MasukAkas membawa mantel tersebut dan menghampiri Salsa. Ia melampirkannya dengan lembut ke atas kepala Salsa, dan membiarkan mantel panjang tersebut berhasil menutupi Salsa dan tubuh kecilnya. Menyembunyikan wajah pucat yang penuh keterkejutan dan kebingungan tersebut di baliknya.
"Tunggu sebentar, aku akan keluar bersamamu." Ucap Akas sambil berjalan mengambil pakaiannya dan segera berpakaian dengan cepat. Salsa memandang Akas dan perlahan kondisi pucat di wajahnya mereda digantikan rona merah ketika bagian belakang tubuh Akas tampil di depan matanya. Punggung tersebut penuh dengan bekas cakaran. Bahkan jika Akas tidak mengatakannya, Salsa tahu bahwa itu adalah jejak kuku jari jarinya. Lagipula tidak mungkin Akas membuat jejak itu sendiri di punggungnya. Salsa diam diam berpaling dan emosinya perlahan menjadi tenang. Ia telah salah memilih teman, dan ia tidak berniat melanjutkan hubungan dengan teman teman tersebut. Tentu saja Salsa ingin meminta penjelasan namun tidak sekarang. Prioritas utama sekarang adalah keluar dari kamar hotel ini dengan tenang dan kembali ke rumah. Ketika Salsa membayangkan ekspresi marah ayahnya, ia ketakutan dan tubuhnya merinding. Namun ia tetap patuh menunggu Akas. Jika ia keluar seorang diri pada saat ini, ia pasti akan menarik perhatian teman temannya yang berada tepat di depan pintu. Lagipula ruangan Akas dan ruangan tempat Sania dan Marry mengirimnya semalam itu berhadapan. ... Tidak butuh waktu lama hingga Akas akhirnya berpakaian. Ia berbalik dan melihat Salsa nampak sedang termenung menatap tanah dalam diamnya. Untuk sejenak hatinya meleleh, ia berjalan mendekat dan menepuk pelan puncak kepala Salsa dan kemudian memeluk bahunya sambil membuka pintu kamar hotelnya. "Ayo, aku akan membawamu keluar." Ucap Akas sambil perlahan membawa Salsa keluar dari kamar hotel. Perdebatan di koridor itu terhenti begitu Akas dan Salsa membuka pintu kamar hotel dan berjalan keluar. Salsa menutupi wajahnya secara erat dengan mantel Akas. Sementara Akas memeluknya dan menjaganya agar tetap dekat dengannya. Ekspresi Akas berubah, kelembutan dan kasih sayang yang sebelumnya ia tunjukan di depan Salsa seketika menghilang. Digantikan dengan wajah tanpa ekspresi yang cuek dan dingin. Ia melirik ringan kelompok Tuan Muda Liam, Sania dan Marry yang hadir bersama beberapa orang lainnya dengan lirikan maut. Untuk sesaat punggung para pemuda pemudi yang baru saja basah oleh keringat dingin. Mereka menundukkan kepalanya dengan cepat karena ketakutan dan tidak berani mendongak ataupun melihat sama sekali. Akas berhasil membawa Salsa menjauh dan menjaga Salsa agar tetap tersembunyi dan tidak dikenali. Begitu Salsa masuk lift, ia segera menghela nafas lega. Namun ia masih tidak berani melepas mantel yang menutup kepalanya. Ia mengambil handphone nya dan menghubungi sahabatnya. Pesannya terkirim dengan cepat, Salsa mengumpat habis habisan di dalam pesan tersebut. "Sialan sialan sialan! Tolong aku! Aku benar benar tidur dengan orang asing! Crystal cepat datang dan selamatkan aku!" Tulis Salsa dalam pesannya. Tidak butuh waktu lama hingga pesan tersebut menerima balasannya. "APA? BAGAIMANA BISA? BERIKAN ALAMATMU PADAKU!!" Salsa melihat bahwa Crystal menggunakan huruf kapital dalam seluruh kalimat yang menandakan betapa marahnya dia saat ini! Salsa hendak menjawab ketika pintu lift sudah terhenti, jadi Salsa hanya bisa mengirimkan lokasi pasti hotel tempatnya berada saat ini. Salsa baru bisa menghela nafas lega begitu ia keluar dari hotel. Seakan akan ia akhirnya lepas dari cengkeraman binatang buas dan melarikan diri dari gua serigala. Salsa melepas mantel yang menutupi kepalanya dan menyerahkannya pada Akas. "Terimakasih paman." Ucap Salsa lirih sebelum kemudian ia berbalik dan hendak berjalan pergi. Akas yang sebelumnya sempat tertegun oleh panggilan 'Paman' dari Salsa segera tersadar dan buru buru menghentikan Salsa yang hendak pergi. "Tunggu." Seru Akas sambil berjalan menghampiri Salsa, ia mengulurkan handphone nya dan berkata dengan tenang. Lagipula Akas yang sudah melanggar pihak lain, Akas dengan rasa bersalah ingin memberikan kompensasi namun Salsa tampaknya tidak ingin kompensasi apapun. "Mari kita bertukar kontak." Ucap Akas dengan pemikiran bahwa jika sesuatu terjadi di masa depan, gadis kecil ini bisa menghubunginya atau meminta bantuannya. Itu bisa meredakan rasa bersalahnya. Salsa menggelengkan kepalanya lembut, "Tidak perlu paman, anggap saja tadi malam hanya kecelakaan. Lagipula itu salahku karena aku yang melemparkan diriku sendiri padamu. Tidak perlu kompensasi dan Paman juga tidak perlu merasa bersalah." Ucap Salsa lugas, ia menarik nafas dalam dalam berusaha menenangkan kesedihan dan amarah yang terpendam di dalam hatinya pada teman teman sekelasnya yang tidak tahu rasa terima kasih itu. Akas sedikit terkejut ketika Salsa bahkan menolak kontaknya. Melihat Salsa yang buru buru berbalik hendak pergi, Akas mengeluarkan kartu nama miliknya dari dalam dompetnya. "Setidaknya kamu bisa menerima kartu nama ini kan? Hubungi aku jika kamu butuh sesuatu." Ucap Akas dengan sedikit kelembutan. Selain rasa bersalah karena mengambil pertama kali milik gadis kecil itu, Akas juga merasa bersalah karena ia benar benar lepas kendali semalam. Ia terlalu keras semalam hingga menyakiti gadis kecil itu di pengalaman pertamanya. Memikirkan hal ini, Akas memejamkan matanya dan menenangkan gejolak emosi yang ada tanpa disadarinya. Disisi lain Salsa memandang kartu nama yang terulur tersebut dengan perasaan bimbang. Lagipula dia sudah menolak untuk bertukar kontak dengan paman ini, jika ia juga menolak kartu namanya bukankah itu tidak sopan. Jadi Salsa mengambil kartu nama tersebut, lalu menganggukkan kepalanya dan segera berbalik untuk berlari pergi. Akas yang melihat punggung Salsa menghilang dengan cepat dari pandangannya tiba tiba merasa geli. "Apa aku begitu menakutkan?" Gumam Akas dengan ekspresi tak berdaya juga sedikit kesal di wajahnya. Namun memikirkan pengalamannya semalam, mau tidak mau Akas juga menyalahkan dirinya sendiri. "Mungkin memang sedikit menakutkan?" Bisiknya, lagipula semalam terlalu liar! Benar benar sangat liar! Pada saat ini sebuah mobil mewah hitam panjang dengan sebuah patung emas berdiri di kap mobilnya perlahan mendekat dan berhenti tepat di depan Akas. Seorang pria dengan jas yang rapi tanpa lipatan keluar dari kursi pengemudi. "Presiden." Sapa Dimas selaku asisten pribadi Akas. Keduanya hampir seumuran, namun penampilan Dimas tampak sedikit jauh lebih tua. Ia berjalan ke pintu belakang tempat kursi penumpang berada dan membantu Akas untuk membuka pintu. Akas memandang ke arah dimana Salsa pergi untuk beberapa saat sebelum melangkah masuk ke dalam mobil. Dimas mulai melaporkan jadwal Akas hari ini seperti biasanya.Begitu Crystal membuka mulutnya, seluruh pasang mata menatapnya secara bersamaan. Salsa menatap Crustal dengan penuh rasa terimakasih atas penyelamatannya yang hebat di titik krusial tersebut. Sementara Henry memandang Crystal dengan ragu namun jelas ada kelegaan dalam sorot matanya. Salsa yang diam di samping Crystal, entah secara sengaja atau tidak sengaja melirik Akas. Ia diam diam memperhatikan pria itu dengan harapan agar pria tersebut tidak ikut campur lebih jauh dalam urusan ini. Lagipula ini bukan hanya tentangnya, tapi juga tentang pria itu. 'Kumohon jangan berbicara! Kumohon jangan katakan yang sebenarnya! Kumohon jangan katakan apapun.' Gumam Salsa dalam hatinya, emosinya yang intens antara kegugupan dan kecemasan membuat alisnya sedikit mengerut yang akhirnya menyebabkan ekspresinya sedikit berubah. Hingga kedua pasang mata itu bertemu, untuk sejenak Salsa merasa jantungnya berhenti berdetak dan wilayah di sekelilingnya memasuki kondisi terhenti sejenak. Kemudian, Salsa
Salsa dalam benaknya tampak begitu tinggi, ceria, dan berani. Seperti mentari kecil yang diam diam bersinar dan menyinari semua orang di sekitarnya.Dahulu Crystal bukanlah sosok yang anggun dan dewasa seperti saat ini. Ia tampak kesepian dan menyendiri. Ia tersingkirkan dan diabaikan dalam pergaulannya. Crystal sama sekali tidak memiliki teman, selain gadis kecil yang ceria dan berani yang selalu menyeretnya pergi kemana mana. Ketika Crystal dibully dan dihina oleh teman temannya karena tidak memiliki ibu. Salsa seperti mentari kecil yang melindunginya dan menyinari dunianya yang abu abu.Tubuh ibu Crystal sangat lemah ketika ia mengandung Crystal. Kemudian ia meninggal ketika ia berhasil melahirkan Crystal. Kelahiran Crystal merenggut nyawanya, kemudian ayahnya yang terlalu mencintai ibunya sangat mengabaikan Crystal dan membiarkannya tumbuh secara mandiri di tangan pengasuh. Selain memenuhi kebutuhan materi, bisa dikatakan Crystal tidak mendapatkan kasih sayang ibu dan ayah sejak
"Presiden, Tuan Henry mengundang anda untuk datang ke rumahnya. Ia tahu anda baru saja kembali ke negara ini dan pihak lain tidak bisa mengikuti janji temu semalam, jadi ia mengundang anda secara pribadi untuk datang ke rumahnya sekaligus memperkenalkan putrinya." Ucap Dimas meminta pendapat Akas."Mengapa ia memperkenalkan putrinya padaku?" Akas balik bertanya dengan alis terangkat merasa sedikit bingung. Henry yang ada di bibir Dimas baru saja adalah teman dekat Akas yang statusnya hampir sama layaknya saudara angkat. Ia sudah berteman dengan Henry selama empat dekade dan keduanya banyak membantu satu sama lain. Meski Akas pergi ke luar negeri, keduanya hampir tidak pernah kehilangan kontak. Jadi Akas sangat akrab dengan pihak lain."Tuan Henry berkata bahwa anda pergi keluar negeri ketika istrinya sedang hamil saat itu. Bukankah anda bilang bahwa putri Tuan Henry juga putri anda?" Ucap Dimas sambil tersenyum. Akas sedikit terdiam lalu menganggukkan kepalanya sebagai isyarat bahwa i
Akas membawa mantel tersebut dan menghampiri Salsa. Ia melampirkannya dengan lembut ke atas kepala Salsa, dan membiarkan mantel panjang tersebut berhasil menutupi Salsa dan tubuh kecilnya. Menyembunyikan wajah pucat yang penuh keterkejutan dan kebingungan tersebut di baliknya."Tunggu sebentar, aku akan keluar bersamamu." Ucap Akas sambil berjalan mengambil pakaiannya dan segera berpakaian dengan cepat. Salsa memandang Akas dan perlahan kondisi pucat di wajahnya mereda digantikan rona merah ketika bagian belakang tubuh Akas tampil di depan matanya. Punggung tersebut penuh dengan bekas cakaran. Bahkan jika Akas tidak mengatakannya, Salsa tahu bahwa itu adalah jejak kuku jari jarinya. Lagipula tidak mungkin Akas membuat jejak itu sendiri di punggungnya.Salsa diam diam berpaling dan emosinya perlahan menjadi tenang. Ia telah salah memilih teman, dan ia tidak berniat melanjutkan hubungan dengan teman teman tersebut. Tentu saja Salsa ingin meminta penjelasan namun tidak sekarang. Priorita
Kembali pada waktu saat ini. Fajar akhirnya tiba, dan hari mulai pagi. Matahari bersinar dengan cahaya jingga di ufuk timur. Naik sedikit demi sedikit dan perlahan membangunkan semua orang dari tidurnya.Di dalam kamar hotel mewah tersebut, sepasang kekasih sedang tidur dengan sikap yang intim. Tidak bisa dikatakan sebagai kekasih, namun semalam telah terjadi pertempuran yang tidak seharusnya terjadi di kamar hotel ini.Jendela besar yang tepat mengarah ke timur perlahan membawa cahaya terang mentari pagi untuk masuk dan menerangi seluruh kamar yang awalnya gelap tersebut. Seorang pria dewasa sedang memeluk gadis kecil yang telanjang tersebut ke dalam pelukannya. Perasaan memeluk kehangatan tersebut sangat damai, tubuh gadis kecil itu sangat nyaman untuk dipeluk. Namun tidak butuh waktu lama hingga cahaya mentari tersebut berubah menjadi sengatan panas yang membangunkan pria itu dari tidurnya.Ketika Akas terbangun, ia hanya melihat seluruh kamar hotelnya berantakan. Alisnya mengerut
Sedikit Flashback, Beberapa waktu yang lalu. Salsa yang sebelumnya tengah sibuk di kamarnya kini sedang berjalan dengan langkah lambat dan mengendap endap. Ia memegang high heels di satu tangan dan tas mewah di tangan lainnya.Strateginya berhasil! Ia telah menahan diri dan berpura pura patuh dalam beberapa hari belakangan ini untuk mengurangi kewaspadaan seluruh penghuni villa. Kemudian setelah kewaspadaan mereka menurun, pada hari ini ia akan menyelinap keluar dan bermain. Salsa sudah menginjak umur delapan belas tahun beberapa waktu yang lalu dan sekarang ia sangat penasaran dengan dunia luar. Kebetulan kelasnya hari ini mengadakan pesta perpisahan. Namun pesta perpisahan ini tidak diadakan di tempat yang biasa saja. Tidak butuh waktu lama hingga Salsa akhirnya tiba di bagian belakang villa tempat tinggalnya. Ia sudah memikirkan bagaimana cara terbaik agar dapat melewati tembok ini. Begitu Salsa melompat dan akhirnya meraih tembok tersebut dengan kedua tangannya. Kemudian ia juga







