Share

79|

Author: Shanum Belle
last update publish date: 2025-12-28 19:00:23

Pundak lelaki diciptakan kuat tidak hanya bertujuan untuk mengangkat beban tetapi juga menjadi sandaran bagi pasangan. Memiliki tubuh yang kokoh, membuat lelaki berkeyakinan mereka dilahirkan untuk dibutuhkan.

“Kenapa sama sekali tidak mengatakan hal ini padaku?” gumam Damarteja.

Lelaki yang sedang frustrasi itu mengusap rambutnya kasar. Berkali-kali mulutnya berdecap, membuat para prajurit di barak mengerutkan dahi.

“Kenapa Kanjeng Pangeran begitu?&rdqu

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   159|

    Hal pertama yang dilakukan oleh para hadirin di Aula Hutama saat Muniratri memasuki ruangan ialah mendelik. Luka lebam yang ada di sekujur tubuh Muniratri menjadi penyebabnya.Alih-alih risi dengan pandangan orang-orang, Muniratri justru menikmatinya. Ia memamerkan tubuhnya yang babak belur dengan bangga.“Saya memberi hormat pada Baginda Prabu, Yang Mulia Putra Mahkota dan juga Yang Mulia Putri Mahkota.” Muniratri menundukkan kepala dan juga merendahkan badannya.Di belakang tempatnya berdiri, Muniratri mendengar dengan jelas bagaimana para pejabat berbisik. Mereka mempertanyakan apa yang terjadi pada wanita tersebut.Sikap Muniratri tak berubah seperti saat memasuki ruangan. Ia tersenyum menyeringai di balik luka yang meradang.“Silakan berdiri, Putri Hadiwangsa,” ucap Bahuwirya.Saat Muniratri hendak menegakkan badan, tubuhnya limbung. Untung saja Damarteja berada di samping wanita itu.“Terima kasih, Paduka,” ucap Muniratri saat Damarteja menopang badannya agar tak jatuh ke lantai

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   158|

    Kamakarna memang terlambat menghadiri rapat pagi. Namun karena dia datang bersama dengan Ndari, dia masih bisa berjalan dengan dada membusung.‘Orang-orang itu pasti mengiranya aku sengaja datang lebih lambat karena harus menemani Putri Mahkota yang pertama kali datang ke Aula Hutama,’ pikir Kamakarna.“Yang Mulia ... mereka semua melihat ke arah sini. Saya takut.” Ndari berpegang erat pada lengan Kamakarna.Putra Mahkota menepuk-nepuk punggung tangan Ndari untuk memberikan ketenangan. dengan begitu dia akan mendapat kesan sebagai suami yang baik.“Kamu tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa,” ucap Kamakarna pelan. Hanya Ndari yang dapat mendengarnya.Kamakarna datang dengan penuh percaya diri, bahwa tatapan para pejabat yang tengah menghujani mereka hanyalah bentuk dari perhatian dan rasa hormat. Ia tak tahu bahwa ada sesuatu yang besar sedang menanti di depan sana.‘Kenapa mereka diam saja?’

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   157

    Manusia hanya bisa berusaha, namun nasib tidak ada yang tahu.Penyelidikan Kamakarna tentang kunyit yang disembunyikan oleh Ndari berhasil. Ia bahkan sukses besar dengan menjadikannya sebagai sumber daya secara cuma-cuma.Meski demikian, Kamakarna harus membayar mahal usahanya. Karena pada esok hari setelah berhasil mendapatkan dukungan dari pihak Senapati Cakrasurya, ia bangun kesiangan.“Di mana ini?” Kamakarna mengerjapkan mata.Ia terbangun di tempat yang sangat berbeda dengan kamarnya Paviliun Putra Alam. Ruangan itu bernuansa emas dan bunga. Sedangkan di kediaman Kamakarna bernuansa emas dan pusaka keluarga yang tertata rapi.“Anda sekarang ada di kamar tidur Yang Mulia Putri Mahkota,” ujar Ganendra.Kamakarna berusaha memutar kembali ingatannya untuk mengetahui apa yang ia lakukan semalam, namun ia tak berhasil. Kepalanya masih sakit karena arak yang ia minum.“Jam berapa sekarang?” tanya Kam

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   156|

    Sejak Damarteja diangkat menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Agung Hadiwangsa, Damarteja menempatkan mata-mata di seluruh Ibu Kota. Awalnya ia menggunakan mereka hanya untuk mencari tahu bagaimana situasi teraktual.Kini sikapnya sudah berubah. Damarteja menggunakan mata-mata yang ia tanam untuk memenangkan rencana besar yang sedang ia jalankan. Revolusi.“Paduka, Senapati Cakrasurya sedang membersihkan gudang,” ujar Endra.“Beliau memindahkan semua kunyit yang diborong Putri Mahkota ke pedagang pasar,” sambungnya.“Bagaimana dengan Putra Mahkota?” tanya sang Pangeran Adipati.“Beliau seharian ini tidak keluar dari Paviliun Melati,” ucap si ajudan.Berdasarkan informasi yang Damarteja terima selama ini, Kamakarna tidak pernah menghabiskan waktu secara pribadi dengan Ndari. Meski mereka adalah pasangan suami istri sah, Kamakarna secara terang-terang menunjukkan ketidaksukaan pada istrinya.

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   155|

    Sejak Kamakarna meninggalkan Aula Hutama, perasaan Cakrasurya tidak karuan. Maka dari itu, setelah urusannya dengan Bahuwirya selesai, ia bergegas menuju Paviliun Melati.“Silakan tunggu di sini. Yang Mulia sedang bersiap.” Narti menunjuk tempat duduk yang sudah disiapkan, lengkap dengan kinang yang tersaji di atas meja.Dayang itu undur diri dari hadapan sang Senapati. Dia masuk ke area ruang tidur Ndari untuk menemui Kamakarna.“Hamba sudah menjamu Raden Senapati sesuai arahan Anda,” ujar Narti.Kamakarna mengangguk, mengartikan bahwa ia menerima laporan dayang itu. Kini gilirannya tampil di hadapan ayah mertua.“Bantu Putri Mahkota merapikan diri. Setelah itu bawa dia ke menemui ayahnya,” perintah sang Putra Mahkota sebelum pergi ke ruang tamu.“Baik, Yang Mulia.” Narti diam di tempat seperti hendak menyampaikan sesuatu namun tak berani.“Katakan saja,” ucap Kamakarna.

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   154|

    Tindakan Kamakarna membuat perasaan Ndari bergetar. Ia tergerak untuk melepaskan keraguan di hatinya.“Yang Mulia ... bagaimana mungkin saya tidak percaya pada suami sendiri?” Ndari menarik cunduk yang menempel erat di leher Kamakarna.“Bukankah Yang Mulia yang mengatakan bahwa suami istri berbagi suka dan duka ... tidak meninggalkan satu sama lain?” Ndari memeluk Kamakarna.“Lalu kenapa Anda menyuruh saya untuk ....” Air mata wanita itu jatuh membasahi pundak Kamakarna.Eratnya pelukan Putri Mahkota membuat lelaki tersebut menyunggingkan senyuman. Langkah kedua sukses besar.Ndari telah jatuh ke dalam genggaman. Kamakarna tak sabar untuk menjalankan misi selanjutnya.“Putri Mahkota benar-benar percaya padaku?” Kamakarna melingkar lengan ke pinggang Ndari, tidak membiarkan wanita tersebut lepas dari tangan.“Tentu saja.” Ndari mencium pipi sang suami, lalu menyembunyikan waja

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   107

    Ketika pergelaran wayang kulit usai pada dini hari, para tamu undangan dipersilakan menginap di Puri Kacayagra. Namun karena begitu banyak tamu yang hadir, balai tamu tidak mampu menampung semua orang.Mereka yang tidak mendapat kamar di Puri Kacayagra pun diarahkan untuk menginap di Balai

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   106|

    Muniratri tak bisa diam saat ia kembali ke tempat duduknya. Bukan ia sengaja ingin bergerak lincah, hanya saja tubuhnya tak bisa ia kendalikan.Tangan dan kaki wanita tersebut bergetar hebat. Hal itu terlihat begitu jelas saat dirinya memegang gelas berisi minuman dalam keadaan penuh. Cair

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   105|

    Dengan berpura-pura cuci tangan di belakang, Muniratri berhasil mengelabui Ningsih agar tak mengikutinya terus-menerus. Wanita tersebut menyelinap di balik dinding di mana Damarteja dan ibu asuhnya berbincang.“Bagaimana kabar Yang Mulia?” Mata Sundari berkaca-kaca menata

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   104|

    Pada hari pertunjukkan wayang dilaksanakan, Muniratri mengatur semua dengan baik. Mulai dari tamu undangan, seniman, dan seluruh rakyat yang datang ke laun-alun di depan Balai Adipati Agratampa.“Selamat datang.” Damarteja menyalami para hadirin.Baik Damarteja maupun Mu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status