LOGIN“Wulan, bagaimana menurutmu?” tanya Widuri.
Dayang tersebut berlutut di samping Muniratri. “Yang di katakan oleh Kanjeng Putri memang benar, Yang Mulia.”
Bibir Muniratri tersungging. “Tentu wanita itu tidak menyangkal omonganku. Makanan yang aku berikan padanya semalam, sudah kuberi obat tidur dosis tinggi, sehingga dia tidur sepanjang malam dan tak tahu kejadian yang sebenarnya.”
Selain mengawasi tindak-tanduk Muniratri, Damarteja juga melakukan pekerjaan lain yang tak kalah penting, yakni menutup mata Endra, ajudannya. Ia tak ingin ada lelaki lain yang melihat tubuh si istri.
Ajudan Damarteja tersenyum puas mengetahui penderitaan yang dirasakan oleh istri si tuan. “Aku kira Paduka berada di kamar wanita itu semalam penuh karena tergoda oleh kecantikan si ular,” batin Endra.
Lelaki itu manggut-manggut beberapa kali. “Ternyata Paduka hebat juga,” ucapnya.
Damarteja tak peduli dengan pujian Endra. Ia tetap fokus mengawasi Muniratri dan Prameswari. Lelaki tersebut mendengarkan percakapan mereka berdua dengan saksama, tak melewatkan satu kata pun.
“Cah Ayu ... malang nian nasibmu.” Widuri menyeka wajahnya menggunakan sapu tangan.
Jangan salah! Tak hanya Muniratri yang bisa akting menangis, Widuri pun bisa melakukannya, walau tak sampai pada tahap keluar air mata.
“Tolong berikan ‘sumber kehidupan abadi’ untuk Putri Hadiwangsa,” titah Prameswari pada Gendhis.
Sumber kehidupan abadi merupakan minuman manis yang diberi getah bunga jepun merah muda. Mengonsumsinya sedikit saja, dapat menyebabkan kematian.
Kerajaan Badra biasa menggunakan minuman ini untuk membunuh dengan cara yang halus, agar tidak menimbulkan kegaduhan.
Tak ingin nyawanya melayang, Muniratri memeluk kaki Widuri. “Yang Mulia! Tolong beri saya satu kesempatan lagi. Saya pasti bisa menaklukkan Pangeran Adipati Agung dan membujuk beliau agar bersedia menjadi pendukung Putra Mahkota.”
Awalnya, Widuri pikir Muniratri tidak membunuh Damarteja karena dia sudah tidak mendambakan putranya lagi, lalu berpaling mencari pendukung lain.
Namun ketika wanita itu terlihat antusias ingin membantu Kamakarna naik takhta, Widuri kira dirinya sudah berpikir berlebihan.
“Ternyata bocah ini masih tergila-gila pada putraku. Sepertinya dia masih bisa kumanfaatkan,” batin Widuri.
“Cah Ayu, kamu memang anak baik,” ucap Prameswari.
Widuri melepaskan pelukan Muniratri dari kakinya. “Coba ceritakan, dengan cara apa kamu berencana menaklukkan hati Pangeran Hadiwangsa?”
***
Damarteja melempar diri ke kursi. Ia memijat-mijat pelipis sendiri, lalu menutup mata untuk beberapa saat.
“Semalam, dia yang memintaku menusuknya dengan sengat lebah, namun di depan Prameswari, dia bilang kalau aku menyiksanya menggunakan hewan itu,” ucap sang Pangeran dalam hati.
Damarteja berpikir keras. “Di antara aku dan Prameswari, siapa yang sedang dia permainkan? Atau ... jangan-jangan ....” Lelaki itu mendengus dan melempar pandangan ke awang-awang.
Sang Pangeran membanting beberapa berkas di meja untuk melampiaskan rasa kesal. Ia tidak terima bahwa dirinya sudah dibodohi oleh anak kecil macam Muniratri.
Andai saja dia tahu kalau perempuan itu ternyata ratu lebah, dia pasti tidak akan mengutarakan ide konyol seperti tadi malam.
Endra masuk ke ruangan dan memberi laporan. “Paduka, dayang yang bertugas di dapur keraton memberitahu kalau ... Putri ... selalu meminta buah pepaya, namun beliau bukan mengonsumsi buahnya, melainkan ... biji.”
Damarteja menyangga dagunya. “Apa biji pepaya lebih enak daripada buahnya?
Ajudan sang Pangeran menggaruk rambut meski tak gatal. “Itu ... biji pepaya banyak digunakan oleh rumah bordir untuk kontrasepsi.”
Damarteja menelan ludah dan mendelik di saat yang sama. Ada perasaan yang membuncah dalam hati lelaki tersebut, seperti benang kusut yang tak bisa uraikan.
“Jadi dia tidak mau mengandung anakku?” Lelaki itu mendengus.
Meski ia tak suka dengan sikap Muniratri, orang luar tak boleh mengetahui masalah rumah tangga mereka berdua. Oleh karena itu, Damarteja memberi perintah pada ajudan. “Singkirkan dayang itu ... tanpa jejak.”
***
Muniratri menggeleng ke kiri dan ke kanan. Ia bolak-balik di depan cermin, memeriksa apakah riasan dan busananya sudah siap. Dia juga beberapa kali menyuruh pelayan untuk mengasapi dirinya dengan kemenyan agar harum semerbak.
“Apa kudapannya sudah siap?” tanya Muniratri pada Bibi Wulan.
Meski dayang tersebut merupakan mata dan telinga Widuri, Muniratri tak menjaga jarak darinya. Ia malah sengaja membuat wanita itu berada di dekatnya, supaya bisa memberi perintah ini dan itu.
“Sudah, Kanjeng Putri,” jawab Wulan.
Agar dirinya diakui sebagai istri pangeran oleh bawahan Damarteja, Muniratri sengaja menyuruh dayang agar menyiapkan minuman dan beberapa kudapan untuk suami dan para prajurit yang disajikan secara terpisah.
“Ayo berangkat sekarang,” ucap Muniratri
Wanita itu bergegas pergi ke lapangan samping, di mana Damarteja sedang mengadakan latihan bersama dengan para prajurit. Ia tak sabar untuk melihat reaksi si suami saat menerima kejutan darinya.
“PADUKA ...!!” Muniratri berteriak dari pintu masuk lapangan.
Teriakan wanita tersebut begitu keras, hingga membuat semua prajurit menoleh ke arahnya. Dia, seketika menjadi gula di antara gerombolan semut. Perhatian mereka tak mau lepas dari si pemilik suara.
“Wah! Siapa perempuan itu? cantik sekali,” bisik Arok, salah satu prajurit.
“Aku seperti sedang melihat bidadari,” ujar Mula, si prajurit yang lain.
Salah satu perwira bernama Warman, melihat Muniratri penuh damba. “Dia sudah menikah apa belum ya?”
Kedatangan Muniratri di lapangan utama membuat konsentrasi para prajurit terganggu. Mereka tak lagi fokus pada latihan dan hanya sibuk memperhatikan wanita tersebut. Berbeda dengan Damarteja, lelaki itu malah kesal ketika istrinya berkunjung ke sana.
“Mau apa sih si bocah bau kencur itu datang ke sini?” gerutu Damarteja dalam hati.
Muniratri mengedarkan pandangan, mencari tahu di mana lokasi suaminya. Setelah target terlihat, dia pun berlari-lari kecil menuju ke sudut lapangan, di mana lelaki itu berada.
“Paduka!” seru istri Pangeran Adipati. “Saya membawa kudapan dan minuman untuk Anda.”
Damarteja bersumpah, ia lebih baik menjadi objek perhatian para prajurit musuh di medan perang, daripada dijadikan bintang panggung oleh prajurit sendiri.
Ia risi, sangat risi ketika semua mata tertuju padanya dengan tatapan seperti kucing yang sedang mengawasi mangsa.
Sementara itu, Muniratri berdiri di depan Damarteja. Kakinya menjinjit dan ia sedikit mendongak agar bisa melihat wajah sang suami lebih jelas. “Paduka ...? Paduka?”
Muniratri memiringkan kepala sesekali, mencari tahu mengapa lelaki di hadapannya tak memberi respons apa pun. “Paduka?” panggilnya, lagi.
Sadar bahwa semua mata tertuju mereka berdua, Muniratri tak ingin menanggung malu karena diabaikan oleh suami di depan umum. Ia pun menarik lelaki tersebut ke tempat istirahat. Sialnya, sang suami malah berdiri teguh di tempat.
“Dasar wanita ular!” cibir lelaki itu, dalam hati.
“Semalam kamu bisa membodohiku. Kali ini ... aku tidak akan jatuh ke dalam perangkapmu!” batinnya.
***
Kuatkan iman ya, Bang Damar. Jangan sampai jilat ludah sendiri!
Puri kembangan adalah taman bunga pribadi milik Widuri. Tempat itu terletak persis di halaman belakang kediaman sang Prameswari. Tak ada yang mengetahui tempat rahasia tersebut, kecuali Widuri dan para dayang kepercayaannya.Apabila ada pihak lain menemukan tempat itu, yang bersangkutan akan dipaksa meminum ‘sumber kehidupan abadi’, racun mematikan yang akan mengirim orang yang meminumnya pindah alam dalam beberapa saat.“Berhenti.” Gendhis mengangkat tangan kanannya.Keempat orang yang membawa tandu Ndari menurunkan sang Putri Mahkota. Alih-alih memberikan bantuan kepada Ndari untuk berdiri, Gendhis malah melayani para pria di sana terlebih dahulu.“Nah, kalian pasti lelah, bukan? Silakan dinikmati.” Dayang itu memberikan minuman merah.Minuman tersebut memiliki wangi yang menggugah selera. Para pria yang memanggul tandu pun menikmatinya tanpa pikir panjang.“Terima kasih. Kalian sudah bekerja
Berita Kamakarna mengunjungi Muniratri terdengar ke berbagai kompleks keraton, termasuk Kompleks Kusumaswari. Widuri tak habis pikir dengan kelakuan sang anak.Meskipun hanya kalangan tertentu yang mengetahui kelakuan sang Putra Mahkota, sebagai ibunya tentu saja Widuri tak tahan. Darahnya mendidih karena emosi.“Makin hari dia makin berani saja.” Sang Prameswari Badra meremas kertas yang baru saja dibaca.Tak peduli seberapa marahnya Widuri, wanita itu tak akan melampiaskan amarahnya pada sang putra. Ia memerlukan orang lain untuk meredakan hati yang panas.“Panggil Putri Mahkota ke Puri Kembangan!.” Widuri mengibaskan tangan ke arah Gendhis.Biasanya, saat Widuri memberi titah pada Gendhis, dayang itu akan melakukannya tanpa ragu. Namun kali ini, kakinya seolah menancap dengan tanah. Ia tak mau bergerak meski hanya selangkah.“Kenapa diam saja?” sentak Widuri.“Yang Mulia ... apa Anda sudah
Dahulu Muniratri pernah menyelidiki siapa saja yang terlibat dalam kasus ayahnya. Namun saat itu dia lakukan secara diam-diam. Kali ini, ia bisa melakukannya dengan leluasa karena dirinya diperbolehkan memasuki Gedhong Prabayekti secara bebas.Wanita itu boleh membaca buku apa saja. Ia mendapat izin istimewa tersebut atas permohonan Kamakarna pada sang ayahanda.Awalnya, para pejabat menentang permintaan Putra Mahkota. Namun setelah Muniratri mengatakan bahwa dirinya akan kembali ke Agratampa, para pejabat mengendurkan urat mereka.“Kanjeng Putri, Yang Mulia Putra Mahkota sudah tiba,” bisik Ningsih saat wanita itu memasang cunduk di sanggul Muniratri.Sebagai seseorang yang sedang ditunggu oleh orang mulia, seharusnya Muniratri mempercepat waktu merias diri. Namun wanita itu tetap santai.“Ningsih, bukankah hari ini ... hari yang istimewa?” Muniratri memiringkan kepala sehingga bisa melihat Ningsih yang berada di sampi
Sebelum menjalankan tugas bersama Putra Mahkota, Muniratri perlu menghadap Prabu Bahuwirya di Pendopo Agung. Di sana, para pejabat berkumpul untuk menghadiri rapat pagi.Para pejabat membahas berbagai permasalahan yang terjadi di Badra. Mulai dari bencana kekeringan, gagal panen, kelaparan, dan juga masalah perbatasan menjadi topik hangat pada hari itu.Awalnya, rapat pagi berjalan lancar, hingga Kamakarna mendeklarasikan bahwa dirinya sanggup mengatasi setiap masalah yang sedang terjadi.“Kekeringan membuat para petani gagal panen sehingga menyebabkan kelaparan di mana-mana. Bagaimana Putra Mahkota mengatasinya? Apa Anda akan mendatangkan hujan dari langit?” cibir Raden Bendara .....Pertanyaan yang keluar dari mulut Pangeran yang lahir dari Selir ... itu mengubah suasana Aula Agung yang tenang menjadi ruangan berdengung. Para pejabat saling berbisik ikut mempertanyakan kesanggupan sang Putra Mahkota.Pangeran .... melirik ke arah Kama
Damarteja yang baru saja menerima surat dari Warman membulatkan mata. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia baca, meskipun dirinya sudah mengulang dua kali.“Apa kita kekurangan kunyit?” tanya Damarteja pada ajudannya yang sedang merapikan dokumen.“Tidak, Paduka.” Endra menghentikan aktivitasnya.“Anda mau saya ambilkan sekarang?” tanya ajudan itu.Alih-alih mengangguk maupun menolak, Damarteja malah berdecih. Ia mengangkat satu dokumen yang berat, berniat melemparkan benda tersebut pada ajudannya yang tak peka.“Putri menyuruh Warman membeli kunyit dalam jumlah yang banyak.” Damarteja meletakkan dokumen di tangan, tak jadi melemparnya.“Menurutmu untuk apa dia melakukan itu?” tanya sang Pangeran Adipati.Kunyit memiliki peranan yang penting bagi Masyarakat Badra. Selain digunakan sebagai bumbu dapur, mereka juga memanfaatkan tanaman ini untuk dijadikan minuman herbal
Sebelum sang ayah tersandung kasus korupsi, Muniratri sudah biasa berkunjung ke Keraton Badra. Ia ke sana tak hanya untuk menghadiri acara-acara besar, tetapi juga sekadar untuk memenuhi undangan para anggota keraton.“Tempat ini tidak berubah, tapi entah kenapa suasananya berbeda,” batin Muniratri.Wanita itu melangkah ke dalam Kompleks Keputren. Ingatan masa lalu melambai-lambaikan tangannya. Kenangan-kenangan itu memaksa Muniratri bercengkerama dengan nostalgia yang pernah tercipta.“Kanjeng Putri, kita sudah sampai.” Langkah Narti berhenti di depan halaman Paviliun Kantil.Suara dayang tersebut menyadarkan Muniratri bahwa semua ingatan yang singgah di kepalanya tak akan kembali. Ia tak boleh terlena di sana.Muniratri mengamati bangunan di depan mata dengan saksama. Bangunan itu berada persisi di samping kediaman sang Putra Mahkota. Tempat yang sangat pas digunakan untuk merajut kisah silam, jika Muniratri menginginkanny







