LOGINPukul 06.45 pagi.
Siska memarkirkan mobilnya di basement gedung Iron & Orchid. Tangannya basah oleh keringat dingin. Dia sengaja datang lima belas menit lebih awal karena takut terlambat. Ancaman Arga tentang mengirim video ke kantor Hendri terus berputar di kepalanya seperti sirene bahaya. Siska mengenakan setelan olahraga terburuk yang dia punya: kaos oblong kedodoran bekas fun run lima tahun lalu dan celana training gombrong. Dia sengaja memakai ini. Dia tidak mau Arga melihat bentuk tubuhnya. Dia ingin pria itu jijik, bosan, lalu melepaskannya. Dengan langkah ragu, Siska naik ke lantai lobi. Resepsionis yang kemarin menyapanya dengan ramah sudah menunggu. "Selamat pagi, Ibu Siska. Silahkan langsung masuk. Coach Arga berpesan Ibu bisa menggunakan ruang ganti VIP nomor 1. Itu akses khusus untuk Ibu." "VIP?" tanya Siska bingung. "Saya tidak pesan VIP." "Itu fasilitas complimentary dari owner, Bu. Silahkan," resepsionis itu menyerahkan kartu akses berwarna hitam. Siska menerimanya dengan perasaan tidak enak. VIP. Fasilitas khusus. Ini bukan pertanda baik. Ini artinya dia ingin mengisolasinya dari member lain. Siska berjalan menyusuri lorong panjang yang sepi. Tempat ini memang sangat eksklusif. Tidak terlihat keramaian seperti gym biasa. Dia menempelkan kartu akses di pintu bernomor 1. Bip. Pintu terbuka. Mata Siska terbelalak. Ini bukan ruang ganti. Ini lebih mirip kamar hotel bintang lima. Ruangannya luas, dengan sofa kulit, meja rias besar dengan lampu LED, kamar mandi pribadi dengan bathtub, dan deretan lemari kayu yang elegan. Wangi sandalwood memenuhi udara. Siska masuk dan menutup pintu lalu menguncinya rapat-rapat. Setidaknya disini dia aman. Tidak ada CCTV di ruang ganti, kan? Siska meletakkan tasnya di sofa lalu menatap cermin besar di hadapannya. Wanita di cermin itu terlihat konyol dengan kaos kedodoran. "Oke, Siska. Lakukan saja. Lari di treadmill satu jam, angkat beban ringan, lalu pulang. Jangan cari masalah sama Arga," gumamnya menyemangati diri sendiri. Siska mulai membuka jaket yang dipakainya, menyisakan kaos oblong tipis di dalamnya. Saat dia sedang membungkuk untuk mengikat tali sepatu, tiba-tiba terdengar suara bip dari pintu. Siska tersentak kaget. Bukankah sudah dikunci? Pintu terbuka lebar. Sosok tinggi tegap Arga berdiri di sana. Pria itu mengenakan pakaian olahraga full black yang mencetak otot-otot tubuhnya dengan sempurna. Wajahnya datar, namun matanya langsung menyapu seluruh ruangan dan berhenti tepat di tubuh Siska. "K... kamu?!" pekik Siska histeris. Dia refleks menyilangkan tangan di dada. "Keluar! Ini ruang ganti wanita! Aku sedang ganti baju!" Arga tidak mundur. Dia justru melangkah masuk dengan santai lalu menutup pintu di belakangnya. Bunyi kunci otomatis yang terkunci kembali terdengar sangat nyaring di telinga Siska. "Ini gym saya, Siska. Saya punya kunci akses ke semua ruangan," jawabnya tenang, seolah menerobos masuk ke ruang ganti wanita adalah hal paling wajar di dunia. "Tapi ini tidak sopan! Keluar atau aku teriak!" ancam Siska. Dia mundur perlahan hingga punggungnya menabrak lemari kayu. "Teriak saja," tantang Arga sambil berjalan mendekat. Langkahnya pelan, terukur, seperti harimau yang menyudutkan rusa. "Ruangan ini kedap suara. Mau kamu menjerit sampai pita suaramu putus pun, tidak ada yang dengar." Kaki Siska lemas. Dia terperangkap. Arga berhenti tepat dua langkah di depan Siska. Dia menatap wanita itu dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan menilai yang membuat Siska merasa telanjang. Kening pria itu berkerut saat melihat pakaian Siska. "Baju apa ini?" tanyanya dengan nada menghina. Tangannya terulur menarik ujung kaos oblong Siska yang kedodoran. "Kamu mau olahraga atau mau jualan karung beras di pasar?" "Ini baju olahraga yang nyaman buatku!" bela Siska sambil menepis tangan pria itu. "Aku nggak mau pakai baju ketat. Mas Hendri melarangku pamer tubuh." "Mas Hendri, Mas Hendri, Mas Hendri," Arga memutar bola matanya, terlihat muak. "Di sini aturan suamimu tidak berlaku. Di sini aturan saya yang berlaku. Dan aturan nomor satu: saya harus bisa melihat postur tubuhmu untuk mengoreksi gerakan. Bagaimana saya bisa tahu punggungmu lurus atau tidak kalau kamu pakai tenda begini?" "Aku nggak peduli! Aku nggak mau ganti!" Arga maju satu langkah lagi, mengikis jarak di antara mereka hingga Siska bisa merasakan hawa panas tubuh pria itu. Arga mencondongkan wajahnya menatap lurus ke mata Siska. "Siska," panggilnya lembut tapi penuh penekanan. "Kamu lupa kontrak kita? Ketaatan mutlak. Kalau kamu membantah hal sekecil baju, bagaimana saya bisa yakin kamu akan patuh pada program latihan yang lebih berat?" "Tapi aku malu, Ga... badanku jelek..." cicit Siska, suaranya melemah. Inilah kejujurannya. Siska bukan hanya takut pamer aurat, dia takut Arga melihat gelambir perutnya, stretch mark di pinggangnya, dan luka bakar di betisnya. Dia takut pria itu jijik. Ekspresi Arga melembut sejenak tapi kemudian kembali tegas. Dia berjalan menuju salah satu lemari lalu membukanya. Di dalamnya tergantung sederet pakaian olahraga branded yang masih baru, lengkap dengan tag harga yang belum dilepas. Dia mengambil satu stel: sports bra hitam dan legging panjang ketat berwarna senada. "Pakai ini," perintahnya sambil melempar baju itu ke arah Siska. Siska menangkapnya dengan bingung. "Ini... terlalu terbuka. Perutku kelihatan." "Pakai. Sekarang. Atau saya yang pakaikan," ancam Arga. Matanya turun ke tangan Siska. "Saya tidak main-main, Siska. Waktumu tinggal lima menit sebelum pemanasan dimulai." Siska menelan ludah. Dia tahu Arga tidak membual. Pria ini gila. "Berbalik," pinta Siska dengan suara serak. "Jangan lihat." Arga mendengus tapi dia menurut. Dia membalikkan badan menghadap ke pintu, tapi dia tidak keluar. Dia berdiri di sana seperti penjaga penjara menyilangkan tangan di dada yang bidang itu. Dengan tangan gemetar dan air mata yang menggenang, Siska melepas kaos oblongnya. Udara dingin AC menyentuh kulitnya. Dia merasa sangat terekspos. Cepat-cepat dia memakai sports bra itu. Rasanya ketat, menekan payudaranya, tapi bahannya sangat nyaman. Lalu dia memakai legging-nya. Pakaian ini memeluk tubuhnya seperti kulit kedua. Siska melihat ke cermin sekilas. Lemak di perutnya terlihat sedikit menyembul di atas karet celana. Dia buru-buru menutupinya dengan tangan. Jelek. Dia terlihat jelek. "Sudah," ucap Siska lirih. Arga berbalik. Matanya langsung menyapu tubuh Siska. Wanita itu menunduk, siap mendengar hinaan. Siap mendengar Arga tertawa atau bilang dia seperti lepat. Tapi hening. Tidak ada suara tawa. Siska memberanikan diri mendongak. Arga sedang menatapnya, tapi tatapannya aneh. Tidak ada jijik di sana. Matanya gelap, pupilnya membesar. Dia menatap Siska seolah wanita itu adalah lukisan abstrak yang sedang dia coba pahami maknanya. Arga berjalan mendekat, kali ini tanpa suara. Dia berdiri tepat di depan Siska, lalu perlahan tangannya terulur menyentuh pinggang Siska yang terbuka. Siska tersentak kaget, menahan napas. Kulit Arga yang kasar bersentuhan dengan kulit perutnya yang sensitif. "Ga... jangan..." "Siapa bilang kamu jelek?" bisik Arga serak. Ibu jarinya mengusap pelan kulit perut Siska, tepat di bagian yang menurut Siska berlemak. "Tubuh ini... tubuh yang sudah melahirkan nyawa. Tubuh yang bertahan hidup." Jantung Siska berdegup kencang. Bukan karena takut, tapi karena sensasi aneh yang menjalar dari sentuhan itu. Sudah berapa lama dia tidak disentuh dengan apresiasi seperti ini? Hendri selalu memegang perutnya dengan cubitan mengejek. Tapi Arga... sentuhannya seperti memuja. "Jangan bohong..." bantah Siska lemah. "Saya tidak pernah bohong soal kualitas," Arga menatap mata Siska lekat-lekat. Tangannya beralih memegang dagu Siska lalu mendongakkan wajahnya. "Mulai hari ini, buang semua baju karungmu. Kamu akan berlatih memakai ini. Saya ingin melihat setiap inci perkembangan ototmu. Saya ingin melihat kamu berubah dari korban menjadi pemenang." Siska terhipnotis oleh suaranya. Ada keyakinan yang begitu kuat di sana, keyakinan yang menular. Drrt. Drrt. Suara getar ponsel Siska di atas meja rias memecah momen magis itu. Siska dan Arga sama-sama menoleh. Layar ponsel menyala, menampilkan nama yang membuat darah Siska kembali dingin. Mas Hendri Calling... Kepanikan langsung menyergap Siska. "Mas Hendri menelepon! Ga, gimana ini? Kalau aku nggak angkat dia curiga, tapi kalau aku angkat..." Arga menatap ponsel itu lalu menatap Siska. Senyum miringnya kembali muncul. Dia mengambil ponsel itu lalu menyodorkannya pada Siska. "Angkat," perintahnya. "Tapi... suaraku pasti gemetar... dia pasti tahu..." "Angkat, Siska. Katakan kamu sedang pemanasan. Buat dia percaya." Dengan tangan gemetar, Siska menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinga. Arga tidak menjauh. Dia justru melangkah lebih dekat, menghimpit Siska ke meja rias hingga pinggul wanita itu menabrak pinggiran meja. "Ha... halo, Mas?" sapa Siska terbata. "Kamu di mana? Sudah sampai tempat gym?" suara Hendri terdengar curiga dan tajam dari seberang. "Su... sudah, Mas. Ini baru mau mulai pemanasan," jawab Siska. Matanya melotot melihat Arga yang kini meletakkan kedua tangannya di sisi tubuh Siska, mengurungnya di antara badannya dan meja. "Oh. Ingat pesan saya, jangan genit-genit. Latihan yang benar. Nanti saya minta bukti foto kalau kamu beneran latihan." "I... iya, Mas. Nanti aku kirim," jawab Siska gugup. Napas Arga menerpa lehernya. Apa yang dia lakukan? Arga mencondongkan wajahnya ke telinga Siska yang tidak tertempel ponsel. Bibirnya menyentuh daun telinga wanita itu, memberikan sensasi geli dan panas yang membuat Siska merinding hebat. "Kamu dengar itu, Siska?" bisik Arga tepat di telinganya. Suaranya sangat pelan sehingga Hendri tidak bisa mendengarnya, tapi getarannya merambat ke seluruh saraf Siska. "Suamimu minta bukti kamu latihan. Mari kita buat buktinya sekarang. Katakan padanya kamu sedang 'dipegang' oleh pelatih terbaik." "Siska? Halo? Kok diam?!" bentak Hendri di telepon. Siska memejamkan mata. Dia terjepit di antara suara suami yang membentak di telinga kanan dan bisikan iblis yang menggoda di telinga kiri. Arga mulai menurunkan wajahnya, mencium lembut perpotongan leher dan bahu Siska, meninggalkan jejak panas di sana sementara Siska masih tersambung dengan suaminya. "A... aku... aku lagi peregangan, Mas..." jawab Siska dengan suara tercekik, menahan desahan yang nyaris lolos. "Bagus. Jangan malas," Hendri menutup telepon begitu saja. Klik. Sambungan terputus. Ponsel terlepas dari tangan Siska lalu jatuh ke meja. Tapi Arga tidak berhenti. Dia justru semakin menekan tubuhnya pada Siska, bibirnya masih bermain di leher wanita itu. "Ga... sudah... teleponnya sudah mati..." rintih Siska. Dia mencoba mendorong dada Arga, tapi tenaganya hilang entah ke mana. Arga mengangkat wajahnya, menatap Siska dengan mata yang menggelap penuh gairah dan dominasi. "Teleponnya memang sudah mati, Siska," ucapnya serak. Tangannya turun mencengkram pinggang Siska posesif. "Tapi sesi latihan kita... baru saja dimulai. Dan saya pastikan, kamu akan berteriak lebih keras daripada saat di telepon tadi.”Setelah makan malam selesai, mereka berjalan perlahan menyusuri bibir pantai. Air laut yang dingin sesekali menyentuh kaki mereka. Arga tiba-tiba berhenti dan menarik Siska ke dalam pelukannya. "Siska, aku punya satu hadiah lagi untukmu," ucap Arga. "Hadiah apa lagi, Mas? Tadi kan sudah makan malam yang luar biasa," tanya Siska heran. Arga mengeluarkan sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk sayap burung phoenix yang kecil namun sangat detail. Dia memasangkannya di leher Siska. "Burung phoenix ini melambangkan kamu. Kamu yang sudah bangkit dari abu kehancuran di masa lalu, dan kini terbang tinggi bersamaku. Jangan pernah merasa rendah diri, ya?" bisik Arga di telinga Siska. Siska menyentuh liontin itu dengan jari yang gemetar. Air mata kebahagiaan tidak bisa lagi ia bendung. "Aku mencintaimu, Mas Arga. Sangat mencintaimu." "Aku lebih mencintaimu, Siska," jawab Arga sebelum mendaratkan ciuman yang sangat dalam di bibir Siska di bawah siraman cahaya bulan Bali yang pera
Pagi itu, rumah terasa sedikit lebih sibuk dari biasanya. Siska baru saja selesai menyiapkan sarapan saat Arga turun dari lantai atas dengan setelan kemeja santai berwarna biru muda. Wajahnya tampak sangat segar, dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Hari ini adalah hari istimewa, ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga sejak janji suci itu diucapkan kembali di rumah baru mereka. "Selamat ulang tahun pernikahan, istriku yang hebat," bisik Arga sambil memeluk Siska dari belakang saat wanita itu sedang meletakkan piring di meja. Siska menoleh dan tersenyum manis. "Selamat ulang tahun pernikahan juga, Mas Arga. Terima kasih sudah bersabar menghadapi aku selama tiga tahun ini." "Bersabar? Aku rasa aku tidak perlu bersabar untuk mencintai wanita sepertimu, Siska. Itu adalah hal termudah yang pernah aku lakukan dalam hidupku," Arga mengecup pipi Siska dengan lembut. Grace turun dengan wajah ceria, dia sudah siap dengan pakaian santainya. "Selamat ulang tahun pernika
Beberapa minggu setelah pemakaman Hendri, kehidupan Siska dan Arga berjalan dengan kedamaian yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Namun, di balik senyum yang selalu Siska tunjukkan di depan yayasan dan keluarganya, ada sebuah keresahan kecil yang mulai tumbuh di lubuk hatinya. Sebuah keresahan yang bersifat sangat pribadi, yang berkaitan dengan jati dirinya sebagai seorang istri. Pagi itu, Siska duduk di tepi ranjang sambil menatap kalender kecil di ponselnya. Wajahnya tampak tegang, jemarinya sedikit bergetar saat menghitung hari. "Sudah telat dua minggu," gumam Siska lirih. Ada secercah harapan yang tiba-tiba membuncah di dadanya. Harapan yang mungkin terdengar mustahil mengingat usianya, namun tetap saja membuat jantungnya berdebar kencang. Apakah mungkin Tuhan memberikannya keajaiban? Apakah mungkin di dalam rahimnya kini sedang tumbuh buah cintanya dengan Arga? "Mama, kenapa belum turun? Papi sudah menunggu di bawah untuk sarapan," suara Grace terdengar dari balik
Siska masih merasakan kehangatan kecupan Arga di keningnya. Kata-kata suaminya tentang menjenguk Hendri masih terngiang jelas. Tawaran itu adalah sebuah bukti betapa luasnya hati Arga. Pria itu tidak hanya mencintai Siska, tetapi juga menghormati setiap kepingan masa lalu yang membentuk Siska menjadi wanita seperti sekarang. "Mas benar-benar tidak keberatan kalau kita ke sana?" tanya Siska meyakinkan sekali lagi. Tangannya masih memegang serbet yang tadi ia gunakan untuk merapikan meja. Arga tersenyum lembut, lalu menarik sebuah kursi dan duduk kembali di depan Siska. "Kenapa aku harus keberatan, Sayang? Siska, dengarkan aku. Rasa cemburu itu lahir dari rasa tidak percaya diri. Aku sangat percaya diri bahwa kamulah milikku sekarang. Menjenguk Hendri bukan berarti kita kembali ke masa lalu, tapi itu adalah cara kita menutup buku lama dengan cara yang elegan." Siska menghela napas panjang, merasa bebannya terangkat. "Terima kasih, Mas. Aku sempat takut kamu akan merasa tidak nyama
Matahari pagi menyinari halaman luas sebuah rumah tapak bergaya modern minimalis yang asri. Rumput hijau yang terpotong rapi menjadi tempat favorit bagi beberapa ekor kelinci peliharaan yang sedang asyik bermain. Tiga tahun telah berlalu sejak malam yang sakral itu, dan hidup Siska Amalia telah berubah total, jauh melampaui imajinasi terliarnya sekalipun. Siska berdiri di teras rumah, menyesap teh melati hangatnya sambil menatap papan nama kayu kecil yang tergantung di paviliun samping rumahnya. Di sana tertulis: "Phoenix House - Yayasan Pemberdayaan Wanita". "Mama, sedang melamunkan apa?" suara yang kini terdengar jauh lebih dewasa menyapa pendengarannya. Siska menoleh dan tersenyum melihat Grace. Putrinya itu kini sudah lulus kuliah dan tampil sangat profesional dengan setelan kemeja kerja. Grace tidak lagi terlihat seperti gadis kecil yang ketakutan, melainkan wanita muda yang penuh percaya diri. "Mama hanya tidak menyangka, Grace. Phoenix House sudah membantu lebih dari se
Malam semakin larut saat mobil Arga memasuki pelataran sebuah rumah baru yang lebih tenang dan asri. Arga sengaja tidak membawa Siska kembali ke rumah besar keluarganya atau ke tempat lama yang penuh kenangan pahit. Dia ingin mereka memulai semuanya dari titik nol, di sebuah hunian yang dia cicil sendiri dengan kerja kerasnya. Arga menuntun Siska masuk ke dalam kamar utama. Ruangan itu tidak terlalu luas, namun terasa sangat hangat dengan cahaya lampu tidur berwarna kekuningan. Kelopak bunga mawar putih tersebar di atas ranjang, memberikan aroma yang sangat menenangkan. "Selamat datang di rumah kita yang sebenarnya, Siska," bisik Arga sambil menutup pintu kamar perlahan. Siska berdiri di tengah ruangan, matanya berkaca-kaca menatap sekeliling. "Rumah kita. Kata-kata itu terdengar sangat indah di telingaku, Mas." Arga berjalan mendekat, dia berdiri tepat di belakang Siska dan melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu. Dia menyandarkan dagunya di bahu Siska, menatap pantulan
"Buka matamu, Siska. Jangan biarkan suamimu menang dalam keheningan ini." Suara bariton Arga merayap pelan di antara kesadaran Siska yang masih berkabut. Perlahan, kelopak mata Siska yang terasa seberat timah terbuka. Cahaya sore yang jingga menyeruak masuk melalui celah gorden kamar utama, menera
"Siska! Jawab aku atau aku akan merobohkan pintu ini sekarang juga!" Suara bariton Arga berdentum keras, memantul di dinding-dinding lobi depan rumah mewah keluarga Wijaya. Di dalam kegelapan kesadarannya, Siska mendengar suara itu seperti guntur di kejauhan. Ia ingin menggerakkan jarinya, ingin m
"Tentu saja boleh, Nyonya Siska. Tapi besok jangan harap kamu bisa pulang dengan tubuh yang tidak memar-memar karena hukuman atas kebohonganmu selama tiga hari ini." Kalimat ancaman dari Arga itu terus berputar-putar di benak Siska saat ia mencoba membuka matanya di pagi buta. Siska ingin segera b
"Siska, apakah kamu sudah siap jika suatu saat nanti aku benar-benar mengambilmu dari rumah itu dan membuat Hendri berlutut memohon ampun di depan kaki kita berdua?" Pertanyaan Arga itu terus menggema di dalam kepala Siska layaknya kutukan yang tidak kunjung hilang. Sepanjang perjalanan pulang hin







