Share

PART 02

Author: Kalang Langit
last update publish date: 2026-02-04 14:04:21

      Kamar kosnya itu berhadapan langsung dengan kamarnya Tante Liana dan Om Hendra. Kaca besar di dinding kamar itu tertutup oleh dua lapis tirai, yaitu tirai putih transparan lalu dilapisi dengan tirai gulung yang terbuat dari kain blackout warna biru.  Saat itu tirai gulung itu tampak belum dibuka.

  

Selanjutnya Bara  menikmati baksonya sembari menonton video tentang tema kuliah di sebuah kanal YouTube. Namun saat menikmati dua hal itu, ekor matanya melihat pergerakan di samping, yang membuatnya spontan menoleh. Ternyata Tante Liana yang sedang menggeser tirai gulungnya ke salah satu  jendela kacanya. Karena lampu kamar dalam kondisi menyala, maka ia bisa melihat wanita itu dengan cukup jelas di balik tirai putih trasparan itu. Wanita itu mengenakan handuk kimono biru muda. Sepertinya dia baru selesai mandi. Selanjutnya wanita itu duduk menghadap kaca rias besar, sehingga membelakanginya.

    

Bara menarik wajahnya dan kembali pada mangkok baksonya dan layar ponselnya. Ada panggilan masuk. Dari sebuah nomor yang belum ia daftarkan dalam daftar panggilan. Namun ia tetap mengangkatnya.

“Selamat sore. Maaf, ini dengan siapa?”

“Ini dengan Mas Bara, ya?” sahut orang seberang.

  

Bara langsung menegakkan wajahnya. Suara seorang wanita, sangat lembut. Namuan ia bisa sedikit mengidentifikasi, bahwa itu suara wanita usia di atas tiga puluhan tahun. Tapi kok malah balik bertanya?

“Iya benar, saya Bara, Kak,” sahut Bara, santai. “Maaf, ini dengan Kakak siapa dan mungkin ada yang bisa saya bantu?”

“Saya Sherly, tapi panggil saja Tante Sherly, karena saya sudah tua, Dik Bara. Iya, saya dapat cerita dari teman kalau Dik Bara tukang pijat, ya?”

Tuh, kan, sudah tante-tante, batin Bara, lalu mesem sendiri. “Oh benar sekali, Tante Sherly. Ya kerja nyambi sih, karena saya masih kuliah.”

“Iya, teman Tante juga ceritanya seperti itu.”

“Hm, lalu bagaimana, Tan. Tante mau mijet juga?”

“Iya, Dik Bara. Malam ini Dik Bara ada orderan juga?”

“Kebetulan tidak ada, Tan. Bagaimana?”

“Kalau begitu, bisa dong Dik Bara datang ke tempatnya Tante ntar malam?”

     “Bisa, Tan. Tante berikan saja alamatnya, lalu saya harus datang jam berapa?”

     “Baik, nanti saya kirim alamatnya. Dik Bara datang saja setelah jam delapan malam.”

     “Baik, Tante Sherly. Oh ya, maaf, yang mau mijet siapa? Tante Sherly atau suaminya Tante?”

      “Tante saja. Kayaknya adiknya Tante juga mau dipijet.”

      “Baik, Tan. Sampai nanti malam. Saya tunggu alamatnya.”

      “Baik, Dik Bara.”

  

Bara meletakkan ponselnya di atas meja belajar dan melanjutkan makan baksonya. Kembali ekor matanya tergoda oleh pergerakan di kamar di depan sana. Ternyata Tante Liana yang sedang membuka korden gulung kamarnya.

  

Namun ia dibuat sangat kaget. Karena saat itu wanita itu sedang mengenakan celdam lalu selanjutnya melepaskan handuk kimononya.

      Glegg!!

  

Bara nyaris menelan jakunnya sendiri. Bagaimana tidak, dengan santainya wanita itu membiarkan dirinya tampil seperti Tarzanita seperti itu. Wanita itu mengambil pakaian di lemari kayu besarnya. Saat wanita itu mengenakan pakaiannya, Bara langsung menarik wajahnya, dan menatap diam ke depan tanpa berkedip.

  

Ia segera menuangi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering dengan setengah gelas air putih. Perasaannya saat itu benar-benar tidak nyaman. Ia berusaha untuk tidak menoleh lagi.  

    “Tapi …,” batin Bara pula, “Tante Liana sepertinya memang sengaja pamer ke aku. Ngapain dia membuka tirai jendelanya segala, coba, kalau bukan tujuannya ingin pamer? Iya, aku sangat yakin kalau dia ….”

      Tok tok tok …!

      Ketukan di pintunya membuat Bara sedikit kaget. Ia melihat melalui kaca di sampingnya. Nampaknya Maya, anak yang kos di salah satu kamar barat. Ia memang cukup akrab dengan mahasiswi kedokteran gigi itu.

Ia pun segera bangkit dan melangkah ke arah pintu dan membukanya.

“Eh, dirimu, May? Yuk masuk, ada apa?” sambut Bara sambil tersenyum.

  

“Terima kasih, Bar.” Cewek yang memiliki wajah cukup cantik itu tersenyum dan masuk. “Bara lagi ngapa?”

  

“Gak ngapa-ngapain?”

  

“Oh kukira lagi colay, hihihi ….,” goda Maya. Gadis itu memang suka blak-blakan kalau  bercanda dengan Bara dan juga Ari. Tapi tidak dengan Hendri. Hendri itu katanya suka menatap dalam diam. Jadi terkesan kaku dan tidak ramah.

  

“Gak colay, kok, hanya makan bakso saja. Tuh masih ada sisanya di atas meja, aku tutup pakai buku,” jawab Bara dengan sikap cueknya. “Tapi pentolan besar-besar, hanya mampu habisin sebiji. Kamu mau?”

  

“Mau, tapi aku barusan makan. Kamu belinya bakso di mana?”

“Dikasih Bu Kos,” jawab Bara sembari memencet stop kontak di dinding untuk menghidupkan kipas angina di alngsit-langit kamar. “Katanya beliau pesan beberapa bungkus. Waktu lihat aku pulang kuliah trus beliau manggil trus ngasih.”

“Ikh, Bu Kos gak adil banget. Yang dikasih hanya anak kos cowok saja. Mana anak kos cowoknya ganteng lagi, hihihi,” seloroh Maya dengan raut wajah seperti merajuk.

  

“Risiko jadi orang ganteng memang seperti kayaknya, ya? Ckckckck,” balas Bara. “Eh iya, kamu kelihatan seksi sekali sekarang. Gak takut diperkaos, gitu?”

      “Kalo Bara yang perkaos, gak takut aku,” balas Maya berseloroh, lalu tertawa kecil.

“Ikh, untung aku baru selesai makan. Kalau kagak, kuperkaos benaran kau, May.”

“Memangnya kalau habis makan gak boleh perkaos?”

“Kata kakek aku, gak boleh gituan saat kenyang. Gak baik katanya.”

Kalimat Bara itu membuat keduanya jadi tertawa.

“Tapi lain waktu, kayaknya aku akan melakukannya, May,” goda Bara lagi, kemudian, namun dengan raut wajah serius.

“Boleh, aku tunggu,” Maya balas, menantang. “Oh ya, Bar, pinjam dulu laptopnya, dong. Laptopku hang. Mana aku sedang menyusun laporan penting. Besok mau kubawa ke tempat servis.”

“Ini dipakai saja dulu. Kebetulan aku belum pakai dalam satu dua minggu ini.”

“Benar, ya? Mas gak buat buka-buka buat nonton, misalnya?”

“Nonton apa?”

“Ya mungkin film bo-kep, hihihi. Kamu pasti suka nonton film gituan, kan?"

“Gak munafik aku, May.  Suka juga, tapi jarang aku nonton yang gituan di laptop. Enakan nonton pake hape. Bisa hanya dipegang pakai tangan kiri,” balas Bara, memancing. Mereka pernah juga chat, dan Maya mengaku jika dirinya sudah tidak virgin lagi, dan juga mengakui bahwa ia sering melakukannyan dengan mantannya dulu, termasuk dengan cowoknya yang sekarang.

“Kalau tangan kiri megang hape, trus tangan kanan ngapain, Bar? Hihihihi.”

  

“Buat colay-lah. Cckckck."

  

Maya  ikut tertawa. Namun ia buru-buru pamit.

“Sudah, ah, balik dulu. Keterusan malah pengen lagi,” celetuknya lalu tertawa kecil. “Aku bawa dulu laptopnya, ya?”

  

“Ok. Oh ya, kapan-kapan kita makan bakso di luar, ya? Tapi usahakan cowokmu gak tahu, maksud aku."

      "Boleh, Bar. Gampanglah diatur itu."

      "Siplah."

***  

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 32

    “Belum, Teh. Tentunya Teteh bisa menilainya?” “Ya kalau menurut penilaian Teteh, Dik Bara itu seperti pemuda yang sudah berpengalaman,” jawab Salwa dengan wajah serius dan suara kecil namun jelas terdengar. “Tetapi memang, semburan laharmu sangat kuat. Teteh belum pernah merasakan persitiwa seperti itu sebelumnya. Bahkan dari suami Teteh ketika pertama kali kami melakukannya. Maka Teteh pun berpikir, bahwa Dik Bara adalah seorang perjaka. Tetapi di satu sisi, Teteh juga berpikir dan merasa heran ….” “Heran kenapa, Teh?” “Ya heran, di satu sisi permainan kamu seperti orang yang sudah sangat berpengalaman. Teteh pun sempat berpikir jika Dik Bara sudah biasa melakukannya.” “Oh itu? Ya kan akan otomatis saja, Teh, hukum alam. Sebagian besar juga karena aku sudah pernah melihat di film-film dewasa. Jadi aku tahu. Tapi semua adegan yang aku lihat, satu pelajaran yang aku dapat, yaitu model permainannya ya gitu-gitu saja. Yang berbeda adalah gaya permainannya, ada yang

  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 31

    Salwa terdiam, namun akhirnya mengangguk pelan. Ia yakin, jika penginapan itu sejenis losmen atau hotel melati seperti yang sering ia dengar dari teman-temannya jika sedang berkumpul. Tempat di mana kadang bisa dipakai untuk mencapai kebahagiaan bersama pasangan gelap. “Dik Bara mau melakukan apa di sini?” tanya Salwa dengan suara sedikit mendesah. Sebenarnya itu hanya sebuah pertanyaan pura-pura saja. Sejatinya, saat itu perasaannya sedang degdegan dan panas dingin karena ia sudah sangat ingin digumuli oleh anak kuliahan itu. Bara tidak menjawab pertanyaan itu, namun tangannya langsung menyeberang melewati pinggul Salwa untuk meraih setelan jok tempat duduknya. Jok itu langsung bergerak ke bawah dan Salwa tergolek di atasnya. Lalu, yang dirasakan oleh Salwa selanjutnya adalah bibir Bara yang sudah melumat bibirnya. “Uh uh uuukh ….” Tindakan Bara yang tiba-tiba dengan hawa yang langsung panas itu, membuat Salwa tergagap sesaat. Namun kemudia

  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 30

    Ketika tangan Bara berada di bagian gundukan termahalnya, Salwa langsung menatap sayu ke wajahnya Bara. “Dik Baraa …,” desisnya. Namun tiba-tiba sebuah sepeda motor yang datang dari arah belakang langsung mendahulu dengan cara memotong jalan, membuat Bara sedikit kaget. Otomatis tangannya yang sedang berada pada bagian gundukan Salwa ditarik, meraih presneling dan melepas injakan gas. Mobil pun seperti terangguk, membuat tubuh Salwa sampai terdiring ke depan. Pasca kejadian itu, tangan Bara tidak lagi berada di atas paha Salwa, dan ia konsentrasi pada pada kemudi dan jalan di depannya yang saat itu makin terlihat macet, Bara menjadi lebih sering memindah presneling, mengerem, menginjak gas, dan mengatur kemudi. Saat itu Salwa menyandarkan tubuhnya ke jok. Ia menjadi tidak banyak bersuara. Padahal saat itu ia ingin Bara meletakkan kembali tangannya di pahanya dan di bagian yang ia banggakan, lalu meremasinya. Dan, seumpama tangan pemuda di sampingnya

  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 29

    Bara manggut-manggut, antara memikirkan sesuatu atau memikirkan jalan yang akan dilaluinya di depannya. “Maaf, kalau maninya Dik Bara encer atau kental?” Pertanyaan itu sontak membuat Bara menoleh. Lalu dengan ragu-ragu ia menjawab, “Kalau soal itu saya kurang paham, Teh. Maksud saya, yang jenis mani encer dengan mani normal itu seperti apa?” “Maaf, Dik Bara pernah melakukan ….” Salwa mengerakkan kepalan tangan kananya ke atas ke bawah, sebagai kode on*ni. Namun Bara masih berpura-pura bloon dan bertanya, “Apa itu, Teh.” “On*ni.” “Oh itu? Yang seringlah, Teh. Hehehe, ikh malu mengatakannya.” “Gak apa-apa. Katanya Dik Bara buat mencari pengetahuan.” “Iya juga sih.” “Sering? Maksudnya tiap berapa kali seminggu?” “Wah, gak mingguan, Teh. Harian, malah. Kalau mengikuti desakan bir*hi, ya bisa tiap beberapa jam.” “Wah, itu tandanya kamu itu normal. Malah mungkin tergolong abnormal.” “Abnormal? Gila, gitu?” Salwa sontak tertaw

  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 28

    Terkadang di saat sepi yang melanda, sering tidur sendirian, ia terkadang suka menghayal, berfantasi, betapa nikmatnya dalam sepi jika ada seorang pemuda perkasa yang mampu memuaskannya, dan bahkan membuahinya. Jika sudah berada dalam kondisi dan suasana batin seperti itu, membuat libido Salwa naik. Dan apabila ia sudah tidak mampu menahan gairahnya, ia akan melakukan aksi swalayan, mast**basi sembari membayangkan melakukan hubungan ranjang dengan seorang pemuda perkaca. Karena jika membayangkan main dengan suaminya, Wahid, tentu aksinya akan gagal, karena dalam permainan nyata pun Wahid lebih banyak gagal untuk mengantarkannya di puncak kenikmatan yang tertinggi. Pukul sebelas siang mereka berangkat menuju Cimahi. Jarak rumah dengan Kota Cimahi sekitar tiga belas kilometer dan akan butuh waktu sekitar empat puluh menit. Karena kondisi jalan yang saat itu cukup padat, kemungkinan mereka akan sampai dalam waktu satu jam. Yang bertindak sebagai driver adalah Bara, sementa

  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 27

    Bagi Pak Anwar, berseng**ma adalah memasukan batang kemal**nnya yang tegang ke dalam kemal**n istri dengan tujuan mengeluarkan air mani di dalam lorong rahim secepatnya, dan tidak perlu bertanya apakah istrinya puas atau tidak. Sehingga selama bertahun-tahun, Bunda Yasmin tidak lebih dari hanya sebuah boneka pemuas saja bagi sang suami, setidaknya dalam dua tahun terakhir. Dan Bunda Yasmin sebagai seorang perempuan, yang ternyata mempunyai hasrat besar dan cenderung hyper, hanya bisa berkhayal bisa bercumbu dengan lelaki muda perkasa yang bisa memberikan kenikmatan dan kepuasan maksimal. Ya, yang mampu menghempaskannya ke hamparan langit gelap yang penuh bintang gemintang. Karena itu, ketika pada akhirnya laki-laki perkasa itu benar-benar hadir, yaitu Bara, ia seolah-olah menemukan destinasi fantasinya selama ini. Bara itu seolah hadir dengan membawa telaga bening dan segar kepadanya yang sedang dalam kondisi sangat haus dan dahaga. Sebenarnya, dalam satu tahun

  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 16

    Setelah Om Hendra mandi dan berpakaian, Tante Liana belum dulu dipijat oleh Bara, agar ia bisa mengantar suaminya itu pergi hingga di ruangan depan, seperti biasa. Om Hendra resmi keluar dari rumahnya sekitar dua puluh menit kemudian. Setelah mobil suaminya pergi, Tante Liana mengunci pi

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 19

    Bara menyebutkan nama kampusnya. Sebuah kampus ternama juga, baik di kota itu maupun di Indonesia. “Wah hebat, Nak Bara. Ambil fakultas apa? Maaf.” “Saya pertambangan, Bu.” “Wah mantap itu. Anak saya yang kerja di Turki itu dulu alumni situ juga, tapi dia di jurusan teknik informat

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 18

    Tante Liana sendiri jadi curiga dengan kondisinya. Karena kondisi seperti itu pernah ia alami ketika ia hamil muda kedua anaknya. Om Hendra, suaminya, yang melihat kondisi istrinya, dibuat kaget juga, dan bertanya apa yang terjadi, “Mama baik-baik saja?” “Entahlah, Pap. Aku kok seperti m

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 13

    Akan tetap, pada saat itu, Bara tiba-tiba memeluk tubuh Tante Liana dan menindihnya sambil berusaha menyusupkan mata bajaknya pada celah sawahnya yang benar-benar telah basah dan berlumpur itu. Serta-merta saja Tante Liana menunggu sembari memejamkan kedua mata dan menggigir bibir bawahnya.

    last updateLast Updated : 2026-03-20
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status