LOGINDamarteja yang baru saja menerima surat dari Warman membulatkan mata. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia baca, meskipun dirinya sudah mengulang dua kali.
“Apa kita kekurangan kunyit?” tanya Damarteja pada ajudannya yang sedang merapikan dokumen.
“Tidak, Paduka.” Endra menghentikan aktivitasnya.
“Anda mau saya ambilkan sekarang?” tanya ajudan itu.
Alih-alih mengangguk maupun menolak, Damarteja malah berdecih. Ia mengangka
“AH!”Muniratri dijebloskan ke dalam sel yang dibangun dengan batu bata. Tak ada jendela. Tak ada lampu. Hanya obor di lorong yang menjadi sumber cahaya.“Kanjeng Putri, maafkan kami kasar. Kami hanya mematuhi perintah.” Seorang penjaga mengunci sel.“Kalau kami memperlakukan Anda dengan baik, nantinya malah kami yang bernasib buruk. Mohon Kanjeng Putri tidak menaruh dendam,” ucap penjaga yang lain.Muniratri hanya membalas perkataan mereka hanya dengan memutar bola mata seraya berdecap. Ia kemudian duduk dengan tenang di ujung ruangan.Wanita itu bersandar di dinding sambil menutup mata. Seiring waktu berlalu, ia malah tertidur lelap.“Ck ck ck. Memang pantas disebut perempuan bandit. Bahkan sudah ditempatkan di sel yang busuk pun masih bisa tidur nyenyak,” cibir Endah.Wanita tua itu datang bersama dengan Ibu Suri. Wanita tersebut membawa segentong air dingin di tangannya.&ldqu
“Aku tidak mau memasuki Ibu Kota sebelum bertemu dengan Yang Mulia Prameswari,” celetuk Muniratri ketika kereta yang dinaikinya sampai di gerbang masuk Ibu Kota.Masyarakat yang berada di sana saling berbisik membicarakan kereta yang dinaiki Muniratri. Pasalnya ia menggunakan kereta mewah bertatahkan emas yang mencuri perhatian semua orang.“Pangeran dari negara mana ya?”“Kalau menurutku bukan Pangeran, tapi Putri. Lihat saja gaya keretanya, banyak ukiran bunga-bunga.”“Tidak penting mau pangeran atau putri. Pertanyaannya kenapa beliau tidak langsung masuk saja?”“Mungkin sedang mengurus dokumen.”“Masa kunjungan negara mengecek dokumennya lama begitu? Bukannya sudah dipersiapkan dengan baik. Lihat saja siapa yang mengawal kereta itu?”“Siapa memangnya?”“Yang pakai emas bentuk Dwara itu ... beliau adalah Wakil Perdana Menteri.”
Jantung Kasmirah tak bisa berdegup secara normal ketika berhadapan dengan Pangeran Adipati Agung. Matanya menengadah ke arah lelaki itu tanpa berkedip.“Paduka ingin saya melakukan apa?” Kasmirah menelan ludahnya dengan berat.Di depan wanita itu telah tersedia beberapa lembar kulit lembu tipis berkualitas tinggi. Tinta dan pena juga sudah siap digunakan.Damarteja menunjuk kertas yang terbuat dari kulit. “Tulis surat untuk Yang Mulia Prameswari. Katakan padanya untuk membebaskan Putri Hadiwangsa serta menjaga keselamatannya.”Sang Adipati Agung mencondongkan tubuh ke depan. Ia sedikit menundukkan kepala agar wajahnya dan milik Kasmirah berada pada ketinggian yang sama.“Kalau sampai Putri terluka sedikit saja, akan pastikan kekuasaan Perdana Menteri akan runtuh,” ucapnya dengan suara lebih pelan.Wajah sang Pangeran yang menggelap membuat napas Kasmirah sesak. Padahal dahulu ia berani menghadapi lelaki it
“Kanjeng Putri! Tetap di belakang hamba.” Ningsih merentangkan kedua tangan.Jeri-jemari sang Senapati Gupati bergerak pelan, tanpa diketahui orang lain. Dia bersiap meraih belati yang tersembunyi di balik bajunya.Di belakang Ningsih, Muniratri melihat ke arah tembok pertahanan kota. Di sana, para prajurit sudah siap meluncurkan anak panah. Damarteja yang memimpin komando.“Kanjeng Putri! Akhirnya kita bertemu lagi,” seru Raden Apta.Sang Wakil Perdana Menteri Badra maju ke arah Muniratri. Ningsih dan juga prajurit yang berada di atas tembok mengambil posisi siap.Mereka hanya perlu komando sang Pangeran. Sekali perintah itu turun, pintu gerbang Agratampa akan menjadi hujan anak panah.“Ada urusan apa Wakil Perdana Menteri datang ke sini?” tanya Muniratri dingin.Tak ada senyuman di wajah sang Putri Hadiwangsa. Hanya tatapan malas yang dia tunjukkan kepada Raden Apta.“Saya ke sini unt
“Paduka memanggil saya?”Muniratri memasuki ruang pribadi Damarteja yang terletak di Paviliun Wetan Puri Kacayagra. Ningsih yang mengikutinya di belakang berhenti di pintu masuk. Ia menutup pintu tersebut dan menunggu di luar.“Iya. Kemarilah.” Damarteja melambaikan tangan kepada Muniratri.Wanita itu duduk berhadapan dengan Damarteja di depan meja kerja sang Pangeran. Ia setia menunggu Damarteja menyelesaikan aktivitasnya tanpa memberi desakan.“Terima ini.” Damarteja memberikan sebuah buku dan kunci.“Terima kasih, Paduka. Tapi ini untuk apa?” tanya Muniratri.Wanita itu membuka buku di hadapannya. Di sana tertera pemasukan daerah yang bersumber dari pajak para pejabat yang tersandung kasus korupsi.“Sudah waktunya Putri menggerakkan pasukan elite yang selama ini kamu manfaatkan untuk mengembangkan bisnis.” Damarteja menatap mata istrinya.Wanita itu menundukkan pand
“Kenapa jadi begini?”“CK! Sial sekali.”Para pejabat meninggalkan lokasi perjamuan dengan mulut menggerutu. Wajah mereka ditekuk seperti tisu bekas. Tak ada enaknya untuk dilihat.Ningsih yang baru saja kembali ke Puri Kacayagra setelah menjalan misi terheran-heran dengan tingkah orang-orang itu. Dia terus melihat ke arah mereka hingga hampir menabrak tiang.“Egh!”Untung saja Endra memegangi lengan Ningsih. Jika tidak, Senapati Gupati yang selalu disegani oleh satuan elite pasukan Wirajati tersebut akan kehilangan muka karena insiden kecil.“Terima kasih, Mas Endra.” Ningsih mengangguk kepada ajudan sang Pangeran Adipati.Lelaki itu mengangguk sekali, lalu melepaskan pegangan tangannya dari tangan Ningsih. Membiarkan dayang itu berlalu ke arah Damarteja.“Paduka, ada yang ingin hamba sampaikan.” Ningsih mengambil posisi berlutut, namun berhasil dihalangi oleh sang Pa
Setiap Ningsih keluar keraton, Muniratri selalu menunggunya pulang di kursi panjang yang tersedia di halaman Paviliun Kantil. Ia ingin mendengar cerita di luar sana melalui mulut dayang tersebut.“NINGSIH!” Muniratri melambaikan tangan agar si dayang mudah menemukannya.
Gendhis membuka pintu yang terbuat dari kayu jati tua berkualitas tinggi. Pintu itu diukir dengan apik dan pada beberapa bagian dilapisi dengan emas.“Silakan masuk, Kanjeng Putri.” Gendhis menunjuk ke dalam ruangan menggunakan ibu jari.Muniratri melangkah ke depan. Pan
Sebelum sang ayah tersandung kasus korupsi, Muniratri sudah biasa berkunjung ke Keraton Badra. Ia ke sana tak hanya untuk menghadiri acara-acara besar, tetapi juga sekadar untuk memenuhi undangan para anggota keraton.“Tempat ini tidak berubah, tapi entah kenapa suasananya berbeda,&r
Sepanjang perjalanan menuju ke Keputren, Narti berulang kali melirik sang Putri Mahkota. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi tak berani. Ia takut dianggap terlalu ikut campur urusan majikannya.“Katakan. ada apa?” Pandangan Ndari lurus ke depan.Perempuan itu memang tidak







