Home / Zaman Kuno / Jadilah Pedangku, Sayang! / 16| Drama di Pagi Hari

Share

16| Drama di Pagi Hari

Author: Shanum Belle
last update Petsa ng paglalathala: 2025-10-26 19:00:02
Saat Muniratri sedang berjuang mati-matian menaiki tangga, Damarteja malah masih tidur nyenyak di kamar Raden Ayu Ratnawangi, selir yang diberikan oleh Ibu Suri.

Lelaki itu terlelap di atas risban dengan memegang sebilah pedang di tangannya. Ia baru membuka mata setelah terdengar suara ketukan.

“Masuk!” perintah Damarteja.

Raden Ayu Kasmirah, selir dari Prameswari Widuri memasuki ruangan bersama dengan seorang pelayan. Ia datang ke sana untuk memastikan apakah Ratnawangi benar-benar menghabiskan
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   205|

    Sebagai pejabat sipil, Raden Apta tak memiliki kuasa untuk memasuki barak militer tanpa membawa dekret keraton. Apalagi alasan lelaki itu datang ke sana untuk menjemput Raden Tumenggung Yajnayodha yang statusnya adalah tahanan militer.Namun atas izin Pangeran Adipati Agung, Raden Apta diizinkan pergi ke tempat suram tersebut dengan satu syarat. Ia harus didampingi oleh sang Pangeran langsung.“Silakan tunggu di sini, Raden.” Damarteja menunjuk kursi besi yang berada di ruang interogasi.“Baik, Kanjeng Pangeran.” Raden Apta mengangguk. Ia tersenyum canggung.Setelah berkuda siang dan malam selama beberapa hari membuat badan lelaki itu terasa remuk. Ia perlu istirahat, walau hanya sekadar duduk santai.Namun saat Raden Apta melihat kursi besi yang berkarat bahkan sampai berwarna coklat kehitaman, ia lebih memilih untuk berdiri saja. Lelaki itu tak mau perhiasan emas yang ia kenakan berkurang kadar karatnya karena bersentuhan

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   204|

    “Mereka pasti sedang menjadi cacing kepanasan sekarang.” Damarteja tersenyum menyeringai setelah membaca laporan dari mata-mata yang ia tanam di Ibu Kota.“Apa yang tertulis di sana sampai bisa membuat gigi Paduka kering?” ledek Muniratri yang hari itu sedang berkunjung ke Balai Adipati.Damarteja refleks menutup mulut dan membasahi gigi serinya menggunakan lidah. Ia rela menjadi badut komedi istrinya, hanya demi mendapatkan senyuman wanita itu.“Putri baca saja sendiri.” Damarteja memberikan gulungan kertas kecil kepada Muniratri.Wanita itu memeriksa surat tersebut kata per kata. Di sana disebutkan bahwa Prabu Bahuwirya menyetujui pemeriksaan menyeluruh terhadap kejahatan Raden Tumenggung Yajnayodha.Setiap orang yang terlibat kejahatan dengannya akan dijatuhi hukuman yang berat. Sang Prabu bahkan tak segan-segan akan menyita harta mereka serta menghukum keluarga terdakwa.“Apa informasi ini bisa dipercaya?” Muniratri menatap Damarteja seraya mengangkat kertas kecil di tangannya.“T

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   203|

    “Begitulah yang terjadi, Ibu Suri.”Raden Apta, keponakan Ibu Suri Tarisujana melaporkan apa yang terjadi di Aula Hutama segera setelah dirinya selesai menghadiri rapat pagi.Wanita itu tak langsung memberikan reaksi apa pun. Ia termenung untuk waktu yang tak sebentar, membuat Raden Apta bosan menunggu tanggapan sang Ibu Suri.“Ini pasti perbuatan Pangeran Hadiwangsa. Dia ingin mengguncang kedudukan kakak sepupu,” terka lelaki itu.Wajah Ibu Suri yang tadinya datar jadi memerah. Air mukanya mengeras. Meski begitu ia tak buru-buru mengutuk aksi Damarteja.Sikap gegabah dalam berbicara hanya akan membawanya pada situasi yang buruk. Terutama jika perkiraannya tak sesuai dengan yang terjadi di lapangan.‘Di permukaan, dia terlihat seperti sedang membela diri atas kekalahannya enam belas tahun yang lalu,’ ucap Ibu Suri dalam hati.‘Tapi jika tujuannya hanya itu, dia tidak perlu sampai ....” Ibu Suri tersentak.Wanita itu teringat pada kejadian buruk yang dialami oleh orang-orangnya dalam wa

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   202|

    “Aku penasaran bagaimana ekspresi Ibu Suri ketika tahu bahwa anak bungsunya sudah meninggal. Dan yang membunuhnya adalah kandungnya sendiri.” Damarteja mengasah pedang di hadapan Tumenggung Yajnayodha.Lelaki yang kini berstatus sebagai tahanan militer tersebut menarik rantai yang membelenggunya. Ia meronta sekuat tenaga namun yang dihasilkan hanyalah kesia-siaan.Badannya tetap terikat oleh rantai yang besar dan kuat. Jangankan lepas dari ikatannya, bahkan menggerakkannya saja tak bisa. Benda itu terlalu berat, bahkan hanya untuk bergetar.“Hm! Hm! Hm!”“Kamu bilang apa, Raden?” Damarteja melengkungkan telapak tangan di samping daun telinga.“Hm! Hm!”Tumenggung Yajnayodha sudah berusaha sekuat tenaga untuk berbicara. Namun usahanya gagal.Sejak Begawan Prayono memutuskan bahwa Mustika meninggal karena dibunuh oleh Yajnayodha, lelaki itu disiksa sepanjang waktu. Ia hanya bisa beristirah

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   201|

    “YANG MULIA!”Ibu Suri Tarisujana jatuh setelah mendengarkan berita yang dikirim oleh Begawan Prayono.Sejak lelaki itu sampai di Ibu Kota, tempat pertama yang ia tuju adalah kediaman Ibu Suri. Ia bahkan tak menunggu hari berikutnya untuk menyampaikan kabar tersebut.“Bagaimana keadaan anak itu sekarang?” tanya sang Ibu Suri.Wanita itu berpegangan kepada dayangnya agar tetap tegar. Napasnya berat, namun ia berusaha menarik dan mengembuskannya secara teratur.“Dia sudah dikremasi di Agratampa.” Begawan Prayono menyeka wajahnya tak sedikit pun basah karena air mata.Belum juga tenang setelah mendapatkan kabar tentang Mustika, kini wanita itu harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya tak bisa berjumpa dengan putrinya lagi. Hatinya makin hancur.“Kalau begitu, kamu pasti membawa abunya, kan?” Ibu Suri tersenyum getir.Walaupun sudah tak mungkin melihat wajah sang putri, setidaknya dia

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   200|

    Api berkobar hebat membakar mayat Mustika dan juga Ratnawangi. Kremasi keduanya dilakukan di hari dan lokasi yang sama, di bawah pohon cantigi. Pohon yang dipercaya mampu menenangkan roh.Prosesi tersebut dilakukan secara terbatas. Hanya keluarga Pangeran Adipati Agung, dan Begawan Prayono yang boleh menghadirinya. Orang luar yang diizinkan berada di lokasi hanyalah para ajudan dan dayang pribadi.“Kanjeng Pangeran.” Begawan Prayono memberikan hormat kepada Damarteja.“Terima kasih sudah memberikan upacara yang layak untuk putri kami.” Begawan tersebut menundukkan badan.Sang Pangeran Adipati Agung mengangguk sebagai tanda bahwa ia telah menerima penghormatan sang Begawan. Ia mengizinkan lelaki itu untuk bangkit.“Tidak perlu berterima kasih. Ini memang sudah menjadi kewajibanku mengantarkan kepergian putri kalian untuk terakhir kali.” Damarteja menepuk pundak Begawan Prayono sekali.“Semoga dia bisa

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   4| Permainan Dimulai

    Damarteja membangun tembok tinggi tak kasat mata di antara dia dan Muniratri. Ia yakin seratus satu persen, wanita itu tidak akan mampu menghancurkannya.“Paduka!” seru Muniratri, kali ini wanita tersebut menggunakan gaya ala gadis manja. Suaranya bahkan dibuat sedikit mendesah.Tanpa aba-aba, Munir

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   3| Perangkap Muniratri

    “Wulan, bagaimana menurutmu?” tanya Widuri.Dayang tersebut berlutut di samping Muniratri. “Yang di katakan oleh Kanjeng Putri memang benar, Yang Mulia.”Bibir Muniratri tersungging. “Tentu wanita itu tidak menyangkal omonganku. Makanan yang aku berikan padanya semalam, sudah kuberi obat tidur dosis

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   2| Bertemu Naratama

    “Yang Mulia ... JANGAN!” Muniratri berteriak hingga terbangun dari tidur. Tubuhnya, dibanjiri keringat dingin.Ingatan tentang hari ketika keluarganya dieksekusi terus muncul dalam mimpi wanita itu, tiap malam. Meski sudah empat puluh dua hari berselang, kejadian pada saat itu masih tergambar jelas,

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   1| Malam Pertama

    Pernikahan adalah hubungan yang sakral bagi umat manusia. Baik lelaki maupun perempuan menginginkan kehidupan rumah tangga yang harmonis bersama orang tercinta, tak terkecuali Muniratri Wasista.Sayangnya, takdir yang baik tak selalu berpihak pada setiap orang. Muniratri yang berstatus sebagai tunan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status