Share

PART 03

Author: Kalang Langit
last update publish date: 2026-02-04 16:57:09

   Malam itu Bara berangkat menuju kediamannya Tante Sherly. Alamat yang dikasih berada di wilayah Jaktim, jadi dia harus berangkat lebih awal, khawatir terhalang macet. Ia ke sana dengan menggunakan  sepeda motor berikut box tempat menyimpan peralatan kerjanya.

    

Ia sampai di depan rumah yang dituju  pukul delapan lebih lima menit. Rumah itu adalah sebuah rumah di sebuah komplek yang cukup elite. Rumah dengan model minimalis dan berlantai dua itu tampak tertutup rapat. Tetapi terlihat sebuah mobil mewah berwarna merah di depan rumah itu.

Setelah memasang standar sepeda motornya, Bara memencet tombol bel di samping pintu rumah itu. Tak lama kemudian muncul seorang wanita yang mengenakan sejenis daster pendek yang bagian depannya lebih tinggi, sehingga kedua kaki dan paha indah dan putih terpampang nyata di depan matanya. Ia menaksir, usia wanita  wanita itu sekitar tiga puluhan tahun. Artinya dia bukan Tante Sherly, mungkin saudaranya. Padahal barusan ia menelepon Tante Sherly.

   

Bara menatap wajah wanita itu sembari menyapa, “Selamat malam, Kak ….”

   

Wanita itu menatap Bara dengan tatapan ramah dan tersenyum dan menjawab “Ya, selamat malam. Dik Bara, ya?”

  

“Benar, Kak. Maaf, Tante Sherlynya ada?”

  “Ya saya Tante Sherly, Dik Bara …”

“Owh ….” Hanya itu yang keluar dari mulut Bara. Ia sesaat tertegun. Ia kira Tante Sherly itu sudah seusia Tante Liana. Ternyata masih muda dan cantik. Malah sangat cantik.

“Kenapa, Dik Bara?”

  

“Oh … gak apa-apa, Kak, eh Tante. Saya kira Tante itu orangnya sudah tua, gitu. Mungkin empat puluhan tahun. Tapi ternyata masih muda,” ucap Bara tanpa bermaksud memuji.

“Hahaha. Oh gitu? Silakan masuk, Dik Bara.”

      “Terima kasih, Tan.”

  

Bara mengambil tas yang berisi peralatan kerjanya di box sepeda motornya, lalu masuk ke dalam rumah itu. Ia agak hati-hati saat memasuki rumah yang sangat mewah dan harum semerbak itu. Ia berpikir, kapan ia memiliki rumah atau kamar semewah itu. Ia jadi tersenyum sendiri memikirkan khayalannya sendiri.

   

Tapi yang membuatnya sedikit kaget adalah, ketika wanita itu membawanya ke dalam sebuah kamar. Tapi itu bukan kamar tidur walau ada tempat tidurnya. Kamarnya luas dan ada berbagai peralatan seperti untuk nge-gym. Pada sebuah sisi dinding kamar terlihat sebuah tv flat yang sangat lebar.

Dan satu hal yang membuatnya kaget adalah ketika ia melihat ke atas tempat tidur. Di sana ada lingerie atas dan bawah berwarna merah darah yang tergeletak serampangan begitu saja.  Dengan cepat ia mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.

    

“Tadi jalanannya macet ya, Dik Bara?”

   

“Oh, iya, Tan. Cukup macet.”

    

“OMG, ternyata saya belum sempat menyingkirkan benda itu tadi karena keburu-buru,” ucap Tante Sherly seperti kaget sembari mengambil pakaian dalamnya itu lalu membawanya ke dalam ruang mandi di kamarnya itu.

  

Pada saat wanita itu berjalan membelakanginya itu ia bisa paham bahwa wanita itu hanya mengenakan dasternya saja.

    

Dan pada saat yang sama, Tante Sherly membatin, “Hm, pasti pemuda itu curiga bahwa tadi aku telah melakukan sesuatu di atas tempat tidur itu barusan. Berarti juga dia tahu dong kalo aku gak pake apa-apa lagi? Hm, ternyata benar kata Jeng Riani, dia benar-benar tampan.”

     

Keluar dari kamar mandi, Tante Sherly bertanya kepada Bara, apakah mijetnya bisa dimulai.

      “Oh iya, Tan. Tapi bagusnya di atas permadani ini saja, ya?”

  

“Iya, ini saya sudah siapkan.”

   

“Baik, Tan. Silakan Tante tengkurap saja, ya?”

  

Tante Sherly mengikutinya permintaan Bara, dan berbaring tengkurep diatas permadani yang dialasi dengan tikar plastik.

     

Selanjutnya Bara mulai bekerja. Ia memulai dengan memijat-mijat telapak kaki dan kedua betisku. Sentuhan itu langsung membuat Tante Sherly sudah mulai  merasakan nikmatnya pijatan pemuda tampan itu.

    

“Maaf, Tante, kok rumahnya nampak sepi. Suami dan anak-anak Tante ke mana?” Tiba-tiba Bara bertanya. Mungkin agar suasananya tidak sepi, sekalian agar suasana panas tidak cepat naik.

  

“Suami saya sedang ke luar negeri, Dik Bara. Anak saya dua-duanya sedang KKN, satu di daerah Jawa Tengah, dan satunya lagi Jawa Barat.”

      Keterangan itu membuat Bara berhenti menggerakkan tangannya sesaat, lalu bertanya, “Tante punya dua anak yang sedang KKN?”

  

“Iya, keduanya adalah anak kembar saya, cewek semua. Anak pertama saya kuliah di Tiongkok.”

   

“Waw. Umur anak pertama Tante berapa?”

   

“Dua puluh empat tahun. Dia sedang lanjut S2.”

    

“Iyakah? Berarti sadi atas umur saya, Tan. Tapi … umur Tante sendiri berapa?”

   

“Saya empat puluh enam tahun.”

   

Bara benar-benar dibuat kaget. “Serius, Tan?”

  

“Iya seriuslah. Memang kenapa?”

  

“Sumpah, Tan. Saya perkirakan usia Tante itu paling banter tiga puluh lima tahun. Makanya tadi waktu di depan saya tanya apakah Tante Sherly ada? Karena yang menyambut saya adalah wanita yang kauh lebih muda yang saya bayangkan, gitu.”

   

Tante Sherly langsung tertawa kecil dan bertanya, “Ah, bisa saja kamu, Dik Bara. Tante ini ya sudah tualah. Anak saya yang pertama saja dua puluh empat tahun seperti kamu.”

  

“Serius, Tante. Resep awet muda dan tetap cantik itu apa, Tan?”

   

“Tante gak pake resep kok, Dik Bara. Masak Tante juga dibilang masih cantik?”

   

“Maaf, Tan, kalau saya mungkin dinilai usil. Wajah Tante itu mengingatkan saya pada wajah seorang aktris film Hongkong. Atau sebelum itu ya? Lupa saya. Tapi saya dulu idolain dia. Suka nonton filmnya.”

  

“Siapa namanya?”

  

“Kalau gak salah namanya Zhao Liying.”

  

“Oh iya. Pandanganmu seperti pandangan suami dan anak pertama saya, Dik Bara. Mereka bilang saya ini yang mirip Zhao itu.”

  

“Iya, mirip banget. Maaf, Tante ada keturunan Tionghoanya?”

   

“Iya masih ada. Tapi sudah campuran beberapa ras. Yang asli Tiongkok itu ayah dari kakek saya.”

   

“Oh gitu?”

    

“Kalau Dik Bara asli mana? Tapi Tante lihat sepertinya keturunan juga, ya?”

   

“Iya benar, Tan. Saya campuran dari beberapa ras juga. Ada Turk, Punjab, dan Nusantara.”

      “Waw. Pantesan posturmu tinggi kekar dan tampan.”

“Ya ganteng karena saya cowok, Tan. Oh ya, trus bersama siapa Tante di rumah ini? Tante berani ya tidur sendirian di rumah yang besar seperti ini.”

  

“Ada kok dengan adik saya. Tapi dia sedang di kampus. Dia semester delapan. Tadi dia bilang dia mau ikutan mijet juga.”

  

“Oh boleh, Tan. Dia cowok apa cewek?”

  

“Cewek.”

   

Bara terdiam, karena ia menaikkan lagi lokasi pijiten dan urutannya. Tante Sherly makin merinding merasakan urutan yang lebih mirip elusan itu. Namun ia berusaha untuk tetap bersikap yang wajar saja, namun tetap menimati pijetan itu dengan perasaannya. Lagi pula, pemijat gantengnya belum ada sinyal  untuk melakukan pijetan nakal.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 32

    “Belum, Teh. Tentunya Teteh bisa menilainya?” “Ya kalau menurut penilaian Teteh, Dik Bara itu seperti pemuda yang sudah berpengalaman,” jawab Salwa dengan wajah serius dan suara kecil namun jelas terdengar. “Tetapi memang, semburan laharmu sangat kuat. Teteh belum pernah merasakan persitiwa seperti itu sebelumnya. Bahkan dari suami Teteh ketika pertama kali kami melakukannya. Maka Teteh pun berpikir, bahwa Dik Bara adalah seorang perjaka. Tetapi di satu sisi, Teteh juga berpikir dan merasa heran ….” “Heran kenapa, Teh?” “Ya heran, di satu sisi permainan kamu seperti orang yang sudah sangat berpengalaman. Teteh pun sempat berpikir jika Dik Bara sudah biasa melakukannya.” “Oh itu? Ya kan akan otomatis saja, Teh, hukum alam. Sebagian besar juga karena aku sudah pernah melihat di film-film dewasa. Jadi aku tahu. Tapi semua adegan yang aku lihat, satu pelajaran yang aku dapat, yaitu model permainannya ya gitu-gitu saja. Yang berbeda adalah gaya permainannya, ada yang

  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 31

    Salwa terdiam, namun akhirnya mengangguk pelan. Ia yakin, jika penginapan itu sejenis losmen atau hotel melati seperti yang sering ia dengar dari teman-temannya jika sedang berkumpul. Tempat di mana kadang bisa dipakai untuk mencapai kebahagiaan bersama pasangan gelap. “Dik Bara mau melakukan apa di sini?” tanya Salwa dengan suara sedikit mendesah. Sebenarnya itu hanya sebuah pertanyaan pura-pura saja. Sejatinya, saat itu perasaannya sedang degdegan dan panas dingin karena ia sudah sangat ingin digumuli oleh anak kuliahan itu. Bara tidak menjawab pertanyaan itu, namun tangannya langsung menyeberang melewati pinggul Salwa untuk meraih setelan jok tempat duduknya. Jok itu langsung bergerak ke bawah dan Salwa tergolek di atasnya. Lalu, yang dirasakan oleh Salwa selanjutnya adalah bibir Bara yang sudah melumat bibirnya. “Uh uh uuukh ….” Tindakan Bara yang tiba-tiba dengan hawa yang langsung panas itu, membuat Salwa tergagap sesaat. Namun kemudia

  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 30

    Ketika tangan Bara berada di bagian gundukan termahalnya, Salwa langsung menatap sayu ke wajahnya Bara. “Dik Baraa …,” desisnya. Namun tiba-tiba sebuah sepeda motor yang datang dari arah belakang langsung mendahulu dengan cara memotong jalan, membuat Bara sedikit kaget. Otomatis tangannya yang sedang berada pada bagian gundukan Salwa ditarik, meraih presneling dan melepas injakan gas. Mobil pun seperti terangguk, membuat tubuh Salwa sampai terdiring ke depan. Pasca kejadian itu, tangan Bara tidak lagi berada di atas paha Salwa, dan ia konsentrasi pada pada kemudi dan jalan di depannya yang saat itu makin terlihat macet, Bara menjadi lebih sering memindah presneling, mengerem, menginjak gas, dan mengatur kemudi. Saat itu Salwa menyandarkan tubuhnya ke jok. Ia menjadi tidak banyak bersuara. Padahal saat itu ia ingin Bara meletakkan kembali tangannya di pahanya dan di bagian yang ia banggakan, lalu meremasinya. Dan, seumpama tangan pemuda di sampingnya

  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 29

    Bara manggut-manggut, antara memikirkan sesuatu atau memikirkan jalan yang akan dilaluinya di depannya. “Maaf, kalau maninya Dik Bara encer atau kental?” Pertanyaan itu sontak membuat Bara menoleh. Lalu dengan ragu-ragu ia menjawab, “Kalau soal itu saya kurang paham, Teh. Maksud saya, yang jenis mani encer dengan mani normal itu seperti apa?” “Maaf, Dik Bara pernah melakukan ….” Salwa mengerakkan kepalan tangan kananya ke atas ke bawah, sebagai kode on*ni. Namun Bara masih berpura-pura bloon dan bertanya, “Apa itu, Teh.” “On*ni.” “Oh itu? Yang seringlah, Teh. Hehehe, ikh malu mengatakannya.” “Gak apa-apa. Katanya Dik Bara buat mencari pengetahuan.” “Iya juga sih.” “Sering? Maksudnya tiap berapa kali seminggu?” “Wah, gak mingguan, Teh. Harian, malah. Kalau mengikuti desakan bir*hi, ya bisa tiap beberapa jam.” “Wah, itu tandanya kamu itu normal. Malah mungkin tergolong abnormal.” “Abnormal? Gila, gitu?” Salwa sontak tertaw

  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 28

    Terkadang di saat sepi yang melanda, sering tidur sendirian, ia terkadang suka menghayal, berfantasi, betapa nikmatnya dalam sepi jika ada seorang pemuda perkasa yang mampu memuaskannya, dan bahkan membuahinya. Jika sudah berada dalam kondisi dan suasana batin seperti itu, membuat libido Salwa naik. Dan apabila ia sudah tidak mampu menahan gairahnya, ia akan melakukan aksi swalayan, mast**basi sembari membayangkan melakukan hubungan ranjang dengan seorang pemuda perkaca. Karena jika membayangkan main dengan suaminya, Wahid, tentu aksinya akan gagal, karena dalam permainan nyata pun Wahid lebih banyak gagal untuk mengantarkannya di puncak kenikmatan yang tertinggi. Pukul sebelas siang mereka berangkat menuju Cimahi. Jarak rumah dengan Kota Cimahi sekitar tiga belas kilometer dan akan butuh waktu sekitar empat puluh menit. Karena kondisi jalan yang saat itu cukup padat, kemungkinan mereka akan sampai dalam waktu satu jam. Yang bertindak sebagai driver adalah Bara, sementa

  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 27

    Bagi Pak Anwar, berseng**ma adalah memasukan batang kemal**nnya yang tegang ke dalam kemal**n istri dengan tujuan mengeluarkan air mani di dalam lorong rahim secepatnya, dan tidak perlu bertanya apakah istrinya puas atau tidak. Sehingga selama bertahun-tahun, Bunda Yasmin tidak lebih dari hanya sebuah boneka pemuas saja bagi sang suami, setidaknya dalam dua tahun terakhir. Dan Bunda Yasmin sebagai seorang perempuan, yang ternyata mempunyai hasrat besar dan cenderung hyper, hanya bisa berkhayal bisa bercumbu dengan lelaki muda perkasa yang bisa memberikan kenikmatan dan kepuasan maksimal. Ya, yang mampu menghempaskannya ke hamparan langit gelap yang penuh bintang gemintang. Karena itu, ketika pada akhirnya laki-laki perkasa itu benar-benar hadir, yaitu Bara, ia seolah-olah menemukan destinasi fantasinya selama ini. Bara itu seolah hadir dengan membawa telaga bening dan segar kepadanya yang sedang dalam kondisi sangat haus dan dahaga. Sebenarnya, dalam satu tahun

  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 16

    Setelah Om Hendra mandi dan berpakaian, Tante Liana belum dulu dipijat oleh Bara, agar ia bisa mengantar suaminya itu pergi hingga di ruangan depan, seperti biasa. Om Hendra resmi keluar dari rumahnya sekitar dua puluh menit kemudian. Setelah mobil suaminya pergi, Tante Liana mengunci pi

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 19

    Bara menyebutkan nama kampusnya. Sebuah kampus ternama juga, baik di kota itu maupun di Indonesia. “Wah hebat, Nak Bara. Ambil fakultas apa? Maaf.” “Saya pertambangan, Bu.” “Wah mantap itu. Anak saya yang kerja di Turki itu dulu alumni situ juga, tapi dia di jurusan teknik informat

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 21

    Cahaya petir yang disusul oleh dentuman dahsyatnya membuat Bara tidak sampai menghentikan kalimatnya. Karena takut, Bu Yasmin langsung pamit dan lari ke dalam rumahnya. Bara pun melakukan hal yang sama. Dalam kamar, Bara langsung naik ke tempat tidur. Ia mengambil posisi bersandar denga

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 18

    Tante Liana sendiri jadi curiga dengan kondisinya. Karena kondisi seperti itu pernah ia alami ketika ia hamil muda kedua anaknya. Om Hendra, suaminya, yang melihat kondisi istrinya, dibuat kaget juga, dan bertanya apa yang terjadi, “Mama baik-baik saja?” “Entahlah, Pap. Aku kok seperti m

    last updateLast Updated : 2026-03-24
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status