LOGIN“Oh ya, menurut teman Tante, kamu masih kuliah, ya?”
“Iya benar, Tan. Tapi masih semester enam.”
“Kamu hebat, Dik Bara. Kuliah dibiayai sendiri, ya?”
“Begitulah, Tan.”
Percakapan itu terhenti ketika Bara berkata, “Maaf, Tan, dasternya saya naikkan lagi, ya?”
Tante Sherly tidak jadi menjawab, karena saat itu Bara sudah menaikkan ujung dasternya ke atas. Ia tau jika Bara sempat melihat miliknya karena ia tidak mengenakan cd. Namun ia diam saja, tetapi jantungnya berdetak lebih kencang dari normalnya.
Setelah memijat betis dan bagian paha, Bara ternyata langsung beralih ke punggung Tante Sherly. Namun demikian, pijatan dan urutan lembut dari tangan Bara tetap saja membuat detak jantungnya cepat dan suhu tubuhnya naik. Apalagi saat itu ia hanya berdua dalam kamar yang tertutup. Pijetan Bara memang aslinya terasa sangat enak.
Saat kemudian tiba-tiba Bara meminta izin agar daster bagian atas diturunkan saja, Tante Sherly pun tidak menolak. Ia langsung bangun duduk lalu meloloskan kedua tangannya dari kedua lengan dasternya, dan menahannya sebatas pinggangnya. Setelah itu ia kembali tengkurap.
Selanjutnya Bara memencet wadah minyak zaitun ke dalam tapak tangan kirinya sebelum dilumurkan pada tapak tangan kanannya untuk selanjutnya digosokkan secara lembut di atas punggung wanita pasiennya. Sebuah punggung yang indah, putih, dan mulus. Pemandangan itu membuat Bara berkali-kali menelan ludahnya sendiri yang terasa mulai seret.
Tante Sherly menikmati pijetan itu. Ia merasa geli campur enak juga ketika Bara mulai mengurut bagian samping tubuhku. Lalu terasa tangan Bara mulai mengurut ke bagian bawah dan menyentuh kedua sisi bok*ngnya.
“Maaf ya, Tan, saya harus mengurut di bagian ini,” ucap Bara.
Tante Sherly mengangguk pelan. Ada rasa geli juga dalam hatinya. Dua kali pemuda itu meminta izin, namun setelah melakukannya. Tapi anehnya ia justru merasakan sebuah sensasi yang entah apa namanya. Ia merasakan kedua tangan Bara mulai leluasa mengurut bagian belakang tubuhnya yang jelas-jelas sudah telan-jang itu. Dasternya sudah ditarik ke bawah. Tadinya daster itu dipakai untuk menutup bumpernya oleh Bara, namun selanjutnya area itu tidak lagi tertutup. Bahkan ia merasa Bara sudah meloloskan dasternya melalui kakinya. Saat itu pun ia lagi-lagi Bara meminta izin. Namun Tante Sherly hanya diam saja.
Saat itu susananya senyap. Hanya suara nafas keduanya yang terdengar. Suara nafas yang mulai sumbang. Dan Bara kembali mengosokan minyak ke seluruh tubuh Tante Sherly bagian belakang, dari pundak sampai ketelapak kaki. Tubuh wanita STW tapi masih indah itu makin mengkilap karena terkena sinar yang dibuat tidak sepenuhnya terang. Tante Sherly hanya berdiam diri saja dan membiarkan Bara bebas mengurut bagian dalam pahaku. Kedua kakinya bahkan direnggangkan.
Oouhh …! Bara melihat semuanya, namun dia tetap berpura-pura diam. Dia berusaha tetap melakukan pekerjaannya dengan profesional. Namun demikian, ia adalah seorang anak manusia yang memiliki jiwa dan ga*rah. Manusia muda pula. Saraf-sarafnya bereaksi, dan sesuatu ada yang langsung berespon dan mengeras saat itu. Namun, laki-laki ia berusaha bersikap yang wajar dan tenang saja.
Tetapi di sisi lain, Tante Sherly merasakan jantungnya masih degdekan bersama suhu tubuhnya yang makin naik. Ia merasa bahwa saat itu Bara pasti dapat melihat miliknya yang paling berharga itu secara bebas. Dan ia sadar, bahwa area itu benar-benar sudah tergenang dan licin. Tapi ia hanya berpura-pura saja, dan berusaha membungkam mulutnya sendiri agar tidak keluar suara yang menunjukkan kelemahannya. Ia mengatupkan kedua bibirnya dan memejamkan kedua matanya, merasakan nik**t, ketika tangan Bara menyentuh-nyentuh tepian dan celah miliknya.
Bara kemudian duduk berlutut diantara kedua paha Tante Sherly. Wanita itu hanya diam saja ketika Bara merenggangkan kedua pahanya lebih lebar lagi dan membiarkan kedua tangan Bara mengurut-urut bagian pinggir area persawahannya yang telah basah dan berlumpur.
Tante Sherly makin menggigit bibir bawahnya. Bahkan membungkam mulutnya dengan tangan kirinya. Nampaknya ia terstimulasi dengan hebat. Dan setiap jari-jari Bara menyentuh pinggiran area kebanggaannya itu, ia mengelinjang.
Setelah cukup lama, akhirnya Bara menuangkan minyak pijat ke atas bemper Tante Sherly. Wanita itu merasakan minyak itu merambat melewati celah di antara dua bongkahan bumpernya dan terus sampai ke area terlarangnya. Kemudian dengan kedua tangannya, Bara mulai mengurut bongkahan bempernya. Tante Sherly benar-benar merasakan sensasi yang luar biasa dan membiarkan Bara terus membuka bongkah itu. Ia merasa, Bara tidak lagi murni melakukan pijatan, namun sudah mulai memberikan isyarat-isyarat nakal. Tapi ia hanya menunggu saja dulu, sampai di mana pemuda itu berani berbuat nakal. Ia masih teringat pada cerita sahabatnya, Jeng Riani, yang memberinya rekomendasi tentang tukang pijat muda dan ganteng yang saat itu sedang memijat tubuhnya. Jeng Riani bilang bahwa Bara adalah brondong yang baik dan tidak nakal saat memijat.“Intinya dia itu pemijat muda yang professional, Jeng. Jika Jeng sudah pernah merasakannya, saya yakin Jeng akan sangat menyukainya dan ingin terus dipijet oleh dia. Intinya Jeng akan ketagihan,” cerita Jeng Riani melalui telepon dengan nada suara yang serius, beberapa hari yang lalu.“Oh ya? Apa dia tipe cowok yang tidak menyukai lawan jenis, ya?” tanya Tante Sherly.“Gaklah, Jeng. Dia pria normal sekali. Dia cerita sudah punya kekasih dan akan menikah setelah wisuda.”“Oh begitu? Ya sudah, saya ingin coba, Jeng. Tolong Jeng kirim nomornya. Siapa namanya?”“Baik, Jeng. Namanya Bara.”Apakah yang ceritakan Jeng Ruiani terhadapku itu benar adanya, pikir Tante Sherly. Tapi ia tak sepenuhnya percaya cerita itu. Jika Bara adalah pria normal, tentu saja tidak mungkin tidak bernafsv ketika melihat dan menyentuh tubuh wanita. Atau Bara memang bukan tipe brondong yang menyukai wanita yang lebih tua darinya?Sebenarnya, apa yang diceritakan oleh Jeng Riani itu tidak sesuai dengan kenyataan. Ketika wanita itu dipijat oleh Bara, itu diakhiri dengan pertarungan adu bir*hi yang berujung bahagia. Bahkan mereka melakukannya beberapa kali. Karena itu Jeng Riani mengatakan “… Jeng akan ketagihan.” Tetapi itu bukan sebuah jebakan. Jeng Riani hanya ingin membantu sahabatnya itu untuk mengakhiri dahaganya karena sawahnya telah lama tidak dibajak dan diairi oleh sang suaminya, seperti juga halnya dirinya.
Tiba-tiba Tante Sherly merasakan jari-jari Bara mengusap miliknya, dan itu membuatnya tiba-tiba mendesah. Itu desahan pertamanya yang gagal ia bungkam. Ia mulai terangsang hebat. Apalagi terasa sedikit demi dikit jari telunjuk Bara mencolok-colok ke pintu gerbang yang bukan semestinya. Tindakan Bara itu benar-benar membuat tubuhnya bergetar hebat. Dan tanpa ia sadari ia mengangkat bempernya hingga setengah jengking.
“Belum, Teh. Tentunya Teteh bisa menilainya?” “Ya kalau menurut penilaian Teteh, Dik Bara itu seperti pemuda yang sudah berpengalaman,” jawab Salwa dengan wajah serius dan suara kecil namun jelas terdengar. “Tetapi memang, semburan laharmu sangat kuat. Teteh belum pernah merasakan persitiwa seperti itu sebelumnya. Bahkan dari suami Teteh ketika pertama kali kami melakukannya. Maka Teteh pun berpikir, bahwa Dik Bara adalah seorang perjaka. Tetapi di satu sisi, Teteh juga berpikir dan merasa heran ….” “Heran kenapa, Teh?” “Ya heran, di satu sisi permainan kamu seperti orang yang sudah sangat berpengalaman. Teteh pun sempat berpikir jika Dik Bara sudah biasa melakukannya.” “Oh itu? Ya kan akan otomatis saja, Teh, hukum alam. Sebagian besar juga karena aku sudah pernah melihat di film-film dewasa. Jadi aku tahu. Tapi semua adegan yang aku lihat, satu pelajaran yang aku dapat, yaitu model permainannya ya gitu-gitu saja. Yang berbeda adalah gaya permainannya, ada yang
Salwa terdiam, namun akhirnya mengangguk pelan. Ia yakin, jika penginapan itu sejenis losmen atau hotel melati seperti yang sering ia dengar dari teman-temannya jika sedang berkumpul. Tempat di mana kadang bisa dipakai untuk mencapai kebahagiaan bersama pasangan gelap. “Dik Bara mau melakukan apa di sini?” tanya Salwa dengan suara sedikit mendesah. Sebenarnya itu hanya sebuah pertanyaan pura-pura saja. Sejatinya, saat itu perasaannya sedang degdegan dan panas dingin karena ia sudah sangat ingin digumuli oleh anak kuliahan itu. Bara tidak menjawab pertanyaan itu, namun tangannya langsung menyeberang melewati pinggul Salwa untuk meraih setelan jok tempat duduknya. Jok itu langsung bergerak ke bawah dan Salwa tergolek di atasnya. Lalu, yang dirasakan oleh Salwa selanjutnya adalah bibir Bara yang sudah melumat bibirnya. “Uh uh uuukh ….” Tindakan Bara yang tiba-tiba dengan hawa yang langsung panas itu, membuat Salwa tergagap sesaat. Namun kemudia
Ketika tangan Bara berada di bagian gundukan termahalnya, Salwa langsung menatap sayu ke wajahnya Bara. “Dik Baraa …,” desisnya. Namun tiba-tiba sebuah sepeda motor yang datang dari arah belakang langsung mendahulu dengan cara memotong jalan, membuat Bara sedikit kaget. Otomatis tangannya yang sedang berada pada bagian gundukan Salwa ditarik, meraih presneling dan melepas injakan gas. Mobil pun seperti terangguk, membuat tubuh Salwa sampai terdiring ke depan. Pasca kejadian itu, tangan Bara tidak lagi berada di atas paha Salwa, dan ia konsentrasi pada pada kemudi dan jalan di depannya yang saat itu makin terlihat macet, Bara menjadi lebih sering memindah presneling, mengerem, menginjak gas, dan mengatur kemudi. Saat itu Salwa menyandarkan tubuhnya ke jok. Ia menjadi tidak banyak bersuara. Padahal saat itu ia ingin Bara meletakkan kembali tangannya di pahanya dan di bagian yang ia banggakan, lalu meremasinya. Dan, seumpama tangan pemuda di sampingnya
Bara manggut-manggut, antara memikirkan sesuatu atau memikirkan jalan yang akan dilaluinya di depannya. “Maaf, kalau maninya Dik Bara encer atau kental?” Pertanyaan itu sontak membuat Bara menoleh. Lalu dengan ragu-ragu ia menjawab, “Kalau soal itu saya kurang paham, Teh. Maksud saya, yang jenis mani encer dengan mani normal itu seperti apa?” “Maaf, Dik Bara pernah melakukan ….” Salwa mengerakkan kepalan tangan kananya ke atas ke bawah, sebagai kode on*ni. Namun Bara masih berpura-pura bloon dan bertanya, “Apa itu, Teh.” “On*ni.” “Oh itu? Yang seringlah, Teh. Hehehe, ikh malu mengatakannya.” “Gak apa-apa. Katanya Dik Bara buat mencari pengetahuan.” “Iya juga sih.” “Sering? Maksudnya tiap berapa kali seminggu?” “Wah, gak mingguan, Teh. Harian, malah. Kalau mengikuti desakan bir*hi, ya bisa tiap beberapa jam.” “Wah, itu tandanya kamu itu normal. Malah mungkin tergolong abnormal.” “Abnormal? Gila, gitu?” Salwa sontak tertaw
Terkadang di saat sepi yang melanda, sering tidur sendirian, ia terkadang suka menghayal, berfantasi, betapa nikmatnya dalam sepi jika ada seorang pemuda perkasa yang mampu memuaskannya, dan bahkan membuahinya. Jika sudah berada dalam kondisi dan suasana batin seperti itu, membuat libido Salwa naik. Dan apabila ia sudah tidak mampu menahan gairahnya, ia akan melakukan aksi swalayan, mast**basi sembari membayangkan melakukan hubungan ranjang dengan seorang pemuda perkaca. Karena jika membayangkan main dengan suaminya, Wahid, tentu aksinya akan gagal, karena dalam permainan nyata pun Wahid lebih banyak gagal untuk mengantarkannya di puncak kenikmatan yang tertinggi. Pukul sebelas siang mereka berangkat menuju Cimahi. Jarak rumah dengan Kota Cimahi sekitar tiga belas kilometer dan akan butuh waktu sekitar empat puluh menit. Karena kondisi jalan yang saat itu cukup padat, kemungkinan mereka akan sampai dalam waktu satu jam. Yang bertindak sebagai driver adalah Bara, sementa
Bagi Pak Anwar, berseng**ma adalah memasukan batang kemal**nnya yang tegang ke dalam kemal**n istri dengan tujuan mengeluarkan air mani di dalam lorong rahim secepatnya, dan tidak perlu bertanya apakah istrinya puas atau tidak. Sehingga selama bertahun-tahun, Bunda Yasmin tidak lebih dari hanya sebuah boneka pemuas saja bagi sang suami, setidaknya dalam dua tahun terakhir. Dan Bunda Yasmin sebagai seorang perempuan, yang ternyata mempunyai hasrat besar dan cenderung hyper, hanya bisa berkhayal bisa bercumbu dengan lelaki muda perkasa yang bisa memberikan kenikmatan dan kepuasan maksimal. Ya, yang mampu menghempaskannya ke hamparan langit gelap yang penuh bintang gemintang. Karena itu, ketika pada akhirnya laki-laki perkasa itu benar-benar hadir, yaitu Bara, ia seolah-olah menemukan destinasi fantasinya selama ini. Bara itu seolah hadir dengan membawa telaga bening dan segar kepadanya yang sedang dalam kondisi sangat haus dan dahaga. Sebenarnya, dalam satu tahun
Malam itu juga, setelah satu jam Bara balik ke kamar kosnya, Tante Liana mengirimkan pesan WA, memberitahukan kepada Bara jika suaminya, Om Hendra, memuji hasil pijatannya. “Jadi Om merasa cocok dengan pijetan saya, Tan?” balas Bara. “Cocok sekali katanya. Bahkan Om menyuruh
Tante Liana sendiri jadi curiga dengan kondisinya. Karena kondisi seperti itu pernah ia alami ketika ia hamil muda kedua anaknya. Om Hendra, suaminya, yang melihat kondisi istrinya, dibuat kaget juga, dan bertanya apa yang terjadi, “Mama baik-baik saja?” “Entahlah, Pap. Aku kok seperti m
Bara menyebutkan nama kampusnya. Sebuah kampus ternama juga, baik di kota itu maupun di Indonesia. “Wah hebat, Nak Bara. Ambil fakultas apa? Maaf.” “Saya pertambangan, Bu.” “Wah mantap itu. Anak saya yang kerja di Turki itu dulu alumni situ juga, tapi dia di jurusan teknik informat
Akan tetap, pada saat itu, Bara tiba-tiba memeluk tubuh Tante Liana dan menindihnya sambil berusaha menyusupkan mata bajaknya pada celah sawahnya yang benar-benar telah basah dan berlumpur itu. Serta-merta saja Tante Liana menunggu sembari memejamkan kedua mata dan menggigir bibir bawahnya.







