Share

93|

Author: Shanum Belle
last update Last Updated: 2026-01-11 19:00:57

Seorang pejabat tidak boleh tutup mata terhadap masalah pangan. Jika sampai ada pejabat yang melakukannya, dia sedang mendorong rakyat dan dirinya ke dalam lembah kehancuran.

“Bagaimana situasi di Puri Kacayagra?” tanya Damarteja pada Endra.

“Massa yang berkumpul di sana sudah berkurang. Hanya tinggal beberapa orang yang bersikukuh untuk tinggal,” ujar sang ajudan.

“Apa unjuk rasa yang mereka lakukan berjalan dengan tertib sampai hari ini?” Damarteja mengetuk-ngetuk jarinya di meja.

“Itu ... sejak Paduka meninggalkan Puri Kacayagra, beberapa pengunjuk rasa membuat kekacauan. Mereka bahkan menghasut massa untuk merusak fasilitas umum.” Endra terlihat kesal.

Puri Kacayagra adalah wajah nyata dari kehormatan Pangeran Adipati Hadiwangsa, penguasa tertinggi di Kadipaten Agratampa. Seseorang yang berani membuat keributan di sana, sama saja dengan tidak menghormatinya sebagai seorang pemimpin.

Apabila

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   94|

    Damarteja menjemput Muniratri di Balai Geliat Merah Muda. Di sepanjang jalan pulang, Muniratri tak berani mengucap sepatah kata pun karena raut wajah suaminya sama asamnya dengan jeruk nipis.“Paduka, masih banyak massa di depan kediaman. Kereta tidak bisa berhenti di gerbang utama,” ujar pak kusir.Lelaki itu berhasil memecah keheningan di dalam kereta. Muniratri memanfaatkan momen ini untuk lari dari sisi Damarteja. Ia tak tahan dengan aura dingin yang menguar dari tubuh suaminya.“Saya turun di sini saja, supaya tidak menarik perhatian massa,” ucap Muniratri.“Apa Putri merasa tidak nyaman berada di dekatku sehingga meminta turun?” Damarteja menahan pergelangan tangan Muniratri.“Apa niatku terlihat begitu jelas?” batin wanita si istri Damarteja itu.Seperti pencuri kecil yang tertangkap basah oleh pemilik barang, Muniratri pun cengengesan. Ia mengulum bibirnya untuk menahan malu.&ld

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   93|

    Seorang pejabat tidak boleh tutup mata terhadap masalah pangan. Jika sampai ada pejabat yang melakukannya, dia sedang mendorong rakyat dan dirinya ke dalam lembah kehancuran.“Bagaimana situasi di Puri Kacayagra?” tanya Damarteja pada Endra.“Massa yang berkumpul di sana sudah berkurang. Hanya tinggal beberapa orang yang bersikukuh untuk tinggal,” ujar sang ajudan.“Apa unjuk rasa yang mereka lakukan berjalan dengan tertib sampai hari ini?” Damarteja mengetuk-ngetuk jarinya di meja.“Itu ... sejak Paduka meninggalkan Puri Kacayagra, beberapa pengunjuk rasa membuat kekacauan. Mereka bahkan menghasut massa untuk merusak fasilitas umum.” Endra terlihat kesal.Puri Kacayagra adalah wajah nyata dari kehormatan Pangeran Adipati Hadiwangsa, penguasa tertinggi di Kadipaten Agratampa. Seseorang yang berani membuat keributan di sana, sama saja dengan tidak menghormatinya sebagai seorang pemimpin.Apabila

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   92|

    Muniratri mengunjungi Balai Geliat Merah Mudah saat matahari belum menunjukkan batang hidungnya. Sesampainya di sana, wanita itu meminta suguhan spesialyang dibuat khusus oleh Astuti.“Silakan dinikmati, Kanjeng Putri.” Ayunda menyajikan kue bulan hitam.Muniratri mengambil kudapan tersebut dengan wajah berbunga-bunga. Namun tepat sebelum ia menikmatinya, Ningsih mengangkat tangan di depan wanita itu.“Tunggu, Kanjeng Putri,” ucapnya.“Izinkan saya mengecek makanan itu.” Ningsih menundukkan kepala.Muniratri tak langsung mengiyakan maksud dayang tersebut. Ia terlebih dahulu melempar pandangan ke Ayunda. Setelah wanita itu memberi isyarat dengan mengangguk, Muniratri pun merestui tindakan Ningsih.Dayang yang selalu bersama Muniratri tersebut menggigit sebagian kecil kue. Tahap selanjutnya, dia membelah kue yang berbentuk seperti nopia. Di dalamnya berisi ketan yang dicampur dengan kelapa parut dan gula mer

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   91|

    Agrasari merupakan tempat paling strategis yang ada di Agratampa. Selain memiliki pasar yang menjadi pusat perdagangan rakyat, tempat ini juga menjelma menjadi pusat bisnis.Tak heran jika banyak bangunan tinggi dan megah berjejer di sekitar pasar, seperti toko, gudang, rumah makan, bahkan penginapan.“Apa yang kamu temukan?” tanya sang Pangeran pada Endra.“Setelah dilakukan penyelidikan, kami menemukan bahwa stok bahan pangan di Balai Skul Lawuh di pasok oleh Tumenggung Yajnayodha.” Endra menundukkan pandangan.Mendengar laporan ajudannya, Damarteja pun mengepalkan tangan. Ia tak habis pikir, bisa-bisanya Tumenggung Yajnayodha menari di atas penderitaan rakyat.“Setelah dipercaya oleh Putra Mahkota untuk memimpin Balai Pangan, bukannya mengatur distribusi agar harga kebutuhan pokok stabil, dia malah mengambil keuntungan untuk diri sendiri.” Pandangan Damarteja lurus ke depan dengan sorot mata yang tajam.

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   90|

    Muniratri tak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Ningsih terhadapnya. Dayang itu memoles kuas di wajah sang majikan dan tak membiarkan orang itu melihat cermin, kecuali riasan sudah siap.“Nah, selesa.” Ningsih tersenyum puas.“Silakan, Kanjeng Putri.” Dayang itu menyerahkan kaca berukuran sedang kepada Muniratri.Begitu melihat wajahnya di cermin, Muniratri langsung menutup benda itu ke atas meja. Tak lama kemudian, dia mengambilnya kembali.“Ini ... beneran aku?” Muniratri menyentuh wajah dengan hati-hati, takut riasannya luntur.Ningsih mengemas riasan baru saja dia gunakan. “Paduka pasti pangling melihat Anda nanti.”Candaan Ningsih hanya ditanggapi dengan senyuman. Ia tak mau Ningsih memergokinya membayangkan bagaimana reaksi sang suami.“Saya buka pintu dahulu,” ucap Ningsih setelah terdengar ketukan beberapa kali.Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kedua wanit

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   89|

    Puri Kacayagra dikepung massa imbas harga pangan yang mengalami kenaikan secara masif. Masyarakat bertahan di tempat itu hingga seminggu lamanya. Mereka tidak mau pulang sebelum Pangeran Adipati memenuhi tuntutan rakyat.“Lakukan operasi pasar!”“Stabilkan harga bahan pokok!”“Turunkan harga sembako!”Mereka mengatakan keinginannya dengan lantang. Orang-orang itu sama sekali tak gentar, meskipun unjuk rasa diawasi oleh pihak militer secara ketat.“Seberapa buruk kondisi pasar sehingga mereka berunjuk rasa di kediaman Pangeran Adipati dan bukannya di Balai Adipati?” tanya Muniratri pada Ningsih saat ia berada di depan balai.“Menurut yang saya dengar, harga barang di pasar naik hingga dua bahkan tiga kali lipat, makanya mereka ....” Ningsih melirik ke arah Muniratri.Wanita itu mengangguk mendengar penjelasan dayangnya. Ia kemudian meninggalkan Ningsih setelah melihat Damartej

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status