MasukSeorang pejabat tidak boleh tutup mata terhadap masalah pangan. Jika sampai ada pejabat yang melakukannya, dia sedang mendorong rakyat dan dirinya ke dalam lembah kehancuran.
“Bagaimana situasi di Puri Kacayagra?” tanya Damarteja pada Endra.
“Massa yang berkumpul di sana sudah berkurang. Hanya tinggal beberapa orang yang bersikukuh untuk tinggal,” ujar sang ajudan.
“Apa unjuk rasa yang mereka lakukan berjalan dengan tertib sampai hari ini?&rd
“Paduka memanggil saya?”Muniratri memasuki ruang pribadi Damarteja yang terletak di Paviliun Wetan Puri Kacayagra. Ningsih yang mengikutinya di belakang berhenti di pintu masuk. Ia menutup pintu tersebut dan menunggu di luar.“Iya. Kemarilah.” Damarteja melambaikan tangan kepada Muniratri.Wanita itu duduk berhadapan dengan Damarteja di depan meja kerja sang Pangeran. Ia setia menunggu Damarteja menyelesaikan aktivitasnya tanpa memberi desakan.“Terima ini.” Damarteja memberikan sebuah buku dan kunci.“Terima kasih, Paduka. Tapi ini untuk apa?” tanya Muniratri.Wanita itu membuka buku di hadapannya. Di sana tertera pemasukan daerah yang bersumber dari pajak para pejabat yang tersandung kasus korupsi.“Sudah waktunya Putri menggerakkan pasukan elite yang selama ini kamu manfaatkan untuk mengembangkan bisnis.” Damarteja menatap mata istrinya.Wanita itu menundukkan pand
“Kenapa jadi begini?”“CK! Sial sekali.”Para pejabat meninggalkan lokasi perjamuan dengan mulut menggerutu. Wajah mereka ditekuk seperti tisu bekas. Tak ada enaknya untuk dilihat.Ningsih yang baru saja kembali ke Puri Kacayagra setelah menjalan misi terheran-heran dengan tingkah orang-orang itu. Dia terus melihat ke arah mereka hingga hampir menabrak tiang.“Egh!”Untung saja Endra memegangi lengan Ningsih. Jika tidak, Senapati Gupati yang selalu disegani oleh satuan elite pasukan Wirajati tersebut akan kehilangan muka karena insiden kecil.“Terima kasih, Mas Endra.” Ningsih mengangguk kepada ajudan sang Pangeran Adipati.Lelaki itu mengangguk sekali, lalu melepaskan pegangan tangannya dari tangan Ningsih. Membiarkan dayang itu berlalu ke arah Damarteja.“Paduka, ada yang ingin hamba sampaikan.” Ningsih mengambil posisi berlutut, namun berhasil dihalangi oleh sang Pa
“Masalah ini sangat serius. Kalian sudah memastikannya?” Damarteja menutup laporan yang baru saja dia baca.Ningsih yang berdiri di hadapan Pangeran Adipati Agung mengangguk sekali. Menegaskan bahwa laporan yang ia tulis sudah diverifikasi dan terbukti kebenarannya.“Bagaimana menurutmu?” Damarteja memberikan laporan yang baru selesai ia baca kepada Muniratri.Lelaki itu setia menunggu sampai istrinya membaca laporan tersebut dan memberi tanggapan. Ia sama sekali tak mendesaknya untuk berbicara.“Saat Nyai Sujan memegang perutku, memang aroma tubuhnya sangat familier. Kalau dipikir-pikir memang mirip seperti miliki Ibu Suri.” Muniratri meletakkan laporan di atas meja.“Jika memang benar beliau adalah Nyai Sujan yang ada di rumah Griya Panita, lantas Nyai Sujan yang asli ada di mana?” Muniratri menatap mata sang Pangeran.Mereka berdua berpandangan cukup lama. Membuat Ningsih yang masih berada d
“Nyai Sujan ini hebat sekali ya. Tiap main selalu kalah tapi hartanya tak habis-habis.”“Iya kok bisa ya dia begitu? Padahal gaji demang kan enggak seberapa tapi kalau main taruhannya selalu banyak.”“Apa jangan-jangan dia jadi simpanan tuan tanah?”“Halah! Siapa yang mau sih sama wanita tua begitu?”Muniratri dan Damarteja terus-menerus menempel kepada orang-orang yang sedang bergosip tentang Nyai Sujan. Keduanya tak mau jauh-jauh dari para penjudi itu, hingga mereka ketahuan?“Kalian siapa? Kenapa menguping pembicaraan kami?” Salah seorang penjudi mengacungkan belati.Damarteja segera pasang badan saat istrinya diintimidasi oleh mereka. Orang-orang itu beraninya dengan perempuan yang terlihat lemah.“Maaf Kisanak, istriku sedang hamil. Tolong jangan menakut-nakutinya.” Damarteja merentangkan kedua tangan.Orang-orang yang sedang berkerumun itu tertawa ter
“Datanya cocok semua!” Muniratri menutup buku besar milik Raden Yajnayodha.“Benarkah?”Damarteja memeriksa daftar pejabat Agratampa yang melakukan korupsi. Ia membandingkan laporan tersebut dengan buku besar yang diberikan oleh Raden Yajnayodha sebelum serah terima tahanan dengan Raden Apta.“Baguslah. Dengan ini, kita bisa menangkap mereka dan mengambil kembali uang rakyat yang dicuri.” Damarteja menatap lurus ke depan. Ia mengepalkan tangan.Setahun lebih, Pangeran Adipati Agung mencari bukti kejahatan mereka namun tak pernah menemui titik temu. Kini dia bisa menjaring mereka dalam satu waktu.“Putri, kamu sudah bekerja keras. Padahal ini bukan tugasmu.” Damarteja membelai wajah Muniratri yang lelah.“Tidak masalah, Paduka. Saya senang bisa membantu.” Muniratri memejamkan mata, menikmati belaian suaminya.Kasus korupsi pejabat Agratampa telah mengakar hingga ke sendi
“Kenapa Wakil Perdana Menteri hanya membawa ini? Di mana tahanannya?” Prabu Bahuwirya mengangkat salah satu alisnya.Lelaki itu melipat tangan di dada saat berdiri di depan sepuluh peti kayu yang dibawa Raden Apta dari Agratampa. Lima peti berisi emas sedangkan sisanya perak.“Hamba pantas mati, Baginda!” Raden Apta berlutut di hadapan sang Prabu.Prabu Bahuwirya balik badan menuju kursinya. Ia tak ingin menyaksikan dari dekat penyesalan formalitas yang dilakukan oleh Raden Apta.“Jelaskan apa yang terjadi!” seru Bahuwirya.“Saat kamu kembali ke Ibu Kota, kami bertemu dengan sekelompok harimau di tengah hutan. Mereka sangat ganas, Baginda,” ucap Raden Apta.Prabu Bahuwirya mengetuk-ngetuk meja menggunakan laporan yang dibungkus dengan kulit kayu tebal. Cukup kuat untuk menjaga supaya kertas yang terbuat dari daun lontar tetap rapi.‘Kenapa Baginda tidak mengucapkan sepatah kata pun
‘Jangan percaya pada anggota keluarga keraton.’Kalimat itu terngiang-ngiang di kepala Muniratri. Kata demi kata tak bisa ia lupakan, karena ucapan tersebut merupakan amanat terakhir sang ayah, sebelum meninggal di tempat eksekusi.“Putri! Buka pintunya!” Dam
Damarteja meletakkan undangan pernikahan ke atas meja. Dia menarik Muniratri yang berada di sampingnya dan merengkuh wanita itu dalam pangkuan.“Kamakarna akan segera menikah,” ucapnya.Muniratri menghela napas. “Baru juga tiga minggu yang lalu kita kembali dari ke
Pemerintahan Badra masih kental dengan magis. Mereka menghitung tanggal baik dan buruk untuk menghindari waktu sial. Lembaga yang menangani masalah tersebut ialah Kawedanan Reripta.“Bulan depan?” Kamakarna membelalak saat membaca laporan yang diberikan langsung oleh pemimpin K
Endra meletakkan kepalanya sejajar dengan tanah. “Mohon Kanjeng Putri berkenan melakukan penyatuan dengan Paduka.”Sejak hari pertama menjadi istri Damarteja, Endra menaruh benci yang tak bertepi pada Muniratri. Alasannya tak perlu dipertanyakan lagi, karena Raden Lawana, ayah Muniratri merupakan te







