Beranda / Romansa / Jadilah Pedangku, Sayang! / 7| Mantan Tunangan Jadi Bibi

Share

7| Mantan Tunangan Jadi Bibi

Penulis: Shanum Belle
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-18 19:00:13

“Aku tidak peduli dengan orang lain. Asalkan bisa memeluk Raden Ayu, itu sudah cukup,” ucap Kamakarna, Putra Mahkota Badra.

Jika orang yang memeluknya bukan anggota keluarga kerajaan, Muniratri tak akan ragu melukai orang tersebut menggunakan cunduk atau benda apa pun yang bisa ia pakai menjadi senjata.

Masalahnya, orang itu adalah Putra Mahkota. Dia bukanlah seseorang yang bisa disinggung, bahkan jika yang dia lakukan pada Muniratri saat itu adalah perbuatan yang salah.

Dengan kondisi Putra Mahkota yang sedang linglung, Muniratri percaya bahwa kekuatan fisik tak akan mampu menghentikan lelaki tersebut. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk memakai taktik andalan.

“Yang Mulia, lengan saya sakit terkena kelat bahu Anda,” keluh wanita itu lirih, bagaikan seseorang yang lemah tak berdaya.

Dan ya ... berhasil. Putra Mahkota segera melepas pelukannya, lalu memeriksa tubuh Muniratri. Pada saat itu, Kamakarna menemukan banyak bekas luka yang masih segar, di kulit wanita tersebut.

“Raden Ayu ... apa yang terjadi padamu?” Putra Mahkota memegang lengan Muniratri dengan ketat, sebagaimana seseorang yang sedang menuntut penjelasan.

Istri Damarteja menunduk. “Saya baik-baik saja, Yang Mulia.”

Muniratri melepas cengkeraman  Kamakarna, lalu merengkuh lengannya sendiri dengan posisi menyilang. Tindakan ini memberi isyarat pada Putra Mahkota, bahwa wanita tersebut sedang berusaha menutupi aib dalam diri.

Tempo hari, Muniratri berhasil mengelabui Prameswari Widuri dengan luka sengatan lebah. Kali ini, ia percaya bahwa Putra Mahkota akan bersimpati padanya setelah melihat luka tersebut.

“Ini pasti ulah Pangeran Adipati, kan?” tuding Putra Mahkota.

Muniratri menggeleng. “Bukan, Yang Mulia.”

Kamakarna mendaratkan telapak tangannya di wajah Muniratri. “Sudahlah Raden Ayu. Kamu tak perlu menutupi hal ini. Jujur saja padaku, maka aku pasti akan memberi keadilan untukmu.”

Muniratri menatap mata Putra Mahkota lekat-lekat. Senyuman hangat terpatri di wajah wanita tersebut. Ia kemudian meraih tangan Kamakarna, lalu menyingkirkannya dari wajah wanita itu.

“Yang Mulia tidak perlu khawatir dengan apa yang terjadi di dalam rumah tangga kami,” ucap Muniratri.

Kalimat yang wanita itu lontarkan, terdengar ambigu di telinga Kamakarna. Setiap kata yang keluar dari bibir mantan tunangannya tersebut,  membuat dada Kamakarna sesak, terutama saat rangkaian kata ‘rumah tangga kami’ digaungkan.

Kamakarna mengepalkan tangan, dan menyembunyikannya di balik punggung. “Jadi benar, kan ... dia yang melakukan semua ini padamu?”

Muniratri tak menyangkal maupun membenarkan anggapan Putra Mahkota. Karena, jauh di palung hati, dia menikmati kegundahan lelaki tersebut.

Lelaki yang digadang-gadang sebagai calon pewaris takhta Kerajaan Badra kembali mencengkeram sang mantan, kali ini dia meremas pundak si wanita. “Raden Ayu tak perlu takut, aku pasti akan memberi keadilan untukmu!”

Dua janji yang sama sudah diucapkan oleh Kamakarna, menandakan bahwa dia serius dengan ucapannya. Kendati demikian, bagi Muniratri, hal itu tak ada bedanya dengan kapas yang beterbangan di angkasa, ringan dan membuat sesak.

Muniratri membuang muka sekilas, lalu kembali menatap Kamakarna. “Yang Mulia ... apa Anda tidak takut? Bagaimanapun ... beliau adalah paman Anda.”

Kamakarna yang awalnya antusias, berubah menjadi lesu dan tak bergairah. “Apa Raden Ayu harus mengingatkan bahwa lelaki itu adalah pamanku?”

Kata ‘paman’ yang terucap dari mulut mantan tunangannya, terdengar seperti cambuk berduri yang diayunkan pada Putra Mahkota. Cambuk tak kasat mata tersebut, berhasil membuat luka sayatan di sekujur tubuh Kamakarna.

“Tentu saja aku harus mengingatkanmu siapa suamiku. Karena lelaki itu, sekarang ada di belakangmu,” batin Muniratri. Mata wanita itu bersinar saat Damarteja datang.

“Apa yang sedang kamu lakukan?!” Damarteja mengempaskan tangan si keponakan dari pundak istrinya. Setelah itu, dia menggandeng Muniratri.

Beban berat yang dari tadi menggandul di tubuh wanita itu, akhirnya terangkat. Ia pun bisa melepaskan diri dari Putra Mahkota, tanpa perlu menyinggung perasaan yang bersangkutan.

“Aku tanya apa yang kamu lakukan pada bibimu?” ulang Damarteja.

Untungnya, suami Muniratri memilih bertindak sebagai paman Kamakarna, bukan sebagai Pangeran Adipati. Apabila dia membuat perkara dengan Kamakarna pada saat itu, maka tak akan ada yang berani menyalahkan Damarteja.

Akan menjadi lain cerita, jika Damarteja menggunakan status sebagai Pangeran Adipati Agung Hadiwangsa. Tindakannya bisa dianggap sebagai pelanggaran berat karena mencampuri urusan Putra Mahkota yang memiliki kedudukan lebih tinggi darinya.

“Aku hanya memeriksa bekas luka di badan Raden Ayu,” ucap Kamakarna.

Damarteja menyembunyikan Muniratri di balik tubuhnya. Ia kemudian melangkah lebih dekat ke sisi Kamakarna. “Raden Ayu? Panggil dia ... Bibi!”

Bibi ... bibi ... bibi ... Kamakarna muak mendengar kata tersebut dari mulut Damarteja. Apalagi dia sudah mengucapkannya tiga kali, seolah menekankan bahwa Muniratri, adalah miliknya dan Kamakarna tak berhak menyimpan rasa pada wanita tersebut.

Damarteja menepuk pundak Kamakarna seraya menatap mata lelaki tersebut dengan tajam. “Coba ucapkan!”

Luapan emosi mengalir di pembuluh darah Kamakarna. Ia ingin sekali melawan, namun tatanan sosial tak akan mendukungnya. Mau tak mau, ia harus menuruti perkataan sang paman.

“Bi ... bi...,” ucap Kamakarna pada Muniratri. Bibirnya bergumam, tak merelakan mantan tunangan berubah menjadi bibinya.

Damarteja pun tersenyum puas melihat keputusasaan di wajah Kamakarna. Ia harap, hal ini bisa menjadi peringatan bagi si keponakan, agar dia tak mengganggu Muniratri di lain hari. Karena dia tak suka apa yang sudah jadi miliknya diambil oleh orang lain.

“Malam sudah larut, waktunya kita pulang, Adinda.” Damarteja menarik istrinya ke samping, membuat mereka berdiri berdampingan.

Muniratri mengangguk dengan patuh. “Baik, Paduka.”

Lelaki itu berdeham. “Kenapa masih memanggilku Paduka? Kita kan sudah menikah ... panggil Kanda!”

Muniratri menarik sudut bibirnya di sisi kiri, di mana sisi tersebut tak terlihat oleh Putra Mahkota. Ia tahu betul apa yang sedang dilakukan oleh suaminya, membuat Kamakarna terbakar cemburu.

Muniratri menatap Damarteja dengan tatapan penuh kehangatan. “Kanda.”

Ada kepuasan di hati Damarteja saat panggilan intim tersebut terucap dari bibir sang istri. Tak mau membuang waktu, ia menyalurkan gelora dalam dada dengan mencumbu bibir Muniratri, tanpa memedulikan Kamakarna yang masih berada di sana.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   101|

    Tiga tahun yang lalu, Damarteja, Pangeran Mahkota Badra yang disandera oleh Kerajaan Sumbur selama sepuluh tahun, kembali ke tanah air dengan membawa kemenangan.Ia berhasil mengalahkan Sumbur dengan membunuh rajanya dan mempersembahkan kepala yang bersangkutan kepada Badra. Peristiwa tersebut tentu saja membuat Bahuwirya gelisah.“Ibunda ... Damarteja kembali! Bagaimana jika dia menuntut takhta yang sudah kumiliki?” Bahuwirya menggenggam erat tangan Ibu Suri Tari Sujana di kediaman wanita tersebut.Untung saja hanya ada mereka berdua di ruangan itu, sehingga tak seorang pun menyaksikan sisi rapuh sang Penguasa Badra.Tarisujana menepuk-nepuk bahu anaknya untuk memberi ketenangan. “Jangan khawatir, Baginda. Sepuluh tahun sudah berlalu. Tidak akan ada yang berani mempertanyakan kekuasaanmu.”Perkataan wanita itu memang menenangkan hati sang anak untuk sesaat. Kendati demikian, hal itu tak bisa membersihkan isi pikiranny

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   100|

    Perbuatan Damarteja yang jauh dari kata sopan terhadap ketiga selir membuat Muniratri trauma berat. Tiap kali lelaki tersebut bermalam di kamarnya, ia selalu memastikan bahwa lampu menyala sepanjang malam.Semua dia lakukan demi mencegah dirinya bertemu kemalangan seperti yang dialami oleh para selir. Kendati demikian dia tidak sekali pun membocorkan apa yang sebenarnya terjadi kepada siapa pun.“Tiap aku bermalam di tempat Putri, entah kenapa aku merasa kalau Putri memasang tembok yang tebal di antara kita berdua.” Damarteja meraih tangan Muniratri.Wanita yang tengah duduk di kursi tengah itu segera merengkuh pegangan tangan sang Pangeran. Ia juga mengubah raut wajah yang awal mulanya berekspresi datar menjadi tersenyum lebar.“Itu hanya perasaan Paduka saja. Mana mungkin saya berani melakukan itu.” Muniratri menatap Damarteja dengan sorot mata penuh keramahan dan cinta.Sang Pangeran terpesona pada senyum di bibir Munirat

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   99|

    Di dalam sebuah komunitas, ada tidak semua pihak satu pendapat dengan pemimpin. Mereka yang memiliki pemikiran berbeda akan membangun forum di dalam forum untuk menuangkan isi kepala mereka yang berantakan.Setelah para istri bangsawan meninggalkan Puri Kacayagra, mereka berkumpul kembali di Balai Skul Lawuh. Wanita yang memelopori pertemuan tersebut ialah Raden Ayu Sekar, istri Tumenggung Yajnayoda.“Pihak Puri Kacayagra sudah keterlaluan. Sudah barang harganya murah, kita masih ditekan untuk memberi potongan harga.” Sekar mengepalkan tangan di atas meja.“Benar, itu Mbakyu.” Mayang, istri Raden Jaka berdiri dari tempatnya.Ia mendukung Sekar karena keluarga mereka sama-sama menjadi pengepul bahan pangan. Kini stok melimpah yang dimiliki oleh mereka menjadi pekerjaan rumah yang memusingkan.Di satu sisi, bahan pangan tak bisa disimpan terlalu lama karena akan menurunkan kualitas bahkan menjadi rusak. Di sisi lain, jik

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   98|

    Berbohong merupakan perbuatan tercela. Jika seseorang berbohong pada orang biasa konsekuensinya hanya tidak dipercaya lagi. Namun jika berbohong pada seorang pangeran, orang tersebut bisa mendapat konsekuensi yang serius.Damarteja tidak memandang bulu saat menghukum seseorang. Karena Mustika telah membohonginya sakit hanya demi menarik perhatian sang Pangeran, wanita itu dilarang meninggalkan kamar hingga dirinya selesai menyalin kitab.“Kalian saja yang menulisnya!” Mustika melempar alat tulis di tangannya.Pelayan yang dibawa oleh Mustika langsung mengerjakan perintah sang selir. Bertolak belakang dengan perempuan itu, dua pelayan yang diberikan oleh Damarteja hanya bergeming di tempat.“Kenapa kalian diam saja?!” bentak Mustika.“Cepat ambil alat tulisnya!” Selir yang sedang dihukum itu menunjuk pena dan kertas di atas meja menggunakan gerakan leher.Kedua pelayan itu saling berpandangan untuk se

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   97|

    Pertunjukkan wayang memiliki kaitan yang erat dengan agama yang dianut oleh masyarakat Badra. Mereka menganggap acara ini sebagai sesuatu yang sakral karena mengubungkan dunia manusia dan spiritual.Bagi para penguasa, wayang memiliki fungsi yang lain, yakni sebagai penggerak cerita agar mereka dekat dengan rakyat. Karena alasan itulah, Damarteja meminta bantuan Muniratri untuk menyelenggarakannya, sebelum masyarakat terhasut oleh pihak yang tak bertanggung jawab.“Bagaimana persiapannya?” tanya Damarteja pada sang istri.Sudah satu minggu berlalu sejak lelaki itu meminta istrinya untuk mengadakan pertunjukkan wayang di depan Puri Kacaragra. Ia menanyakan perkembangan rencananya setiap hari hingga Muniratri kesal dibuatnya.“Kediaman sudah membeli barang di pasar dalam jumlah yang besar. Paduka tidak perlu khawatir lagi tentang harga” Muniratri memeluk sang suami di atas ranjang.Wanita itu memutar matanya di balik pel

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   96|

    Apabila barang tersedia dalam jumlah sedikit sementara permintaan masyarakat sangat tinggi, maka menurut konsep ekonomi akan terjadi kelangkaan relatif yang mendorong harga barang naik. Hal ini juga berlaku untuk keadaan sebaliknya.Untuk menekan tingginya harga barang, Tumenggung Yajnayodha membanjiri pasar dengan membuka keran distribusi dari gudang Balai Pangan. Tak tanggung-tanggung, dia mengeluarkan semua stok. Akibatnya, harga di pasar terjun bebas.“Ini kan yang Anda inginkan. Aku mengabulkannya,” batin sang Tumenggung saat dirinya berada di Pendopo Balai Adipati.Di hadapan para pejabat, Damarteja dituntut agar tidak tutup mata karena penyebab harga pangan jatuh, salah satunya adalah akibat dari dominasinya. Jika dia tidak ikut campur dalam urusan Badan Pangan, hal ini tidak akan terjadi.“Rasakan itu. Anda boleh mengambil simpati rakyat dengan menurunkan harga pangan. Namun para pemilik barang dalam jumlah besar merupakan para p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status