Share

93. Perasaan

Author: HaniHadi_LTF
last update publish date: 2026-09-13 20:55:59
Ilalang hanya terkekeh menanggapi pertanyaan Linggar, bahkan saat Linggar memukulnya dengan bantal.

Ia lalu meneruskan tidurnya. Demikian juga besoknya setelah bangun sholat Subuh.

Linggar yang telah selesai menelpon Lintang, juga selesai makan dari makanan yang dipesan Ilalang, menggelengkan kepalanya saat melihat lelaki itu masih tidur.

"Mas, bangun. Memang jadwal kita ketemu klien jam berapa?"

"Nanti saja."

Linggar masih menggoyangkan bahu Ilalang.

"Kenapa nanti?"

"Ngantuk.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   98. Tak sepadan

    Bu Ratih hanya tersenyum samar.“Bagaimana tidak sepadan? Bukankah Cindy bukan orang biasa? Dia bahkan sekarang tinggal di Tokyo."Bu Ratih seketika menatap Linggar."Kamu tahu itu? Apa kamu bertemu dengannya di sana? Atau anak bodoh itu mengunjunginya?" Tanpa memberi kesempatan pada Linggar, Bu Ratih memberondong pertanyaan."Bukan begitu, Nek. Saya hanya tahu dari Rania. Dia yang mengatakan itu.""Oh... "Wajah Bu Ratih tampak berubah sesaat. Jemarinya yang semula sibuk merapikan ujung taplak meja berhenti bergerak.“Kamu tahu dari Rania?”Linggar mengangguk pelan.Bu Ratih menarik napas.“Begitu.” Ada nada aneh yang sulit disembunyikan dari nada suaranya.Linggar menatap wanita tua itu, mencoba melihat apa yang ia pikirkan.“Ayah Cindy seorang diplomat,” ujar Bu Ratih akhirnya. “Bukan pengusaha seperti keluarga kita. Bukan juga seperti suami Laras sekarang.”Linggar diam.“Sekarang ayahnya bertugas di Tokyo. Jadi Cindy ikut tinggal bersama keluarganya.”Linggar hanya bisa menatap

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   97. Cerita

    Lalu tanpa menoleh lagi segera pergi. Tangan Linggar gemetar ketika menekan tombol lift.Pintu terbuka. Linggar masuk seorang diri.Begitu pintu lift menutup, wajahnya yang sejak tadi berusaha tegar langsung berubah. Bibirnya bergetar dengan napas yang terasa sesak. Air mata pertama jatuh. Linggar buru-buru mengusapnya.“Jangan menangis,” bisiknya kepada diri sendiri. Namun semakin ia berusaha menahan, semakin deras air mata itu mengalir. Ia menunduk, menggigit bibir supaya tidak mengeluarkan suara."Kenapa aku menangis? Bukankah tadi aku sendiri yang mengatakan bahwa pernikahan kami hanya saling menguntungkan? Lantas kenapa sekarang hatiku justru berharap lelaki itu menyusul?"Pintu lift terbuka.Linggar segera mengangkat wajah. Ia sempat menoleh ke belakang.Kosong. Tidak ada langkah kaki. Apalagi suara Ilalang memanggil namanya dan menghentikan langkahnya.Linggar menelan ludah. Ia berjalan menuju kendaraan yang sudah menunggunya.Sepanjang perjalanan menuju bandara, Linggar lebih b

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   96. Bukan milikmu

    Jantung Linggar seperti tersentak saat lelaki itu melangkah dengan cepat ke arahnya dengan wajah seram siap meledak."Mas... "Linggar berhenti beberapa langkah dari pintu lift, menatap wajah lelaki itu yang terlihat tegang, jauh berbeda dengan sosok santai yang meninggalkannya beberapa jam lalu.Linggar sempat melirik pintu lift, lalu kembali menatapnya."Kamu sudah pulang?"Ilalang tidak menjawab. Tatapannya justru jatuh pada Linggar, kemudian bergeser menuju pintu utama apartemen.Linggar mengikuti arah pandangnya. Aaraf. Kendaraan lelaki itu masih terlihat dari balik kaca."Kamu pulang sama siapa?" suara Ilalang terdengar rendah.Linggar mengernyit."Aaraf.""Kenapa? Kamu janjian dengannya?"Linggar mulai merasa tidak nyaman."Aku tadi pergi mencari teman lama. Ternyata rumahnya sudah bukan milik mereka. Aaraf pemilik baru rumah itu.""Alasan. Cepetan naik. Kita bicara nanti."Lelaki itu berbalik lebih dulu.Linggar mengikutinya dengan langkah cepat.Begitu pintu apartemen tertutup

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   95. Ketemu lagi

    "Bukankah Cindy juga berada di Tokyo. Apakah Ilalang menemuinya lagi seperti kapan hari? Ia berdiri, berjalan menuju jendela, lalu kembali duduk. Rasa tak enak mulai muncul. Sudahlah, Linggar. Jangan berharap lebih hanya karena kamu sudah diajak jalan-jalan. Semua itu hanya karena klien yang tak jadi. Jangan mikir macam-macam. Apalagi mencampuri uruasannya." Linggar berusaha meredam hatinya. Akhirnya Linggar mengambil keputusan. Ia membuka aplikasi transportasi dan memesan kendaraan. Tak lama kemudian, sebuah taksi datang menjemput. Linggar menyebutkan alamat sebuah rumah yang ada dalam ingatannya. Sebuah keluarga yang sudah lama dikenalnya tinggal tidak terlalu jauh dari kawasan tempat mereka tinggal. Setelah perjalanan cukup lama, taksi berhenti di depan sebuah rumah. Linggar turun. Ia berdiri sebentar sambil memastikan alamat. Pintu pagar terbuka. Linggar melangkah masuk. Belum sempat mengetuk, pintu rumah terbuka. Seorang lelaki keluar. Linggar kaget. A

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   94. Ketakutan

    Pagi berikutnya, tetap sama. "Mas, kita mau ke mana laginhari ini kok kamu pakai pakaian gitu?" Ilalang yang baru saja memasukkan ponselnya ke saku menoleh. "Jalan-jalan." "Lagi?" "Iya." Linggar mengerutkan kening. "Bukannya kemarin kita sudah jalan-jalan?" "Memangnya kenapa kalau hari ini jalan lagi?" Linggar menatap Ilalang. "Aku kok ngerasa Mas kayak orang nggak punya pekerjaan." "Memang tidak." "Lalu kliennya?" "Batal." Jawaban singkat itu membuat Linggar hanya bisa menghela napas. Ia masih belum sepenuhnya percaya bahwa perjalanan mereka ke Tokyo benar-benar berakhir tanpa satu pun pertemuan bisnis. Namun Ilalang terlihat santai saja sejak pagi. Sungguh beda dengan kebiasaannya yang selalu spaneng jika ada urusan kegagalan dalam kerjaannya. "Kalau gitu kita pulang, Mas. Ngapain kita leyeh-leyeh di sini." "Aku.masih ada urusan. Besuk atau lusa, baru kita pulang." Lelaki itu bahkan sudah berdiri di dekat pintu sambil menunggunya. "Cepat. Nant

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   93. Perasaan

    Ilalang hanya terkekeh menanggapi pertanyaan Linggar, bahkan saat Linggar memukulnya dengan bantal. Ia lalu meneruskan tidurnya. Demikian juga besoknya setelah bangun sholat Subuh. Linggar yang telah selesai menelpon Lintang, juga selesai makan dari makanan yang dipesan Ilalang, menggelengkan kepalanya saat melihat lelaki itu masih tidur. "Mas, bangun. Memang jadwal kita ketemu klien jam berapa?" "Nanti saja." Linggar masih menggoyangkan bahu Ilalang. "Kenapa nanti?" "Ngantuk. Dingin banget." Linggar menatapnya tidak percaya. "Mas, ini sudah siang, masih bisa-bisanya tidur jam segini. " "Bisa." Ilalang menarik selimut menutup kepalanya. Linggar hanya menatapnya. Diam. "Memangnya kenapa, la aku ke sini buat nyantai kok," guman Ilalang. "Nyantai gimana?" Ilalang yang masih ngantuk, kaget. "Lho, bukannya kamu sudah keluar?" "Keluar ke mana, Mas? Bosku aja masih di sini." Ilalang tersenyum, lalu menarik tangan Linggar. Wanita itu terjerembab ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status