya.”Linggar menatapnya, bimbang.“Lalu kenapa Mas kelihatan begitu senang bersamanya?”“Karena aku sedang berkumpul dengan teman lama. Tidak lebih."Ilalang mengusap kepala Linggar.“Sesederhana itu, Linggar.”Linggar terdiam. Namun hatinya belum sepenuhnya percaya.Ilalang menangkup wajah Linggar dan menciumnya kembali.“Kamu istriku.” Ilalang tersenyum tipis. “Jadi jangan buat aku merasa kamu justru ingin menyerahkan aku kepada orang lain.”Linggar belum sempat berkata ketika suara Lintang terdengar dari luar.“Bunda!”Ilalang menoleh.Linggar pun keluar.Lintang berdiri s

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   116. Menyerahkan

    "Sudahlah, jangan banyak alasan. Ayo."Sean menarik tangan Linggar.“Sekalian lihat tempat lama kami.”Kiki langsung muncul dari belakang Sean.“Aku ikut!”Rania tertawa.“Baru dengar air terjun langsung semangat.”Kiki menjulurkan lidah.“Daripada mereka jalan berdua tanpa aku.”Linggar melihat jalan setapak yang tadi dilewati Ilalang dan Cindy. Ia menarik napas.“Baiklah, aku ikut.”Sean tersenyum.“Nah, begitu.”Linggar menyerahkan urusan bekal kepada Rania.“Aku pergi sebentar.”Rania mengangguk walau seperti jengkel.“Bawa Kiki juga. Sean kalau jalan suka nyasar.”“Hei!” Sean protes.Linggar tersenyum kecil, lalu berjalan mengikuti Sean. Namun baru beberapa langkah, Linggar kembali menatap pemandangan di depannya.Dari kejauhan, ia masih bisa melihat Ilalang. Lelaki itu berdiri di dekat air terjun bersama Cindy.Lintang sudah turun dari gendongannya.Cindy sedang membisikkan sesuatu, lalu Ilalang tertawa.Linggar segera membuang wajah.Langkahnya kembali bergerak. Ia tidak ingin

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   115. Menjaga suami

    Besuknya saat siang mereka sudah menuju bumi perkemahan. “Mas, kita sudah sampai?” Linggar menoleh keluar jendela ketika mobil mulai memperlambat laju. Lintang yang sejak tadi duduk sambil memeluk bantal kecilnya langsung bangkit. “Sudah sampai?” Ilalang yang mengemudi hanya melirik kaca spion. “Iya. Lawong tempatnya juga nggak jauh dari rumah.” Linggar terkekeh. "Kayak.nggak kemah saja." Mereka melihat sekeliling. Sabtu siang membuat kawasan perkemahan itu tampak ramai. Beberapa mobil sudah terparkir berjajar, sementara tenda-tenda berdiri mengelilingi area yang dipenuhi pepohonan. Lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka. Hanya perlu beberapa puluh menit untuk sampai, tetapi suasananya terasa jauh berbeda. Linggar menghembuskan napas pelan. Entah kenapa sejak berangkat tadi ada perasaan tidak nyaman yang terus mengikutinya. Bagaimanapun juga ia baru gabung di komunitas suaminya, terlebih di sana ada Rania. Pertanyaan semalam masih teringat

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   114. Hujan

    "Sepertinya cinta kalian begitu dalam." Ilalang mengerutkan kening. "Apa?" "Mas seolah tersiksa karena tidak bisa melanjutkan cinta setelah putus dengan Cindy." Ilalang menatapnya beberapa saat. "Siapa bilang?" "Tadi kedengarannya begitu." "Aku cuma ingin jadi jomblo." Linggar mendengus. "Alasan." "Memang benar. Walau nyesel juga." Ilalang tersenyum. "Karena ternyata lebih enak punya istri daripada jomblo." Linggar memalingkan wajah. "Terutama saat hujan begini." Tangan Ilalang sydah merayap. "Mas!" Ilalang tertawa. "Kenapa?" "Jangan bicara sembarangan. Apalagi tangan kamu." "Aku serius." Linggar mengibaskan tangan Ilalang yang makin berani. Saat tangannya bergerak itu, petir tiba-tiba menyambar. Suara menggelegar memenuhi malam. Linggar menjerit. Tubuhnya langsung tersentak. Ilalang yang semula tersenyum mendadak terdiam. "Linggar?" Perempuan itu memejamkan mata rapat-rapat. Tangannya mencengkeram selimut. Ilalang segera mendekap L

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   113. Pembelaanmu, lukaku

    Pertanyaan Laras membuat suasana ruang keluarga seketika sunyi.Linggar yang sejak tadi duduk, perlahan mengangkat wajah. Tatapannya langsung tertuju kepada Ilalang.Lelaki itu masih memegang ponsel Bu Ratih. Wajahnya terlihat tegang, sementara jemarinya sesekali bergerak seperti sedang mencari sesuatu untuk dikatakan.Linggar menahan napas.Ia tidak tahu mengapa pertanyaan itu terasa begitu berat.Bukankah jawabannya sederhana?Mereka suami istri.Namun, mendengar nada Laras yang terdengar penuh curiga membuat Linggar merasa seolah hubungan mereka sedang dipertanyakan.Ilalang akhirnya menjawab.“Linggar sebenarnya sekretaris aku, Mi.”Linggar menoleh cepat.Sekretaris? Hati Linggar teriris perih. Bu Ratih mm enatap wajahnya prihatin.Ternyata Ilalang masih belum mengataka kalau aku istrinya pada ibunya itu, batin Linggar sedih. Ia tidak menyangka Ilalang akan menjelaskan seperti itu.Ilalang melanjutkan sebelum Laras kembali bertanya.“Dia banyak membantu pekerjaan perkebunan. B

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   112. Sama?

    Bu Ratih menekan Loos speaker. “Ya, Bu.” “Ilalang makannya masih baik?” Pertanyaan itu membuat Linggar mengerjapkan mata. Ia menoleh kepada Ilalang yang sejak tadi tidak mengalihkan pandangan darinya. “Masih, Bu.” “Syukurlah. Saya sempat khawatir. Ilalang itu kalau sudah suka sambal, susah mengerem. Perutnya sering bermasalah kalau terlalu banyak makan pedas.” Linggar tersenyum kecil. “Sekarang saya sudah tahu, Bu. Jadi sambalnya saya atur biar nggak terlalu pedas.” “Pantas saja kapan hari saat ke Tokyo dia terlihat makin berisi badannya. Kayaknya ada yang memperhatikan pola makannya.” Nada Laras terdengar ringan. “Kalau begitu, selama saya belum pulang, tolong terus perhatikan makanannya.” Linggar terdiam sesaat. Cara bicara Laras membuatnya merasa seperti seseorang yang sudah lama membantu mengurus kebutuhan Ilalang. Linggar mengusap ujung hijabnya. “Iya, Bu.” “Sebentar lagi tahun baru, kan?” “Iya.” "Mungkin kamu belum tahu kalau tahun baru kami sekeluarga kumpul s

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status