LOGINManusia jika sudah asyik mengobrol bisa menghabiskan waktu berjam-jam tanpa kenal siang dan malam. Begitu pula dengan Damarteja. Dia bincang ria dengan ketiga anak buahnya dari malam hingga dini hari.
“Paduka, sebaiknya Anda istirahat di barak saja,” ujar Warman, dalam keadaan setengah sadar.
Mereka berempat, selain Endra, melewati malam tidak hanya dengan mengobrol tentang masalah rumah tangga Pangeran Adipati, tetapi juga menikmati arak kelapa. Tak banyak mereka mi
Muniratri bersandar di kursi rotan. Posisinya menghadap ke taman sari. Sangat pas untuk menikmati bunga-bunga yang bermekaran.Angin sepoi yang berarak dari selatan ke utara membawa kesejutan. Wangi bunga di taman pun mengikuti. Siapa pun yang ada di sana akan larut dalam kenyamanan.“Bagaimana situasi saat ini?” Muniratri menutup mata sejenak, menikmati pijatan Ningsih di kepala.“Warman sudah membeli delapan puluh persen kunyit yang ada di Ibu Kota.” Ningsih menekan pelipis Muniratri dengan lembut.“Sebagian mereka bawa ke lahan milik Anda yang tempo hari diberikan oleh Baginda, dan kini dalam proses tanam,” sambungnya.“Sebagian lainnya bersama dengan madu, dibawa ke kediaman lama Anda. Mereka menguburnya di sana,” terang wanita kepercayaan Damarteja.“Apa ada pihak yang berusaha menghalangi?” Muniratri membuka mata. Tatapannya mengarah ke depan. Tajam.“Tidak ada, K
Berkat bantuan Putra Mahkota, Muniratri dapat berdiam diri di Gedhong Prabayekti dengan tenang. Ia tak perlu membuang waktu dan tenaga untuk menghadapi para pejabat yang perutnya busung.Hanya dalam seminggu, perempuan yang ayahnya meninggal secara tidak terhormat itu berhasil mengumpulkan data. Bagaimana kondisi geografis suatu wilayah dan potensi alam apa saja yang dimiliki, semua sudah dia dapatkan.“Makanlah dulu untuk mengganjal perut.” Kamakarna menyodorkan kue klepon di hadapan Muniratri.Kue jajanan pasar yang terbuat dari ketan dan gula merah yang diberikan oleh Kamakarna memang menarik secara tampilan. Namun hal itu tak cukup untuk membuat Muniratri menghentikan kegiatannya membaca buku.“Aku dengar dari orang dapur, katanya kamu sering melewatkan makan.” Kamakarna memandang Muniratri dengan perasaan iba.“Kalau begini terus, nanti kamu bisa sakit. Setidaknya makanlah, walaupun hanya sedikit.” Kamakarna
Semenjak tinggal di keraton, Muniratri memiliki satu agenda yang tak boleh dia tinggalkan. Mengikuti rapat pagi di Aula Agung.Sejatinya, perempuan di keluarga Keratuan Badra, termasuk para istri pangeran tidak boleh terlibat urusan politik. Ada ketakutan di dalam hati mereka jika suatu hari para perempuan membangkang. Mereka tidak mau hal itu terjadi.Di sisi lain, Muniratri adalah orang yang ditunjuk langsung oleh Prabu Bahuwirya. Para pejabat itu tak berani menentang.Mereka pun memohon pada sang Ratu agar Muniratri menjelaskan di depan khalayak apa yang telah ia pelajari dan metode apa yang akan digunakan untuk mengatasi krisis di depan mata.Tujuan mereka satu, jika terjadi kesalahan dalam pelaksanaan di lapangan, para pejabat itu bisa menuntut Muniratri langsung. Mereka juga bisa menggunakan kesempatan ini untuk menyerang Pangeran Adipati sekaligus.Perdana Menteri Badra maju ke depan para pejabat. “Baginda, sudah waktunya bagi Kanjeng
Tekad Damarteja menyusul istrinya ke Ibu Kota sudah tak bisa diganggu gugat. Oleh karena itu sehari sebelum keberangkatannya, ia memanggil Raden Birawa ke Puri Kacayagra.“Paduka, Senapati sudah tiba,” lapor Endra kepada Damarteja di ruang kerja sang Adipati.Lelaki yang sedang memegang pena mengangguk. Ia meletakkan alat tulis di tangannya. “Persilakan masuk.”Sang ajudan berdiri tegap dalam posisi siap. Dia balik badan meninggalkan ruangan itu. tak lama kemudian yang bersangkutan masuk kembali bersama dengan lelaki tinggi berbadan kekar. Otot tubuhnya terpahat dengan indah.“Senapati Birawa menghadap Paduka.” Lelaki itu berlutut di hadapan Damarteja. tangan kanannya bertumpu pada lutut. Pandangannya menghadap ke bawah.“Bangunlah!” ucap Damarteja, singkat dan tegas.Damarteja memberi kode kepada Endra melalui gerakan mata. Ajudan itu pun langsung meninggalkan ruangan menuju dapur.Saat
“Nimas, kenapa kamu baru datang?” Kamakarna mengulurkan tangan menyambut Muniratri yang berlari tergopoh-gopoh.Sudah satu jam sang Putra Mahkota berdiri di depan Gedhong Prabayekti. Alih-alih kesal karena menunggu Muniratri untuk waktu yang lama, lelaki itu justru menunjukkan keantusiasan. Ia sama sekali tak mempermasalahkan keterlambatan sang Putri Hadiwangsa.“Yang Mulia, maafkan saya.” Muniratri menundukkan kepala.“Tadi saya tersesat,” kilahnya.Kamakarna menggeleng saat matanya menangkap noda di tubuh dan kain yang dipakai Muniratri. Ia tahu bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi pada mantan tunangannya.“Kamu dari mana saja sampai jadi kotor seperti ini?” Kamakarna mengelap kulit Muniratri yang kotor oleh tanah dari terowongan yang dilewati wanita itu.Jantung Muniratri berdetak kencang. Ia takut apabila Kamakarna mengetahui sesuatu ataupun menaruh curiga padanya. Jika hal itu sampai ter
Puri kembangan adalah taman bunga pribadi milik Widuri. Tempat itu terletak persis di halaman belakang kediaman sang Prameswari. Tak ada yang mengetahui tempat rahasia tersebut, kecuali Widuri dan para dayang kepercayaannya.Apabila ada pihak lain menemukan tempat itu, yang bersangkutan akan dipaksa meminum ‘sumber kehidupan abadi’, racun mematikan yang akan mengirim orang yang meminumnya pindah alam dalam beberapa saat.“Berhenti.” Gendhis mengangkat tangan kanannya.Keempat orang yang membawa tandu Ndari menurunkan sang Putri Mahkota. Alih-alih memberikan bantuan kepada Ndari untuk berdiri, Gendhis malah melayani para pria di sana terlebih dahulu.“Nah, kalian pasti lelah, bukan? Silakan dinikmati.” Dayang itu memberikan minuman merah.Minuman tersebut memiliki wangi yang menggugah selera. Para pria yang memanggul tandu pun menikmatinya tanpa pikir panjang.“Terima kasih. Kalian sudah bekerja







