MasukMuniratri menyadari betapa tergesa-gesanya Damarteja saat menyelamatkannya tadi malam. Hal itu terlihat jelas dari perhiasan yang menempel di tubuh sang Pangeran.
Wanita itu membelai wajah Damarteja di saat lelaki tersebut masih memejamkan mata. “Demi menyelamatkanku, Pangeran Adipati bahkan tak sempat melepas perhiasan yang ia pakai,” batinnya.
“Sudah bangun?” Damarteja membuka mata, lalu merengkuh sang istri.
Jangan panggil dia Muniratri, kalau t
Puri kembangan adalah taman bunga pribadi milik Widuri. Tempat itu terletak persis di halaman belakang kediaman sang Prameswari. Tak ada yang mengetahui tempat rahasia tersebut, kecuali Widuri dan para dayang kepercayaannya.Apabila ada pihak lain menemukan tempat itu, yang bersangkutan akan dipaksa meminum ‘sumber kehidupan abadi’, racun mematikan yang akan mengirim orang yang meminumnya pindah alam dalam beberapa saat.“Berhenti.” Gendhis mengangkat tangan kanannya.Keempat orang yang membawa tandu Ndari menurunkan sang Putri Mahkota. Alih-alih memberikan bantuan kepada Ndari untuk berdiri, Gendhis malah melayani para pria di sana terlebih dahulu.“Nah, kalian pasti lelah, bukan? Silakan dinikmati.” Dayang itu memberikan minuman merah.Minuman tersebut memiliki wangi yang menggugah selera. Para pria yang memanggul tandu pun menikmatinya tanpa pikir panjang.“Terima kasih. Kalian sudah bekerja
Berita Kamakarna mengunjungi Muniratri terdengar ke berbagai kompleks keraton, termasuk Kompleks Kusumaswari. Widuri tak habis pikir dengan kelakuan sang anak.Meskipun hanya kalangan tertentu yang mengetahui kelakuan sang Putra Mahkota, sebagai ibunya tentu saja Widuri tak tahan. Darahnya mendidih karena emosi.“Makin hari dia makin berani saja.” Sang Prameswari Badra meremas kertas yang baru saja dibaca.Tak peduli seberapa marahnya Widuri, wanita itu tak akan melampiaskan amarahnya pada sang putra. Ia memerlukan orang lain untuk meredakan hati yang panas.“Panggil Putri Mahkota ke Puri Kembangan!.” Widuri mengibaskan tangan ke arah Gendhis.Biasanya, saat Widuri memberi titah pada Gendhis, dayang itu akan melakukannya tanpa ragu. Namun kali ini, kakinya seolah menancap dengan tanah. Ia tak mau bergerak meski hanya selangkah.“Kenapa diam saja?” sentak Widuri.“Yang Mulia ... apa Anda sudah
Dahulu Muniratri pernah menyelidiki siapa saja yang terlibat dalam kasus ayahnya. Namun saat itu dia lakukan secara diam-diam. Kali ini, ia bisa melakukannya dengan leluasa karena dirinya diperbolehkan memasuki Gedhong Prabayekti secara bebas.Wanita itu boleh membaca buku apa saja. Ia mendapat izin istimewa tersebut atas permohonan Kamakarna pada sang ayahanda.Awalnya, para pejabat menentang permintaan Putra Mahkota. Namun setelah Muniratri mengatakan bahwa dirinya akan kembali ke Agratampa, para pejabat mengendurkan urat mereka.“Kanjeng Putri, Yang Mulia Putra Mahkota sudah tiba,” bisik Ningsih saat wanita itu memasang cunduk di sanggul Muniratri.Sebagai seseorang yang sedang ditunggu oleh orang mulia, seharusnya Muniratri mempercepat waktu merias diri. Namun wanita itu tetap santai.“Ningsih, bukankah hari ini ... hari yang istimewa?” Muniratri memiringkan kepala sehingga bisa melihat Ningsih yang berada di sampi
Sebelum menjalankan tugas bersama Putra Mahkota, Muniratri perlu menghadap Prabu Bahuwirya di Pendopo Agung. Di sana, para pejabat berkumpul untuk menghadiri rapat pagi.Para pejabat membahas berbagai permasalahan yang terjadi di Badra. Mulai dari bencana kekeringan, gagal panen, kelaparan, dan juga masalah perbatasan menjadi topik hangat pada hari itu.Awalnya, rapat pagi berjalan lancar, hingga Kamakarna mendeklarasikan bahwa dirinya sanggup mengatasi setiap masalah yang sedang terjadi.“Kekeringan membuat para petani gagal panen sehingga menyebabkan kelaparan di mana-mana. Bagaimana Putra Mahkota mengatasinya? Apa Anda akan mendatangkan hujan dari langit?” cibir Raden Bendara .....Pertanyaan yang keluar dari mulut Pangeran yang lahir dari Selir ... itu mengubah suasana Aula Agung yang tenang menjadi ruangan berdengung. Para pejabat saling berbisik ikut mempertanyakan kesanggupan sang Putra Mahkota.Pangeran .... melirik ke arah Kama
Damarteja yang baru saja menerima surat dari Warman membulatkan mata. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia baca, meskipun dirinya sudah mengulang dua kali.“Apa kita kekurangan kunyit?” tanya Damarteja pada ajudannya yang sedang merapikan dokumen.“Tidak, Paduka.” Endra menghentikan aktivitasnya.“Anda mau saya ambilkan sekarang?” tanya ajudan itu.Alih-alih mengangguk maupun menolak, Damarteja malah berdecih. Ia mengangkat satu dokumen yang berat, berniat melemparkan benda tersebut pada ajudannya yang tak peka.“Putri menyuruh Warman membeli kunyit dalam jumlah yang banyak.” Damarteja meletakkan dokumen di tangan, tak jadi melemparnya.“Menurutmu untuk apa dia melakukan itu?” tanya sang Pangeran Adipati.Kunyit memiliki peranan yang penting bagi Masyarakat Badra. Selain digunakan sebagai bumbu dapur, mereka juga memanfaatkan tanaman ini untuk dijadikan minuman herbal
Sebelum sang ayah tersandung kasus korupsi, Muniratri sudah biasa berkunjung ke Keraton Badra. Ia ke sana tak hanya untuk menghadiri acara-acara besar, tetapi juga sekadar untuk memenuhi undangan para anggota keraton.“Tempat ini tidak berubah, tapi entah kenapa suasananya berbeda,” batin Muniratri.Wanita itu melangkah ke dalam Kompleks Keputren. Ingatan masa lalu melambai-lambaikan tangannya. Kenangan-kenangan itu memaksa Muniratri bercengkerama dengan nostalgia yang pernah tercipta.“Kanjeng Putri, kita sudah sampai.” Langkah Narti berhenti di depan halaman Paviliun Kantil.Suara dayang tersebut menyadarkan Muniratri bahwa semua ingatan yang singgah di kepalanya tak akan kembali. Ia tak boleh terlena di sana.Muniratri mengamati bangunan di depan mata dengan saksama. Bangunan itu berada persisi di samping kediaman sang Putra Mahkota. Tempat yang sangat pas digunakan untuk merajut kisah silam, jika Muniratri menginginkanny







