LOGINSejak pihak Putri Mahkota secara terang-terangan membatasi keperluan Muniratri selama tinggal di Paviliun Kantil, Ningsih secara teratur pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan.
Sebagian orang mendukung sikap sang Putri Hadiwangsa yang secara mandiri memenuhi kebutuhannya tanpa banyak drama. Sementara yang lain, mereka merasa iba karena wanita itu tak diperlakukan selayaknya tamu yang harus dihormati.
Orang-orang itu tak tahu bahwa berkat sikap Putri Mahkota tersebut, dirinya
Setiap Ningsih keluar keraton, Muniratri selalu menunggunya pulang di kursi panjang yang tersedia di halaman Paviliun Kantil. Ia ingin mendengar cerita di luar sana melalui mulut dayang tersebut.“NINGSIH!” Muniratri melambaikan tangan agar si dayang mudah menemukannya.Ningsih hanya bisa menghela napas melihat kelakuan sang majikan. Andai saja wanita itu tahu bahwa tindak-tanduknya membuat Ningsih pusing.Kursi panjang yang ada di halaman paviliun terlihat jelas, tanpa ada sesuatu yang menghalangi. Muniratri tak perlu berteriak hanya agar Ningsih melihatnya dalam sekali pandang.“Kenapa mukamu ditekuk begitu?” Muniratri menarik Ningsih agar dayang berdiri di sampingnya.Ningsih menjawab pertanyaan tersebut dengan menggeleng. Tak ada senyum di wajahnya.“Apa yang terjadi?” Muniratri meraih tangan Ningsih. Ia menggoyangnya dengan gerakan cepat.“Rencana kita tidak berhasil?” Wanita
Sejak pihak Putri Mahkota secara terang-terangan membatasi keperluan Muniratri selama tinggal di Paviliun Kantil, Ningsih secara teratur pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan.Sebagian orang mendukung sikap sang Putri Hadiwangsa yang secara mandiri memenuhi kebutuhannya tanpa banyak drama. Sementara yang lain, mereka merasa iba karena wanita itu tak diperlakukan selayaknya tamu yang harus dihormati.Orang-orang itu tak tahu bahwa berkat sikap Putri Mahkota tersebut, dirinya dapat bergerak secara leluasa. Ia bebas melakukan apa pun yang diinginkan di luar keraton, tanpa mengundang kecurigaan yang tak perlu.“Kunyit sekilo berapa harganya, Kisanak?” tanya Ningsih pada Arok.Ia merupakan salah satu perwira tinggi Pasukan Wirajati. Lelaki itu pura-pura menjadi penjual di pasar untuk mengumpulkan maupun menyebarkan informasi yang diperlukan oleh Muniratri.“Murah, Diajeng. sepuluh koin perak saja.” Arok melirik ke sebelah ki
Semenjak memergoki Ningsih meminta dibuatkan jamu kunyit asam, Narti secara rutin pergi ke dapur keraton khusus untuk menanyakan tentang hal itu kepada kepala juru masak.“Sejak hari itu, Dek Ningsih tidak pernah minta dibuatkan jamu kunyit asam lagi.” Lelaki itu menggaruk wajahnya pelan, meskipun tidak gatal.Jawaban itu tidak mengundang kepuasan Narti. Ia menginginkan informasi yang sesuai dengan apa yang dia ingin dengar.“Sekali pun tidak pernah?” tanya Narti untuk kedua kali.“Ck! Kamu ini tidak percaya. Memangnya saya terlihat sedang bohong?” Si Kepala juru masak mulai kesal.“Kalau tidak percaya, periksa saja catatan keluar masuk barang. Di sana tercatat barang yang masuk dengan makanan yang dibuat, serta siapa yang membawanya.” Lelaki yang kesal itu menunjuk catatan di atas meja.Tujuan utama Narti pergi ke dapur keraton adalah untuk mendapatkan bukti bahwa Ningsih meminta jamu kunyit a
Di permukaan, Ndari, Putri Mahkota Badramenunjukkan sikap yang terpuji. Dia memperlakukan Muniratri dengan baik, bahkan menempatkannya di Paviliun Kantil yang lokasinya lebih dekat dengan Putra Mahkota.Namun, di balik semua itu, diam-diam Ndari membatasi pergerakan sang bibi ipar. Ia menekan pengeluaran Paviliun Kantil sedikit demi sedikit.Keprihatinan Putri Mahkota terhadap rakyat dijadikan alasan. Dengan begitu, orang-orang tidak akan ada yang menghujat Ndari, jika suatu hari nanti Muniratri menyampaikan keluhan.“Kanjeng Putri!” Petugas yang berjaga di gerbang utama Keraton Badra memberi hormat Muniratri.Wanita itu mengangguk sebagai tanda bahwa dirinya menerima hormat dari yang bersangkutan. Muniratri kemudian menoleh ke sisi Ningsih. Dayang itu pun langsung mengeluarkan sekotak makanan.“Kalian sudah bekerja keras. Terimalah,” ucap Muniratri saat Ningsih memberikan makanan tersebut pada petugas.“Maaf, K
Ningsih bolak-balik di depan Paviliun Kantil selama tiga jam. Dia menunggu kepulangan Muniratri dari Kompleks Kusumaswari.Firasat buruk terus menyelimuti pikirannya. Seberapa keras ia mencoba menenangkan diri, tak pernah berhasil.“Kenapa kamu bertingkah tidak jelas seperti ikan kepanasan?” seru Muniratri begitu dirinya melewati gerbang masuk.“KANJENG PUTRI!” Kedua mata Ningsih membulat.Dayang tersebut berlari menyambut tuannya. Ia memeriksa tiap inci kulit Muniratri, mencari tahu apakah ada sesuatu yang tidak benar di tubuh wanita yang air mukanya lusuh itu.‘Saat Kanjeng Putri pergi ke kediaman Yang Mulia Prameswari, wajahnya tampak segar. Namun saat beliau kembali, kenapa wajahnya ditekuk begitu?’ batin Ningsih.“Apa yang terjadi? Apa mereka menyakiti hati Anda?” Sorot mata Ningsih menunjukkan satu kecemasan.Muniratri menjawab pertanyaan dayangnya dengan menggeleng.“
Gendhis membuka pintu yang terbuat dari kayu jati tua berkualitas tinggi. Pintu itu diukir dengan apik dan pada beberapa bagian dilapisi dengan emas.“Silakan masuk, Kanjeng Putri.” Gendhis menunjuk ke dalam ruangan menggunakan ibu jari.Muniratri melangkah ke depan. Pandangannya lurus, tak peduli jika di kanan dan kiri terdapat berbagai pajangan mewah yang terbuat dari emas dan permata. Bahkan dindingnya pun berlapis serbuk emas.“Silakan duduk dahulu, saya akan memanggil Yang Mulia Prameswari.” Gendhis menunjuk kursi di tengah ruangan.Ini adalah kedua kalinya Muniratri mengunjungi Kusumaswari semenjak menikah. Di matanya, tempat ini tidak berubah, suram.“Kita bertemu lagi, Cah Ayu,” sapa Widuri. Ia datang dari arah belakang Muniratri.Suara sang Prameswari Badra membuat Muniratri spontan berdiri. Ia berbalik badan, lalu memberi hormat pada wanita mulia itu.“Bangunlah.” Widuri mengan