LOGIN“Yang Mulia ... JANGAN!” Muniratri berteriak hingga terbangun dari tidur. Tubuhnya, dibanjiri keringat dingin.
Ingatan tentang hari ketika keluarganya dieksekusi terus muncul dalam mimpi wanita itu, tiap malam. Meski sudah empat puluh dua hari berselang, kejadian pada saat itu masih tergambar jelas, tanpa terlewat satu adegan pun.
“Putri ....” Damarteja memeluk Muniratri dari belakang. “Kamu mimpi buruk?”
Pelukan Damarteja membuat Muniratri tersadar akan status yang ia sandang, bahwa saat ini dia merupakan istri pangeran adipati. Wanita itu pun menyembunyikan wajahnya dengan bersandar di dada suami.
“Saya pasti sudah mengganggu waktu istirahat Paduka.” Muniratri mendekap lengan Damarteja yang besar dan kokoh.
“Tidak sama sekali.” Lelaki itu mencium rambut istrinya. “Putri mimpi apa, sampai terbangun tengah malam?”
“Kalau orang ini tahu bahwa tiap malam aku memimpikan Ayah ... aku takut dia akan makin membenciku,” batin wanita itu.
Muniratri mendusel ke permukaan dada Damarteja. “Entahlah. Saat bangun, saya tidak ingat.”
Orang bilang, jika mengalami mimpi buruk, baliklah bantal, lalu tidur lagi. Lelaki itu pun melakukannya untuk Muniratri. Tujuannya hanya satu, mendapatkan tidur yang nyenyak.
“Putri! Ini ....” Damarteja menatap wajah Muniratri lekat-lekat. Ada kilatan api di mata lelaki tersebut.
Setelah membalik bantal milik istri, lelaki yang tadinya mengantuk, berubah seratus delapan puluh derajat. Matanya langsung terjaga dalam sikap siaga level empat.
Damarteja mengambil benda tajam yang ditinggalkan oleh Bibi Wulan. “Tolong jelaskan, kenapa ada pisau di bawah bantalmu?!”
Muniratri gelagapan. Setelah Bibi Wulan meninggalkan kamar pengantin, ia hanya fokus memikirkan cara untuk menggoda Pangeran Adipati hingga lupa akan pisau yang diberikan oleh dayang tersebut.
Ia tak menyangka bahwa benda itu akan ditemukan oleh Pangeran. Jika dia tahu hal ini akan terjadi, Muniratri pasti sudah memindahkannya ke tempat yang lebih aman.
“Paduka! Itu ....” Istri Pangeran Adipati menggigit bibir sambil memikirkan kalimat apa yang harus ia ucapkan selanjutnya agar sang suami tidak murka.
Muniratri menunduk, tak berani menatap mata Damarteja. “Saya tidak bisa tidur tanpa pisau di bawah bantal.”
Damarteja membaca raut muka Muniratri dengan teliti. Dia melihat dengan jelas ada kebohongan besar di wajah wanita itu. Alih-alih melanjutkan interogasi, ia lebih tertarik untuk mempermainkan si istri.
Damarteja membelai wajah Muniratri dengan pisau yang ia temukan di bawah bantal. “Aku pernah baca buku pengobatan. Katanya ... sengatan lebah bisa mengobati penyakit tidur. Apa Putri ingin mencoba?”
***
Di hari kedua pernikahan, Bibi Wulan membawa Muniratri bertemu naratama, di luar keraton. Mereka mengendap-endap lewat pintu samping, di mana penjagaan tak seketat pintu masuk utama.
“Yang Mulia!” seru Muniratri saat dia memasuki ruangan khusus di sebuah rumah makan.
Wajah wanita itu berbinar-binar. Seolah ia sedang bertemu dengan pahlawan.
“Lancang!” pekik Gendhis, seorang dayang senior yang datang bersama Widuri.
“Berani sekali wanita ini berdiri di hadapan Yang Mulia,” sambungnya.
Widuri adalah naratama yang dimaksud oleh Bibi Wulan. Ia merupakan ibu kandung putra mahkota, sekaligus Prameswari Kerajaan Badra.
Jika diurut berdasarkan silsilah keluarga, Widuri merupakan istri dari Bahuwirya, raja yang berkuasa saat ini. Lelaki tersebut adalah kakak pertama Damarteja, dari ibu yang berbeda.
Bibi Wulan menyabet lutut Muniratri dari belakang hingga wanita itu jatuh tersungkur. Wajahnya menyentuh lantai, membuat dia seolah bersujud di hadapan Widuri.
“Ini salah hamba, Yang Mulia. Seharusnya hamba mendidik Kanjeng Putri dengan benar,” ucap Bibi Wulan.
Wajah Muniratri menggelap. Perkataan tentang ‘mendidik kanjeng putri’ membuat telinga wanita tersebut tergelitik. Di dunia ini, mana ada hamba yang mendidik tuan.
Jika hal itu benar ada, pasti hamba tersebut menganggap si tuan seperti kerbau yang dicucuk hidungnya.
“Sudahlah. Lagi pula aku keluar dengan menyamar. Tidak perlu menjalankan protokol keraton saat di luar. Takutnya, ada orang lain yang lihat, nanti penyamaranku terbongkar.” Widuri membantu Muniratri berdiri.
“Bagaimana keadaan Pangeran Adipati Agung Hadiwangsa?” tanya wanita mulia itu dengan suara pelan, hampir seperti bisikan.
Baru saja meluruskan kaki, Muniratri langsung berlutut di depan Widuri. Wajahnya menghadap ke bawah, seolah tak berani melihat ke arah lain. Dia bersikap seperti itu karena kondisi Damarteja baik-baik saja.
“Dasar berengsek! Dia menyuruhku membunuh Pangeran Adipati. Kalau Pangeran mati di tanganku, pasti aku juga akan ikut mati bersamanya, entah karena dihukum dengan tuduhan membunuh keluarga kerajaan, atau dipaksa dikubur bersama, dengan dalih suami istri harus bersama, sehidup semati,” batin Muniratri.
“Jika usahaku membunuh Pangeran Adipati gagal, lelaki itu juga akan membunuhku di tempat. Lebih parahnya lagi, mungkin dia akan menyiksaku hingga aku mati pelan-pelan,” lanjutnya.
Muniratri geleng-geleng. Ia bertekad, sebelum tujuan hidupnya tercapai, dia tidak boleh mati.
Wanita itu membenturkan dahi ke lantai. “Yang Mulia! Mohon hukum saya.”
Muniratri menahan matanya agar tak berkedip. Ini adalah cara paling cepat untuk membuat air mata keluar. Dengan begitu, akting menangisnya akan terlihat nyata.
“Semalam ... saat saya hendak menusuk beliau ....” Wanita itu terisak. “Saya ... ketahuan.”
Dia membuka kain yang membungkus tubuhnya, memperlihatkan luka merah seperti memar dengan lubang kecil di tengah. Bukan hanya satu, melainkan belasan.
“Yang Mulia ... lihat! Semalam ... Pangeran Adipati Agung menyiksa saya dengan sengatan lebah.” Wanita itu merengek.
Muniratri dengan percaya diri memamerkan lukanya yang masih bengkak, tanpa mengetahui bahwa sang suami tengah mengawasi tindakannya dari balik atap.
***
Mbak Muni ... Mbak Muni .... Nama doang bagus tapi kelakuan nggedabrus.
Tiga tahun yang lalu, Damarteja, Pangeran Mahkota Badra yang disandera oleh Kerajaan Sumbur selama sepuluh tahun, kembali ke tanah air dengan membawa kemenangan.Ia berhasil mengalahkan Sumbur dengan membunuh rajanya dan mempersembahkan kepala yang bersangkutan kepada Badra. Peristiwa tersebut tentu saja membuat Bahuwirya gelisah.“Ibunda ... Damarteja kembali! Bagaimana jika dia menuntut takhta yang sudah kumiliki?” Bahuwirya menggenggam erat tangan Ibu Suri Tari Sujana di kediaman wanita tersebut.Untung saja hanya ada mereka berdua di ruangan itu, sehingga tak seorang pun menyaksikan sisi rapuh sang Penguasa Badra.Tarisujana menepuk-nepuk bahu anaknya untuk memberi ketenangan. “Jangan khawatir, Baginda. Sepuluh tahun sudah berlalu. Tidak akan ada yang berani mempertanyakan kekuasaanmu.”Perkataan wanita itu memang menenangkan hati sang anak untuk sesaat. Kendati demikian, hal itu tak bisa membersihkan isi pikiranny
Perbuatan Damarteja yang jauh dari kata sopan terhadap ketiga selir membuat Muniratri trauma berat. Tiap kali lelaki tersebut bermalam di kamarnya, ia selalu memastikan bahwa lampu menyala sepanjang malam.Semua dia lakukan demi mencegah dirinya bertemu kemalangan seperti yang dialami oleh para selir. Kendati demikian dia tidak sekali pun membocorkan apa yang sebenarnya terjadi kepada siapa pun.“Tiap aku bermalam di tempat Putri, entah kenapa aku merasa kalau Putri memasang tembok yang tebal di antara kita berdua.” Damarteja meraih tangan Muniratri.Wanita yang tengah duduk di kursi tengah itu segera merengkuh pegangan tangan sang Pangeran. Ia juga mengubah raut wajah yang awal mulanya berekspresi datar menjadi tersenyum lebar.“Itu hanya perasaan Paduka saja. Mana mungkin saya berani melakukan itu.” Muniratri menatap Damarteja dengan sorot mata penuh keramahan dan cinta.Sang Pangeran terpesona pada senyum di bibir Munirat
Di dalam sebuah komunitas, ada tidak semua pihak satu pendapat dengan pemimpin. Mereka yang memiliki pemikiran berbeda akan membangun forum di dalam forum untuk menuangkan isi kepala mereka yang berantakan.Setelah para istri bangsawan meninggalkan Puri Kacayagra, mereka berkumpul kembali di Balai Skul Lawuh. Wanita yang memelopori pertemuan tersebut ialah Raden Ayu Sekar, istri Tumenggung Yajnayoda.“Pihak Puri Kacayagra sudah keterlaluan. Sudah barang harganya murah, kita masih ditekan untuk memberi potongan harga.” Sekar mengepalkan tangan di atas meja.“Benar, itu Mbakyu.” Mayang, istri Raden Jaka berdiri dari tempatnya.Ia mendukung Sekar karena keluarga mereka sama-sama menjadi pengepul bahan pangan. Kini stok melimpah yang dimiliki oleh mereka menjadi pekerjaan rumah yang memusingkan.Di satu sisi, bahan pangan tak bisa disimpan terlalu lama karena akan menurunkan kualitas bahkan menjadi rusak. Di sisi lain, jik
Berbohong merupakan perbuatan tercela. Jika seseorang berbohong pada orang biasa konsekuensinya hanya tidak dipercaya lagi. Namun jika berbohong pada seorang pangeran, orang tersebut bisa mendapat konsekuensi yang serius.Damarteja tidak memandang bulu saat menghukum seseorang. Karena Mustika telah membohonginya sakit hanya demi menarik perhatian sang Pangeran, wanita itu dilarang meninggalkan kamar hingga dirinya selesai menyalin kitab.“Kalian saja yang menulisnya!” Mustika melempar alat tulis di tangannya.Pelayan yang dibawa oleh Mustika langsung mengerjakan perintah sang selir. Bertolak belakang dengan perempuan itu, dua pelayan yang diberikan oleh Damarteja hanya bergeming di tempat.“Kenapa kalian diam saja?!” bentak Mustika.“Cepat ambil alat tulisnya!” Selir yang sedang dihukum itu menunjuk pena dan kertas di atas meja menggunakan gerakan leher.Kedua pelayan itu saling berpandangan untuk se
Pertunjukkan wayang memiliki kaitan yang erat dengan agama yang dianut oleh masyarakat Badra. Mereka menganggap acara ini sebagai sesuatu yang sakral karena mengubungkan dunia manusia dan spiritual.Bagi para penguasa, wayang memiliki fungsi yang lain, yakni sebagai penggerak cerita agar mereka dekat dengan rakyat. Karena alasan itulah, Damarteja meminta bantuan Muniratri untuk menyelenggarakannya, sebelum masyarakat terhasut oleh pihak yang tak bertanggung jawab.“Bagaimana persiapannya?” tanya Damarteja pada sang istri.Sudah satu minggu berlalu sejak lelaki itu meminta istrinya untuk mengadakan pertunjukkan wayang di depan Puri Kacaragra. Ia menanyakan perkembangan rencananya setiap hari hingga Muniratri kesal dibuatnya.“Kediaman sudah membeli barang di pasar dalam jumlah yang besar. Paduka tidak perlu khawatir lagi tentang harga” Muniratri memeluk sang suami di atas ranjang.Wanita itu memutar matanya di balik pel
Apabila barang tersedia dalam jumlah sedikit sementara permintaan masyarakat sangat tinggi, maka menurut konsep ekonomi akan terjadi kelangkaan relatif yang mendorong harga barang naik. Hal ini juga berlaku untuk keadaan sebaliknya.Untuk menekan tingginya harga barang, Tumenggung Yajnayodha membanjiri pasar dengan membuka keran distribusi dari gudang Balai Pangan. Tak tanggung-tanggung, dia mengeluarkan semua stok. Akibatnya, harga di pasar terjun bebas.“Ini kan yang Anda inginkan. Aku mengabulkannya,” batin sang Tumenggung saat dirinya berada di Pendopo Balai Adipati.Di hadapan para pejabat, Damarteja dituntut agar tidak tutup mata karena penyebab harga pangan jatuh, salah satunya adalah akibat dari dominasinya. Jika dia tidak ikut campur dalam urusan Badan Pangan, hal ini tidak akan terjadi.“Rasakan itu. Anda boleh mengambil simpati rakyat dengan menurunkan harga pangan. Namun para pemilik barang dalam jumlah besar merupakan para p







