Share

39| Mulut Penguasa

Author: Shanum Belle
last update publish date: 2025-11-18 19:00:37
Ketika seorang penguasa berbicara, kata-katanya sering kali menjadi kenyataan, meskipun yang diucapkan hanya sekadar gurauan.

Pasalnya, apa pun yang terucap dari mulut penguasa, kerap dianggap sebagai perintah mutlak yang harus dijalankan oleh bawahannya.

“Apa Paduka yakin dengan keputusan Anda?” tanya Muniratri, yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Pangeran Adipati.

Belum genap sehari sejak Kamakarna menyatakan keinginannya pergi ke Ibu Kota bersama Muniratri dan yang lainnya, Damarteja suda
Shanum Belle

Ada perbedaan yang nyata antara mulut penguasa dan lidah orang biasa, terutama dalam hal kekuatan kata. Satu kalimat dari penguasa bisa mengubah arah kebijakan, sementara seribu kata dari orang biasa belum tentu mampu menggoyahkan keadaan. Namun, jika ucapan si orang biasa ini viral, cerita mungkin akan bergerak ke arah yang berbeda.

| Like
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   171|

    “Kanjeng Pangeran! Apa yang Anda lakukan?!” teriak Raden Cakrasurya.Amarahnya membara karena saat hendak keluar kediaman, ia dihadang oleh Pangeran Atmajaya.“Apa yang aku lakukan?” Pangeran Atmajaya mendengus.“Tentu saja sedang menegakkan hukum,” sambungnya.Berbekal surat penangkapan yang diberi stempel RATU BADRA, Pangeran Atmajaya membawa lima ratus orang bersamanya. Ia mengepung kediaman sang Senapati sekaligus ayah Putri Mahkota.Sang Senapati mengeluarkan pedangnya. “Jangan keterlaluan! Bagaimanapun juga, aku adalah ayah ....”“Ayah si Putri Mahkota yang sedang dipenjara,” ejek Atmajaya.Perhatian sang Pangeran terfokus pada pedang yang ada di tangan Raden Cakrasurya. Pedang itu, mirip seperti pedang yang digunakan oleh lelaki yang menyerangnya semalam.“Jadi itu kamu, ya?” gumam Pangeran Atmajaya.Lelaki itu membuka kotak yang berisi surat

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   170|

    “Masih sakit?” Damarteja mengoleskan obat ke kulit istrinya.Kondisi Muniratri sudah jauh lebih sejak ia keluar dari keraton. Tubuh yang awalnya penuh memar, kini hanya menyisakan noda ungu yang sudah pudar.“Sedikit ....” Muniratri menyelusup ke ceruk leher sang Pangeran.Damarteja menghela napas berat. “Bukankah sudah kubilang waktu itu supaya kamu jangan ....”Muniratri menutup mulut Damarteja menggunakan jari telunjuknya.“Sudah cukup. Paduka sudah mengatakannya berulang kali sampai saya bosan.” Muniratri memonyongkan bibirnya.Tak bisa.Damarteja tak bisa melihat sang istri mengambek. Terlalu menggemaskan untuknya.“Baiklah ... baiklah ... ini yang terakhir kali.” Lelaki itu memeluk istrinya.Lelaki itu memejamkan mata, membayangkan betapa ironisnya hidup ini.Dahulu, ia sangat membenci Muniratri bahkan memiliki niat untuk menyiksanya setiap hari. Na

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   169|

    “Yang Mulia, Anda tidak boleh ke sini!” seru penjaga yang bertugas di depan pintu masuk penjara bawah tanah.“Lancang!” timpal Gendhis.“Sudah tahu kalau beliau adalah Yang Mulia Prameswari, tapi kamu masih berani menghalanginya,” sambung dayang itu.Dua petugas di depan pintu penjara saling bertukar pandang. Mereka menggunakan kontak mata untuk berkomunikasi.“Sudahlah! Jangan membuat keributan. Mereka hanya menjalankan tugas.” Prameswari Widuri merentangkan tangan kanannya agar Gendhis berhenti memprovokasi.Setelah ditegur oleh sang Prameswari, Gendhis pun menunduk. Ia menarik diri sejajar dengan dayang junior yang ada di belakangnya.“Yang Mulia Prameswari memang pengertian,” ucap salah satu petugas.Widuri tersenyum tipis. Ia kemudian menggerakkan jemarinya, memberi tanda pada dayang yang datang bersamanya untuk maju.Dua dayang yang membawa makanan dan minuman be

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   168|

    “Yang Mulia!”“Yang Mulia!”Gendhis berlari dari pintu masuk kediaman Muniratri. Sikapnya yang tergesa-gesa membuat wanita itu nyaris terjatuh.“Pelan-pelan saja. Kediamanku tidak pindah tempat.” Prameswari Widuri menertawai Gendhis saat langkahnya terbelit kakinya sendiri.“Ada apa?” tanya Widuri saat dayangnya tersebut berada di hadapannya.Napas Gendhis tersengal-sengal. Ia menarik napas panjang supaya lebih tenang.“Yang Mulia ... Yang Mulia Putra Mahkota ....” Gendhis mengacungkan jarinya ke belakang, ke arah penjara bawah tanah.Kepanikan yang dibawa oleh Gendhis bergerak liar bak virus pandemi. Ia menulari Widuri.“Ada apa dengan Putra Mahkota?!” Mata Widuri membulat.“Katakan yang jelas!” perintahnya dengan suara lantang.Gendhis meremas tangannya. Kepalanya menunduk, sedang menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk karena

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   167|

    Muniratri mengunjungi ruang kerja Pangeran Adipati Agung. Di sana, lelaki itu sedang mengadakan pertemuan rahasia dengan para menteri.“Kanjeng Putri, mohon maaf. Anda tidak boleh masuk.” Endra yang berjaga di depan pintu merentangkan tangan.“Kalau begitu, tolong serahkan ini kepada Paduka.” Muniratri menggunakan gerakan kepala sebagai kode agar Ningsih memberikan buku yang ditulis oleh ibu Ayunda.Endra menerima buku itu. Ia membukanya, memastikan tidak ada barang berbahaya yang terselip di salah satu halaman.Ketika Endra membaca isi buku itu, matanya membelalak. Ia pun segera menutupnya.“Kanjeng Putri, mohon silakan duduk dahulu. Saya akan memberikannya kepada Paduka Pangeran.” Damarteja menunjuk kursi kayu jati yang ada terletak di samping pintu masuk.Muniratri mengulum sebentar bibirnya saat melihat ke arah kursi. Tubuhnya masih sakit karena cambukkan Ndari tempo hari.“Kanjeng P

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   166|

    Putra Mahkota Kamakarna duduk bersimpuh di penjara bawah tanah yang gelap. Di hadapannya hanya ada bubur tawar dan segelas air bratawali dingin. Sajian yang tak menggugah selera sama sekali.Baru sehari menginap di penjara, lelaki itu sudah merindukan kediamannya yang nyaman. Matahari bersinar terang dan makanan lezat tersedia sepanjang waktu.“Kenapa tidak makan, Yang Mulia?” Pangeran Atmajaya tersenyum mengejek di hadapan sang Putra Mahkota.Sepanjang usianya, ia selalu memberi hormat tiap kali bertemu dengan Kamakarna. Baru kali ini dia bisa berdiri tegap tanpa menundukkan kepala kepada lelaki itu.“Apa Makanannya tidak sesuai dengan selera Anda?” Pangeran Atmajaya menendang mangkuk berisi bubur. Makanan tawar itu pun tumpah ke tanah.“Apa yang kalian tunggu?!” Pangeran itu bersuara lantang kepada dua orang prajurit yang datang bersamanya.“Cepat bantu Yang Mulia menikmati sarapannya!” perin

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   133|

    Semenjak tinggal di keraton, Muniratri memiliki satu agenda yang tak boleh dia tinggalkan. Mengikuti rapat pagi di Aula Agung.Sejatinya, perempuan di keluarga Keratuan Badra, termasuk para istri pangeran tidak boleh terlibat urusan politik. Ada ketakutan di dalam hati mereka jika suatu ha

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   131|

    “Nimas, kenapa kamu baru datang?” Kamakarna mengulurkan tangan menyambut Muniratri yang berlari tergopoh-gopoh.Sudah satu jam sang Putra Mahkota berdiri di depan Gedhong Prabayekti. Alih-alih kesal karena menunggu Muniratri untuk waktu yang lama, lelaki itu justru menunjukkan

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   130|

    Puri kembangan adalah taman bunga pribadi milik Widuri. Tempat itu terletak persis di halaman belakang kediaman sang Prameswari. Tak ada yang mengetahui tempat rahasia tersebut, kecuali Widuri dan para dayang kepercayaannya.Apabila ada pihak lain menemukan tempat itu, yang bersangkutan ak

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   129|

    Berita Kamakarna mengunjungi Muniratri terdengar ke berbagai kompleks keraton, termasuk Kompleks Kusumaswari. Widuri tak habis pikir dengan kelakuan sang anak.Meskipun hanya kalangan tertentu yang mengetahui kelakuan sang Putra Mahkota, sebagai ibunya tentu saja Widuri tak tahan. Darahnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status