Teilen

Bab 5

last update Zuletzt aktualisiert: 17.02.2026 19:49:07

Pukul 06.45 pagi.

Siska memarkirkan mobilnya di basement gedung Iron & Orchid. Tangannya basah oleh keringat dingin. Dia sengaja datang lima belas menit lebih awal karena takut terlambat. Ancaman Arga tentang mengirim video ke kantor Hendri terus berputar di kepalanya seperti sirene bahaya.

Siska mengenakan setelan olahraga terburuk yang dia punya: kaos oblong kedodoran bekas fun run lima tahun lalu dan celana training gombrong. Dia sengaja memakai ini. Dia tidak mau Arga melihat bentuk tubuhnya. Dia ingin pria itu jijik, bosan, lalu melepaskannya.

Dengan langkah ragu, Siska naik ke lantai lobi. Resepsionis yang kemarin menyapanya dengan ramah sudah menunggu.

"Selamat pagi, Ibu Siska. Silahkan langsung masuk. Coach Arga berpesan Ibu bisa menggunakan ruang ganti VIP nomor 1. Itu akses khusus untuk Ibu."

"VIP?" tanya Siska bingung. "Saya tidak pesan VIP."

"Itu fasilitas complimentary dari owner, Bu. Silahkan," resepsionis itu menyerahkan kartu akses berwarna hitam.

Siska menerimanya dengan perasaan tidak enak. VIP. Fasilitas khusus. Ini bukan pertanda baik. Ini artinya dia ingin mengisolasinya dari member lain.

Siska berjalan menyusuri lorong panjang yang sepi. Tempat ini memang sangat eksklusif. Tidak terlihat keramaian seperti gym biasa. Dia menempelkan kartu akses di pintu bernomor 1.

Bip.

Pintu terbuka.

Mata Siska terbelalak. Ini bukan ruang ganti. Ini lebih mirip kamar hotel bintang lima. Ruangannya luas, dengan sofa kulit, meja rias besar dengan lampu LED, kamar mandi pribadi dengan bathtub, dan deretan lemari kayu yang elegan. Wangi sandalwood memenuhi udara.

Siska masuk dan menutup pintu lalu menguncinya rapat-rapat. Setidaknya disini dia aman. Tidak ada CCTV di ruang ganti, kan?

Siska meletakkan tasnya di sofa lalu menatap cermin besar di hadapannya. Wanita di cermin itu terlihat konyol dengan kaos kedodoran.

"Oke, Siska. Lakukan saja. Lari di treadmill satu jam, angkat beban ringan, lalu pulang. Jangan cari masalah sama Arga," gumamnya menyemangati diri sendiri.

Siska mulai membuka jaket yang dipakainya, menyisakan kaos oblong tipis di dalamnya. Saat dia sedang membungkuk untuk mengikat tali sepatu, tiba-tiba terdengar suara bip dari pintu.

Siska tersentak kaget. Bukankah sudah dikunci?

Pintu terbuka lebar.

Sosok tinggi tegap Arga berdiri di sana. Pria itu mengenakan pakaian olahraga full black yang mencetak otot-otot tubuhnya dengan sempurna. Wajahnya datar, namun matanya langsung menyapu seluruh ruangan dan berhenti tepat di tubuh Siska.

"K... kamu?!" pekik Siska histeris. Dia refleks menyilangkan tangan di dada. "Keluar! Ini ruang ganti wanita! Aku sedang ganti baju!"

Arga tidak mundur. Dia justru melangkah masuk dengan santai lalu menutup pintu di belakangnya. Bunyi kunci otomatis yang terkunci kembali terdengar sangat nyaring di telinga Siska.

"Ini gym saya, Siska. Saya punya kunci akses ke semua ruangan," jawabnya tenang, seolah menerobos masuk ke ruang ganti wanita adalah hal paling wajar di dunia.

"Tapi ini tidak sopan! Keluar atau aku teriak!" ancam Siska. Dia mundur perlahan hingga punggungnya menabrak lemari kayu.

"Teriak saja," tantang Arga sambil berjalan mendekat. Langkahnya pelan, terukur, seperti harimau yang menyudutkan rusa.

"Ruangan ini kedap suara. Mau kamu menjerit sampai pita suaramu putus pun, tidak ada yang dengar."

Kaki Siska lemas. Dia terperangkap.

Arga berhenti tepat dua langkah di depan Siska. Dia menatap wanita itu dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan menilai yang membuat Siska merasa telanjang. Kening pria itu berkerut saat melihat pakaian Siska.

"Baju apa ini?" tanyanya dengan nada menghina. Tangannya terulur menarik ujung kaos oblong Siska yang kedodoran. "Kamu mau olahraga atau mau jualan karung beras di pasar?"

"Ini baju olahraga yang nyaman buatku!" bela Siska sambil menepis tangan pria itu. "Aku nggak mau pakai baju ketat. Mas Hendri melarangku pamer tubuh."

"Mas Hendri, Mas Hendri, Mas Hendri," Arga memutar bola matanya, terlihat muak. "Di sini aturan suamimu tidak berlaku. Di sini aturan saya yang berlaku. Dan aturan nomor satu: saya harus bisa melihat postur tubuhmu untuk mengoreksi gerakan. Bagaimana saya bisa tahu punggungmu lurus atau tidak kalau kamu pakai tenda begini?"

"Aku nggak peduli! Aku nggak mau ganti!"

Arga maju satu langkah lagi, mengikis jarak di antara mereka hingga Siska bisa merasakan hawa panas tubuh pria itu. Arga mencondongkan wajahnya menatap lurus ke mata Siska.

"Siska," panggilnya lembut tapi penuh penekanan. "Kamu lupa kontrak kita? Ketaatan mutlak. Kalau kamu membantah hal sekecil baju, bagaimana saya bisa yakin kamu akan patuh pada program latihan yang lebih berat?"

"Tapi aku malu, Ga... badanku jelek..." cicit Siska, suaranya melemah. Inilah kejujurannya. Siska bukan hanya takut pamer aurat, dia takut Arga melihat gelambir perutnya, stretch mark di pinggangnya, dan luka bakar di betisnya. Dia takut pria itu jijik.

Ekspresi Arga melembut sejenak tapi kemudian kembali tegas. Dia berjalan menuju salah satu lemari lalu membukanya. Di dalamnya tergantung sederet pakaian olahraga branded yang masih baru, lengkap dengan tag harga yang belum dilepas. Dia mengambil satu stel: sports bra hitam dan legging panjang ketat berwarna senada.

"Pakai ini," perintahnya sambil melempar baju itu ke arah Siska.

Siska menangkapnya dengan bingung. "Ini... terlalu terbuka. Perutku kelihatan."

"Pakai. Sekarang. Atau saya yang pakaikan," ancam Arga. Matanya turun ke tangan Siska. "Saya tidak main-main, Siska. Waktumu tinggal lima menit sebelum pemanasan dimulai."

Siska menelan ludah. Dia tahu Arga tidak membual. Pria ini gila.

"Berbalik," pinta Siska dengan suara serak. "Jangan lihat."

Arga mendengus tapi dia menurut. Dia membalikkan badan menghadap ke pintu, tapi dia tidak keluar. Dia berdiri di sana seperti penjaga penjara menyilangkan tangan di dada yang bidang itu.

Dengan tangan gemetar dan air mata yang menggenang, Siska melepas kaos oblongnya. Udara dingin AC menyentuh kulitnya. Dia merasa sangat terekspos. Cepat-cepat dia memakai sports bra itu. Rasanya ketat, menekan payudaranya, tapi bahannya sangat nyaman. Lalu dia memakai legging-nya. Pakaian ini memeluk tubuhnya seperti kulit kedua.

Siska melihat ke cermin sekilas. Lemak di perutnya terlihat sedikit menyembul di atas karet celana. Dia buru-buru menutupinya dengan tangan. Jelek. Dia terlihat jelek.

"Sudah," ucap Siska lirih.

Arga berbalik. Matanya langsung menyapu tubuh Siska. Wanita itu menunduk, siap mendengar hinaan. Siap mendengar Arga tertawa atau bilang dia seperti lepat.

Tapi hening.

Tidak ada suara tawa.

Siska memberanikan diri mendongak. Arga sedang menatapnya, tapi tatapannya aneh. Tidak ada jijik di sana. Matanya gelap, pupilnya membesar. Dia menatap Siska seolah wanita itu adalah lukisan abstrak yang sedang dia coba pahami maknanya.

Arga berjalan mendekat, kali ini tanpa suara. Dia berdiri tepat di depan Siska, lalu perlahan tangannya terulur menyentuh pinggang Siska yang terbuka.

Siska tersentak kaget, menahan napas. Kulit Arga yang kasar bersentuhan dengan kulit perutnya yang sensitif.

"Ga... jangan..."

"Siapa bilang kamu jelek?" bisik Arga serak. Ibu jarinya mengusap pelan kulit perut Siska, tepat di bagian yang menurut Siska berlemak. "Tubuh ini... tubuh yang sudah melahirkan nyawa. Tubuh yang bertahan hidup."

Jantung Siska berdegup kencang. Bukan karena takut, tapi karena sensasi aneh yang menjalar dari sentuhan itu. Sudah berapa lama dia tidak disentuh dengan apresiasi seperti ini? Hendri selalu memegang perutnya dengan cubitan mengejek. Tapi Arga... sentuhannya seperti memuja.

"Jangan bohong..." bantah Siska lemah.

"Saya tidak pernah bohong soal kualitas," Arga menatap mata Siska lekat-lekat. Tangannya beralih memegang dagu Siska lalu mendongakkan wajahnya. "Mulai hari ini, buang semua baju karungmu. Kamu akan berlatih memakai ini. Saya ingin melihat setiap inci perkembangan ototmu. Saya ingin melihat kamu berubah dari korban menjadi pemenang."

Siska terhipnotis oleh suaranya. Ada keyakinan yang begitu kuat di sana, keyakinan yang menular.

Drrt. Drrt.

Suara getar ponsel Siska di atas meja rias memecah momen magis itu.

Siska dan Arga sama-sama menoleh. Layar ponsel menyala, menampilkan nama yang membuat darah Siska kembali dingin.

Mas Hendri Calling...

Kepanikan langsung menyergap Siska. "Mas Hendri menelepon! Ga, gimana ini? Kalau aku nggak angkat dia curiga, tapi kalau aku angkat..."

Arga menatap ponsel itu lalu menatap Siska. Senyum miringnya kembali muncul. Dia mengambil ponsel itu lalu menyodorkannya pada Siska.

"Angkat," perintahnya.

"Tapi... suaraku pasti gemetar... dia pasti tahu..."

"Angkat, Siska. Katakan kamu sedang pemanasan. Buat dia percaya."

Dengan tangan gemetar, Siska menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinga. Arga tidak menjauh. Dia justru melangkah lebih dekat, menghimpit Siska ke meja rias hingga pinggul wanita itu menabrak pinggiran meja.

"Ha... halo, Mas?" sapa Siska terbata.

"Kamu di mana? Sudah sampai tempat gym?" suara Hendri terdengar curiga dan tajam dari seberang.

"Su... sudah, Mas. Ini baru mau mulai pemanasan," jawab Siska. Matanya melotot melihat Arga yang kini meletakkan kedua tangannya di sisi tubuh Siska, mengurungnya di antara badannya dan meja.

"Oh. Ingat pesan saya, jangan genit-genit. Latihan yang benar. Nanti saya minta bukti foto kalau kamu beneran latihan."

"I... iya, Mas. Nanti aku kirim," jawab Siska gugup. Napas Arga menerpa lehernya. Apa yang dia lakukan?

Arga mencondongkan wajahnya ke telinga Siska yang tidak tertempel ponsel. Bibirnya menyentuh daun telinga wanita itu, memberikan sensasi geli dan panas yang membuat Siska merinding hebat.

"Kamu dengar itu, Siska?" bisik Arga tepat di telinganya. Suaranya sangat pelan sehingga Hendri tidak bisa mendengarnya, tapi getarannya merambat ke seluruh saraf Siska. "Suamimu minta bukti kamu latihan. Mari kita buat buktinya sekarang. Katakan padanya kamu sedang 'dipegang' oleh pelatih terbaik."

"Siska? Halo? Kok diam?!" bentak Hendri di telepon.

Siska memejamkan mata. Dia terjepit di antara suara suami yang membentak di telinga kanan dan bisikan iblis yang menggoda di telinga kiri. Arga mulai menurunkan wajahnya, mencium lembut perpotongan leher dan bahu Siska, meninggalkan jejak panas di sana sementara Siska masih tersambung dengan suaminya.

"A... aku... aku lagi peregangan, Mas..." jawab Siska dengan suara tercekik, menahan desahan yang nyaris lolos.

"Bagus. Jangan malas," Hendri menutup telepon begitu saja.

Klik.

Sambungan terputus. Ponsel terlepas dari tangan Siska lalu jatuh ke meja. Tapi Arga tidak berhenti. Dia justru semakin menekan tubuhnya pada Siska, bibirnya masih bermain di leher wanita itu.

"Ga... sudah... teleponnya sudah mati..." rintih Siska. Dia mencoba mendorong dada Arga, tapi tenaganya hilang entah ke mana.

Arga mengangkat wajahnya, menatap Siska dengan mata yang menggelap penuh gairah dan dominasi.

"Teleponnya memang sudah mati, Siska," ucapnya serak. Tangannya turun mencengkram pinggang Siska posesif. "Tapi sesi latihan kita... baru saja dimulai. Dan saya pastikan, kamu akan berteriak lebih keras daripada saat di telepon tadi.”

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 6

    Pagi itu, langit Jakarta tampak mendung, seolah mewakili perasaan Siska yang sedang berjalan menuju pintu masuk Iron & Orchid Wellness Center. Tubuhnya terasa berat, seakan ada beban berton-ton yang mengikat pergelangan kakinya. Siska menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar. Dia mengenakan pakaian olahraga ketat berwarna hitam yang sengaja Arga siapkan untuknya. Pakaian itu terasa seperti kulit kedua yang membuatnya merasa telanjang dan terekspos. Begitu memasuki area VIP, Siska langsung disambut oleh sosok Arga yang sudah berdiri tegak di tengah ruangan. Pria itu tampak sangat berbeda dari Arga yang dia temui di Bali. Tidak ada senyum nakal atau binar main-main di matanya. Yang ada hanyalah sosok pelatih profesional yang dingin dan disiplin. "Tepat waktu, Ibu Siska," ucap Arga dengan nada formal yang kaku. Pria itu menatap jam di pergelangan tangannya tanpa melihat ke arah Siska. "Silakan taruh tas Anda di loker. Kita mulai dengan pemanasa

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 5

    Pukul 06.45 pagi.Siska memarkirkan mobilnya di basement gedung Iron & Orchid. Tangannya basah oleh keringat dingin. Dia sengaja datang lima belas menit lebih awal karena takut terlambat. Ancaman Arga tentang mengirim video ke kantor Hendri terus berputar di kepalanya seperti sirene bahaya.Siska mengenakan setelan olahraga terburuk yang dia punya: kaos oblong kedodoran bekas fun run lima tahun lalu dan celana training gombrong. Dia sengaja memakai ini. Dia tidak mau Arga melihat bentuk tubuhnya. Dia ingin pria itu jijik, bosan, lalu melepaskannya.Dengan langkah ragu, Siska naik ke lantai lobi. Resepsionis yang kemarin menyapanya dengan ramah sudah menunggu."Selamat pagi, Ibu Siska. Silahkan langsung masuk. Coach Arga berpesan Ibu bisa menggunakan ruang ganti VIP nomor 1. Itu akses khusus untuk Ibu.""VIP?" tanya Siska bingung. "Saya tidak pesan VIP.""Itu fasilitas complimentary dari owner, Bu. Silahkan," resepsionis itu menyerahkan kartu akses berwarna hitam.Siska menerimanya den

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 4

    "Kamu kenapa sih, Sis? Dari tadi mukamu pucat banget kayak orang mau pingsan. Tadi di dalem diapain aja sama Coach Arga?" Suara Mira yang cempreng menyentak kesadaran Siska. Wanita itu nyaris tersandung hak sepatunya sendiri karena kakinya masih gemetar hebat. Bayangan wajah Arga yang dingin dan ancaman di ruangannya tadi masih menari-nari di pelupuk matanya. Kontrak itu. Rekaman CCTV itu. Anting itu. Semuanya berputar menjadi pusaran teror yang mencekik leher Siska. Siska menoleh pada Mira. Dia berusaha memasang senyum paling meyakinkan yang bisa dibuatnya meski rasanya bibirnya kaku seperti kayu. "Enggak diapa-apain kok, Mir. Cuma bahas jadwal latihan aja. Dia... tegas banget orangnya," jawab Siska pelan sambil meremas tali tasnya erat-erat. "Iya lah tegas! Namanya juga profesional. Tapi kamu sadar nggak sih tatapan dia ke kamu tadi? Wah, intens banget, Sis! aku curiga dia naksir kamu deh," celoteh Mira tanpa dosa sambil menekan tombol kunci mobilnya. "Coba bayangin, owner

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 3

    "Siska? Kok bengong sih?" Suara cempreng Tante Mira memecah keheningan, menyentak Siska kembali ke realita yang mengerikan. Mira menyikut pinggang wanita itu pelan. "Jabat tangannya. Jangan malu-maluin aku dong. Coach Arga ini orang sibuk, lho." Siska menelan ludah yang terasa seperti pasir berduri. Jika dia tidak menjabat tangan pria itu, Mira akan curiga. Jika dia lari sekarang, Arga pasti akan melakukan sesuatu yang nekat. Pria ini sudah berani memodifikasi anting Siska menjadi cincin dan memakainya terang-terangan di hadapannya. Dia jelas tidak takut pada apa pun. Dengan tangan gemetar hebat yang tak bisa disembunyikan, Siska mengangkat lengannya. Pelan sekali. Seperti orang yang menyerahkan diri ke tiang gantungan. Saat kulit telapak tangan Siska bersentuhan dengan kulit telapak tangan Arga yang besar dan kasar, pria itu langsung meremasnya. Kuat. Sangat kuat. Jauh dari jabat tangan sopan biasa. "Tangan Ibu dingin sekali," komentar Arga. Bibirnya menyunggingkan senyum t

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 2

    Dengan langkah gontai, ​Siska sampai di kamar hotelnya, hotel yang sama, yang Siska habiskan untuk bermalam bersama pria itu. Siska menyeret kakinya yang gemetar keluar dari kamar mandi, setelah satu jam di dalam meratapi kebodohannya. Kulitnya memerah dan perih karena digosok terlalu keras di bawah guyuran air panas. Dia berharap panas itu bisa melunturkan jejak sentuhan pria asing semalam, namun rasa kotor itu tetap melekat dijiwanya. ​"Bodoh. Siska bodoh," Siska menatap pada pantulan wajah sembab di cermin. "Kamu istri orang. Bagaimana bisa kamu tidur dengan orang asing hanya karena mabuk?" ​Siska buru-buru memoles wajahnya dengan foundation tebal untuk menutupi mata bengkak dan tanda merah samar di lehernya. Dia harus terlihat sempurna sebelum Hendri kembali dari main golf. Dia harus mengubur rahasia ini di Bali selamanya. ​Wanita itu meraih tas tangannya untuk merapikan isi dompet. Namun saat merogoh saku bagian dalam, jarinya menyentuh sesuatu yang asing. Teksturnya keras

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 1

    Tawa riuh para undangan dalam acara Gala Cakrawala Bisnis, memenuhi ballroom, Acara Tahunan yang diadakan Hendri untuk berkumpulnya para pengusaha muda untuk menjalin silaturahmi dan kerjasama. Hendri adalah Ketua dari perkumpulan pengusaha muda, dia selalu tampil sempurna dalam segala hal, agar bisa menaikkan pamor dan citra dia dikalangan para pengusaha."Senyum sedikit, Siska. Jangan pasang wajah menyedihkan begitu. Kamu mau orang-orang berpikir aku menyiksa istri sendiri?"Bisikan itu terasa panas dan tajam di telinga Siska, sangat kontras dengan udara malam Bali yang sejuk.Wanita berusia 43 tahun itu menelan ludah, berusaha keras mempertahankan senyum kaku di wajah cantiknya saat tangan Hendri melingkar posesif di pinggangnya. Cengkeraman itu bukan tanda sayang, melainkan peringatan."Aku sudah tersenyum, Mas," jawab Siska pelan, suaranya nyaris tak terdengar."Kakiku sakit sekali pakai sepatu hak tinggi ini terus dari tadi sore.""Halah, alasan saja kamu ini. Bilang saja kamu

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status