Share

219|

Author: Shanum Belle
last update publish date: 2026-08-11 19:00:39

“Ibu Suri!”

Endah berlari tergesa-gesa membawa sepucuk surat. Begitu mendesaknya surat yang ia bawa, membuat dayang tersebut bahkan berani membangunkan wanita paling agung di Badra.

“Ibu Suri.” Endah menggoyang badan Tarisujana.

“Hm ... Ada apa?” Ibu Suri masih memejamkan mata.

“Ada surat mendesak dari mata-mata di bawah,” ujar dayang yang sudah senior itu.

Ibu Suri Tarisujana membuka lipatan kertas kecil yang

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   220|

    “Kanjeng Putri!”Muniratri yang sudah terlelap kembali membuka mata. Ia bangkit begitu mendengar seruan Ningsih dan bergegas menuju ke pintu masuk sel.“Bagaimana kamu bisa ke sini?” Muniratri meraba-raba tangan Ningsih yang kotor oleh tanah.“Hamba menyusup lewat jalan tikus.” Wanita yang membawa pedang obsidian itu menggaruk rambutnya yang tak gatal.Cengengesan itu hanya sebentar. Begitu sorot mata Ningsih menangkap penampilan majikannya yang lusuh, wanita itu langsung menitikkan air mata.“Kanjeng Putri, maafkan hamba.” Ningsih menyeka pipinya yang basah.“Seandainya hamba ke sini lebih awal, Anda tidak perlu tinggal di tempat terkutuk ini lebih lama.” Ningsih menggenggam erat jeruji besi di hadapannya.“Jangan khawatir. Aku sudah pernah dikurung di penjara bawah tanah bersama mendiang keluargaku. Sel biasa seperti ini ... bukan apa-apanya bagiku.” Muniratri t

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   219|

    “Ibu Suri!”Endah berlari tergesa-gesa membawa sepucuk surat. Begitu mendesaknya surat yang ia bawa, membuat dayang tersebut bahkan berani membangunkan wanita paling agung di Badra.“Ibu Suri.” Endah menggoyang badan Tarisujana.“Hm ... Ada apa?” Ibu Suri masih memejamkan mata.“Ada surat mendesak dari mata-mata di bawah,” ujar dayang yang sudah senior itu.Ibu Suri Tarisujana membuka lipatan kertas kecil yang diberikan oleh Endah. Ia membaca surat itu dengan teliti. Air mukanya menjadi merah.“Bocah sialan!” Ibu Suri Tarisujana meremas surat dalam genggamannya.“Panggil Raden Apta kemari!” Mata Ibu Suri berair karena panasnya emosi dalam dada.“Tapi ini masih dini hari. Raden Apta mungkin masih tidur,” ujar Endah.“Hmmmmm ...!” Ibu Suri melotot.Sebelum Tarisujana menunjukkan amarahnya, dayang tersebut bangkit. Ia berl

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   218|

    “AH!”Muniratri dijebloskan ke dalam sel yang dibangun dengan batu bata. Tak ada jendela. Tak ada lampu. Hanya obor di lorong yang menjadi sumber cahaya.“Kanjeng Putri, maafkan kami kasar. Kami hanya mematuhi perintah.” Seorang penjaga mengunci sel.“Kalau kami memperlakukan Anda dengan baik, nantinya malah kami yang bernasib buruk. Mohon Kanjeng Putri tidak menaruh dendam,” ucap penjaga yang lain.Muniratri hanya membalas perkataan mereka hanya dengan memutar bola mata seraya berdecap. Ia kemudian duduk dengan tenang di ujung ruangan.Wanita itu bersandar di dinding sambil menutup mata. Seiring waktu berlalu, ia malah tertidur lelap.“Ck ck ck. Memang pantas disebut perempuan bandit. Bahkan sudah ditempatkan di sel yang busuk pun masih bisa tidur nyenyak,” cibir Endah.Wanita tua itu datang bersama dengan Ibu Suri. Wanita tersebut membawa segentong air dingin di tangannya.&ldqu

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   217|

    “Aku tidak mau memasuki Ibu Kota sebelum bertemu dengan Yang Mulia Prameswari,” celetuk Muniratri ketika kereta yang dinaikinya sampai di gerbang masuk Ibu Kota.Masyarakat yang berada di sana saling berbisik membicarakan kereta yang dinaiki Muniratri. Pasalnya ia menggunakan kereta mewah bertatahkan emas yang mencuri perhatian semua orang.“Pangeran dari negara mana ya?”“Kalau menurutku bukan Pangeran, tapi Putri. Lihat saja gaya keretanya, banyak ukiran bunga-bunga.”“Tidak penting mau pangeran atau putri. Pertanyaannya kenapa beliau tidak langsung masuk saja?”“Mungkin sedang mengurus dokumen.”“Masa kunjungan negara mengecek dokumennya lama begitu? Bukannya sudah dipersiapkan dengan baik. Lihat saja siapa yang mengawal kereta itu?”“Siapa memangnya?”“Yang pakai emas bentuk Dwara itu ... beliau adalah Wakil Perdana Menteri.”

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   216|

    Jantung Kasmirah tak bisa berdegup secara normal ketika berhadapan dengan Pangeran Adipati Agung. Matanya menengadah ke arah lelaki itu tanpa berkedip.“Paduka ingin saya melakukan apa?” Kasmirah menelan ludahnya dengan berat.Di depan wanita itu telah tersedia beberapa lembar kulit lembu tipis berkualitas tinggi. Tinta dan pena juga sudah siap digunakan.Damarteja menunjuk kertas yang terbuat dari kulit. “Tulis surat untuk Yang Mulia Prameswari. Katakan padanya untuk membebaskan Putri Hadiwangsa serta menjaga keselamatannya.”Sang Adipati Agung mencondongkan tubuh ke depan. Ia sedikit menundukkan kepala agar wajahnya dan milik Kasmirah berada pada ketinggian yang sama.“Kalau sampai Putri terluka sedikit saja, akan pastikan kekuasaan Perdana Menteri akan runtuh,” ucapnya dengan suara lebih pelan.Wajah sang Pangeran yang menggelap membuat napas Kasmirah sesak. Padahal dahulu ia berani menghadapi lelaki it

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   215|

    “Kanjeng Putri! Tetap di belakang hamba.” Ningsih merentangkan kedua tangan.Jeri-jemari sang Senapati Gupati bergerak pelan, tanpa diketahui orang lain. Dia bersiap meraih belati yang tersembunyi di balik bajunya.Di belakang Ningsih, Muniratri melihat ke arah tembok pertahanan kota. Di sana, para prajurit sudah siap meluncurkan anak panah. Damarteja yang memimpin komando.“Kanjeng Putri! Akhirnya kita bertemu lagi,” seru Raden Apta.Sang Wakil Perdana Menteri Badra maju ke arah Muniratri. Ningsih dan juga prajurit yang berada di atas tembok mengambil posisi siap.Mereka hanya perlu komando sang Pangeran. Sekali perintah itu turun, pintu gerbang Agratampa akan menjadi hujan anak panah.“Ada urusan apa Wakil Perdana Menteri datang ke sini?” tanya Muniratri dingin.Tak ada senyuman di wajah sang Putri Hadiwangsa. Hanya tatapan malas yang dia tunjukkan kepada Raden Apta.“Saya ke sini unt

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   141|

    Setiap Ningsih keluar keraton, Muniratri selalu menunggunya pulang di kursi panjang yang tersedia di halaman Paviliun Kantil. Ia ingin mendengar cerita di luar sana melalui mulut dayang tersebut.“NINGSIH!” Muniratri melambaikan tangan agar si dayang mudah menemukannya.

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   136|

    Gendhis membuka pintu yang terbuat dari kayu jati tua berkualitas tinggi. Pintu itu diukir dengan apik dan pada beberapa bagian dilapisi dengan emas.“Silakan masuk, Kanjeng Putri.” Gendhis menunjuk ke dalam ruangan menggunakan ibu jari.Muniratri melangkah ke depan. Pan

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   2| Bertemu Naratama

    “Yang Mulia ... JANGAN!” Muniratri berteriak hingga terbangun dari tidur. Tubuhnya, dibanjiri keringat dingin.Ingatan tentang hari ketika keluarganya dieksekusi terus muncul dalam mimpi wanita itu, tiap malam. Meski sudah empat puluh dua hari berselang, kejadian pada saat itu masih tergambar jelas,

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   1| Malam Pertama

    Pernikahan adalah hubungan yang sakral bagi umat manusia. Baik lelaki maupun perempuan menginginkan kehidupan rumah tangga yang harmonis bersama orang tercinta, tak terkecuali Muniratri Wasista.Sayangnya, takdir yang baik tak selalu berpihak pada setiap orang. Muniratri yang berstatus sebagai tunan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status