공유

92|

작가: Shanum Belle
last update 게시일: 2026-01-10 19:00:31

Muniratri mengunjungi Balai Geliat Merah Mudah saat matahari belum menunjukkan batang hidungnya. Sesampainya di sana, wanita itu meminta suguhan spesialyang dibuat khusus oleh Astuti.

“Silakan dinikmati, Kanjeng Putri.” Ayunda menyajikan kue bulan hitam.

Muniratri mengambil kudapan tersebut dengan wajah berbunga-bunga. Namun tepat sebelum ia menikmatinya, Ningsih mengangkat tangan di depan wanita itu.

“Tunggu, Kanjeng Putri,” ucapnya.

&ldquo

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   159|

    Hal pertama yang dilakukan oleh para hadirin di Aula Hutama saat Muniratri memasuki ruangan ialah mendelik. Luka lebam yang ada di sekujur tubuh Muniratri menjadi penyebabnya.Alih-alih risi dengan pandangan orang-orang, Muniratri justru menikmatinya. Ia memamerkan tubuhnya yang babak belur dengan bangga.“Saya memberi hormat pada Baginda Prabu, Yang Mulia Putra Mahkota dan juga Yang Mulia Putri Mahkota.” Muniratri menundukkan kepala dan juga merendahkan badannya.Di belakang tempatnya berdiri, Muniratri mendengar dengan jelas bagaimana para pejabat berbisik. Mereka mempertanyakan apa yang terjadi pada wanita tersebut.Sikap Muniratri tak berubah seperti saat memasuki ruangan. Ia tersenyum menyeringai di balik luka yang meradang.“Silakan berdiri, Putri Hadiwangsa,” ucap Bahuwirya.Saat Muniratri hendak menegakkan badan, tubuhnya limbung. Untung saja Damarteja berada di samping wanita itu.“Terima kasih, Paduka,” ucap Muniratri saat Damarteja menopang badannya agar tak jatuh ke lantai

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   158|

    Kamakarna memang terlambat menghadiri rapat pagi. Namun karena dia datang bersama dengan Ndari, dia masih bisa berjalan dengan dada membusung.‘Orang-orang itu pasti mengiranya aku sengaja datang lebih lambat karena harus menemani Putri Mahkota yang pertama kali datang ke Aula Hutama,’ pikir Kamakarna.“Yang Mulia ... mereka semua melihat ke arah sini. Saya takut.” Ndari berpegang erat pada lengan Kamakarna.Putra Mahkota menepuk-nepuk punggung tangan Ndari untuk memberikan ketenangan. dengan begitu dia akan mendapat kesan sebagai suami yang baik.“Kamu tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa,” ucap Kamakarna pelan. Hanya Ndari yang dapat mendengarnya.Kamakarna datang dengan penuh percaya diri, bahwa tatapan para pejabat yang tengah menghujani mereka hanyalah bentuk dari perhatian dan rasa hormat. Ia tak tahu bahwa ada sesuatu yang besar sedang menanti di depan sana.‘Kenapa mereka diam saja?’

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   157

    Manusia hanya bisa berusaha, namun nasib tidak ada yang tahu.Penyelidikan Kamakarna tentang kunyit yang disembunyikan oleh Ndari berhasil. Ia bahkan sukses besar dengan menjadikannya sebagai sumber daya secara cuma-cuma.Meski demikian, Kamakarna harus membayar mahal usahanya. Karena pada esok hari setelah berhasil mendapatkan dukungan dari pihak Senapati Cakrasurya, ia bangun kesiangan.“Di mana ini?” Kamakarna mengerjapkan mata.Ia terbangun di tempat yang sangat berbeda dengan kamarnya Paviliun Putra Alam. Ruangan itu bernuansa emas dan bunga. Sedangkan di kediaman Kamakarna bernuansa emas dan pusaka keluarga yang tertata rapi.“Anda sekarang ada di kamar tidur Yang Mulia Putri Mahkota,” ujar Ganendra.Kamakarna berusaha memutar kembali ingatannya untuk mengetahui apa yang ia lakukan semalam, namun ia tak berhasil. Kepalanya masih sakit karena arak yang ia minum.“Jam berapa sekarang?” tanya Kam

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   156|

    Sejak Damarteja diangkat menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Agung Hadiwangsa, Damarteja menempatkan mata-mata di seluruh Ibu Kota. Awalnya ia menggunakan mereka hanya untuk mencari tahu bagaimana situasi teraktual.Kini sikapnya sudah berubah. Damarteja menggunakan mata-mata yang ia tanam untuk memenangkan rencana besar yang sedang ia jalankan. Revolusi.“Paduka, Senapati Cakrasurya sedang membersihkan gudang,” ujar Endra.“Beliau memindahkan semua kunyit yang diborong Putri Mahkota ke pedagang pasar,” sambungnya.“Bagaimana dengan Putra Mahkota?” tanya sang Pangeran Adipati.“Beliau seharian ini tidak keluar dari Paviliun Melati,” ucap si ajudan.Berdasarkan informasi yang Damarteja terima selama ini, Kamakarna tidak pernah menghabiskan waktu secara pribadi dengan Ndari. Meski mereka adalah pasangan suami istri sah, Kamakarna secara terang-terang menunjukkan ketidaksukaan pada istrinya.

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   155|

    Sejak Kamakarna meninggalkan Aula Hutama, perasaan Cakrasurya tidak karuan. Maka dari itu, setelah urusannya dengan Bahuwirya selesai, ia bergegas menuju Paviliun Melati.“Silakan tunggu di sini. Yang Mulia sedang bersiap.” Narti menunjuk tempat duduk yang sudah disiapkan, lengkap dengan kinang yang tersaji di atas meja.Dayang itu undur diri dari hadapan sang Senapati. Dia masuk ke area ruang tidur Ndari untuk menemui Kamakarna.“Hamba sudah menjamu Raden Senapati sesuai arahan Anda,” ujar Narti.Kamakarna mengangguk, mengartikan bahwa ia menerima laporan dayang itu. Kini gilirannya tampil di hadapan ayah mertua.“Bantu Putri Mahkota merapikan diri. Setelah itu bawa dia ke menemui ayahnya,” perintah sang Putra Mahkota sebelum pergi ke ruang tamu.“Baik, Yang Mulia.” Narti diam di tempat seperti hendak menyampaikan sesuatu namun tak berani.“Katakan saja,” ucap Kamakarna.

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   154|

    Tindakan Kamakarna membuat perasaan Ndari bergetar. Ia tergerak untuk melepaskan keraguan di hatinya.“Yang Mulia ... bagaimana mungkin saya tidak percaya pada suami sendiri?” Ndari menarik cunduk yang menempel erat di leher Kamakarna.“Bukankah Yang Mulia yang mengatakan bahwa suami istri berbagi suka dan duka ... tidak meninggalkan satu sama lain?” Ndari memeluk Kamakarna.“Lalu kenapa Anda menyuruh saya untuk ....” Air mata wanita itu jatuh membasahi pundak Kamakarna.Eratnya pelukan Putri Mahkota membuat lelaki tersebut menyunggingkan senyuman. Langkah kedua sukses besar.Ndari telah jatuh ke dalam genggaman. Kamakarna tak sabar untuk menjalankan misi selanjutnya.“Putri Mahkota benar-benar percaya padaku?” Kamakarna melingkar lengan ke pinggang Ndari, tidak membiarkan wanita tersebut lepas dari tangan.“Tentu saja.” Ndari mencium pipi sang suami, lalu menyembunyikan waja

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   18| Setiap Malam Terbang ke Awan

    Sebagai bangsawan, Kasmirah tak pernah menyentuh pekerjaan kasar. Jangankan pergi ke ladang, bahkan membereskan kamarnya sendiri pun, tak pernah ia lakukan dengan tangannya sendiri.Tapi kali ini berbeda. Demi mendapat dukungan rakyat, ia merelakan tubuh dan pakaiannya kotor berlumuran tan

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   17| Sengaja Salah Busana

    Gaya berpakaian Kasmirah dan Muniratri benar-benar bertolak belakang. Bisa dibilang seperti bumi dan langit.Kasmirah tampil sederhana, mengenakan kain biasa tanpa banyak perhiasan. Sementara Muniratri, ia justru mengenakan kain sutra berkualitas tinggi. Emas dan permata menghiasi tubuhnya, dari uju

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   16|

    Saat Muniratri sedang berjuang mati-matian menaiki tangga, Damarteja malah masih tidur nyenyak di kamar Raden Ayu Ratnawangi, selir yang diberikan oleh Ibu Suri.Lelaki itu terlelap di atas risban dengan memegang sebilah pedang di tangannya. Dan ia baru bangun setelah mendengar ketukan pintu.“Masuk

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   15| Lencana Niriti

    Lencana Niriti merupakan benda pusaka sakti. Ia bisa membuat pemiliknya kebal terhadap segala malapetaka. Dan satu-satunya orang yang pernah dianugerahi pusaka ini ialah Senapati Kusumayudha, kakek Muniratri.Masih dalam posisi berlutut, Endra mendongak, menghadap ke arah Damarteja. “Memangnya kenap

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status