Share

68|

Penulis: Shanum Belle
last update Tanggal publikasi: 2025-12-17 19:00:46

Sejak fajar menyingsing, Muniratri telah sibuk di dapur keraton. Dengan tangan cekatan, ia memilih bahan terbaik, dan menuntaskan setiap tahapan hingga kudapan untuk Sang Putra Mahkota siap disantap.

Ningsih geleng-geleng kepala melihat kekacauan di depannya. “Biar saya saja yang melakukan pekerjaan kasar ini, Kanjeng Putri.”

Dayang itu masih ingat bagaimana hasil masakan yang dibuat oleh Muniratri sebelumnya untuk Damarteja dan Kamakarna. Rasanya asin tidak karuan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   165|

    “Putra Mahkota adalah cucuku, begitu pun dengan pangeran yang lahir dari selir.” Sorot mata Ibu Suri tertuju pada Prameswari Widuri.“Menurut Prameswari, kenapa aku harus berpihak pada putramu saja? Bukankah itu tidak adil bagi cucuku yang lain? Mereka juga punya kesempatan untuk menjadi Putra Mahkota, bukan?” Ibu Suri merentangkan kedua tangan.Jawaban Ibu Suri yang membuat Prameswari Widuri menarik diri ke belakang. Tangannya gemetar, tak menyangka bahwa wanita itu akan bersikap dingin padanya.Wanita itu berpaling ke arah lain. Ia menatap ke awang-awang sambil merenungi bagaimana nasib putranya nanti. Dan satu ide pun terlintas.“Ibu Suri, Baginda Prabu memang memiliki banyak pangeran yang bisa dijadikan Putra Mahkota. Namun di antara mereka, hanya putraku yang berasal dari klan yang sama dengan Anda,” ucap sang Prameswari.Ia menatap Ibu Suri dengan sorot mata yang tegang. Kakinya gemetar, khawatir jika perka

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   164|

    Prameswari Widuri menaiki tandu menuju Kompleks Mandira. Sepanjang perjalanan, ia melakukan japa dengan aksamala.“Lindungi putraku, ya Tuhan. Lindungi Putra Mahkota.” Wanita yang sedang melakukan japa memetik biji genitri satu per satu.Emosi yang tidak stabil membuat Widuri tak bisa mengatur kekuatan gerakannya. Aksamala yang ia petik pun putus. Seratus delapan biji rudraksha berhamburan hingga ke tanah.“Yang Mulia! Anda baik-baik saja?” seru Gendhis.Dayang itu ingin menanyakan apa yang terjadi, namun atas nama kesopanan ia tak berani melakukannya. Terlebih lagi suasana hati sang majikan sedang mendung, jika dayang itu salah mengucap kata, maka taruhannya adalah nyawa.Alih-alih memberi konfirmasi tentang keadaannya, Prameswari Widuri malah menyuruh mereka untuk bergerak lebih cepat. Ia tak ingin langkahnya didahului oleh orang lain.Perjalanan dari Kompleks Kusumaswari menuju Kompleks Mandira memerlukan waktu set

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   163|

    Serangan Putri Hadiwangsa terhadap Putri Mahkota Badra di Balai Purwa membuat Muniratri mengarungi dua pulau dalam sekali dayung. Ia berhasil menggoyahkan kekuatan sang Putra Mahkota dan juga meninggalkan keraton.Wanita itu kembali ke kediaman Pangeran Agung Hadiwangsa di Ibu Kota. Di sana, Ayunda dan Astuti menyambutnya dengan suka cita.“Selamat datang Kanjeng Putri.” Semua orang di kediaman Pangeran Hadiwangsa menyambut kedatangan Muniratri.Wanita yang pipinya masih memar itu mengangguk. “Silakan berdiri.”Sudah lama Muniratri tak mengunjungi kediaman sang Pangeran. Wanita itu pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk bernostalgia dengan masa lalu.Momen yang paling Muniratri suka saat di kediaman adalah ketika angin bertiup dari selatan. Ia membawa semilir yang menyejukkan dan juga wangi bunga.Muniratri merentangkan tangan seraya memejamkan mata. “Akhirnya aku bebas juga dari paviliun yang menyesak

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   162| Pertarungan dalam Istana

    Seorang pelayan diam-diam mengunjungi Gedhong Wari yang merupakan kediaman Selir Mulia Sri—ibu kandung Pangeran Atmajaya.“Yang Mulia, Putra Mahkota dan Putri Mahkota dimasukkan ke penjara bawah tanah dan Kanjeng Pangeran Atmajaya diberi wewenang langsung oleh Baginda untuk menyelidiki kasus yang melibatkan mereka,” tutur pelayan itu.Selir Mulia Sri senang bukan main saat mendengar berita tersebut. Ia langsung memberikan imbalan yang besar kepada pelayan itu sebagai bentuk penghargaan.“Putraku pasti akan sibuk. Cepat, suruh dapur keraton untuk menyiapkan makan siang untuk Pangeran Atmajaya! Aku akan mengantarnya secara langsung,” perintah Selir Mulia Sri kepada dayangnya.“Ibunda tidak perlu melakukan itu!” seru Pangeran Atmajaya.Selesai rapat di Balai Purwa, lelaki tersebut langsung bertandang ke kediaman ibunya. Ia tak sabar ingin berbagi cerita dengan wanita tersebut.“Hm!” Selir Mulia Sri mengibaskan tangan, menyuruh semua orang—kecuali Atmajaya untuk meninggalkan ruangan.Wanit

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   161| Papan Catur telah Dibuka

    Bahuwirya pikir, dengan mengembalikan wewenang Badan Pangan kepada Damarteja maka ia sudah membeli harga diri sang Pangeran. Orang-orang akan menganggapnya sebagai lelaki murah karena ia mendapat jabatan dengan mengorbankan istrinya sendiri.‘Kehormatan keluarga keraton tercoreng dan aku harus mengorbankan Putra Mahkota untuk membayarnya. Sekarang kamu mendapatkan kedudukan, namun harus mengorbankan kehormatanmu. Ini baru impas,’ batin sang Prabu.“Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Agung Hadiwangsa, mengapa Anda tidak mengucapkan terima kasih kepada Baginda?” seru Kasim Swari.“Pangeran Adipati Agung Hadiwangsa diam saja, apa kamu masih memiliki keluhan?” Prabu Bahuwirya tersenyum ramah.Sang Prabu menarik napas santai, menikmati wangi bunga kenanga di atas meja. Baginya, masalah telah berlalu, dan ia bisa bernapas lega.Suara dengungan para pejabat di bawah sana menambah rasa percaya diri Bahuwirya. Ia meyakini bah

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   160| Merebut Kembali Badan Pangan

    Desakan Prabu Bahuwirya membuat Ndari makin gugup. Ia ingin menjawab pertanyaan yang diajukan untuknya. Semua. Namun ketika Ndari hendak membuka suara, pikirannya memaksa untuk berhenti.“Baginda, maafkan saya. Saya ....” Ndari meletakkan telapak tangan di depan dada, menjaga supaya jantungnya tidak melompat.Perihal selendang yang manik-maniknya dibuang oleh Ndari adalah rahasia. Tak satu orang pun tahu masalah ini, kecuali dia seorang.Begitu pun alasan tentang hilangnya manik-manik tersebut, ia tak boleh mengatakannya. Kehilangan dukungan Prameswari adalah konsekuensi yang akan ia tanggung jika hal tersebut diketahui orang lain.“KAMU APA, PUTRI MAHKOTA?! Katakan yang jelas!” Bahuwirya memukul meja di sampingnya karena geregetan.Ndari dihujani tatapan tajam oleh semua orang. Ia pun terpojok.Wanita itu tak bisa tinggal diam dan hanya menunggu keadaan menjadi lebih baik. Ia harus mengarang alasan agar dirinya selam

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   71|

    Perayaan ulang tahun Widuri ditutup dengan pelepasan seribu ekor merpati, dilanjutkan dengan jamuan makan siang di keraton.Pada kesempatan itu, Muniratri menjadi buah bibir para hadirin. Mereka membicarakan betapa tidak tahu malunya wanita itu. Sudah menikah masih saja menggoda putra mahk

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   70|

    Lemak yang mengendap di pembuluh darah akan membuat aliran darah menyempit dan mengakibatkan tekanan darah naik. Kondisi ini tak jauh dengan hati manusia.Perasaan tak menyenangkan akan mengendap di palung hati, membuat Damarteja emosi tiap kali bertemu dengan Muniratri. Namun itu dulu, se

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   69|

    Muniratri duduk di kursi yang berhadapan dengan milik Kamakarna. Matanya yang sembab tak menghalangi wanita itu untuk mengawasi sang Putra Mahkota Badra, meski dengan tatapan nanar.“Yang Mulia,” seru Ganendra.Muniratri menggigit bibir. Ia mengepalkan tangan, sementara ibu jarinya menggosok-gosok j

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   67|

    Gedhong Melati yang terletak di Kompleks Kusumasuri menjadi istana es yang membuat siapa pun, selain pemilik kediaman menggigil kedinginan, tak terkecuali Kamakarna, sang Putra Mahkota Badra.Dia duduk di atas risban, berhadapan dengan Ibu Suri Tarisujana. Kakinya gemetar, menjalar k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status