MasukUcapan polos itu membuat tangan Bu Ratih yang sedang menyisir rambut Linggar mendadak berhenti. Beliau perlahan mengangkat wajah. Tatapannya bertemu dengan mata Linggar yang ikut membeku.
"Linggar... "
Suara Bu Ratih menggantung bersama gerakan tangannya yang terhenti.
Linggar masih duduk menghadap cermin. Wajah yang telah tersapu riasan tipis terlihat berbeda, tetapi tatapan matanya justru semakin gugup.
"Ada apa, Bu?"
Bu Ratih tidak langsung menjawab. Tatapan perempuan tua itu turun ke wajah Linggar, lalu beralih kepada Lintang yang masih berdiri sambil memainkan ujung rambut ibunya.
Bu Ratih hendak mengatakan sesuatu. Namun sebelum satu kata pun keluar, terdengar ketukan dari luar.
Tok... tok... tok...
"Nek...." Suara Ilalang terdengar dari balik pintu.
Bu Ratih segera mengalihkan perhatian.
"Masuk saja."
Pintu terbuka.
Ilalang melangkah masuk dengan stelan jas ivory. Tubuh tegapnya terlihat semakin berwibawa.
Langkah lelaki itu mendadak terhenti. Tatapannya sempat berhenti sepersekian detik, lalu wajahnya kembali dingin.
Linggar yang sejak tadi menatap pantulan dirinya lewat cermin langsung menyadari perubahan itu. Ia tidak tahu apakah penampilannya terlihat aneh sampai tatapan Ilalang seperti itu.
Jantung Linggar terasa berhenti. Ia segera meraih hijab dan memakainya. Untuk pertama kalinya, Ilalang melihat rambutnya terurai. Selama ini Linggar selalu mengenakan kerudung sederhana setiap kali bertemu lelaki itu.
Bu Ratih dengan sengol bertanya.
"Kenapa diam? Apa kamu pikir aku akan tega membiarkan dia tanpa perias?"
Ilalang dengan suara datar berkata. "Penghulu sudah datang."
"Kalau begitu sebentar lagi kita keluar," jawab Bu Ratih masih sengol.
Perempuan tua itu kembali menghadap Linggar. Mengamati hasil riasannya, lalu tersenyum puas.
"Riasanmu sudah cukup."
Linggar merasa canggung.
"Saya tidak biasa dirias."
"Itu justru bagus."
Bu Ratih menyentuh dagunya pelan.
"Lihat bibirmu."
Linggar menatap cermin.
"Bibirnya sudah merah alami. Sedikit terbelah begitu justru membuat wajahmu terlihat manis. Ibu hanya memberi lipstik tipis."
"Sudah selesai?" Suara Ilalang membuat Bu Ratih menoleh.
"Ayo Linggar. Ada yang tidak sabar ingin segera menikah."
"Nek.... "
Linggar berdiri.
"Sebentar." Ilalang mendekat. "Ini baju siapa?"
Linggar menunduk melihat pakaiannya.
"Baju saya. Dibelikan Rangga waktu kami menikah."
Suasana kamar seketika berubah. Linggar langsung menunduk saat melihat lelaki dengan rahang keras itu giginya gemertak.
Tidak ada yang mengatakan apa-apa selama beberapa detik.
Linggar justru semakin erat meremas kain gamisnya. Ia kini tahu nama Rangga mungkin bukan sesuatu yang ingin didengar Ilalang hari ini.
"Bukankah di atas meja rias sudah aku siapkan baju?" Suara Ilalang terdengar.
Linggar terdiam menatap kotak di samping meja riasnya. Ia tidak mengira kotak itu berisi pakaian pengantin.
Ilalang melangkah mendekat.
"Ganti."
Linggar mengernyit.
"Aku tidak suka istriku memakai sesuatu yang diberikab lelaki lain saat menikah denganku."
Ruangan mendadak sunyi.
Linggar menunduk.
"Baik." Suara Linggar nyaris tak terdengar.
Bu Ratih mengusap lengannya.
"Kami keluar. Kamu bisa ganti sendiri kan?"
Linggar mengangguk.
Setelah semua orang keluar, ia membuka tutupnya perlahan. Matanya langsung membesar.
"Ini...."
Baju pengantin itu tersusun rapi dalam kotak. Linggar segera memakainya.
Rok panjang A-line warna ivory terbuat dari silk crepe. Kainnya jatuh lembut mengikuti tubuh tanpa membuat bentuknya terlihat berlebihan. Bagian pinggang diberi detail sederhana berupa pita kecil dari kain yang sama.
Atasannya berupa kebaya modern berpotongan sederhana dengan lapisan renda halus.
Tidak banyak hiasan. Ataupun payet berkilauan. Namun Linggar tahu itu pakaian mahal. Termasuk hijab adem yang ia kenakan.
Beberapa menit kemudian, pintu terbuka.
Bu Ratih yang sedang menunggu langsung tersenyum.
"Lho...."
Linggar berdiri canggung.
Rok A-line membuat tubuh mungilnya terlihat lebih jenjang. Warna ivory membuat wajahnya tampak lebih bersih.
"Kamu begitu cantik," ucap Bu Ratih mendekat.
"Saya merasa seperti orang lain."
"Karena kamu jarang melihat dirimu sendiri seperti ini."
Linggar tersenyum kecil.
"Kalau begitu ayo ke ruang depan."
Linggar berjalan lebih dulu. Saat melewati Ilalang, lelaki itu bergeser memberi jalan.
Linggar menunduk dan terus berjalan. Namun ia baru menyadari sesuatu saat Bu Ratih bicara.
"Ternyata baju kalian sepasang ya?"
Linggar seketika itu menatap Ilalang. Hatinya berdesir kecil. Namun tatapan dingin dan suara Ilalang segera mematahkan perasaan itu.
"Jangan salah faham. Aku hanya kebetulan ditawari baju ini. Katanya ada orang yang membatalkan pesanannya."
Linggar terdiam menatap pakaian yang membalut tubuhnya.
"Kalau aku tidak membelinya, pakaian itu juga akan terbuang percuma."
"Ilalang!" Bu Ratih memegangi dadanya sambil menatap Linggar dengan sedih.
Ilalng segera berjalan mendahului lalu mengambil tempat duduknya.
Untuk sesaat, Linggar menekan rasa sakitnya saat ia dipersilahkan duduk tak jauh dari Ilalang.
Prosesi akad berlangsung sederhana. Hanya penghulu, Ilalang, Linggar, Bu Ratih, Lintang, supir pribadi, Pak Budi, dan Bi Nini.
Penghulu mulai mempersiapkan akad.
Linggar menarik napas panjang. Jari-jarinya terasa dingin.
Ketika wali hakim mengucapkan ijab, suara Ilalang terdengar tegas.
"Saya terima nikahnya Diomira Linggar binti Sanjaya dengan mas kawin tersebut, tunai."
"Sah."
Satu kata itu membuat kepala Linggar terasa ringan. Namun ia tidak mengira mas kawin yang diberikan Ilalang sebesar itu.
Ia menunduk. Tidak ada air mata ataupun senyuman. Hanya tarikan napas panjang yang perlahan ia lepaskan.
Mulai detik itu, statusnya berubah. Ia bukan lagi seorang janda yang membesarkan anak seorang diri. Kini ia adalah istri Ilalang Gumilar Aditama.
Bu Ratih mengusap sudut matanya.
Lintang justru bertepuk tangan kecil.
"Bunda sudah menikah!"
Bi Nini terkekeh.
Linggar tersenyum tipis. Ia kemudian menoleh kepada Ilalang. Mata mereka bertemu walau tatapan dingin Ilalang menghujamnya. Mereka hanya dua orang asing yang baru saja mengikat janji.
Setelah doa selesai, Bu Ratih memeluk Linggar.
"Mulai hari ini kamu bukan lagi tamu."
Linggar tersenyum.
"Terima kasih, Bu."
Lintang kemudian berlari memeluk pinggang ibunya.
"Bunda!"
Linggar membungkuk. Mencium putrinya.
"Jadi kita tinggal sama Om Lalang?"
Linggar belum sempat menjawab, Bu Ratih lebih dulu berkata,
"Iya."
Wajah Lintang langsung berbinar.
"Berarti Lintang boleh main sama Om?"
Linggar menoleh kepada Ilalang. Dinginnya lelaki itu membuat Linggar memeluk putrinya agar tidak terlalu berharap. "Jangan mengganggu Om."
Senyum Lintang langsung meredup.
Linggar mengusap kepala putrinya. Lalu mencium keningnya. Matanya mengaca. Ia hanya berharap setelah ini Lintang akan memiliki harapan yang lebih baik.
Bu Ratih memandang cucunya.
"Lang. Ajak istrimu ke kamar."
Linggar membeku. Tangannya gemetar.
"Kamar?"
"Ini...." Linggar menutup mulutnya. "Jadi ini maharku...emas 50 gr itu?" Suaranya nyaris tidak terdengar.Linggar mundur selangkah. Matanya masih terpaku pada benda yang selama ini tidak pernah ia sangka akan kembali ia lihat."Perhiasan ini ... kenapa bisa ada di sini? Bagaimana bisa Mas Ilalang mendapatkannya?"Linggar nyaris tidak mengenali suaranya sendiri.Tangannya gemetar ketika membuka tutup kotak sedikit lebih lebar. Kilauan emas menyambut mata.Ada kalung emas dengan liontin giok hijau tua sebesar kuku ibu jari, dikelilingi ukiran emas kecil. Ada sepasang anting, cincin dan gelang dengan batu giok yang sama. Di bagian belakang liontin terdapat ukiran lambang keluarga yang hanya Linggar yang kenal. Benda itu bukan sekadar perhiasan biasa. Linggar pernah melihatnya bertahun-tahun lalu. Bahkan pernah menangis karena ingin mengenakannya.Ingatan itu datang begitu saja."Mami, Dio boleh pakai sebentar?"Gadis belasan tahun itu berdiri sambil menunjuk sebuah kotak beludru. Diala
Ilalang menatap Linggar tanpa berkedip. Tangannya terangkat."Mau menamparmu!" Suara Ilalang menggelegar.Sesaat, Linggar hanya mampu menatap tangan itu dengan tubuh menegang. Jari-jarinya spontan mencengkeram ujung pakaian dengan napas tertahan.Ia memejamkan mata rapat-rapat. Ia ingin berlari, tapi kakinya seolah diam di tempat.Beberapa detik....Brak! Suara pintu terbanting keras.Linggar membuka mata. Ruangan itu sudah kosong.Ia masih berdiri menempel di dinding dengan dada naik turun. Kedua tangannya perlahan terangkat, memeluk tubuh sendiri.Beberapa saat kemudian, Linggar mengembuskan napas panjang.Ternyata lelaki itu pergi. Tak ada pukulan atau tamparan yang ia takutkan.Linggar menatap pintu yang baru saja tertutup."Kenapa aku harus takut hanya karena dia mengangkat tangan?" Suara itu keluar lirih. Walau tubuhnya masih gemetar.Ia mengusap kedua lengannya, lalu berjalan menuju wastafel yang terletak di dekat dapur. Wajahnya terlihat pucat ketika menatap cermin.Linggar me
Bu Ratih mengangguk."Bu, saya bisa tidur di kamar tamu tadi.""Tidak." Bu Ratih menggeleng. "Kalian sudah menikah."Linggar melirik Ilalang. Wajah lelaki itu terlihat sulit dibaca."Nenek.... kami masih perlu....""Jangan membantah. Ingat, perjanjian kamu sama Nenek."Linggar sontak menatap wanita Sepuh yang kini menutup mulutnya itu. Lalu pandangannya beralih ke Ilalang.Ternyata dia mau menerima pernikahan ini karena itu, bathin Linggar. Ia penasaran, perjanjian apa yang mereka lakukan sampai bisa membuat Ilalang menyetujuinya."Bukankah kata Nenek, sudah ada Lintang yang bisa... ""Jangan bicara lagi." Bu Ratih menatap Linggar tak enak hati.Ilalang akhirnya berdiri. Dengan kasar ia menarik tangan Linggar."Ayo."Linggar yang kaget ikut berdiri, reflek mengibaskan tangan Ilalang. Ia lalu mendekati Lintang dan menggenggam tangannya. Entah apa isi perjanjian itu yang membuat Ilalang menyebut nama Lintang."Lintang akan tidur bersama aku selamanya." Bu Ratih segera mendekat. Lalu men
Ucapan polos itu membuat tangan Bu Ratih yang sedang menyisir rambut Linggar mendadak berhenti. Beliau perlahan mengangkat wajah. Tatapannya bertemu dengan mata Linggar yang ikut membeku."Linggar... "Suara Bu Ratih menggantung bersama gerakan tangannya yang terhenti.Linggar masih duduk menghadap cermin. Wajah yang telah tersapu riasan tipis terlihat berbeda, tetapi tatapan matanya justru semakin gugup."Ada apa, Bu?"Bu Ratih tidak langsung menjawab. Tatapan perempuan tua itu turun ke wajah Linggar, lalu beralih kepada Lintang yang masih berdiri sambil memainkan ujung rambut ibunya.Bu Ratih hendak mengatakan sesuatu. Namun sebelum satu kata pun keluar, terdengar ketukan dari luar.Tok... tok... tok..."Nek...." Suara Ilalang terdengar dari balik pintu.Bu Ratih segera mengalihkan perhatian."Masuk saja."Pintu terbuka.Ilalang melangkah masuk dengan stelan jas ivory. Tubuh tegapnya terlihat semakin berwibawa.Langkah lelaki itu mendadak terhenti. Tatapannya sempat berhenti seperse
"Secepatnya. Mungkin paling lama bulan depan."Linggar mengangguk pelan."Baik."Tanpa menambah sepatah kata, Ilalang berbalik menuju motornya.Mesin kembali menyala. Debu tipis beterbangan saat kendaraan itu meninggalkan halaman mess.Linggar masih berdiri mematung. Ia baru bergerak setelah suara mesin menghilang."Bunda...." Lintang memeluk pinggangnya. "Om Lalang pergi?"Linggar membelai kepala putrinya."Iya."...Sebulan kemudian. Sore itu saat Linggar tiba di rumah utama."Mana teropnya, Lang?"Suara Bu Ratih terdengar keras bahkan sebelum Linggar melangkah melewati ambang pintu.Linggar yang baru saja tiba bersama Lintang spontan menghentikan langkah.Bu Nini yang menjemputnya memberi isyarat agar menunggu sebentar. Namun, pertengkaran dari ruang tamu membuat kaki Linggar seolah terpaku."Aku memang tidak memesannya.""Itu pernikahanmu!""Akad sederhana sudah cukup."Linggar menunduk. Sebenarnya Ia tak berniat menguping, tetapi suara Ilalang dan Bu Ratih terdengar jelas."Pelam
Linggar mengangkat wajah. Sorot matanya masih lembut, tetapi kali ini jauh lebih mantap. Ia tahu persis apa yang ingin ia lindungi. Dirinya sendiri."Saya akan melakukan apapun kwajiban saya sebagai seorang istri sebagai gantinya. Tetapi, jangan pernah memaksa saya menjalankan kewajiban sebagai istri di ranjang."Kalimat itu meluncur pelan. Ia hanya ingin memastikan batas yang harus mereka sepakati sejak awal. Pernikahan tanpa cinta sudah cukup berat. Ia tidak ingin tubuhnya ikut menjadi sesuatu yang bisa dipaksakan.Linggar berhenti sejenak saat ia menatap perubahan di wajah Ilalang. Rasa tak enak menyergapnya."Kecuali...."Belum sempat kalimat itu selesai, tawa pendek Ilalang lebih dulu terdengar.Linggar menatap Ilalang yang kini menatapnya tajam. Lelaki itu sengaja mendekatkan tubuhnya seolah mengukur tinggi badannya yang memang menjulang di atas Linggar."Kamu pikir aku berminat?"Ucapan Ilalang seharusnya menyakitkan bagi Linggar. Anehnya, jawaban itu membuat hatinya terasa sed







