LOGINLemak yang mengendap di pembuluh darah akan membuat aliran darah menyempit dan mengakibatkan tekanan darah naik. Kondisi ini tak jauh dengan hati manusia.
Perasaan tak menyenangkan akan mengendap di palung hati, membuat Damarteja emosi tiap kali bertemu dengan Muniratri. Namun itu dulu, sebelum Muniratri menyerahkan catatan mendiang ayahnya.
“Syukurlah,” batin sang Pangeran Adipati.
Damarteja membaringkan tangan di atas meja dengan posisi mengepal. Dia menggun
“Putra Mahkota adalah cucuku, begitu pun dengan pangeran yang lahir dari selir.” Sorot mata Ibu Suri tertuju pada Prameswari Widuri.“Menurut Prameswari, kenapa aku harus berpihak pada putramu saja? Bukankah itu tidak adil bagi cucuku yang lain? Mereka juga punya kesempatan untuk menjadi Putra Mahkota, bukan?” Ibu Suri merentangkan kedua tangan.Jawaban Ibu Suri yang membuat Prameswari Widuri menarik diri ke belakang. Tangannya gemetar, tak menyangka bahwa wanita itu akan bersikap dingin padanya.Wanita itu berpaling ke arah lain. Ia menatap ke awang-awang sambil merenungi bagaimana nasib putranya nanti. Dan satu ide pun terlintas.“Ibu Suri, Baginda Prabu memang memiliki banyak pangeran yang bisa dijadikan Putra Mahkota. Namun di antara mereka, hanya putraku yang berasal dari klan yang sama dengan Anda,” ucap sang Prameswari.Ia menatap Ibu Suri dengan sorot mata yang tegang. Kakinya gemetar, khawatir jika perka
Prameswari Widuri menaiki tandu menuju Kompleks Mandira. Sepanjang perjalanan, ia melakukan japa dengan aksamala.“Lindungi putraku, ya Tuhan. Lindungi Putra Mahkota.” Wanita yang sedang melakukan japa memetik biji genitri satu per satu.Emosi yang tidak stabil membuat Widuri tak bisa mengatur kekuatan gerakannya. Aksamala yang ia petik pun putus. Seratus delapan biji rudraksha berhamburan hingga ke tanah.“Yang Mulia! Anda baik-baik saja?” seru Gendhis.Dayang itu ingin menanyakan apa yang terjadi, namun atas nama kesopanan ia tak berani melakukannya. Terlebih lagi suasana hati sang majikan sedang mendung, jika dayang itu salah mengucap kata, maka taruhannya adalah nyawa.Alih-alih memberi konfirmasi tentang keadaannya, Prameswari Widuri malah menyuruh mereka untuk bergerak lebih cepat. Ia tak ingin langkahnya didahului oleh orang lain.Perjalanan dari Kompleks Kusumaswari menuju Kompleks Mandira memerlukan waktu set
Serangan Putri Hadiwangsa terhadap Putri Mahkota Badra di Balai Purwa membuat Muniratri mengarungi dua pulau dalam sekali dayung. Ia berhasil menggoyahkan kekuatan sang Putra Mahkota dan juga meninggalkan keraton.Wanita itu kembali ke kediaman Pangeran Agung Hadiwangsa di Ibu Kota. Di sana, Ayunda dan Astuti menyambutnya dengan suka cita.“Selamat datang Kanjeng Putri.” Semua orang di kediaman Pangeran Hadiwangsa menyambut kedatangan Muniratri.Wanita yang pipinya masih memar itu mengangguk. “Silakan berdiri.”Sudah lama Muniratri tak mengunjungi kediaman sang Pangeran. Wanita itu pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk bernostalgia dengan masa lalu.Momen yang paling Muniratri suka saat di kediaman adalah ketika angin bertiup dari selatan. Ia membawa semilir yang menyejukkan dan juga wangi bunga.Muniratri merentangkan tangan seraya memejamkan mata. “Akhirnya aku bebas juga dari paviliun yang menyesak
Seorang pelayan diam-diam mengunjungi Gedhong Wari yang merupakan kediaman Selir Mulia Sri—ibu kandung Pangeran Atmajaya.“Yang Mulia, Putra Mahkota dan Putri Mahkota dimasukkan ke penjara bawah tanah dan Kanjeng Pangeran Atmajaya diberi wewenang langsung oleh Baginda untuk menyelidiki kasus yang melibatkan mereka,” tutur pelayan itu.Selir Mulia Sri senang bukan main saat mendengar berita tersebut. Ia langsung memberikan imbalan yang besar kepada pelayan itu sebagai bentuk penghargaan.“Putraku pasti akan sibuk. Cepat, suruh dapur keraton untuk menyiapkan makan siang untuk Pangeran Atmajaya! Aku akan mengantarnya secara langsung,” perintah Selir Mulia Sri kepada dayangnya.“Ibunda tidak perlu melakukan itu!” seru Pangeran Atmajaya.Selesai rapat di Balai Purwa, lelaki tersebut langsung bertandang ke kediaman ibunya. Ia tak sabar ingin berbagi cerita dengan wanita tersebut.“Hm!” Selir Mulia Sri mengibaskan tangan, menyuruh semua orang—kecuali Atmajaya untuk meninggalkan ruangan.Wanit
Bahuwirya pikir, dengan mengembalikan wewenang Badan Pangan kepada Damarteja maka ia sudah membeli harga diri sang Pangeran. Orang-orang akan menganggapnya sebagai lelaki murah karena ia mendapat jabatan dengan mengorbankan istrinya sendiri.‘Kehormatan keluarga keraton tercoreng dan aku harus mengorbankan Putra Mahkota untuk membayarnya. Sekarang kamu mendapatkan kedudukan, namun harus mengorbankan kehormatanmu. Ini baru impas,’ batin sang Prabu.“Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Agung Hadiwangsa, mengapa Anda tidak mengucapkan terima kasih kepada Baginda?” seru Kasim Swari.“Pangeran Adipati Agung Hadiwangsa diam saja, apa kamu masih memiliki keluhan?” Prabu Bahuwirya tersenyum ramah.Sang Prabu menarik napas santai, menikmati wangi bunga kenanga di atas meja. Baginya, masalah telah berlalu, dan ia bisa bernapas lega.Suara dengungan para pejabat di bawah sana menambah rasa percaya diri Bahuwirya. Ia meyakini bah
Desakan Prabu Bahuwirya membuat Ndari makin gugup. Ia ingin menjawab pertanyaan yang diajukan untuknya. Semua. Namun ketika Ndari hendak membuka suara, pikirannya memaksa untuk berhenti.“Baginda, maafkan saya. Saya ....” Ndari meletakkan telapak tangan di depan dada, menjaga supaya jantungnya tidak melompat.Perihal selendang yang manik-maniknya dibuang oleh Ndari adalah rahasia. Tak satu orang pun tahu masalah ini, kecuali dia seorang.Begitu pun alasan tentang hilangnya manik-manik tersebut, ia tak boleh mengatakannya. Kehilangan dukungan Prameswari adalah konsekuensi yang akan ia tanggung jika hal tersebut diketahui orang lain.“KAMU APA, PUTRI MAHKOTA?! Katakan yang jelas!” Bahuwirya memukul meja di sampingnya karena geregetan.Ndari dihujani tatapan tajam oleh semua orang. Ia pun terpojok.Wanita itu tak bisa tinggal diam dan hanya menunggu keadaan menjadi lebih baik. Ia harus mengarang alasan agar dirinya selam
Meski kedatangan Kamakarna tidak sesuai dengan jadwal perjalanan yang sudah ditentukan oleh pihak keraton, Damarteja merasa memiliki kewajiban menjaga lelaki tersebut. Ia pun menempatkan sang Putra Mahkota di Paviliun Wetan.“HUH!!” Kamakarna memukul dinding dengan tangan koson
Bukan menjadi hal yang tabu apabila seorang penguasa memiliki banyak selir. Para wanita itu tidak hanya menjadi teman di atas ranjang, tetapi juga merupakan simbol kekuatan.Makin banyak memiliki selir, makin kuat juga fondasi kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa. Karena mereka adalah ben
Di bawah cahaya lampu cuplak, Kamakarna hanya bisa terdiam. Ia tak bisa bicara sembarangan karena setiap kata yang terucap dari bibirnya akan dijadikan alat untuk membungkamnya.“Kenapa yang mulia tidak mencicipi hidangan Puri Kacayagra? Apa tidak sesuai dengan selera Anda?” Da
Kamakarna memanfaat kesibukan Damarteja di barak militer dengan baik. Berkat bantuan Mustika, lelaki itu berhasil menyusup ke Puri Kacayagra tanpa mendapat hambatan sama sekali.Tujuan utama lelaki itu menyelinap ke kediaman Pangeran Adipati ialah untuk menemui sang mantan tunangan. Ia sam







