Share

Jabakan Maut Sahabatku
Jabakan Maut Sahabatku
Penulis: Ungu

Bab 1

Penulis: Ungu
Namaku Hana, seorang wanita yang baru saja menikah.

Sejak malam pernikahan saat suamiku pertama kali membuka sisi kewanitaanku, aku mulai jatuh cinta pada aktivitas ranjang itu. Sebagai orang yang baru merasakan gairah, aku sangat berani sekaligus malu-malu.

Suamiku pun sangat suka melihatku mendesah dan berteriak di tengah puncak kenikmatan.

Kami meninggalkan jejak kemesraan di setiap sudut rumah dan variasi yang kami coba pun semakin lama semakin berani.

Namun, sebuah kecelakaan tragis membuat semuanya berubah.

Suamiku selamat, tapi kemampuannya dalam hal itu telah hilang. Kami terpaksa beralih menggunakan mainan untuk mempertahankan kehidupan seksual kami yang sebelumnya sangat aktif.

Namun lambat laun, aku menyadari ada yang salah. Tubuhku mulai merasa tidak puas hanya dengan stimulasi sederhana dari mainan. Rasa hampa dan gelisah yang melanda setiap hari membuatku nyaris gila. Sentuhan sekecil apapun bahkan sanggup membuat tubuhku gemetar dan aliran kenikmatan menjalar ke mana-mana.

Suamiku mengira ini hanyalah efek dari kehidupan ranjang kami yang terlalu liar sebelumnya, sehingga aku sulit beradaptasi. Dia mencoba lebih keras memuaskanku dengan mainan, tapi rasanya tetap seperti menggaruk bagian yang gatal dari luar sepatu.

Hingga akhirnya setelah aku mengalami orgasme beberapa kali di tempat umum, hanya karena tatapan orang atau sentuhan yang tak disengaja, barulah aku sadar ini tidak bisa dibiarkan.

Kemudian suatu hari, aku mendapati suamiku menggunakan mainan terlalu keras hingga diriku terluka. Aku pun memutuskan untuk sekalian memeriksakan apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhku.

Setibanya di klinik, tidak ada pasien lain. Hanya ada seorang dokter pria di sana.

Dia mendongak, tatapannya menyapu seluruh tubuhku.

Hanya karena tatapan itu, tubuhku reflek gemetar, rasanya seolah-olah ada tangan yang baru saja meraba tubuhku.

Tatapannya tertuju pada wajahku yang memerah, lalu berhenti sejenak dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Ada keluhan apa?”

Dokter itu bertubuh tinggi besar, dengan kontur wajah yang tegas dan sangat maskulin.

Aku merasa canggung dan tak berani menatap matanya. Suaraku pelan sekali, nyaris seperti bisikan nyamuk.

“Aku… aku merasa tubuhku nggak nyaman.”

“Nggak nyaman bagaimana?”

“Aku….”

Aku benar-benar tak sanggup mengucapkan kata-kata selanjutnya.

Tatapannya terus tertuju pada wajahku. Dia tak mendesak, tapi juga tak berniat membantuku keluar dari rasa malu ini.

“Kamu bisa jelaskan dengan tenang. Aku sudah menghadapi sangat banyak pasien. Aku nggak akan memandangmu berbeda hanya karena masalah ini. Lagipula, kalau tubuhmu memang nggak masalah, kamu nggak mungkin mencariku, bukankah begitu?”

Ucapan pria itu terdengar lembut, tapi tetap tegas.

Rasa malu dalam diriku perlahan memudar dan dengan wajah memerah, aku pun mulai menjelaskan,

“Aku… setelah mulai berhubungan seksual dengan suamiku, tubuhku jadi bermasalah, jadi….”

“Jadi apa?”

Di bawah tatapannya, aku memejamkan mata.

“Aku merasa tubuhku selalu panas. Sentuhan orang lain yang nggak sengaja saja bisa membuatku terangsang di tempat umum. Sekarang, suamiku sudah kehilangan kemampuannya, jadi aku….”

Aku merasa sangat malu dengan kata-kataku, tapi dia tetap mendengarkan dengan serius. Saat aku tak sanggup melanjutkan lagi, dia pun mengangguk paham dan menunjuk ke arah ranjang periksa di dalam ruangan.

“Ke sana saja, biar kuperiksa.”

Namun, baru saja aku berbaring, dia langsung mengulurkan tangan dan meletakkannya di pahaku.

Aku tersentak kaget.

Namun, bersamaan dengan rasa kaget itu, muncul pula gelombang kenikmatan akibat sentuhan tersebut.

Aku mengerang pelan dan tubuhku langsung lemas di atas ranjang. Mataku yang berkaca-kaca menatap dokter di hadapanku.

Dia tampak terdiam sejenak.

“Maaf… aku nggak menyangka ternyata kecanduanmu separah ini.”

Kalimatnya terdengar formal, tapi tangannya tak kunjung dilepaskan.

“Tapi, dalam kondisi seperti ini, aku tetap harus memeriksa kondisi tubuhmu. Jadi, melepas pakaian itu harus dilakukan. Kamu bisa mengerti, ‘kan?”

Di tengah gempuran rasa nikmat, aku mencoba mengumpulkan sisa akal sehatku. Setelah memikirkannya sejenak, akhirnya aku pun mengangguk.

Dia mengangguk, lalu tangannya yang tadi menekan pahaku mulai bergerak naik.

Aku menggigit bibir, merasakan setiap gerakan tangan itu di kakiku. Tangannya seolah sengaja menyentuh paha bagian dalam, meninggalkan bekas di kulitku yang sensitif. Lalu, tangannya berhenti sejenak di ujung rokku. Setelah ragu sejenak, akhirnya dia masuk ke balik kain dan mulai menjelajahi area yang tertutup.

Setiap jarinya bergerak, kulit yang dilewatinya terasa terbakar. Gelombang kenikmatan menyerangku. Pria ini seolah memegang saklar kendali tubuhku. Setiap gerakannya membuatku semakin gerah tak tertahankan.

Berbeda dengan suamiku, pria ini jelas sangat ahli dalam menemukan titik sensitif wanita.

Aku ingin menangis di atas ranjang. Setiap kali aku ingin melonjak karena sensasi yang terlalu kuat, jarinya akan menekan tubuhku, mengunciku di ranjang. Lalu, bergerak ke titik yang lebih fatal, memberiku rangsangan yang jauh lebih hebat.

Aku bisa merasakan tubuhku gemetar hebat, bagian bawah perutku berkedut. Desahan yang tak beraturan keluar dari bibirku dan akal sehatku benar-benar sudah tak bisa lagi mengendalikan tubuhku….

Hingga akhirnya, saat jarinya menyentuh pinggiran celana dalamku, dia berhenti.

Aku menatap matanya yang tampak agak terkejut.

Aku tahu apa yang ingin dia katakan.

Karena aku sudah basah dan hantaman orgasme itu membuat cairanku membasahi tangannya.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jabakan Maut Sahabatku   Bab 10

    Aku memberitahu Lina untuk menyetujui syarat orang-orang itu, lalu kami menyusun rencana. Aku menyuruh Lina melapor polisi, lalu membawa petugas ke sana untuk menangkap mereka.Ini adalah cara yang sama yang pernah kugunakan untuk menyingkirkan sahabat suamiku yang bejat itu.“Hana, maaf sekali. Karena aku, kamu sampai harus menggunakan cara menjijikkan ini untuk menyelesaikan masalah. Sebenarnya ini juga nggak ada hubungannya denganmu, bagaimana kalau kamu nggak perlu ikut campur? Biar aku langsung lapor polisi saja.”Ujar Lina meminta maaf sambil meneteskan air mata. Dia bahkan menampar wajahnya sendiri dua kali hingga meninggalkan bekas kemerahan.Orang-orang itu mungkin tidak berani membunuh, tapi jika mereka benar-benar mencari masalah dengan orang tua Lina, masalah ini akan rumit.Orang tua Lina tinggal di kampung halaman. Jika ada orang yang dibayar untuk membuat onar di sana, selama tidak ada korban jiwa, lapor polisi pun tidak ada gunanya. Apalagi, kedua orang tuanya sudah ren

  • Jabakan Maut Sahabatku   Bab 9

    Mendengar itu, wajahku langsung pucat. Aku terus menggelengkan kepala dan menangis sangking takutnya.Namun, mereka malah menganggap serius ide itu. Mereka sudah sering bermain dengan banyak wanita, tapi belum pernah terpikir cara main seperti ini. Menurut mereka, ini pasti akan sangat merangsang.Usai membicarakannya, mereka pun hendak mengeksekusinya. Mereka mengambil pelumas dan bersiap menuangkannya ke area sensitifku.Aku menangis histeris memohon bantuan pada Lina. Jika dia tidak membantuku, aku pasti tak akan selamat malam ini.Lina mengangguk padaku. Saat perhatian pria itu teralihkan sepenuhnya padaku, dia merangkak ke pojokan, mengambil ponselnya dan berlari ke arah pintu.“Kalian semua berhenti!” teriaknya kencang sambil membuka pintu lebar-lebar.Mendengar suaranya, pria-pria itu berhenti. Melihat Lina berdiri di depan pintu yang terbuka, mereka tampak naik pitam dan hendak menghajarnya.“Jangan mendekat! Pakai baju kalian dan pergi sekarang juga! Kalau nggak berhenti, aku

  • Jabakan Maut Sahabatku   Bab 8

    Seketika, ucapan Lina memindahkan seluruh perhatian padaku. Aku gemetar ketakutan. Ini tak bisa dipermainkan, benar-benar bisa membunuhku.Aku menggelengkan kepala menolak, tanpa sanggup menjawabnya dan mencoba mengambil kesempatan untuk segera berlari ke kamar.“Hana, bukankah kamu selalu bilang padaku kalau dirimu kesepian? Pria-pria kuat sebanyak ini pasti bisa memuaskanmu. Ayolah, bantu aku.”Ujar Lina lagi saat melihatku hendak pergi. Suaranya sampai berubah nada karena hantaman yang dia terima. Dia tampak sangat menikmati sekaligus menderita.Dengan panik, aku menggeleng dan berbalik untuk lari. Tapi tak disangka, seorang pria tiba-tiba menerjang, mencengkeram tanganku dan menyeretku masuk kembali….“Kamu bahkan sudah datang, mau lari ke mana? Ayo, main bersama saja. Permainan akan lebih seru kalau ditambah kamu.” Pria yang menyeretku itu mengibaskan tangannya, langsung melemparkanku ke arah gerombolan pria di belakangnya.Belum sempat bereaksi, aku sudah tenggelam di antara mere

  • Jabakan Maut Sahabatku   Bab 7

    Begitu Donny muncul, dia melihatku berpose sangat menggoda, posisi yang belum pernah kutunjukkan sebelumnya. Matanya langsung memerah penuh nafsu, tanpa perlu akting lagi, dia langsung menerjang ke arahku.Aku mengimbangi permainannya dengan melakukan adegan seolah-olah sedang dipaksa. Aku menangis dan berteriak, bahkan bertanya dengan nada pilu mengapa dia tega memerkosaku padahal dia adalah sahabat baik suamiku sendiri.Donny semakin bersemangat dan dengan sangat kooperatif membeberkan alasannya, sama persis dengan penjelasan dendam yang dia ceritakan padaku sebelumnya. Aku pura-pura menangis kesakitan dengan wajah tanpa daya.Mungkin di dalam diri pria memang ada sisi liar semacam itu. Ditambah aktingku, Donny benar-benar bertingkah layaknya seorang penjahat.Dia menghantamku dengan keras sambil memukulku, menyuruhku untuk patuh.Dalam hati aku mulai cemas, sudah cukup lama tapi kenapa polisi belum datang juga? Tiba-tiba, pintu kamar didobrak hingga terbuka. Beberapa petugas bersera

  • Jabakan Maut Sahabatku   Bab 6

    Donny benar-benar hebat, dia seperti binatang buas.Sudah lama sekali aku tak merasakan sesuatu yang hidup seperti ini, apalagi yang begitu panas dan kuat. Setiap hantaman darinya seolah ingin menghancurkanku.Aku ditekan habis-habisan di atas ranjang. Kedua tanganku mencengkeram sprei dengan erat, menggigit bibir merahku erat-erat agar tak mengeluarkan suara.Namun, serangannya terlalu dahsyat. Setiap tusukan mencapai titik terdalam, seolah memeras habis seluruh cairan dari dalam diriku.Semua pori-pori di tubuhku terbuka lebar. Aku merasakan kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.Akhirnya, aku pun tak tahan lagi. Aku mulai mendesah pelan, pinggangku meliuk menyambut setiap gerakannya.“Adik ipar, aku tahu kalau kamu pasti nggak akan bisa menahan godaan ini. Di kantor suamimu sendiri, sementara dia ada di luar sana, kamu pasti merasa sangat tertantang, ‘kan?”Donny terus memprovokasiku dengan kata-katanya.Di bawah serangan fisik dan mental ini, kesadaranku perlahan memuda

  • Jabakan Maut Sahabatku   Bab 5

    “Kak Donny, kamu apain?! Lepaskan aku, suamiku akan balik sebentar lagi!”Kejadian yang tiba-tiba ini membuatku kaget. Aku tak menyangka ternyata dia hanya berpura-pura tidur.Ini di ruang kantor suamiku. Beraninya dia bertindak senekat ini! Dia tidak takut ketahuan?!“Adik ipar, jangan pura-pura lagi. Bukannya tadi malam kita berdua hampir berhasil?”“Tadi… tadi malam itu hanya salah paham!” ujarku berusaha membela diri.“Hehe… kalau begitu nggak perlu dibahas soal kejadian tadi malam. Aku tahu kamu sudah susah payah menahannya. Sebagus apapun mainannya, nggak akan pernah senikmat yang asli. Kalau kamu berteriak terlalu kencang dan orang-orang di luar masuk, mereka semua akan mengenalimu. Berbeda denganku, aku bisa pergi kapan saja.”Sambil mengancam, Donny mulai beraksi.Tangannya menyelinap masuk ke kerah bajuku, mencengkeram buah dadaku dengan kasar seolah ingin meledakkan balon.Rasanya sangat sakit, tapi ada sensasi rangsangan yang tak terlukiskan.Namun, aku tidak kehilangan aka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status